Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11-Wajah pucat Di Koridor Part 2
Elara mempercepat langkahnya, nyaris berlari kecil menyusul Dinda yang berjalan santai di tengah keramaian koridor utama. Jantungnya masih berdebar kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena rasa bingung dan penasaran yang makin menjadi-jadi. Pemandangan mengerikan yang baru saja ia saksikan masih membayangi pikirannya, dan ia harus memastikan satu hal: apakah benar-benar Dinda yang ia ikuti masuk ke lorong sepi itu, atau ada hal lain yang bermain di sini.
"Dinda!" panggil Elara begitu jarak mereka sudah cukup dekat. Suaranya terdengar sedikit terengah karena terburu-buru.
Gadis itu seketika menghentikan langkahnya, lalu perlahan menoleh ke belakang. Saat melihat Elara, wajah Dinda tampak biasa saja, tenang, bahkan sedikit tersenyum ramah.
"Eh, Elara... ada apa?" tanya Dinda lembut, sambil membenarkan letak tumpukan buku yang dipeluknya di dada.
Elara menatap lekat-lekat wajah sahabat sekelasnya itu, berusaha mencari kejanggalan apa pun. Napasnya sedikit tertahan saat ia mengajukan pertanyaan yang paling ingin ia ketahui.
"Kamu... kamu darimana?" tanya Elara pelan, matanya tak lepas dari wajah Dinda.
Dinda mengerutkan kening sedikit, tampak bingung dengan pertanyaan itu, namun tetap menjawab dengan santai. "Oh, aku dari kelas aja kok. Tadi aku sempat lupa bawa satu buku catatan, jadi aku balik lagi sebentar ke ruang kelas buat ambil. Emangnya kenapa?"
Jantung Elara serasa berhenti berdetak sejenak. Mulutnya sedikit terbuka, namun kata-kata terasa tersangkut di tenggorokannya.
"Hah... Dinda dari kelas?" teriak batin Elara, pikirannya mendadak kacau balau. "Kalau dia dari kelas, terus yang aku lihat berjalan masuk ke koridor tua, yang aku ikutin sampai ke tengah lorong kosong itu... siapa?!"
Pertanyaan demi pertanyaan berputar liar di kepalanya, membuat kepalanya terasa pening dan berat. Ia menatap Dinda lagi, berusaha mencocokkan sosok gadis di depannya ini dengan bayangan kaku yang dilihatnya tadi. Tidak ada yang sama sama sekali. Dinda di sini terlihat hidup, hangat, dan normal.
"Elara? Kok diam aja? Emangnya kenapa sih?" tanya Dinda sekali lagi, kali ini terdengar sedikit khawatir melihat wajah Elara yang berubah pucat dan bengong begitu saja. "Kamu nggak apa-apa kan?"
Elara seketika tersentak dan kembali sadar. Ia segera menggelengkan kepalanya berusaha menepis segala keraguan dan rasa takut itu, lalu memaksakan senyum tipis di bibirnya.
"Ah... nggak, nggak ada apa-apa kok," jawab Elara tergagap, berusaha terdengar tenang meski suaranya masih agak kaku. "Cuma... aku pikir kamu ke mana aja, soalnya tadi pas bel bunyi, aku nggak lihat kamu keluar bareng kita. Aku kira kamu ada masalah atau sakit gitu."
Dinda tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan wajar. "Ah, enggak kok. Cuma ambil buku sebentar aja. Maaf ya bikin kamu khawatir."
"Iya, nggak apa-apa kok," Elara mengangguk pelan, lalu mengubah topik pembicaraan agar pikirannya tidak makin liar. "Oh ya, kebetulan kita ketemu sini. Yuk, kita ke kantin bareng aja yuk? Keisha udah nungguin kita di sana, dia udah pesenin makanan katanya."
Namun Dinda justru menggeleng pelan, lalu menunjuk buku-buku tebal yang ada di tangannya.
"Nggak deh, Elara. Makasih ya ajakannya," tolak Dinda sopan. "Aku mau langsung ke perpustakaan aja. Mau cari referensi buat tugas nanti sore, sekalian belajar di sana, suasananya lebih tenang. Lagian aku juga nggak terlalu lapar, jadi mending aku ke sana aja ya."
"Oalah... gitu ya," Elara mengangguk paham, meski rasa heran masih belum hilang sepenuhnya. "Ya udah kalau gitu. Kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya, Makasih ya, Elara," jawab Dinda ramah. Ia tersenyum sekali lagi, lalu melambaikan tangan kecil sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh, bergerak menuju arah lorong tempat perpustakaan berada.
Elara berdiri diam di tempat itu cukup lama, menatap punggung Dinda yang makin menjauh hingga hilang di belokan koridor. Hatinya masih penuh dengan tanda tanya yang belum menemukan jawaban. Pertemuan dengan sosok mengerikan tadi, peringatan keras dari Arkan, dan fakta bahwa Dinda ternyata tidak pernah berada di sana... semuanya terasa seperti teka-teki rumit yang perlahan menjeratnya.
Set merasa cukup lama berdiri diam, Elara pun menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya yang sempat hilang. Ia menoleh ke arah lorong sepi tempat kejadian tadi—tempat yang kini terlihat biasa saja, tenang, dan tidak lagi mengerikan, seolah apa yang terjadi hanyalah mimpi buruk semata. Namun Elara tahu betul, rasa dingin dan ketakutan itu nyata.
Dengan langkah yang masih agak hati-hati dan pikiran yang masih penuh kekalutan, Elara pun berbalik arah, berjalan cepat menuju kantin.
Elara melangkah masuk ke dalam kantin yang ramai itu, suara gaduh percakapan murid dan dentingan sendok garpu langsung menyambutnya. Matanya dengan mudah menemukan Keisha yang sudah duduk di meja pojok, melambaikan tangan sejak tadi. Dengan langkah yang masih terasa berat dan pikiran yang kacau, Elara berjalan mendekat lalu duduk tepat di hadapan sahabatnya itu.
"Untung aja kamu udah dateng," ucap Keisha segera, wajahnya tampak lega namun masih terselip rasa cemas. Ia menunjuk piring dan gelas yang terisi penuh di hadapan Elara. "Aku udah takut kamu kenapa-kenapa di sana tahu. Nih, aku udah pesenin makanan sama minuman kesukaan kamu, nggak lupa sama es teh manisnya. Makan aja ya, biar seger."
Namun Elara hanya diam saja. Ia menatap makanan di depannya dengan pandangan kosong, wajahnya pucat pasi, bibirnya kaku seolah kehilangan kemampuan bicara. Bayangan wajah penuh darah itu masih melayang-layang jelas di depan matanya, membuat perutnya terasa mual dan tenggorokannya tercekat. Ia sama sekali tidak menyentuh makanannya, hanya diam mematung dengan tangan yang tergenggam erat di atas pangkuan.
Melihat keanehan itu, senyum di bibir Keisha perlahan menghilang. Ia mencondongkan badan ke depan, menatap wajah Elara dengan lebih teliti. Rasa cemasnya makin menjadi saat melihat rupa sahabatnya yang jauh lebih buruk dibanding saat berpisah tadi.
"El... kamu kenapa?" tanya Keisha pelan, nadanya berubah khawatir. "Kok wajahnya pucet banget gitu? Kamu gemeteran juga lho... Ada apa? Kamu liat sesuatu yang buruk ya?"
Elara perlahan mengangkat wajahnya. Matanya memerah, tampak ketakutan namun juga penuh keyakinan. Ia menatap lurus ke manik mata Keisha, lalu berbicara dengan suara yang bergetar pelan namun tegas.
"Kei... yang kita lihat tadi di koridor sepi itu... itu bukan Dinda," ucap Elara lirih namun jelas.
Keisha seketika terdiam. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. "Apa...? Serius kamu ngomong gitu, El?"
"Iya, aku serius. Ini beneran, Kei," jawab Elara cepat, suaranya makin meninggi sedikit karena emosi yang tertahan. "Pas aku ikutin sosok yang mirip Dinda itu masuk ke lorong kosong... aku terusin jalan sampai ke tengah. Di sana aku ketemu sama cewek... cewek yang pakai seragam sekolah persis kayak kita. Rambutnya panjang, badannya sama aja kayak manusia biasa. Aku kira dia murid lain, jadi aku samperin terus aku tanya."
Elara menelan ludah susah payah saat ingatan mengerikan itu kembali muncul. Napasnya memburu. "Tapi pas aku sentuh pundaknya terus dia berbalik... Ya Tuhan, Kei... itu bukan manusia. Itu hantu! Wajahnya pucat banget kayak kertas, matanya bolong dan mengeluarkan darah, seluruh tubuh sama bajunya penuh sama darah yang udah kering. Baunya... bau anyir banget. Aku langsung teriak dan lari secepat mungkin."
Keisha menatap Elara dengan wajah yang mulai memucat juga. Ia menggeleng pelan, seolah tidak percaya namun melihat ketakutan nyata di mata sahabatnya, ia mulai merinding.
"Elara... kamu jangan sembarangan ngomong gitu ya... Nanti aku ikutan takut," ucap Keisha, suaranya pun ikut bergetar. "Masa sih? Seram banget ceritanya... Kamu nggak salah lihat atau halusinasi karena kaget kan?"
"Aku beneran, Kei! Ini serius banget, aku nggak bohong sama sekali," bantah Elara dengan mata yang berbinar tegas. "Terus... pas aku lari sampai ujung, aku lihat ada ruangan tua di pinggir. Aku mau deketin dan mau buka pintunya buat cari tempat aman... tapi tiba-tiba ada tangan yang nahan aku. Ternyata itu Arkan. Dia narik aku paksa keluar dari situ. Dia ngelarang aku keras buat masuk ke ruangan itu, dan ngelarang aku buat ada di koridor itu lagi."
Mata Keisha makin membelalak mendengar nama itu. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Oh... jadi ruangan itu... Ruangan tua di ujung lorong itu ya?"
"Kamu tahu ruangan itu?" tanya Elara cepat, tangannya mencengkeram lengan Keisha. "Emangnya ruangan apa itu? Kenapa Arkan sampai sekeras itu ngelarang aku? Kamu tahu sesuatu kan, Kei? Bilang sama aku!"
Keisha menghela napas panjang, lalu melihat ke sekeliling dengan waspada memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Elara, berbisik pelan.
"Aku denger cerita dari kakak kelas sih... Itu ruangan itu dibilang ruangan terlarang. Pihak sekolah sendiri udah ngasih tau kita semua, kalau ruangan itu sama seluruh lorong di sekitar sana nggak boleh diganggu gugat atau dimasuki siapa pun. Pintunya aja selalu dikunci gembok besar dari dulu."
"Tapi kenapa?" desak Elara lagi, rasa penasaran dan bingungnya makin memuncak. "Ada apa di dalamnya? Kenapa dilarang?"
"Aku gak tahu pasti soal itu, sumpah," jawab Keisha jujur, wajahnya tampak serius. "Cuma denger bisik-bisik aja, katanya ruangan itu nyimpen sejarah buruk sekolah ini. Tapi yang jelas, kamu bener-bener nggak boleh ke sana lagi ya, El. Bahaya banget. Untung aja ada Arkan tadi..."
Elara melepaskan cengkeramannya, lalu kembali duduk tegak dengan tatapan kosong ke meja. "Terus ada yang lebih aneh lagi, Kei..." ucapnya pelan, suaranya penuh kebingungan. "Pas aku udah keluar dan mau cari sosok yang aku kira Dinda itu... Dinda malah muncul berjalan santai dari koridor utama yang lain. Pas aku tanya dia darimana, dia jawab dia baru aja balik dari kelas buat ambil buku. Dia bener-bener nggak pernah masuk ke lorong sepi itu, dia beneran ada di kelas dari tadi."
Keisha terdiam seribu bahasa. Rasa ngeri perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat bulu kuduknya meremang hebat. Ia memeluk tubuhnya sendiri karena tiba-tiba merasa dingin.
"Denger cerita kamu kok aku jadi merinding banget gini ya..." gumam Keisha pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Jadi... yang kamu ikutin tadi itu bukan Dinda, tapi... sosok lain yang mirip banget sama dia? Terus hantu yang kamu lihat itu... siapa?"
"Aku juga bingung sama kejadian ini, Kei. Aku beneran nggak ngerti apa yang sebenernya terjadi," jawab Elara lemas, kepalanya terasa pening sekali.
Keisha menatap sahabatnya itu dengan rasa iba sekaligus khawatir. Ia tahu Elara sedang memikul beban berat yang bahkan belum diketahui jawabannya. Ia pun menepuk-nepuk pelan tangan Elara yang tergegam kuat di atas meja.
"Udah... daripada kita makin bingung dan takut ngomongin hal ini, mending kamu makan dulu ya," bujuk Keisha lembut, berusaha menenangkan suasana. "Makanan kamu udah mulai dingin. Makan dikit aja ya, biar tenangin diri kamu. Kita bahas lagi nanti pas udah pulang, pas kita aman di asrama aja ya?"
Elara mengangguk pelan pasrah. Ia pun perlahan mengulurkan tangannya, mengambil sendok dan mulai memakan makanannya sedikit demi sedikit. Rasanya hambar, tak ada rasa sama sekali di lidahnya. Meski mulutnya mengunyah, pikiran dan hatinya sama sekali tidak ada di sana. Di dalam benaknya, pertanyaan besar terus berputar: Apa rahasia besar yang disembunyikan sekolah ini? Siapa gadis berwajah pucat itu? Dan kenapa semua hal aneh ini selalu berpusat padanya?
Sambil menyuap makanannya, Elara berjanji dalam hati: Ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan kebenaran, meski itu berarti ia harus kembali menghadapi ketakutan terbesarnya.
Bel masuk berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru sekolah, menjadi tanda bahwa waktu istirahat telah usai. Satu per satu murid mulai berjalan bergegas kembali menuju ruang kelas masing-masing, suasana kantin yang tadinya riuh rendah perlahan menjadi sepi dan kosong. Elara dan Keisha pun ikut berjalan kembali menuju ruang kelas Scientiae Magister, langkah Elara terasa lebih berat dari biasanya, namun ia berusaha menutupi segala kegelisahan di wajahnya.
Tak lama setelah mereka duduk di bangku masing-masing, pintu kelas terbuka. Masuklah Bu Sintia, guru Matematika yang dikenal tegas namun sangat disiplin. Ia berjalan dengan langkah tegap, membawa buku paket di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja guru.
"Selamat siang, semuanya," sapa Bu Sintia dengan suara tegas dan jelas.
"Selamat siang, Bu Sintia," jawab seluruh murid serempak sambil berdiri sejenak, lalu duduk kembali setelah guru itu memberi isyarat.
Bu Sintia tersenyum tipis, lalu memandangi seluruh murid di hadapannya satu persatu. "Sebelum kita lanjut membahas materi yang kemarin sempat tertunda, Ibu mau menyampaikan satu pengumuman yang sangat penting dan menggembirakan buat kalian semua," ucap Bu Sintia, membuat suasana kelas seketika menjadi hening dan penuh rasa penasaran. Semua mata tertuju padanya, menunggu kabar apa yang akan disampaikan.
"Tiga bulan lagi, sekolah kita akan mengadakan ajang bergengsi yaitu Lomba Sains tingkat Nasional," lanjut Bu Sintia dengan nada bangga. "Dan kabar baiknya, lomba tahun ini akan diselenggarakan tepat di lingkungan sekolah kita sendiri, Hantage School Academy. Jadi, kita tuan rumah sekaligus peserta."
Suara tepuk tangan dan sorak sorai langsung pecah memenuhi ruangan. Semua murid tampak antusias dan bersemangat mendengar berita itu.
Bu Sintia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar murid-murid kembali tenang. "Nah, karena ini kebanggaan bersama, tentu kita harus menurunkan perwakilan terbaik. Dari setiap kelas, kami akan memilih 3 orang siswa untuk mengikuti tahap seleksi internal. Nanti dari seluruh peserta dari semua kelas, akan dipilih lagi 3 siswa terbaik untuk mewakili sekolah kita di tahap lomba yang sesungguhnya. Dan untuk kelas kita ini, Ibu sudah memiliki daftar nama 3 siswa yang Ibu pilih langsung untuk masuk ke tahap seleksi awal."
Suasana kelas kembali riuh rendah oleh bisik-bisik dan perbincangan. Semua murid saling menatap, bertanya-tanya siapa saja nama yang akan disebutkan nanti.
Di bangku tengah, Elara mencondongkan badan sedikit ke arah Keisha di sampingnya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu meski masih tersisa sedikit ketegangan dari kejadian tadi.
"Kira-kira siapa ya yang bakal ikut tahap awal seleksi nanti? Penasaran banget aku," bisik Elara pelan.
Keisha mengangguk setuju, matanya menatap ke arah meja guru. "Iya nih, aku juga penasaran banget. Yang pasti harus yang pinter-pinter banget sih, soalnya saingannya se-Nasional lho, berat banget pastinya."
Di bangku belakang, Celio menyenggol lengan Arkan yang duduk tenang sambil menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya yang khas.
"Eh, Kan... gue yakin banget nih, pasti lo lah yang terpilih," ucap Celio dengan yakin sambil menyenggol bahu temannya itu. "Siapa lagi kalau bukan lo? Nilai Matematika sama Sains lo kan paling tinggi seangkatan."
Rafael yang duduk di sampingnya langsung mengangguk-angguk semangat. "Iya, gue setuju banget sama Celio. Kalau sampai lo nggak dipilih, berarti ada yang salah sama sistem penilaian sekolah ini deh. Pasti lo nomor satu di daftar itu."
Namun Arkan hanya diam saja. Ia tidak menoleh, tidak menjawab, dan wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi sedikit pun, seolah pembicaraan mereka berdua sama sekali tidak ada artinya baginya.
Sementara itu, di bangku paling depan dekat meja guru, Valerie, Selena, dan Calista tampak sangat percaya diri.
"Kira-kira siapa ya yang bakal terpilih? Aduh
Gue jadi deg-degan nih," ucap Selena sambil memain-mainkan ujung rambutnya, seolah sudah tahu jawabannya.
Valerie tersenyum angkuh, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh rasa percaya diri yang berlebihan. Ia melirik ke kiri dan ke kanan seolah memastikan semua orang mendengar ucapannya.
"Ya pasti gue lah, siapa lagi? Jelas-jelas gue yang paling pinter di kelas ini, gue kan selalu dapet nilai bagus. Lagian... gue kan anak pemilik sekolah ini. Masa iya anak pemilik sekolah nggak jadi perwakilan? Nggak mungkinlah," ucap Valerie dengan nada sombong dan bangga.
Calista langsung menepuk-nepuk bahu Valerie dengan antusias, matanya berbinar kagum. "Bener banget! Kalau beneran lo yang terpilih, gue pasti bangga banget sama lo, Val. Lo kan emang paling hebat."
Selena pun ikut menimpali sambil tersenyum lebar membayangkan sesuatu. "Bener tuh! Tapi inget ya Val, kalau beneran lo jadi wakil sekolah dan menang, jangan lupa traktirannya ya! Harus yang mahal, enak, sama mewah banget lho kita mau diajak."
Valerie tertawa kecil, melambaikan tangan santai seolah uang bukanlah masalah baginya. "Aman, tenang aja. Kalau gue yang ikut, pasti menang. Nanti gue traktir kalian makan di restoran paling mahal di kota ini. Santai aja, gue bakal minta uang lebih sama Papa."
Selena dan Calista langsung bersorak pelan, saling berbisik sambil tersenyum senang membayangkan makanan mewah dan kemewahan yang akan mereka dapatkan nanti.
Bu Sintia membuka tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah buku tebal bersampul kulit berwarna cokelat tua. Itu adalah buku catatan nilai dan prestasi seluruh siswa di kelas ini. Ia membuka halaman yang sudah ditandai, lalu menatap seluruh murid dengan senyum penuh harap.
"Oke, saya bakal bacain nama 3 siswa yang terpilih mewakili kelas kita ke tahap seleksi sekolah," ucap Bu Sintia tegas.
Suasana kelas mendadak hening sepenuhnya. Semua murid menahan napas, saling pandang, menunggu dengan rasa penasaran yang memuncak. Di sudut kelas, Valerie sudah duduk dengan posisi tegak, dagu diangkat tinggi, dan senyum kemenangan sudah terukir jelas di bibirnya. Ia sudah sangat yakin namanya akan disebut paling akhir sebagai penutup yang paling bergengsi.
"Siswa pertama..." Bu Sintia berhenti sejenak, menatap daftar di depannya. "...Arkan Mahendra."
Tepuk tangan langsung meledak memenuhi ruangan, disertai sorakan antusias dari hampir seluruh murid.
"Nah! Benarkan dugaan gue! Lo pasti masuk!" seru Celio sambil menepuk-nepuk bahu Arkan dengan heboh, wajahnya tampak sangat bangga seolah dialah yang terpilih.
Rafael di sampingnya pun ikut tersenyum lebar. "Selamat ya, Bro! Gue sih udah yakin banget dari awal, nggak ada saingan deh kalau soal kepintaran sama lo."
Namun Arkan tetap saja Arkan. Ia hanya diam, duduk tegak dengan wajah yang sama sekali tak berubah ekspresinya—tetap datar, dingin, dan tenang. Ia hanya mengangguk kecil ke arah Bu Sintia sebagai tanda mengerti, lalu kembali menatap lurus ke depan seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang biasa saja.
Di bangku samping, Keisha langsung berbisik semangat ke arah Elara. "Udah aku tebak dari awal, pasti Arkan yang masuk. Dia kan emang siswa paling cerdas, penuh prestasi, dan juara terus di semua mata pelajaran, apalagi Matematika sama Sains."
Elara mengangguk pelan, menatap punggung Arkan di depan sana. "Gitu ya... emang dia hebat banget ya ternyata."
"Iya dong, dia jenius banget!" sahut Keisha penuh kekaguman. "Gak salah kalau sekolah ini milih dia. Kalau dia yang ikut, aku yakin seratus persen kita bakal menang di tingkat Nasional nanti."
Bu Sintia menunggu sampai tepuk tangan mereda, lalu kembali melanjutkan pembacaannya. "Oke, siswa kedua... Rio Fernandes."
Kembali terdengar riuh tepuk tangan. Rio yang duduk di barisan tengah langsung tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan dan rasa bangga. Ia melambaikan tangan sebentar ke arah teman-temannya yang memberi selamat, merasa sangat senang dan terhormat bisa terpilih.
Namun, di sisi lain, di balik wajah datarnya itu, Arkan menoleh sekilas ke arah Rio dengan tatapan tajam yang samar. Di matanya yang dingin itu, terselip rasa ketidaksukaan yang jelas. Arkan tahu betul siapa Rio—anak yang cukup pintar memang, tapi sering kali berbuat curang dan sangat ambisius. Baginya, kehadiran Rio dalam tim seleksi ini hanyalah beban yang tidak diinginkan.
"Dan yang terakhir, siswa ketiga..." suara Bu Sintia terdengar lagi, membuat seluruh perhatian kembali terpusat.
Valerie mulai bersiap. Ia menarik ujung bajunya agar lebih rapi, lalu dengan penuh percaya diri dan bangga, ia mulai berdiri dari bangkunya bahkan sebelum nama itu selesai disebutkan. Ia menatap seluruh isi kelas dengan pandangan merendah, seolah berkata: Lihatlah, akulah yang terbaik.
"...Dinda Kusuma."
Suasana kelas hening sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali riuh oleh tepuk tangan dan bisik-bisik tak percaya.
Valerie yang baru saja berdiri tegak dengan penuh kemenangan seketika membeku di tempat. Wajahnya yang tadinya penuh senyum bangga perlahan berubah menjadi kaget, lalu pucat, dan akhirnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Kakinya terasa lemas, tapi rasa malunya jauh lebih besar. Ia berdiri kaku di sana, menjadi pusat perhatian seolah menertawakan dirinya sendiri.
Di sudut ruangan, Dinda yang sedang merapikan bukunya langsung mengangkat wajah, matanya terbelalak tak percaya. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari, bertanya diam-diam apakah ia tidak salah dengar. Saat Bu Sintia tersenyum dan mengangguk ke arahnya, wajah Dinda langsung bersinar terang. Campuran rasa senang, terharu, dan tak percaya memenuhi hatinya. Ia tersenyum lebar, menundukkan kepalanya tanda terima kasih, sangat bahagia namun tetap tampak rendah hati.
"Gimana sih sekolah ini bikin keputusan?! Kesel banget deh!" gerutu Selena dengan nada tinggi, wajahnya tampak sangat kecewa. "Kan Lo anak pemilik sekolah, Val! Mana Lo juga pinter, nilai Lo kan selalu bagus. Harusnya Lo yang dipilih, bukan dia!"
"Betul banget! Aneh banget sih Bu Sintia ini," sambung Calista dengan nada jijik sambil melirik tajam ke arah Dinda yang sedang tersenyum bahagia. "Yang dipilih malah si babu miskin itu. Apa sih kelebihannya sih cacing tanah itu? Palingan juga cuma diem doang, otak kosong."
Valerie perlahan duduk kembali ke bangkunya dengan kasar, suaranya bergetar menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia menggenggam tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menatap tajam ke arah Dinda yang berada di ujung kelas dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.
"Lihat aja... lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke dia," desis Valerie pelan namun penuh ancaman yang mengerikan. "Dia pikir cuma karena dipilih Bu Sintia dia jadi hebat? Dia pikir dia bisa menang gampang? Gue bakal bikin dia nyesel seumur hidup udah berani ambil tempat gue. Gue bakal pastiin dia gagal, jatuh, dan malu banget di depan semua orang. Tunggu aja pembalasanku, Dinda."
Selena dan Calista saling pandang, lalu tersenyum jahat saat mendengar ancaman itu. Mereka tahu betul, kalau Valerie sudah berniat seperti itu, Dinda pasti akan mendapatkan masalah besar yang jauh lebih buruk dari sekadar dipermalukan.