Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: HIJAU ZAMRUD DAN PERANG TERBUKA
Suara rintik hujan yang menghantam atap mansion pegunungan milik Ian menciptakan melodi melankolis yang menemani persiapan pagi itu. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah Hari Peringatan Konstitusi, sebuah acara kenegaraan paling prestisius yang diadakan di Istana Merdeka, di mana seluruh jajaran pemerintahan, diplomat asing, dan keluarga kepresidenan harus hadir dalam formasi lengkap.
Di dalam kamar tamu, Rhea menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna nude dengan kain batik tulis bermotif parang yang melambangkan kekuatan. Wajahnya dipulas makeup minimalis namun elegan—sebuah upaya untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya akibat kurang tidur.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Ian masuk, sudah mengenakan setelan jas formal hitam dengan pin kepresidenan emas di kerahnya. Ia berhenti sejenak, menatap Rhea melalui pantulan cermin.
"Kamu terlihat... layak," ucap Ian pendek. Meski kata-katanya hemat, tatapan matanya yang tertuju pada Rhea lebih lama dari biasanya menunjukkan apresiasi yang jujur.
"Terima kasih," jawab Rhea gugup. "Ian, apakah aku benar-benar harus berdiri di sampingmu di depan semua kamera itu? Ayahku menelepon pagi ini, dia sangat ketakutan."
Ian melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Rhea. Ia meletakkan tangannya di bahu Rhea, memberikan sedikit tekanan yang menenangkan. "Ayahmu sudah berada di bawah perlindungan Yusuf. Mulai hari ini, dunia akan tahu bahwa menyentuh keluargamu berarti berurusan dengan Diningrat Grub. Jangan menunduk, Rhea. Kamu adalah tunanganku. Bertingkahlah seolah kamu memiliki seluruh tempat itu."
Istana Merdeka telah disulap menjadi panggung kemegahan. Karpet merah membentang luas, dikelilingi oleh barisan Paspampres yang berdiri tegak seperti patung baja. Saat mobil Rolls-Royce milik Ian tiba, puluhan kamera flash menyambar, menciptakan kilat putih yang memusingkan.
Ian turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya pada Rhea. Dengan napas yang ditahan, Rhea menyambut tangan itu. Mereka berjalan masuk, dan seketika suasana di dalam aula besar itu senyap untuk beberapa detik sebelum bisikan-bisikan kembali menjalar.
Namun, perhatian semua orang segera teralih saat keluarga inti kepresidenan memasuki ruangan.
Presiden Diningrat berjalan di depan, nampak berwibawa meski guratan kelelahan tak bisa disembunyikan. Namun, sosok di sampingnya-lah yang benar-benar mencuri perhatian dunia. Cansu Alessandra Kusuma melangkah dengan keanggunan yang hampir tidak nyata.
Sesuai dengan posisinya sebagai Ibu Negara, ia mengenakan kebaya modifikasi berwarna hijau emerald (zamrud) yang pekat. Warna itu kontras dengan kulitnya yang putih porselen, memberikan kesan misterius, dingin, namun sangat berkelas. Kebaya itu tidak memiliki payet berlebih, hanya potongan yang sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang elegan, dengan bros berlian besar warisan keluarga Diningrat yang tersemat di dada kiri. Rambutnya disanggul modern yang rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan tatapan matanya yang mengintimidasi.
Cansu tidak melihat ke arah tamu. Ia menatap lurus ke depan, namun saat ia melewati posisi Ian dan Rhea, sudut matanya sedikit melirik ke arah tangan mereka yang masih bertautan.
"Ibu Negara tampak sangat... sempurna," bisik Rhea tanpa sadar.
"Hijau zamrud," gumam Ian dengan suara yang hampir tak terdengar. "Itu warna favoritnya saat kita masih di Milan. Warna yang melambangkan ambisi dan kesetiaan yang dikhianati."
Acara dimulai dengan pidato kenegaraan yang membosankan bagi orang awam, namun penuh dengan kode-kode politik bagi mereka yang mengerti. Di barisan depan, Ian duduk bersanding dengan Rhea, sementara di sisi lain, Vier duduk dengan wajah bosan yang berusaha ia tutupi dengan senyum sopan.
Setelah acara inti selesai, sesi ramah tamah dimulai. Inilah saat yang paling berbahaya—di mana kata-kata manis bisa menjadi belati yang tajam.
Pradikta Kusuma, sang Perdana Menteri, mendekati kelompok Ian dengan segelas sampanye di tangannya. Di belakangnya, Cansu menyusul dengan langkah yang anggun.
"Adrian, Cucuku yang cerdas," sapa Pradikta dengan tawa palsu. "Dan Nona Rhea. Saya dengar Ayah Anda sedang beristirahat dari dunia medis? Sungguh disayangkan, padahal negara butuh dokter hebat. Tapi saya rasa, menjadi tunangan seorang Diningrat jauh lebih menjanjikan secara finansial, bukan?"
Rhea merasa darahnya mendidih. Ia ingin membalas, namun Ian lebih cepat.
"Ayahnya tidak beristirahat, Perdana Menteri. Dia sedang saya persiapkan untuk memimpin rumah sakit baru milik Diningrat Grub," balas Ian dengan nada soft-spoken yang mematikan. "Saya rasa, Anda terlalu sibuk mengurusi administrasi negara hingga lupa memantau pergerakan bisnis swasta."
Pradikta tersenyum tipis, matanya berkilat marah. Ia menoleh pada Cansu. "Cansu, sapa calon menantumu. Bukankah kamu sangat ingin mengenalnya lebih dekat?"
Cansu melangkah maju. Aroma parfum mawar hitamnya menyeruak, menutupi aroma ruangan. Ia menatap Rhea dari atas ke bawah, lalu tersenyum—sebuah senyum yang nampak manis di kamera, namun terasa seperti racun bagi Rhea.
"Rhea, kebayamu cantik. Sangat... sederhana," ucap Cansu. Ia menekankan kata 'sederhana' seolah itu adalah sinonim dari 'murah'. "Hijau zamrud yang kupakai ini, Ian dulu sempat menyarankan ku warna ini. Dia bilang, aku cocok dengan warna yang sulit ditaklukkan. Benar kan, Adrian?"
Ian menatap Cansu tanpa ekspresi. "Warna itu melambangkan hutan yang rimbun, Cansu. Tempat di mana banyak orang tersesat dan tidak pernah bisa keluar lagi. Aku hanya menyarankanmu memakai sesuatu yang sesuai dengan kepribadianmu yang... membingungkan."
Suasana menjadi sangat tegang. Para tamu di sekitar mereka mulai menjaga jarak, menyadari bahwa sedang terjadi perang dingin di titik koordinat tersebut.
"Mari kita berfoto bersama," ajak Presiden Diningrat yang tiba-tiba muncul, berusaha meredakan ketegangan.
Mereka berbaris di depan bendera merah putih. Presiden dan Cansu di tengah, Ian dan Rhea di sisi kanan, serta Vier dan Pradikta di sisi kiri. Saat lampu flash kamera menyambar bertubi-tubi, Cansu berbisik pelan, hampir tak terdengar, tepat di saat mereka semua harus tersenyum.
"Nikmati panggungmu malam ini, Rhea. Karena besok, aku akan memastikan tirainya tertutup untukmu."
Rhea tetap tersenyum untuk kamera, namun jemarinya meremas tangan Ian dengan sangat kuat. Ian membalas genggaman itu, seolah memberi janji bahwa ia tidak akan membiarkan tirai itu tertutup.
Setelah acara selesai dan mereka berjalan menuju mobil, Ian menghentikan langkahnya di koridor istana yang sepi. Ia menarik Rhea ke sebuah sudut gelap di balik pilar besar.
"Apa yang dia katakan padamu saat pemotretan tadi?" tanya Ian tajam.
"Dia bilang akan menutup tirai untukku besok," jawab Rhea, suaranya gemetar. "Ian, aku takut. Dia tidak terlihat seperti orang yang hanya mengancam."
Ian menghela napas panjang. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Rhea, sebuah momen keintiman yang langka di tengah badai. "Dia memang tidak main-main. Tapi dia lupa satu hal. Aku yang menulis naskah untuk pertunjukan ini, bukan dia."
Ian melepaskan Rhea dan menatap ke arah pintu keluar di mana mobil Cansu baru saja pergi. "Vier!" panggil Ian pada adiknya yang sedang berjalan tidak jauh dari sana.
"Ya, Kak?"
"Mulai besok, bawa Rhea ke laboratorium kampus bersamamu setiap saat. Jangan biarkan dia sendirian meski hanya semenit. Dan Yusuf, hubungi dokter pribadi Ayah. Aku punya perasaan bahwa Pradikta akan mulai memainkan kartu kesehatan Ayah untuk menekan Cansu."
Di dalam mobil kepresidenan yang melaju membelah malam, Cansu duduk terdiam menatap jendela. Air mata menggenang di matanya yang indah, namun ia tidak membiarkannya jatuh. Ia meremas kain kebaya hijau zamrudnya hingga kusut. Ia membenci Ian karena membawanya kembali ke kenangan pahit itu, dan ia membenci dirinya sendiri karena masih merindukan pria yang kini menggunakan wanita lain untuk menghancurkannya.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Nyonya Maya.
"Maya," suara Cansu terdengar hampa. "Siapkan rencana 'Mawar Hitam'. Jika aku harus tenggelam di istana ini, aku tidak akan tenggelam sendirian."
Babak baru dari pengkhianatan dan cinta yang terdistorsi telah dimulai di bawah megahnya lampu-lampu Istana Merdeka.