NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keesokan paginya, sinar matahari samar masuk dari celah jendela.

Budi menghentikan latihannya.

Tanpa membuang waktu, dia mengambil sisa cairan otak Raja Tikus yang tadi malam sudah ditampung. Dia memasaknya menjadi semangkuk sup sederhana.

Aromanya..tetap aneh.

Tapi kali ini, dia tidak ragu.

Dia langsung meminumnya sebagai sarapan.

Setelah itu, dia mengambil daging tikus yang sudah diasinkan. Daging itu memang sudah tidak mudah busuk lagi, jadi masih aman untuk dimakan.

Meski Budi bisa menahan rasa daging mentah biasa, ia sama sekali tidak tahan dengan daging mentah yang sudah diasinkan. Begitu membayangkan tekstur licin dan rasa asin yang kuat itu, perutnya langsung terasa tidak nyaman. Karena ia tidak kunjung berevolusi, daripada terus mengharapkan sesuatu yang belum pasti, lebih baik ia hanya mengisi perutnya saja.

Ketika daging tikus digoreng, seluruh kamar sewaannya yang sempit langsung dipenuhi aroma gurih yang menggugah selera. Meskipun Budi baru saja makan, ia tak bisa menahan diri menelan ludah beberapa kali. Dengan rakus, ia menyantap beberapa potong lagi. Meski hanya ditaburi garam dan keterampilan memasaknya biasa saja, daging goreng itu terasa sangat lezat hingga ia benar-benar menikmatinya.

Tak lama kemudian, Budi sudah siap untuk berangkat. Mobilnya sudah disiapkan di depan. Itu adalah sebuah Jeep Pajero yang masih cukup baru. Dulu harganya sekitar tiga ratus juta rupiah, tapi sekarang, bersama dengan sisa delapan liter bensin, harganya hanya setara dengan dua ratus kilo makanan. Mungkin bisa lebih murah lagi kalau ia mau bernegosiasi. Sejak bahan bakar semakin langka, mobil-mobil seperti ini sudah menjadi besi tua. Selain memakan tempat di garasi, tidak banyak lagi yang bisa dilakukan dengannya.

Budi sebenarnya tidak terlalu ingin berangkat terlalu pagi karena insiden kemarin. Meskipun ia tidak mengungkapkan apa pun, hal itu bisa dengan mudah tercium jika ada yang menyelidiki. Ia tidak pernah meremehkan kemampuan pemerintah dan tentara, apalagi menaruh harapan pada orang lain. Tentara selalu merupakan organisasi yang keras. Jika seseorang berkelahi dengan mereka demi makanan dan tertangkap, hukumannya bisa dipukuli habis-habisan atau bahkan kehilangan nyawa. Apalagi setelah tatanan masyarakat runtuh, tidak ada yang bisa menjamin keselamatan diri sendiri setelah memprovokasi mereka.

Setelah membiarkan daging tikus gorengnya mendingin di ruang tamu, Budi memasukkannya ke dalam kantong plastik besar dan mengikatnya erat dengan tali. Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki di depan pintu. Ia langsung berhenti sejenak.

“Siapa di luar?” tanya Budi.

“Permisi Om..” jawab sebuah suara malu-malu dari balik pintu.

Budi merasa lega dan segera membuka pintu.

Di depannya berdiri seorang gadis berusia tiga belas atau empat belas tahun dengan wajah ragu-ragu. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya gelisah, pipinya memerah karena malu.

Ia adalah tetangga yang tinggal di lantai yang sama, tepat di seberang kamar Budi. Orang-orang di daerah ini memang jarang bergaul, jadi Budi hanya sering melihat gadis itu lewat, tapi tidak tahu namanya. Awalnya ia bingung kenapa gadis itu datang, tapi segera mengerti. Pasti karena aroma daging goreng yang terlalu menggoda.

Melihat wajah gadis itu yang jauh lebih kurus daripada sebelumnya, Budi merasa iba. Dengan suara lembut ia bertanya, “Kamu dari seberang ya? Siapa namamu?”

“iya Om, saya Shinta!” jawabnya pelan.

“Belum sarapan, kan? Masuk dulu,” kata Budi.

Shinta tersipu malu hanya karena menyebut namanya. Ia ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya melangkah masuk. Matanya melirik-lirik ke sekeliling kamar yang sederhana, lalu menunduk gugup. Budi membuka kantong plastik dan mengambil beberapa potong daging ke piring. Ia juga mengeluarkan sekotak susu dari lemari es yang sudah tidak dingin lagi, lalu meletakkannya di meja.

“Di mana orang tuamu?” tanya Budi.

Shinta mengambil garpu, mengambil sepotong daging, dan memasukkannya ke mulut. Setelah mengunyah pelan dan menelan, ia menjawab, “Bapak pergi ke proyek, ibu juga keluar. Mereka baru pulang malam hari.”

“Proyek?” Budi teringat ada pengumuman di gerbang perumahan tentang perekrutan tenaga kerja. Sepertinya pemerintah kota sedang membangun sesuatu yang besar.

Melihat Shinta yang sedang makan dengan lahap, Budi tersenyum kecil dan berkata, “Makan pelan-pelan saja, minum susunya juga. Kenapa ibumu tidak mengajakmu ikut?”

“Ibu bilang terlalu berbahaya, jadi aku disuruh tetap di rumah,” jawab Shinta. Karena merasa Budi cukup ramah, ia mulai sedikit tenang. Dengan polos ia melanjutkan, “Om, kok aku merasa badanku panas sekali ya?” Lalu ia menatap Budi dengan mata takut-takut.

Budi terkejut. Ia sempat mengira salah dengar, karena kalimat itu terdengar aneh keluar dari mulut gadis seusia itu. Tapi tak lama kemudian ia menyadari apa yang terjadi. Wajah Shinta memerah sampai ke leher dan lengannya. Tak lama, darah mulai mengalir dari hidungnya dan menetes ke meja.

Melihat darah itu, Shinta terkejut dan langsung menyeka hidungnya. Begitu melihat tangannya penuh darah, ia panik. Ia mendorong mangkuk dan sumpit, lalu menangis keras, “Om, tolong jangan bunuh aku… hu hu hu… Aku nggak akan rakus lagi. Aku… aku masih perawan, mau melakukan apa saja!”

Gadis-gadis zaman sekarang memang tahu banyak hal, baik yang seharusnya mereka tahu maupun yang tidak, karena sudah terbiasa dengan internet sejak kecil.

Memang tidak bisa disalahkan Shinta atas kesalahpahamannya. Ia baru saja makan sampai badannya terasa panas, lalu hidungnya berdarah. Siapa pun pasti akan berpikir hal yang aneh.

Budi merasa bersalah dan menyesal karena kurang berhati-hati. Ia lupa bahwa daging organisme level biru jauh lebih kuat daripada obat biasa karena mengandung banyak sekali komponen aktif. Kualitas batin tubuhnya sendiri sudah cukup kuat, tapi ia masih merasakan panas setelah makan. Sedangkan Shinta, kualitas batinnya bahkan belum sekuat orang dewasa normal. Kalau energi itu tidak terkendali, akibatnya bisa lebih parah daripada hanya mimisan.

“Sudah, jangan menangis,” tegur Budi lembut.

Shinta ketakutan, langsung berhenti menangis dan hanya terisak-isak.

“Angkat kepalamu dan sandarkan ke kursi. Bagaimana rasanya sekarang?”

“Masih panas sekali, Om...” jawab Shinta ketakutan.

“Jangan berdiri dulu, ya?” kata Budi dengan wajah serius.

“Iya, aku akan nurut dan tidak bergerak,” jawab Shinta sambil gemetar, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.

Budi mengambil handuk dari kamar mandi kecil, membasahinya dengan air, lalu kembali ke ruang tamu. Shinta masih berbaring di kursi tanpa bergerak sedikit pun. Ia meletakkan handuk basah itu di dahi gadis tersebut.

“Kamu akan baik-baik saja. Kamu masih kecil, jangan mikir yang aneh-aneh. Aku sebentar lagi keluar, jadi kamu pulang dulu saja.”

“Baik, Om..” Shinta merasa sangat malu karena salah paham tadi. Ia memegang handuk basah sambil menunduk. Matanya yang masih berair sesekali melirik daging tikus yang belum habis.

“Ambil saja sisanya. Tapi jangan dimakan lagi ya, nanti hidungmu berdarah lagi,” kata Budi tidak sabar.

“Terima kasih, Om!” Shinta langsung tersenyum lebar meski matanya masih sembab.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Lanjut.. 😁
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!