Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 - Tamu Tak Di Undang
Aga menekan Gwen ke batu besar di tepi danau, tubuhnya menindih, mendekap tanpa memberi ruang untuk menjauh. Satu tangannya menahan sisi wajah Gwen, memaksanya tetap menatap, sementara yang lain mencengkeram pinggangnya erat, penuh klaim yang tak perlu diucapkan.
Dunia Gwen seakan berputar.
Napasnya tercekat—bukan karena tertahan, tapi karena intensitas yang menyerbu tanpa jeda. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang dalam dan menuntut, membuat lututnya melemah, pikirannya perlahan mengabur.
Ia melingkarkan lengan di leher Aga, jemarinya menyusup ke rambut pria itu yang lembap oleh kabut, menariknya semakin dekat—seolah jarak sekecil apa pun terasa terlalu jauh.
“Aga…” bisiknya saat mereka terpisah sejenak untuk bernapas.
Namun Aga tidak memberinya waktu.
Bibir pria itu kembali menyerbu miliknya, lebih dalam, lebih mendesak. Tangannya di pinggang Gwen menariknya semakin rapat, menghapus jarak yang tersisa, hingga tubuh mereka saling menempel tanpa celah.
Gwen terperangkap dalam ritme yang diciptakan Aga—cepat, panas, dan tak memberi ruang untuk berpikir.
Ini gila. Ini berbahaya. Ini—
Tiba-tiba, alarm berbahaya di pikirannya berbunyi. Gwen sadar.
Tangannya yang sebelumnya menarik rambut Aga kini mendorong dada pria itu, memaksa jarak. Matanya melebar, melihat sekeliling dengan panik. Kabut masih tebal, tapi mereka berada di tepi jalan setapak. Tempat umum. Tempat di mana siapa pun bisa lewat—pelari pagi lain, turis, atau lebih buruk, warga lokal dengan kamera ponsel.
"Aga, stop," bisiknya terengah, suaranya parau oleh ciuman tadi. "Di sini... tempat umum. Kita..."
"Biarin," Aga mencium lehernya, suaranya serak. "Nggak ada yang lihat."
"Tapi kalau ada—"
"Aku nggak peduli." Aga menatapnya, matanya gelap dan dalam, penuh dengan sesuatu yang membuat Gwen ingin lupa pada akal sehat. "Aku mau kamu. Di sini. Sekarang."
Gwen menggigit bibirnya, merasakan getaran di seluruh tubuh—bukan dari dingin, tapi dari hasrat yang sama liarnya. Ia ingin menyerah. Ia ingin membiarkan Aga melakukan apapun, dimanapun.
Tapi akal sehatnya menang.
"Nggak," katanya tegas, kedua tangan mendorong dada Aga lebih kuat. "Pulang. Atau aku... aku nggak akan bicara sama kamu lagi."
Aga menggeram, dahi menempel di dahi Gwen. "Kamu kejam."
"Dan kamu gila."
"Gila karena kamu."
Mereka saling menatap, napas memburu, tubuh masih menempel rapat. Lalu Aga menghela napas panjang, mundur selangkah, tangan di bokong Gwen akhirnya melepas—meski dengan penolakan yang jelas.
"Baik. Pulang," katanya, suaranya masih parau. "Tapi di villa, aku nggak akan berhenti."
Gwen mengangguk pelan, lalu berjalan melewati Aga, sengaja membiarkan bahu mereka bersenggolan.
“Kita lihat nanti,” godanya
Aga tertawa pelan, mengikuti di belakang dengan langkah yang lebih berat.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang, meski jaraknya sama. Sesekali, saat jalanan sepi, Aga menemukan celah untuk mendekat—mencuri kecupan singkat dari bibir Gwen, ringan namun cukup untuk membuat napasnya tertahan.
Setiap sentuhan terasa seperti arus lembut yang merayap diam-diam, membangkitkan sesuatu di dalam dirinya yang semakin sulit diabaikan. Tapi Gwen menahan diri. Hingga villa muncul di sela pepohonan pinus, hingga mereka melewati gerbang, hingga—
"Angga!"
Suara itu memecah udara seperti petir. Gwen berhenti mendadak, hampir tersandung pada batu di jalan. Di depan teras villa, berdiri seorang wanita muda—cantik, berambut hitam panjang bergelombang, mengenakan gaun musim panas berwarna kuning cerah yang kontras dengan suasana pagi yang dingin.
Wanita itu berlari. Sepatu hak tingginya yang tidak cocok untuk jalan berbatu tak menghalanginya. Tangan terbuka, wajah berseri-seri, langsung memeluk Aga begitu dekat seolah Gwen tidak ada di sana.
"Kangen," serunya, suaranya melengking manja.
Aga membeku. Tubuhnya kaku dalam pelukan wanita itu, matanya—yang sebelumnya gelap oleh hasrat—kini melebar kaget. Pandangannya berpindah ke Gwen, lalu ke wanita di pelukannya, kemudian kembali ke Gwen. Perlahan, tangan Aga menahan lengan wanita itu, berusaha menjauh.
"Ngapain lo di sini?" suaranya rendah, ada nada tidak suka yang jelas.
Nadine tidak segera melepas pelukannya. Justru, genggaman mengendur dengan santai, seolah-olah Nadine sendiri yang menentukan kapan waktunya melepaskan. Senyumnya tetap ringan, percaya diri, dan sedikit menantang.
"Harusnya aku yang nanya," balasnya tenang. "Kamu ngapain di sini, Angga? Tanpa kabar."
Tatapan Aga mengeras. "Gue lagi nggak mau diganggu."
Nadine mengangkat alis, pura-pura terkejut. "Diganggu? Aku calon istrimu, Angga. Datang nyari kamu itu bukan ganggu, harusnya malah senang," protesnya ringan. Baru setelah itu Nadine menyadari Gwen yang berdiri di samping Aga. Matanya menyapu dari ujung kepala sampai kaki, menilai dengan tatapan sopan tapi tajam.
"Oh, halo!" Nadine tersenyum lebar, mengulurkan tangan dengan anggun. "Aku Nadine."
Gwen menatap tangan yang terulur itu. Senyum Nadine ringan, tapi ada sesuatu yang menantang di dalamnya. Sesuatu di dalam dada Gwen berdentum kencang, tapi ia menyembunyikannya dengan senyum sopan. Ia meraih tangan Nadine, menggenggamnya sejenak.
"Gwen," katanya, suaranya tenang, terlalu tenang. "Kakak Pandji."
Nadine mengangguk, matanya berbinar. "Oh, kakaknya Panji! Senang ketemu kamu, Mbak! Aku harus kenalin diri dengan baik—" Wanita itu berhenti sejenak, tersenyum lebih lebar seolah berbagi rahasia, "—karena kita akan sering ketemu. Aku tunangan Angga."
Gwen merasa senyumnya menegang di wajah, tapi ia mempertahankannya. Ia menatap Aga sekilas, mencari penyangkalan, mencari kebenaran. Tapi Aga tidak menatapnya kembali. Pria itu masih terpaku pada Nadine, wajahnya pucat, bibirnya terbuka tanpa suara.
"Selamat," kata Gwen, suaranya terdengar seperti dari jauh. "Kalian cocok."
Ia melepas tangan Nadine, mundur selangkah, lalu lagi, dan lagi. Jarak yang ia ciptakan terasa seperti jurang yang dalam.
"Gwen—" Ucap Aga, suaranya parau. Tapi Gwen sudah berbalik. Ia tidak ingin mendengar. Ia tidak ingin melihat. Ia hanya ingin pergi—pergi dari sini, pergi dari mereka, pergi dari kebodohannya sendiri.
"Sorry, aku harus mandi," katanya cepat, tanpa menoleh. “Badan aku kotor… penuh najis."
Ia berjalan cepat, hampir berlari, menuju pintu villa, melewati Pandji yang baru saja keluar. Di belakangnya terdengar suara Aga yang berteriak memanggil namanya, suara Nadine yang bingung memanggil Aga—
Tapi Gwen tidak berhenti.
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu bersandar di belakangnya, tubuh gemetar tak terkendali. Begitu pintu tertutup, semua yang dipendamnya selama ini meledak, tanpa bisa ditahan.
Ternyata semua pria sama brengsek. Gwen menutup mata, menelan ludah pahit. Ia benar-benar percaya—percaya bahwa Aga tulus mencintainya, bahwa setiap ciuman, setiap sentuhan, setiap kata manisnya adalah miliknya. Ternyata semua itu palsu. Aga sudah punya tunangan. Sudah ada wanita lain yang menunggunya. Sudah ada masa depan yang tersusun rapi.
Dan Nadine..
Gwen membuka mata, menatap langit-langit kamarnya. Nadine. Nama yang selalu disebut-sebut Pandji dengan mata berbinar. Gadis yang selalu adiknya ceritakan dengan senyum malu-malu. Wanita yang katanya dicintai Pandji sejak pertama kali melihat.
Nadine.
Tunangan Aga.
Wanita yang dicintai adiknya.
Gwen tertawa—tawa yang lebih terdengar seperti isakan. Ironi yang terlalu kejam. Ia baru saja mencium tunangan orang lain, membiarkan tangan pria itu meremas tubuhnya, baru saja berharap…
Berharap apa? Bahwa Aga serius? Bahwa pria itu benar-benar ingin memilikinya?
"Ternyata semua sama," bisik Gwen pada dirinya sendiri, suaranya pecah. "Semua... brengsek."
Ia merosot ke lantai, lututnya ditekuk, wajahnya terkubur di telapak tangan. Di luar, di teras, ia bisa mendengar suara-suara samar—suara Aga yang memarahi pandji, umpatan kasar pria itu dan suara Nadine yang menangis. Tapi di sini, di balik pintu yang terkunci, hanya ada Gwen dan kehancurannya sendiri.
Dan penyesalan yang terlambat.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍