NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

***

Langit di atas Desa Sukamaju sejak subuh tadi sudah muram. Awan abu-abu tebal bergelayut rendah, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Benar saja, tak lama kemudian, gerimis tipis berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur bumi dengan suara berisik di atas atap seng.

Laras, dengan perut delapan bulannya yang kian menonjol, sedang berusaha menyapu sisa-sisa debu di ruang tengah. Setiap gerakan mengayunkan sapu membuat napasnya terasa pendek. Sesekali ia harus berhenti untuk mengusap pinggangnya yang terasa panas.

"Aduh, Dek... jangan dorong kuat-kuat ya, Mamah lagi kerja," gumamnya pelan pada perutnya.

Tiba-tiba, pendengarannya menangkap suara teriakan girang dan tawa melengking dari arah halaman depan. Laras mengerutkan kening. Ia berjalan perlahan menuju pintu, membuka sedikit celah kayu jati itu, dan seketika matanya membelalak.

"Mas Gilang! Arka! Ya Allah... masuk, Nak!" teriak Laras panik.

Di halaman yang luas itu, Gilang dan Arka sudah basah kuyup. Mereka berlarian tanpa alas kaki, melompat ke dalam genangan air hingga airnya menciprat ke mana-mana. Gilang sedang mencoba menangkap air hujan dengan tangannya, sementara Arka yang cadel berteriak kegirangan, "Mah! Air terjun! Acka mandi air terjun!"

"Mas Gilang, ajak adiknya masuk! Nanti kalian demam, Mamah yang susah!" Laras berdiri di ambang pintu, tidak berani keluar karena hawa dingin yang bisa membuat perutnya kencang.

Namun, anak-anak itu seolah menulikan telinga. Mereka justru semakin menjadi-jadi. Arka sengaja berguling di rumput yang basah, membuat daster Laras nyaris tercopot kancingnya karena rasa gemas bercampur kesal.

"Nanti kalau kalian nggak mau masuk, Mamah bilangin ke Bapak lho ya! Biar disunat lagi!" ancam Laras dengan suara yang mulai meninggi.

"Ada apa ini? Kok teriak-teriak sampai ke jalan?" sebuah suara berat menyahut dari arah gerbang.

Itu Bagas. Ia baru saja pulang dari balai desa, masih mengenakan seragam dinasnya yang sedikit basah di bagian pundak. Ia menuntun motor matic-nya masuk ke halaman.

"Itu lho, Mas! Lihat anak-anakmu. Sudah dibilangin berkali-kali jangan hujan-hujanan, tetap saja membandel. Nanti kalau sakit, yang repot aku, Mas!" keluh Laras sambil menunjuk ke arah halaman.

Bagas menoleh, melihat kedua putranya yang tertawa bebas di bawah guyuran hujan. Bukannya marah, Bagas justru tersenyum lebar. Ia meletakkan tas kerjanya di kursi teras, lalu mulai membuka kancing seragamnya.

"Halah, nggak apa-apa, Ras. Namanya juga anak laki-laki. Dulu aku waktu kecil juga begini, bahkan mandi di parit sawah," sahut Bagas santai.

"Nggak apa-apa gimana? Nanti kalau mereka masuk angin, batuk, pilek, aku juga yang nggak tidur semalaman, Mas!" Laras memprotes dengan wajah cemberut.

"Sudahlah, mumpung hari ini Mas nggak banyak kerjaan. Sini, Gilang! Arka! Ambil bolanya! Kita main di halaman belakang yang lebih luas!" Bagas justru memprovokasi. Ia melepas baju dinasnya, menyisakan kaos dalam putih, dan langsung berlari ke tengah hujan menghampiri anak-anaknya.

"BAPAK IKUT! HOREEE!" teriak Gilang histeris.

Laras hanya bisa memegangi kepalanya yang mulai pening. Ia melihat suaminya yang sudah gagah itu kini ikut-ikutan menjadi bocah, mengejar bola plastik bersama Gilang dan Arka di bawah hujan deras. Suara tawa mereka bersahutan dengan bunyi guntur di kejauhan.

"Ya Tuhan... punya anak dua saja sudah pusing, ditambah bapaknya satu jadi tiga anak kecil," gumam Laras sambil menutup pintu dengan keras. Ia berjalan ke dapur dengan langkah kesal, menyiapkan handuk dan air hangat, meski hatinya merasa dongkol karena nasihatnya dianggap angin lalu.

**

Malam harinya, karma dari kegembiraan tadi siang akhirnya datang. Hujan masih turun dengan lebat, menciptakan suasana dingin yang kian mencekam. Di ruang keluarga, lampu temaram menyinari tiga sosok pria yang duduk berjajar di atas karpet dengan wajah yang tampak... menyedihkan.

"HACIMM!" Gilang bersin kencang.

"Haci!" Arka mengikuti dengan suara kecil.

"HACIU!" Bagas menutup rangkaian itu dengan bersin paling keras hingga badannya terguncang.

Ketiganya kini terbungkus selimut tebal masing-masing. Hidung mereka merah, dan mata mereka tampak berair.

Laras keluar dari dapur membawa nampan berisi tiga mangkuk sup ayam panas dan tiga gelas minuman jahe. Ia berdiri di depan mereka, meletakkan tangan di pinggang (sebatas yang ia bisa karena perut besarnya).

"Kan... Mamah sudah bilang apa tadi siang? Kalau sudah kayak gini, siapa yang repot? Mamah kan?" omel Laras, meski tangannya sibuk mengambil plester kompres demam (baby fever).

"Bapak... Bapak yang ngajak tadi, Mah," cicit Gilang sambil menarik ingusnya.

"Iya... Bapak... Bapak nakal," timpal Arka lemas.

Laras menoleh tajam ke arah Bagas yang duduk di tengah. "Mas juga! Sudah tahu punya anak kecil, malah ikut-ikutan. Sekarang lihat, anak-anak jadi sakit semua. Mas juga pucat begitu!"

"Maaf, Mah... Bapak tadi cuma mau bikin mereka senang," sahut Bagas dengan suara sengau yang lucu. Pemimpin desa yang disegani itu kini tampak seperti anak kucing yang ketakutan dimarahi induk macan.

"Maaf, maaf! Sini, pakai ini dulu!" Laras menempelkan plester kompres ke dahi Gilang, lalu Arka, dan terakhir dengan sedikit 'sentakan' gemas, ia menempelkannya ke dahi Bagas.

"Aduh, pelan-pelan, Sayang. Mas lagi pusing ini," keluh Bagas.

"Makanya, dengerin kalau istri ngomong! Sekarang makan supnya, ini sudah pakai jahe biar badannya hangat. Suapin satu-satu!"

Laras duduk di kursi, karena tidak kuat berlama-lama berdiri. Ia menyuapi Arka, sementara Gilang dan Bagas harus makan sendiri meski dengan tangan gemetar kedinginan.

"Ehh, Mah... kok rasanya agak pedas ya? Jahenya kebanyakan?" tanya Bagas saat mencicipi supnya.

Laras melotot. "Makan nggak? Kalau nggak mau, tidur di luar sana!"

Bagas langsung bungkam. Ia buru-buru menyendok supnya lagi. "Iya, iya... enak kok, Mah. Segar banget."

Melihat ketiga prianya tunduk karena omelannya, Laras sebenarnya ingin tertawa. Namun ia tahan, ia ingin memberi mereka pelajaran agar lebih menghargai kesehatannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa sayang yang luar biasa melihat betapa kompaknya mereka, bahkan dalam urusan sakit sekalipun.

**

Malam kian larut. Hujan belum juga reda. Karena kedua anaknya rewel dan tidak mau ditinggal, akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk tidur satu ranjang di kamar utama.

Ranjang kayu jati yang luas itu kini terasa sangat penuh. Bagas tidur di ujung kanan, Gilang dan Arka berada di tengah-tengah, dan Laras di ujung kiri dengan posisi miring, menyangga perut besarnya dengan bantal guling.

"Mah... dingin," bisik Arka sambil merangkak masuk ke dalam pelukan Laras.

"Sini, Sayang... peluk Mamah," Laras menarik Arka dan Gilang ke dalam dekapannya.

Bagas, yang badannya mulai terasa panas karena demam, mengulurkan tangannya melewati anak-anaknya, meraih jemari Laras. "Ras... maaf ya. Terima kasih sudah mengurus kami."

Laras menghela napas, kemarahannya sudah menguap sejak tadi. Ia merasakan tendangan lembut dari janin di dalam perutnya, seolah si calon anak ketiga juga ingin ikut bergabung dalam pelukan keluarga itu.

"Iya, Mas. Lain kali jangan diulangi. Kasihan anak-anak, kasihan juga Mas," jawab Laras lembut.

"Iya, Janji. Tidurlah, biar Mas jagain anak-anak dari sini," bisik Bagas.

Di tengah suara hujan yang membungkus rumah dinas itu, Laras merasa damai. Meskipun raga dan jiwanya seringkali diperas oleh tuntutan sebagai istri, ibu, dan tokoh masyarakat, momen-momen seperti inilah yang membuatnya merasa bahwa segala pengabdiannya tidak sia-sia. Di ranjang itu, di bawah selimut yang sama, mereka bukan lagi Kepala Desa dan istri pejabat; mereka hanyalah sebuah keluarga kecil yang saling membutuhkan kehangatan satu sama lain.

Laras memejamkan mata, merasakan napas teratur anak-anaknya dan genggaman erat suaminya, perlahan tenggelam dalam mimpi yang damai.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!