Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Rasa cemas
Tepat saat ia masuk, suara dentingan lift terdengar. Gaharu dan sekertaris Juan keluar dari dalam lift. Hawa tidak mengenakan langsung merambat pada setiap penjuru ruangan. Apalagi saat mata Gabriel tidak sengaja melihat tatapan dingin yang di layangkan kepadanya.
'Tuhan, berikan aku umur panjang.'
Di tempatnya, Gabriel menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan gerakan kaku ia menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepada si pemilik rumah.
“Ada apa dengannya?”
Gaharu mengalihkan pandangannya pada Laura yang terkulai di dalam gendongan ajudan pribadi gadis itu. Wajahnya terlihat memerah dengan beberapa butiran keringat menghiasi sekitaran dahi gadis itu.
“Nyonya muda mengeluh pusing, Tuan,” sahut Gabriel berusaha mempertahankan suara agar tidak terdengar gemetar.
“Sejak kapan?” tanya Gaharu. Suara rendah, mengandung penekanan yang membuat Gabriel tambah gugup.
“Nyonya mengeluh saat selesai kelas terakhir, Tuan. Saya baru saja hendak membawa Nyonya ke kamar untuk istirahat dan memanggil dokter keluarga.”
Gaharu tidak menjawab, sebaliknya pria itu menjalankan kursi rodanya untuk mendekat. Tangan pria itu terangkat, Gabriel yang paham langsung saja merendahkan tubuhnya agar Tuan mudanya tidak kesulitan saat hendak memegangi dahi Laura.
“Bawa dia ke atas,” perintah Gaharu dingin. Gabriel yang telah menegakan tubuhnya kembali sedikit tertegun saat mendengar perintah itu. Kamar Nyonya mudahnya berada di bawah, jika di bawa ke atas itu berarti kamar itu kamar milik Tuan mudanya, bukan?
“Batalkan semua jadwal malam ini. Panggil dokter Bram sekarang juga. Katakan padanya, jika tidak sampai dalam sepuluh menit, aku akan menutup rumah sakitnya malam ini juga.”
Sekertaris Juan mengangguk patuh tanpa ekspresi, seolah ancaman itu hanyalah hal biasa. “Baik, Tuan.”
Gaharu kembali menatap Gabriel yang masih mematung. “Kenapa masih diam? Jalan.”
“Ba—baik, Tuan.” Gabriel segera mengambil langkah untuk berjalan menuju tangga, namun Gaharu menginterupsi.
“Dasar bodoh! Gunakan lift, kau ingin bertanggung jawab jika istriku kenapa-kenapa karena langkah lambatmu saat berjalan naik melalui tangga?”
“Baik. Maafkan saya, Tuan.” Gabriel membalikan badannya dan berlalu masuk ke dalam lift di ikuti oleh Gaharu yang ikut masuk.
Keheningan di dalam lift membuat Gabriel merasa tercekik. Aura yang di keluarkan Gaharu benar-benar terasa dingin. Pria tegap itu berharap saat ia keluar dari dalam lift, ia masih dapat menghirup udara dengan normal.
Pintu lift berdenting terbuka di lantai atas, dan Gaharu segera menggerakkan kursi rodanya mendahului Gabriel menuju pintu kamar utama yang megah.
“Letakkan dia di tempat tidurku. Pelan-pelan,” perintah Gaharu tanpa menoleh.
Gabriel melangkah dengan sangat hati-hati, meletakkan tubuh lemas Laura di atas kasur king size yang beraroma maskulin, perpaduan antara aroma kayu Cendana dan dinginnya ruangan. Setelah memastikan posisi Nyonya mudanya nyaman, Gabriel dengan segera mundur beberapa langkah, menjaga jarak aman.
Gaharu mendekat ke sisi tempat tidur. Matanya yang tajam kini meredup, menyapu wajah pucat istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kau boleh keluar. Tunggu dokter Bram di depan pintu kamar. Pastikan dia tidak membuang waktu dengan formalitas tidak berguna saat sampai nanti,” ucap Gaharu datar.
“Baik, Tuan. Saya permisi.” Gabriel membungkuk dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya baru saja di angkat saat ia berhasil melangkah keluar dari kamar itu.
Di dalam kamar, kesunyian kembali menyergap. Entah dorongan dari mana, tangan besar Gaharu terulur, menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi sebagian wajah gadis itu. Jemarinya dapat merasakan hantaran panas yang di berikan Laura, sangat kontras dengan tangan dingin Gaharu.
Gaharu menarik tangannya kembali saat sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia lalu beralih mengambil ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan sebuah nomor.
“Juan, pastikan Bram membawa peralatan lengkap. Dan satu lagi... cari tahu apa saja yang Laura makan atau lakukan di kampus tadi. Aku tidak mau mendengar alasan bahwa ini hanya sekadar kelelahan biasa.”
Di balik topeng kaku dan dinginnya, ada kilat kemarahan yang tertuju pada siapa pun, atau apa pun, yang menyebabkan gadis di depannya ini menderita. Ada perasaan mengganjal di hatinya, dan itu sangat menganggu.
Ketukan pintu yang terburu-buru memecah keheningan kamar. Dokter Bram masuk dengan napas yang sedikit memburu, diikuti oleh Sekretaris Juan yang tampak tenang di belakangnya. Tanpa menunggu sapaan, Bram segera menghampiri tempat tidur, menyadari bahwa tatapan Gaharu jauh lebih berbahaya daripada ancaman penutupan rumah sakit tadi.
“Periksa dia. Sekarang!” titah Gaharu, sembari memundurkan kursi rodanya beberapa senti untuk memberi ruang.
Dokter Bram segera membuka tas medisnya. Ia menempelkan stetoskop, memeriksa denyut nadi, dan mengamati pupil mata Laura dengan senter kecil. Selama pemeriksaan berlangsung, Gaharu tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari gerak-gerik sang dokter, membuat suasana di kamar itu terasa semakin menyesakkan.
“Bagaimana?” tanya Gaharu, memotong keheningan tepat saat Bram meletakkan kembali alat-alatnya.
Bram menghela napas pendek, berusaha mengatur nada bicaranya agar tetap profesional di bawah tekanan. “Tuan Muda, Nyonya mengalami demam tinggi akibat kelelahan yang ekstrem dan dehidrasi. Sepertinya... Nyonya juga melewatkan waktu makannya, yang memicu asam lambungnya naik dan menyebabkan pusing hebat hingga pingsan.”
Rahang Gaharu mengeras. “Hanya itu?”
“Untuk saat ini, iya. Saya akan memberikan suntikan penurun panas dan menyiapkan cairan infus agar kondisinya cepat stabil. Nyonya butuh istirahat total setidaknya selama dua sampai tiga hari ke depan. Tidak ada kampus, dan tidak ada aktivitas berat lainnya.”
Gaharu beralih menatap Sekretaris Juan yang berdiri di dekat pintu. “Kau dengar itu? Pastikan izinnya ke universitas diurus. Dan cari tahu siapa dosen atau jadwal apa yang membuatnya sampai tidak sempat makan hari ini.”
“Baik, Tuan,” sahut Juan sembari mencatat di tabletnya.
Dokter Bram mulai menyiapkan jarum suntik. Saat jarum itu menyentuh kulit lengan Laura, gadis itu melenguh kecil dalam tidurnya, keningnya berkerut menahan nyeri yang samar. Refleks, tangan Gaharu terangkat, namun ia segera menghentikannya di udara, seolah tersadar akan dinding dingin yang selalu ia bangun.
“Dia... akan bangun?” tanya Gaharu pelan, nyaris tidak terdengar.
“Suntikan ini akan membuat Nyonya tidur lebih nyenyak malam ini, Tuan. Besok pagi panasnya seharusnya sudah turun,” jawab Bram sembari merapikan peralatannya. “Saya akan meninggalkan beberapa obat dan resep vitamin. Pastikan Nyonya makan sebelum meminumnya.”
“Dan, jika selama dua hari ke depan deman Nyonya tidak kunjung turun, saya sarankan untuk langsung di bawa ke rumah sakit. Saya akan siapakan semuanya,” ucapnya sambil memastikan cairan infusan tidak macet.
Setelah dokter dan Sekretaris Juan keluar dari kamar, Gaharu kembali mendekat ke sisi tempat tidur. Ia menatap selang infus yang kini terhubung ke tangan istrinya.
“Selalu merepotkan,” gumamnya sinis, namun tangannya justru menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi bahu Laura yang gemetar kedinginan. “Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki keluar rumah, sebelum kamu bisa mengurus dirimu sendiri dengan benar.”
***
Suara ketukan heels yang beradu pada lantai marmer terdengar bergema pada ruangan tengah yang megah. Adeline datang dengan langkah terburu-buru saat ia mendengar kabar jika menantunya sakit.
“Sayang, pelankan langkah kakimu,” peringat Rajendra, suami dari Adeline sekaligus ayah kandung dari Gaharu. Pria itu memastikan langkah istrinya agar tidak tersandung.
“Kamu tidak paham, Mas! Aku sedang khawatir.” Adeline berbalik menatap suaminya.
“Baik-baik aku paham, sayang. Tapi pelankan langkah kakimu, aku tidak ingin kamu terjatuh karena tersandung sepatu hak tinggimu.”
Adeline berkacak pinggang. “Dalam kondisi seperti ini sempat-sempatnya kamu menceramahiku?”
Rajendra menarik nafas pelan, mencoba sabar menghadapi istrinya sekarang. Ia melangkah pelan, merangkul bahu istrinya dan memberikan usapan lembut agar istrinya tenang.
“Baik, maafkan aku. Aku juga sama khawatirnya denganmu. Ayo, kita jenguk menantu kita.” Rajendra menuntun istrinya untuk berjalan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, suara sepatu heels yang di ketuk-ketuk terdengar jelas. Di sampingnya Rajendra hanya dapat sabar menghadapi kepanikan istrinya.
Saat suara lift berdenting, tanpa memperdulikan suaminya, Adeline berjalan lebih dulu, membuka pintu besar kamar pribadi putranya tanpa ketukan terlebih dahulu.
“Gaharu!” Adeline memekik tertahan. Wanita setengah baya itu sudah akan mengeluarkan kata-kata mutiaranya, namun terhenti saat melihat kondisi menantunya yang terbaring lemas dengan wajah pucat. Terlihat seperti mayat hidup.
“Ya ampun, menantuku...” Adeline berjalan dengan cepat. Gaharu sontak saja memundurkan kursi rodanya saat melihat langkah cepat ibunya.
Adeline duduk di pinggiran kasur. Meraih tangan menantunya yang terasa panas di genggaman tangannya. Ia menatap berkaca-kaca pada Laura yang tidak merespon karena terlelap. Ia merasa prihatin.
Tangannya terangkat mengelus kepala Laura dengan lembut, bahkan menyeka beberapa butir keringat demam yang keluar di sekitaran dahi Laura.
“Bagamana kamu menjaga istrimu, Nak? Kenapa bisa seperti ini?”
“Laura kelehan dan dehidrasi, Ibu. Dia juga mengalami asam lambung karena—”
“Dasar bodoh! Kamu tidak memberikannya makan! Kamu membiarkan istrimu kehausan dan kelaparan? Tega sekali kamu ini...”
Gaharu memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Ia melirik Ayahnya seolah meminta bantuan agar terhindar dari omelan Ibunya. Namun, ayahnya hanya mengangkat bahunya acuh.
“Ibu, jangan menyimpulkan sendiri. Aku tidak mungkin membiarkan istriku kelaparan di rumah ini,” bela Gaharu dengan suara tertahan, berusaha tetap sopan meski rasa pening di kepalanya kian menjadi-jadi.
“Lalu kenapa dia asam lambung? Kenapa sampai dehidrasi?” cecar Adeline, matanya masih berkaca-kaca menatap Laura. “Seorang suami itu tugasnya memastikan istrinya aman dan tercukupi. Kamu punya pelayan sebanyak ini, tapi menantuku sampai pingsan karena kelelahan? Apa saja yang kamu lakukan sampai tidak tahu istrimu sedang sakit, hah!”
Rajendra berdehem pelan, mencoba menengahi. “Adeline, sayang... kontrol emosimu. Biarkan Gaharu menjelaskan dulu. Mungkin Laura memang terlalu bersemangat dengan jadwal kuliahnya.”
“Jika aku tahu istriku akan sakit, aku akan melarangnya untuk masuk kuliah hari ini, Ibu.”
Adeline meletakan tangan Laura yang sedari ia genggam. Fokusnya saat ini adalah putranya. Ia menatap Gaharu serius.
“Ibu akan menginap untuk beberapa hari ke depan sampai kondisi menantu ibu pulih kembali. Tidak ada penolakan, pokonya ibu akan tetap menginap!” ucapnya tidak terbantahkan. Bahkan Gaharu yang ingin menyela pun harus terpaksa menelan kembali ucapannya saat melihat ibunya melayangkan tatapan tajam.
“Mas, suruh orang rumah untuk mengantarkan pakaian gantiku sekarang. Dan kamu,” Adeline menunjuk putranya. “Ibu akan mengawasimu.”
Gaharu mendesah lelah. Hah... Sudahlah.
***
Rabu, 06 Mei 2026
Published : Rabu, 06 Mei 2026