“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif Kaelthas yang Membelenggu
Pukul 07:00 Pagi.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Ceisya, namun ketenangan pagi itu langsung pecah oleh rasa perih yang kembali berdenyut di punggungnya. Ceisya mendesis, perlahan bangkit dan bersiap-siap. Dia menju kemarin mandi.
Di saat Ceisya sedang berada di kamar mandi, berjuang menahan perih luar biasa saat air dingin menyentuh luka cambuk di punggungnya, suasana di kamar sebelah justru terasa sangat berbeda.
Clarisse berdiri di depan cermin riasnya yang besar, mematut dirinya yang mengenakan gaun tidur sutra mahal. Jemarinya dengan pelan mengusap wajahnya yang mulus, namun matanya memancarkan kilat kebencian yang sangat dalam. Ia teringat bagaimana Kaelthas menatap Ceisya di kantor kemarin—tatapan yang tidak pernah Kaelthas berikan padanya selama mereka bertunangan.
"Nikmati saja waktumu sekarang, Kak," gumam Clarisse dengan senyum sinis yang merusak wajah cantiknya. "Kamu pikir Kaelthas akan tetap menginginkanmu setelah dia tahu betapa kotor dan hinanya kamu di mataku?"
Clarisse mengambil sebuah ponsel rahasia dari balik laci riasnya. Ia sudah menyiapkan rencana busuk. Ia berencana mengirimkan foto-foto editan atau dokumen palsu yang menunjukkan seolah-olah Ceisya memiliki masa lalu kelam dengan banyak pria di klub malam—sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan citra santriwati Ceisya.
"Pria sekelas Kaelthas Virelion tidak akan sudi menyentuh barang bekas, apalagi wanita yang punya catatan buruk," bisik Clarisse pada pantulan dirinya di cermin. "Aku akan buat dia begitu jijik padamu sampai-sampai dia sendiri yang akan menyeretmu keluar dari kehidupannya dan melemparkanmu kembali ke gudang belakang rumah ini."
Clarisse tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras dengan suara rintihan tertahan Ceisya dari balik dinding kamar sebelah. Ia tidak tahu bahwa rencananya kali ini justru akan membangkitkan sisi iblis Kaelthas yang jauh lebih mengerikan dari yang bisa ia bayangkan.
Sedangkan di dalam kamar Bastian dan Clara. Bastian sedang berdiri menatap keluar jendela, sedangkan Clara sedang memoles bibirnya dengan lipstik di depan meja riasnya. "Pa, jangan biarkan ceisyra merebut kembali tunangannya yang seharusnya miliknya, kasihan Clarisse yang lemah." Ucap Clara di sela memoles lipstik merahnya.
"Tentu, Lagi pula Clarisse lebih cocok dengan tuan muda Kaelthas di bandingkan dengan ceisyra yang selalu membangkang dan membuat onar." Jawab Bastian dengan nada dingin matanya menatap tajam keluar jendela.
"Benar, Clarisse lebih pantas bersanding dengan tuan muda Kaelthas dan aku akan membantu Clarisse agar tuan muda Kaelthas tambah mencintainya." Ucap Clara penuh rencana yang licik.
"Hmm, itu semuanya aku serahkan ke kamu." Lanjut Bastian dengan nada dingin.
Sedangkan di kamarnya ceisya sedang bersiap-siap, dia memilih tunik berwarna pastel yang longgar untuk menyembunyikan luka cambuknya, lalu melilitkan jilbabnya dengan rapi. Dengan gaya tengilnya yang mulai kembali, ia memoles sedikit lipstik agar wajah pucatnya tidak terlihat oleh musuh-musuhnya di meja makan.
"Hmm, cantik kan aku, ceisya gitu loh. Saatnya sarapan pagi." ucapnya dengan nada selalu tengil. Dia melangkah keluar.
Saat Ceisya turun ke ruang makan, suasana mendadak hening. Bastian sedang membaca koran bisnis, sementara Clara sibuk menyuapi Clarisse yang wajahnya tampak sangat murung.
"Mau ke mana kamu? Setelah kekacauan yang kamu buat, kamu masih berani menampakkan wajah di meja makan ini?" tanya Bastian tanpa menoleh, suaranya dingin dan penuh kebencian.
Ceisya menarik kursi dengan santai, mengambil selembar roti tanpa permisi. "Kuliah, Pa. Sayang kan kalau otak cerdasku ini menganggur cuma karena drama keluarga yang membosankan," sahut Ceisya ringan, membuat Clarisse tersedak.
"Pa, lihat Kak Ceisyra... dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah mencoba merayu Kak Kaelthas kemarin," rengek Clarisse dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Clara langsung menggebrak meja. "Benar-benar tidak tahu malu! Kaelthas itu tunangan adikmu! Jangan harap kamu bisa merebut posisinya hanya karena kamu mencoba bersikap jalang di kantornya!"
Ceisya hanya tersenyum miring, baru saja ia hendak membalas, tiba-tiba suara deru mesin mobil yang sangat berat dan bertenaga terdengar dari halaman depan mansion. Tidak hanya satu, tapi seperti sebuah konvoi besar.
Mereka semua tersentak. Bastian bergegas berdiri dan melangkah ke jendela besar ruang makan. Matanya membelalak. Di sana, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam dengan kaca antipeluru dan logo perak Virelion Corp yang sangat ikonik telah terparkir tepat di depan pintu utama. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam besar berhenti dengan presisi militer.
Pintu-pintu SUV itu terbuka serentak. Enam orang pria berbadan tegap, mengenakan setelan jas hitam dengan earpiece di telinga mereka, keluar dan berdiri dalam formasi barisan yang sempurna. Guntur, sang asisten kepercayaan Kaelthas, melangkah maju dan menekan bel mansion dengan tegas.
"Siapa yang datang sepagi ini dengan pengawalan seperti itu?" gumam Bastian gemetar, ia mengira ada pemeriksaan dari pihak berwenang.
Seorang pelayan berlari masuk dengan wajah pucat. "Tuan... di luar ada utusan dari Tuan Kaelthas Virelion. Mereka datang untuk menjemput Nona Ceisyra."
Mendengar itu, sendok di tangan Clarisse jatuh ke lantai. "Menjemput... Kak Ceisyra? Bukan aku?" tanyanya dengan suara melengking tidak percaya. Wajah kedua orang tuanya berubah merah padam karena amarah yang bercampur dengan rasa malu.
Ceisya berdiri, menggendong tasnya dengan santai. "Oh, sepertinya jemputanku sudah sampai. Maaf ya, jemputannya agak sedikit... berisik," ucap Ceisya sambil berjalan melewati Clarisse yang sudah mulai menangis histeris.
Bastian menahan lengan Ceisya dengan kasar. "Apa yang kamu lakukan?! Kenapa Kaelthas mengirim pengawalan sebanyak itu hanya untukmu?!" Tanyanya dengan nada murka.
"Tanya saja pada calon menantu kesayanganmu itu, Pa. Mungkin dia takut berliannya ini lecet di jalan," sahut Ceisya, ia menyentak tangan ayahnya dan melangkah keluar menuju pintu utama.
Di teras, Guntur menunduk hormat saat melihat Ceisya. "Selamat pagi, Nona Ceisyra. Tuan Kaelthas memerintahkan kami untuk memastikan Anda sampai di Universitas Teknologi Nasional dengan aman. Tidak boleh ada satu pun gangguan, termasuk dari penghuni rumah ini," ucap Guntur dengan suara keras yang sengaja ditujukan untuk telinga keluarga Valenor di dalam.
Clarisse yang berlari ke teras hanya bisa mematung melihat Ceisya masuk ke dalam mobil antipeluru yang harganya bisa membeli seluruh koleksi tas mewahnya. Rasa iri membakar dadanya hingga sesak, sementara kedua orang tuanya hanya bisa berdiri kaku, menyadari bahwa kini Ceisya berada di bawah perlindungan mutlak pria paling berbahaya di negeri ini.
Mobil pun melaju meninggalkan mansion, membelah jalanan pagi menuju kampus, tanpa mereka tahu bahwa di dalam mobil itu, Kaelthas sudah menunggu dengan gairah posesifnya yang siap meledak.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca