Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Wang Fei Vs Belalang Sembah.
Bab 29. Wang Fei Vs Belalang Sembah.
Wang Fei baru saja keluar dari gedung Aula Misi. Suasana saat itu lumayan ramai seperti biasa. Sembari menunggu acara lelang dimulai, dia memutuskan untuk mengerjakan misi kecil-kecilan yang cukup ringan untuk menambah poin prestasi.
Membaca gulungan misi sekali lagi yang ada di genggamannya, dia tersenyum kecil. Kali ini dia jauh lebih berani, bukan lagi mengambil misi tingkat rendah, tetapi mengambil misi tingkat menengah.
Lokasinya masih tetap sama, yaitu Hutan Kabut. Hanya saja, dia akan melangkah masuk ke wilayah yang lebih dalam.
Jika sukses, dia bisa mendapatkan sekitar 1.000 poin prestasi. Misi itu adalah mengumpulkan sebuah bahan herbal bernama Ginseng Darah berusia 100 tahun yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang dari Balai Alkimia untuk membuat sebuah pil yang bernama Pil Darah Vitalitas, yang sangat berharga bagi seorang praktisi bela diri.
Pil ini bukanlah pil biasa, melainkan sebuah pil yang bisa merangsang esensi darah dan vitalitas dalam tubuh sehingga mampu meningkatkan potensi diri sendiri untuk meningkatkan kekuatan fisik sebanyak dua kali lipat selama seperempat jam, dengan efek samping kelelahan ekstrem tergantung seberapa kuat fisik pengguna mampu menanggungnya.
Intinya, semakin tinggi ranah kultivasinya, maka efek samping dari konsumsi Pil Darah Vitalitas juga dapat ditekan beberapa persen sehingga mengurangi kerugian yang berkelanjutan.
Masalahnya adalah, untuk mendapatkan herbal ini sendiri tidak mudah. Banyak sekali murid yang telah mati dalam misi ini.
Konon katanya, Ginseng Darah ini dijaga oleh seekor binatang buas yang sangat ganas, yaitu Belalang Sembah Raksasa yang tingginya hampir sekitar empat meter. Kekuatan binatang itu juga tidak main-main. Itu adalah Binatang Iblis Bintang 3 Level 3 Tahap Awal yang setara dengan seorang kultivator yang berada di Ranah Pembentukan Inti.
"Jadi... lawanku kali ini adalah Belalang Sembah Bintang 3, kah? Menarik!" ucapnya menyeringai.
Wang Fei jadi teringat oleh Binatang Iblis Harimau Tanduk Petir sebelumnya.
Namun, saat itu kondisinya sama sekali tidak memungkinkan sehingga kesadarannya diambil alih oleh Xue Jian. Akan tetapi, kali ini berbeda. Untuk kembali melawan Binatang Iblis Bintang 3, dia memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengalahkannya tanpa kehilangan kesadaran.
"Ginseng Darah bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah binatang iblis ganas yang menjaganya. Untuk itu, mari kita lihat seberapa kuat binatang iblis ini sebenarnya," pikirnya dalam hati.
Dia pun melambaikan tangan dan gulungan misi tersebut langsung masuk ke dalam cincin ruangnya. Setelah itu, dia mulai keluar dari kawasan sekte menuju Hutan Kabut.
Baru saja dia keluar dari gerbang sekte sekitar lima belas langkah, persepsinya yang tajam menangkap pergerakan yang tidak lazim di salah satu sudut tertentu.
"Hmm... apakah aku sedang diikuti secara diam-diam? Dan lagi... apakah ini niat membunuh?" gumamnya dengan sedikit keterkejutan yang melintas di matanya.
Namun, alih-alih merasa takut, Wang Fei justru tersenyum lebar.
"Hehehe... sepertinya perjalanan kali ini lebih menarik dari yang aku duga."
Tanpa memedulikan apa pun lagi, dia segera mengerahkan Langkah Petir dan dalam sekejap mata sosoknya menghilang menjadi seberkas cahaya tiga warna dengan jejak listrik yang masih menari-nari di udara.
"WUSH!"
Benar saja, tidak lama kemudian, di balik sebuah pohon besar yang ada di salah satu sudut, sesosok bayangan muncul dari kehampaan dengan jubah hitam dan wajah yang sepenuhnya tertutup topeng tengkorak.
Tidak salah lagi, sosok itu adalah pembunuh bayaran dari Gedung Asosiasi Iblis Darah yang telah disewa oleh Lin Chensheng untuk membunuh Wang Fei.
Dengan sebuah teknik khusus yang dapat menyatu dengan bayangan, dia membuntuti Wang Fei diam-diam tanpa ketahuan sedikit pun.
"Aku kira mangsaku kali ini adalah seseorang yang lemah, tetapi tampaknya dia jauh lebih menarik dari yang aku kira," gumamnya dengan senyum misterius.
Dia bisa mengatakan seperti itu karena langkah kaki yang dipakai oleh Wang Fei merupakan sebuah teknik yang tidak biasa. Pada saat itu pula muncul keserakahan di dalam hatinya untuk merebut teknik tersebut.
"Jika aku bisa merebut teknik langkah kaki itu, mungkin saja aku bisa mengalahkan si Nomor 95 dan langsung masuk dalam jajaran seratus besar pembunuh bayaran di gedung asosiasi," ujarnya dalam hati.
Semakin dipikirkan, tubuhnya semakin bergetar oleh semangat.
Akan tetapi, satu hal yang tidak disadari oleh sosok berjubah hitam itu adalah bahwa Wang Fei sudah mengetahui keberadaannya. Teknik bayangan yang dibanggakannya itu, di bawah kekuatan atribut gelap milik Wang Fei, sama sekali tidak ada apa-apanya.
Setelah itu, sosoknya kembali menghilang ke dalam bayangan.
...◦~●❃●~◦...
Dua jam kemudian.
Perbatasan wilayah luar dan tengah Hutan Kabut.
Seorang pemuda tampan baru saja berhenti melangkah dan menatap sekeliling dengan kewaspadaan tinggi. Dialah Wang Fei.
"Mulai dari sini sepertinya aku harus lebih waspada lagi," ucapnya dengan serius.
Ternyata dia merasakan tekanan yang lebih besar antara wilayah luar dan wilayah tengah. Di wilayah tengah, kabutnya jauh lebih tebal dan juga niat membunuh yang haus darah tampak tersebar di berbagai sudut.
Bahkan dengan persepsi yang tajam, dia bisa melihat hewan-hewan yang bersembunyi menatapnya dengan niat bermusuhan yang tidak ramah. Mereka adalah segerombolan serigala liar. Jika sebelumnya memiliki elemen angin, kali ini berbeda. Mereka memiliki elemen api, dan kekuatan mereka berada di puncak Bintang 2 yang setara dengan kultivator yang berada di Level 9 Tahap Puncak dari Ranah Pengumpulan Qi.
Merasakan itu semua, dia terkekeh.
"Tetapi meskipun harus waspada, bukan berarti aku takut pada kalian semua loh."
Dia pun melambaikan tangan dan pedang hitam dengan panjang 1,25 meter langsung muncul di genggamannya.
"Kakak! Aku sudah tidak sabar untuk meminum darah mereka semua," ucap Xue Jian antusias. Atau lebih tepatnya, lapar.
Saat pedang itu bergetar, aura Wang Fei juga melonjak. Energi spiritual berputar dan api petir tiga warna pun mulai berkobar di sekujur bilahnya.
"Apakah kau lapar? Kalau begitu mari kita bantai mereka semua dan hisap darahnya sampai kering," jawab Wang Fei yang dalam sekejap mata langsung bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Teknik Pedang Kilat dikerahkan dan seketika...
WUSH! WUSH! WUSH!
SLASH! SLASH! SLASH!
Dalam satu tarikan napas, delapan hingga lima belas ekor Serigala Api langsung terkapar dan mati tanpa tahu bagaimana mereka mati.
Seperti biasa, energi gelap menyebar menyelimuti seluruh mayat yang ada. Saat Kekuatan Pelahap aktif, seluruh daging, darah, tulang, dan vitalitas yang terkandung dalam monster itu langsung direduksi menjadi energi yang mengalir ke dalam tubuh Wang Fei.
Kini yang tersisa di tanah ialah kulit mereka semua yang masih utuh.
Merasakan sejumlah energi murni yang masuk ke dalam tubuhnya, dia tersenyum kecut.
"Masih kurang. Saking tipisnya energi ini, bahkan rasanya tubuhku seperti digelitik saja."
Benar, sekarang kekuatan dari seekor binatang buas Bintang 2 memang sama sekali tidak bisa membuatnya mengalami terobosan. Ditambah lagi, Tubuh Pedang Iblis Penelan Langit miliknya juga sangat menuntut energi dalam kapasitas yang luar biasa untuk mengokohkan kekuatan fisiknya.
"Untungnya kulit-kulit serigala ini bisa dijual dengan harga yang cukup mahal."
Dia pun melambaikan tangan dan dalam sekejap kulit-kulit tersebut masuk ke dalam cincin ruangnya.
"Jika mengingat peta wilayah yang ditunjukkan pada misi, maka aku harus pergi ke arah barat kurang lebih sejauh delapan ratus meter. Saat itulah aku akan tiba di Lembah Kematian."
Wang Fei mencoba mengingat-ingat keterangan yang tertulis pada peta wilayah yang ditunjukkan di dalam gulungan misi.
Sejak korban jiwa dari pihak sekte mulai berjatuhan, wilayah kekuasaan belalang sembah ini diberi nama Lembah Kematian.
Apa artinya itu?
Artinya, siapa pun yang berani masuk ke dalam lembah harus siap-siap mati mengenaskan di bawah keganasan binatang iblis tersebut.
Faktanya, mengerjakan misi dengan poin yang besar memang bagus, tetapi yang paling penting adalah...
Bukankah untuk menikmati poin itu sendiri seseorang harus memiliki nyawa yang utuh?
Dengan pemikiran itu, sekali lagi Langkah Petir dikerahkan dan dalam sekejap mata sosoknya langsung menghilang, menyisakan riak-riak listrik yang masih berfluktuasi di udara.
Tidak lama kemudian, Wang Fei pun akhirnya tiba di Lembah Kematian. Benar saja, seperti namanya, tempat itu begitu suram dan dipenuhi oleh niat membunuh serta aura kematian yang sangat luar biasa.
Hal ini mudah dipahami karena bagaimanapun juga, entah itu murid sekte ataupun para kultivator bebas lainnya yang masuk untuk mencoba keberuntungan, semuanya mati. Ketika mereka mati, mayat mereka akan mengeluarkan aura kematian yang mengendap di udara.
Pertanyaannya adalah, meskipun sudah mengetahui semua itu, apakah Wang Fei akan takut?
Jawabannya tentu saja tidak.
Alih-alih merasa takut, tubuhnya mulai bergetar karena kegembiraan. Semangat juangnya melonjak dan niat bertempurnya langsung bangkit.
Tanpa ragu, dia segera melesat masuk ke dalam. Benar saja, baru lima ratus meter dia melangkah, sebuah tekanan yang begitu dahsyat dan mengerikan sedang mengunci keberadaannya. Di saat yang sama, niat membunuh yang haus darah langsung menyerbunya seperti badai yang hendak menelan dan melumatnya.
"BOOM!"
Aura yang sudah siap meletus dan fluktuasi energi yang begitu ganas serta tajam menyebar ke segala arah.
Tidak lama kemudian, dari balik batu besar yang ada di salah satu sudut, seekor Belalang Sembah Raksasa setinggi empat meter mulai berjalan keluar.
"Beraninya manusia memasuki wilayahku? Mati!" ucapnya dengan suara yang serak dan suram, dipenuhi oleh niat membunuh yang mengerikan.
Bagi seekor binatang buas yang sudah melangkah ke Bintang 3, mereka memiliki kecerdasan dan mampu berbicara dengan bahasa manusia.
Wang Fei yang melihat itu semua sama sekali tidak terkejut.
Tanpa gentar sedikit pun, dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Dantian batu miliknya mulai berputar dan energi spiritual yang begitu besar pun langsung membeludak bagaikan gelombang tsunami yang menjebol bendungan.
Pada saat itu, kekuatannya yang berada di Ranah Pengumpulan Qi Level 7 Tahap Menengah pun terungkap sepenuhnya.
Di belakang punggungnya bayangan Jiwa perang Shio Kerbau dengan 6 bintang mulai mengembun dan memadat, tidak lama kemudian itu terpecah menjadi butiran cahaya yang masuk ke dalam tubuhnya.
"BOOM!"
Sekali lagi, auranya melonjak dengan liar.
Namun itu masih belum cukup.
Ketika dia menyatu sepenuhnya dengan Xue Jian, aura haus darah yang tidak kalah hebatnya pun menyembur dengan dahsyat.
Disertai dengan energi pembantaian dan niat membunuh yang tajam serta ganas, auranya kembali naik satu tingkat.
Dan ketika Tubuh Pedang Iblis Penelan Langit aktif, kekuatan di luar nalar dan tirani yang melampaui akal sehat pun terpancar sepenuhnya.
Saat mencapai puncaknya, tekanan yang keluar dari dalam tubuhnya sudah berubah total. Fisiknya meningkat enam kali lipat hingga setara dengan Ranah Pembentukan Inti Level 2 Tahap Menengah.
"BOOM!"
Tekanan yang menghimpit dan mengunci Wang Fei langsung dihancurkan tanpa sisa.
Di genggaman tangan kanannya, Xue Jian sudah bergetar hebat. Api petir tiga warna langsung menyala-nyala di sekujur bilahnya.
Terlihat sangat jelas jika dia sedang bersemangat dan tidak sabar untuk meminum darah lawannya.
Di seberang, tubuh Belalang Sembah Raksasa membeku sejenak.
Sejak dia dilahirkan dan menjadi penguasa wilayah, ini adalah pertama kalinya ada yang bisa mematahkan tekanannya.
Namun, ketika dia menyadari apa yang terjadi, amarah yang luar biasa pun menggelegak bagaikan Gunung Merapi yang memuntahkan lava panasnya.
Detik berikutnya, niat membunuh yang begitu mengerikan langsung meledak.
Dengan kecepatan bagaikan angin badai, sosok besar itu menerjang ke arah Wang Fei, bersiap untuk mencabik-cabiknya menjadi serpihan.
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
utk itu saya uplaus satu vote