"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Maya memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Suara derap langkah Arlan yang menjauh dan bunyi kunci yang diputar dua kali menjadi lonceng peringatan bahwa ia tidak sedang berada di rumah, melainkan di sebuah sel isolasi yang dikemas dengan kemewahan.
Namun, Arlan lupa satu hal. Seorang tawanan yang tidak lagi memiliki rasa cinta adalah tawanan yang paling berbahaya. Karena ia tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
Keesokan paginya, Maya keluar dari kamar dengan wajah setenang air di telaga, meski ia tahu Arlan memerhatikannya melalui kamera CCTV yang baru saja dipasang di sudut langit-langit koridor. Arlan tidak hanya mengunci pintu, ia sedang mengawasi setiap jengkal napas Maya.
Saat sarapan, Maya meletakkan sepiring nasi goreng di depan Arlan. Tanpa bicara, tanpa ekspresi.
"Aku akan pergi ke kantor lebih lama hari ini. Ada rapat besar," ujar Arlan, mencoba memancing reaksi. Ia berharap Maya akan bertanya atau setidaknya melarangnya pergi.
Maya hanya mengangguk kecil, lalu berbalik menuju dapur untuk mengambilkan susu Dion.
"Maya," panggil Arlan lagi. Kali ini ia berdiri dan mendekat, mencoba menyentuh jemari Maya yang memegang gelas. "Berhentilah bersikap seperti robot. Aku sudah memberikan semua yang kau minta untuk keluargamu. Ibumu sudah dipindahkan ke paviliun terbaik."
Maya menarik tangannya sebelum Arlan sempat menyentuhnya. "Terima kasih, Mas. Kau sangat dermawan dalam membeli kepatuhanku."
Arlan menggeram frustrasi, namun ia tetap berangkat kerja dengan perasaan yang tidak tenang. Ia meninggalkan dua pengawal di depan gerbang dan instruksi ketat pada Bi Minah untuk tidak membiarkan Maya keluar dari area rumah.
Begitu mobil Arlan menghilang di balik gerbang, Maya tidak langsung bergerak. Ia naik ke lantai atas, menemani Dion bermain puzzle. Di sela-sela tawa kecil Dion, Maya membisikkan sesuatu di telinga bocah itu.
"Dion sayang, minum vitamin nya dulu ya."
Dion menatap Maya dengan mata bulatnya. " Iya ,Ma" Dion lalu membuka mulutnya kecilnya itu dan Maya pun menyuapi Dion dengan penuh kasih sayang.
"Mama selalu bersamamu," bisik Maya sembari mencium keningnya. Meski Dion adalah anak dari almarhum adik Arlan tapi Maya sudah menganggap Dion juga sebagai anaknya sendiri dan menyayangi dengan begitu tulus. Sejak lahir Maya lah yang sering mengasuh Dion,itulah mengapa Maya lebih dekat dengan Dion daripada Sarah ibu kandungnya.
Maya menatap Dion yang kembali bermain dengan mainannya,ada rasa bersalah dan tak rela jika ia meninggalkan Dion ,tapi ia pun tak bisa hidup dengan Arlan seperti dulu lagi.
Maya mengusap pipi lembut Dion, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya pelipur lara di rumah ini. Dilema itu menghantamnya begitu keras. Jika ia pergi membawa Dion, Arlan akan mengejarnya sampai ke ujung dunia dengan tuduhan penculikan. Namun, jika ia meninggalkan Dion, bocah itu akan kembali ke tangan Sarah yang lalai atau tumbuh di bawah asuhan Arlan yang kini semakin tidak stabil secara emosional.
"Dion, kalau suatu saat nanti Mama tidak ada di sini untuk sementara, Dion harus ingat semua catatan yang Mama buat di laci, ya?" bisik Maya, suaranya nyaris pecah.
Dion berhenti bermain, menatap Maya dengan kening berkerut. "Mama mau ke mana? Mama jangan pergi lagi seperti kemarin. Dion takut."
Maya memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia tidak boleh goyah. Saat itulah, Bi Minah mengetuk pintu kamar bermain dengan ragu.
"Non... ada telepon di bawah. Katanya dari rumah sakit tempat Ibu dirawat," ucap Bi Minah dengan nada cemas.
Maya segera turun dan mengangkat gagang telepon di ruang tengah. Namun, bukan suara perawat yang ia dengar, melainkan suara berat Arlan.
"Kenapa kau menggunakan jalur rumah sakit untuk menghubungiku, Arlan?" tanya Maya dingin.
"Karena aku tahu kau hanya akan mengangkat telepon jika itu menyangkut ibumu," sahut Arlan dari seberang sana. Suaranya terdengar bising, seolah ia sedang berada di lokasi konstruksi. "Aku hanya ingin memberitahumu, aku sudah memindahkan seluruh tim dokter terbaik ke paviliun itu. Tapi, ada satu dokumen yang harus kau tanda tangani sebagai wali sah. Aku akan mengirim supir untuk menjemputmu jam empat sore ini."
Maya terdiam. Ini adalah celah. Arlan memberinya izin untuk keluar, meski di bawah pengawasan. "Aku akan pergi. Tapi aku ingin membawa Dion. Dia sudah bosan terkurung di rumah."
Hening sejenak. Arlan tampaknya sedang menimbang-nimbang risiko. "Baik. Tapi ingat, Maya... jangan mencoba melakukan hal bodoh. Supir dan dua pengawal akan mengikutimu sampai ke depan pintu kamar rawat."
Tepat pukul empat sore, Maya keluar dari rumah dengan menggendong Dion. Ia tidak membawa koper besar, hanya tas bayi Dion yang tampak penuh namun di dalamnya, terselip paspor, surat-surat penting miliknya, dan bukti-bukti manipulasi Sarah yang belum sempat ia tunjukkan pada Arlan.
Di dalam mobil, Maya tetap tenang. Ia memberikan Dion tablet untuk bermain agar anak itu tidak menyadari ketegangan yang ia rasakan. Sesampainya di rumah sakit, pengawal Arlan benar-benar menempel ketat di belakangnya.
Namun, Maya sudah memperhitungkan segalanya. Sebelum sampai ke kamar ibunya, ia membelokkan langkah menuju toilet wanita di area VIP yang memiliki dua pintu keluar berbeda.
"Tunggu di sini. Aku harus mengganti popok Dion," ujar Maya tegas pada kedua pengawal itu.
"Tapi Pak Arlan berpesan..."
"Kalian mau ikut masuk ke dalam toilet wanita? Silakan, dan biarkan besok pagi berita ini sampai ke telinga Mas Arlan," ancam Maya.
Kedua pria itu saling berpandangan dan akhirnya mundur, berdiri tegak di depan pintu masuk utama toilet.
Di dalam toilet, Maya bergerak cepat. Ia tidak mengganti popok Dion. Ia melangkah menuju pintu keluar darurat yang menuju ke area parkir belakang rumah sakit , jalur yang ia ketahui dari pengacara Bramasta.
Di sana, sebuah mobil taksi biasa sudah menunggu. Tanpa ragu, Maya masuk ke dalam.
"Jalan, Pak," perintah Maya.
Dion menatap ibunya dengan bingung. "Kita tidak jadi lihat Nenek, Ma?"
Maya memeluk Dion erat, mencium puncak kepalanya dengan air mata yang akhirnya jatuh. "Kita akan bertemu Nenek di tempat lain, Sayang. Tempat di mana tidak ada lagi kunci pintu dan tidak ada lagi rasa takut."
Ia melihat melalui kaca belakang, gedung rumah sakit itu perlahan menjauh. Maya tahu, Arlan akan mengamuk begitu menyadari ia hilang. Ia juga tahu bahwa meninggalkan rumah sakit berarti ia melepaskan jaminan biaya pengobatan ibunya yang dibayar Arlan.
Namun, Maya sudah melakukan langkah pencegahan. Ia telah menjual satu-satunya aset yang ia miliki secara diam-diam melalui Bramasta sebuah tanah warisan dari kakeknya yang cukup untuk membiayai perawatan ibunya selama bertahun-tahun di tempat rahasia yang sudah disiapkan.
Malam itu, saat Arlan mendapati toilet itu kosong dan kedua pengawalnya tertunduk lesu, ia meraung memenuhi lorong rumah sakit. Namun, Maya sudah berada jauh di perjalanan, menembus kegelapan malam menuju kebebasan yang sesungguhnya. Kali ini, ia tidak hanya menyelamatkan dirinya, tapi juga menyelamatkan masa depan Dion dari cengkeraman obsesi yang merusak.