NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

POV: Nara

Aku tidak tahu sejak kapan pintu kamarku dikunci dari luar. Yang aku tahu, setelah pertengkaran malam itu, Dev menggenggam tanganku terlalu erat lalu keluar tanpa banyak bicara. Beberapa detik kemudian terdengar suara klik dari luar. Awalnya kupikir aku hanya berhalusinasi. Aku mencoba memutar gagang pintu namun terkunci.

“Dev?” panggilku pelan.

Tidak ada jawaban, dadaku mulai sesak. Aku mengetuk pintu. “Dev, buka. Kita bisa bicara.”

Hening—Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki menjauh.

Aku terduduk di lantai, punggungku bersandar pada pintu yang tak lagi memberiku jalan keluar. Ia mengurungku. Hari berjalan lambat. Aku duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang bahkan tidak bisa kubuka penuh. Rasanya seperti burung yang dipelihara—diberi makan, diberi tempat tinggal, tapi tidak diberi langit.

Sekitar jam makan siang, terdengar suara kunci diputar, pintu terbuka sedikit. Dev masuk membawa nampan. Wajahnya tenang. “Aku bawakan makan,” katanya lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku menatapnya tanpa menjawab. Ia meletakkan makanan di meja kecil dekat ranjang. “Makan yang banyak. Kamu belum makan sejak pagi.”

“Apa aku tahananmu?” tanyaku pelan.

Tangannya berhenti sejenak. “Aku hanya ingin kamu mengerti."

“Dengan mengunciku?”

“Nara…” ia menghela napas. “Kamu sedang tidak stabil. Kamu pergi tanpa bilang. Kamu berbohong. Aku tidak mau kamu mengulangi itu.”

Aku tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti ejekan pada diriku sendiri. “Jadi solusinya dikurung?”

Ia tidak menjawab, hanya mendekat dan mengusap rambutku. “Ini demi kebaikanmu.”

Kalimat itu terdengar seperti penjara yang dibungkus pita. Ia keluar lagi setelah memastikan aku makan. Dan pintu itu kembali terkunci. Sore hari ia datang lagi membawa air dan camilan. Malamnya datang lagi membawa makan malam. Ia selalu berbicara lembut, selalu mengusap pipiku. Selalu memastikan aku makan. Tapi setiap kali ia keluar, suara kunci itu seperti tamparan kecil yang berulang.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—dikurung atau diperlakukan manis setelahnya. Keesokan paginya, pintu tidak langsung terkunci setelah ia masuk membawa sarapan. Ia berdiri lebih lama menatapku. “Aku minta maaf."

Aku mengangkat wajahku perlahan.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu,” katanya pelan. “Aku hanya takut.”

“Takut apa?” suaraku lemah.

“Takut kehilangan kamu.” Ia duduk di tepi ranjang, memegang kedua tanganku.

“Aku melakukan itu karena aku cinta kamu, Nara. Aku tidak ingin kamu kembali ke masa lalu. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku.”

“Aku cuma ke pemakaman,” bisikku.

“Tapi kamu tidak bilang.”

“Apa semua harus izin?” tanyaku.

Ia terdiam sejenak. “Kamu milikku, dan apapun yang menjadi milikku, semua hal harus melalui aku."

Tangannya mengelus punggung tanganku, ibu jarinya bergerak pelan seperti ingin menenangkan. “Kamu tahu kan aku tidak akan pernah sengaja menyakitimu?”

Aku menatap wajahnya. Wajah yang dulu selalu membuatku merasa dilindungi.

“Aku cuma ingin kamu tetap di sini,” lanjutnya. “Bersamaku. Jangan menjauh.” Nada suaranya berubah lembut. Dan lagi-lagi, hatiku melemah. Aku mengangguk kecil. Ia tersenyum lega, lalu membuka pintu lebar-lebar. “Kamu sudah bebas.”

Kata itu terasa ironis—Keesokan harinya aku mencoba bersikap biasa. Aku turun ke ruang tengah. Dev sedang duduk di sofa, membaca sesuatu di tablet.

“Dev,” panggilku.

Ia menoleh. “Ya?”

“Aku mau bicara.”

Ia meletakkan tabletnya. “Tentang apa?”

Aku duduk di seberangnya. “Aku ingin bekerja.”

Wajahnya langsung berubah. “Bekerja?” ulangnya pelan.

“Iya. Aku merasa bosan di rumah, jenuh. Aku butuh kegiatan.”

Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kamu tidak perlu bekerja. Semua kebutuhanmu sudah aku sediakan.”

“Bukan soal uang.”

“Lalu apa?”

“Aku ingin merasa punya sesuatu, aktivitas, teman, dunia.”

“Dunia?” suaranya mulai meninggi. “Duniamu ada di sini.”

“Dev—”

“Kamu mau kerja di mana? Ketemu siapa? Kenal siapa?” pertanyaannya bertubi-tubi.

“Kenapa kamu langsung marah?”

“Aku tidak marah.” Tapi rahangnya mengeras. “Aku hanya tidak mengerti kenapa kamu ingin menjauh.”

“Aku tidak ingin menjauh!”

“Kalau begitu kenapa butuh kerja? Supaya kamu tidak terlalu sering di rumah? Supaya kamu bisa punya alasan tidak bersamaku?”

Aku berdiri. “Kenapa kamu selalu berpikir aku mau kabur darimu?”

“Karena akhir-akhir ini kamu berubah!”

“Berubah bagaimana?” suaraku ikut meninggi.

“Kamu sering diam. Kamu pergi tanpa bilang. Sekarang kamu mau kerja. Apa lagi setelah ini?”

Aku menggeleng. “Aku cuma ingin jadi manusia yang punya kehidupan.”

“Kehidupanmu ada di sini!” bentaknya.

“Dev, aku bukan benda yang bisa kamu simpan di rumah!” Teriakku.

Tamparan itu datang begitu cepat. Suara keras menggema di ruang tengah. Tubuhku tersungkur ke sofa. Pipi kiriku terasa panas dan berdenyut. Beberapa detik aku hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Ia… menamparku. Air mataku jatuh. Dev terlihat kaget dengan tindakannya sendiri. “Nara…” suaranya melemah. “Aku—” Ia mendekat, berlutut di depanku. “Aku tidak sengaja, aku emosi, maaf... maaf.”

Tangannya mencoba menyentuh pipiku, tapi aku menjauh. “Aku cuma ingin kerja…” suaraku pecah.

“Aku tahu.” Ia mengusap wajahnya frustasi. “Tapi aku tidak bisa membiarkanmu kerja.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut.”

“Takut apa lagi?”

“Takut kamu sadar ada dunia yang lebih luas daripada aku.”

Aku terdiam—Ia memegang kedua tanganku lagi. “Dengarkan aku. Kamu tidak perlu kerja. Kamu mau apa, bilang. Aku sediakan. Tapi jangan minta itu.”

“Kenapa kamu tidak percaya padaku?”

“Aku percaya,” katanya cepat. “Aku cuma tidak percaya dunia.”

Aku tertawa kecil di sela tangis. “Kamu tidak percaya dunia… atau kamu tidak percaya aku bisa tetap memilihmu?”

Ia tidak menjawab, hanya memelukku lagi. Dan seperti biasa, aku kembali diam. Ia meminta maaf berkali-kali. Tapi tetap tidak mengizinkan. Malamnya, aku duduk sendirian di kamar. Pipi kiriku masih terasa perih. Aku menatap diriku di cermin—retakan lama masih ada.

“Ini cinta?” bisikku pada bayangan sendiri.

Ia mengurungku, ia melacakku, ia menamparku. Lalu meminta maaf, lalu memelukku, lalu mengatakan semua itu karena cinta.

Aku memeluk lututku di atas ranjang. Dulu aku merasa aman bersamanya. Sekarang… aku mulai merasa takut. Takut berbicara, takut meminta, takut salah. Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul jelas di kepalaku—

Bagaimana jika aku harus berhenti? Bagaimana jika cinta ini bukan tempatku sembuh, tapi tempatku perlahan hancur? Air mataku jatuh lagi. Aku mencintainya—tapi mungkin… cinta saja tidak cukup jika harus dibayar dengan kebebasan dan rasa aman.

Dan malam itu, di dalam kamar yang sunyi, aku mulai mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini selalu kutolak: Mungkin aku harus menyelamatkan diriku sendiri.

***

Pov: Devandra

Aku tidak pernah membayangkan akan mengunci Nara di dalam kamarnya. Tapi malam itu, setelah pertengkaran kami, setelah ia berteriak tentang lelah dan tentang orang-orang yang membandingkannya, aku melihat sesuatu di matanya, sebuah jarak.

Dan jarak itu membuatku panik. Aku berdiri beberapa detik di luar pintu, mencoba menenangkan napas yang tidak beraturan. Aku hanya butuh ia diam. Berhenti melawan, berhenti pergi tanpa bilang. Tanganku memutar kunci dari luar—Klik. Suara kecil itu terasa lebih keras dari seharusnya. Aku berdiri terpaku setelahnya. Apa yang baru saja kulakukan? Dari dalam terdengar suara gagang pintu diputar. “Dev?” suaranya pelan.

Aku memejamkan mata. Ini hanya sementara, kataku pada diri sendiri. Ia sedang emosional. Ia butuh waktu untuk tenang. “Aku cuma ingin kamu istirahat,” jawabku akhirnya, meski ia mungkin tidak mendengar dengan jelas. Aku berjalan menjauh sebelum ia mulai mengetuk lebih keras.

Sepanjang hari aku tidak benar-benar pergi jauh. Aku bekerja dari ruang kerja di rumah. Setiap beberapa jam aku membuka pintu kamarnya, membawakan makanan, air, memastikan ia makan. Ketika pertama kali masuk membawa makan siang, ia duduk di sudut ranjang. Tidak marah, tidak berteriak—Hanya diam.

“Aku bawakan makan,” kataku pelan.

Tatapannya membuat dadaku terasa berat. “Apa aku tahananmu?” tanyanya.

Pertanyaan itu menusuk. “Jangan bilang begitu,” jawabku. “Aku cuma ingin kamu tidak mengulangi kesalahan.”

“Kesalahan apa? Pergi tanpa izin?”

“Iya.” Suaraku tegas. “Dan berbohong.”

Ia tertawa kecil, tawa yang tidak lucu. Aku ingin menjelaskan bahwa dunia ini tidak aman. Bahwa ia terlalu polos. Bahwa aku tidak bisa kehilangan lagi. Tapi kata-kata yang keluar hanya, “Ini demi kebaikanmu.”

Ia tidak membantah lagi. Itu justru membuatku semakin tidak nyaman. Sore hari aku kembali masuk membawa camilan. Ia sudah tidak mengetuk pintu lagi. Tidak mencoba keluar lagi. Dan itu membuatku gelisah. Aku duduk sebentar di tepi ranjang.

“Nara, aku tidak marah lagi.”

Ia menatapku, tapi tidak menjawab.

“Kalau kamu terus begini, aku yang merasa bersalah.”

“Bukankah kamu memang bersalah?” jawabnya pelan.

Aku terdiam, mungkin iya. Tapi dalam pikiranku, semua ini hanya bentuk perlindungan. Aku keluar lagi, mengunci pintu. Suara kunci itu mulai terdengar seperti sesuatu yang tidak wajar bahkan di telingaku sendiri.

Keesokan paginya, aku membuka pintu tanpa ragu.Ia terlihat lebih tenang. Atau mungkin lebih pasrah. Aku masuk dan duduk di depannya. “Aku minta maaf,” kataku.

Ia menatapku lama, seolah mencari apakah aku serius. “Aku tidak bermaksud mengurungmu seperti itu,” lanjutku. “Aku hanya takut kamu akan terus menjauh.”

“Aku cuma pergi ke pemakaman,” katanya.

“Kamu tidak bilang padaku.”

“Apa semuanya harus izin, Dev?”

Pertanyaan itu lagi. Aku memegang tangannya.

“Aku cuma ingin tahu kamu aman. Aku cuma ingin kamu tetap di sini.”

Ia terlihat ragu. “Aku melakukan itu karena aku cinta kamu,” kataku lebih pelan. “Aku tidak ingin kehilangan kamu seperti… seperti yang sudah pernah terjadi dalam hidupku.”

Aku tidak menjelaskan lebih jauh. Ia akhirnya mengangguk kecil. Dada yang sejak kemarin terasa sesak, sedikit lega. Aku membuka pintu lebar-lebar. “Kamu sudah bebas.”

Aku berharap kata itu menghapus semuanya. Besoknya ia mendatangiku di ruang tengah.

“Aku ingin bekerja,” katanya tiba-tiba.

Aku tidak langsung menjawab. Bekerja? Untuk apa?

“Aku bosan di rumah,” lanjutnya. “Aku jenuh.”

“Semua kebutuhanmu sudah aku sediakan,” jawabku.

“Bukan soal uang.”

Lalu apa? Di kepalaku langsung muncul bayangan-bayangan buruk. Kantor, rekan kerja laki-laki, dunia luar yang tidak bisa kukontrol.

“Kamu mau menjauh?” tanyaku.

“Aku tidak mau menjauh.”

“Kalau begitu kenapa harus kerja?”

“Aku cuma ingin punya kehidupan.”

Kalimat itu menyentak sesuatu di dalam diriku.

Apakah hidup bersamaku tidak cukup?

“Duniamu ada di sini,” kataku tegas.

Ia berdiri, suaranya ikut meninggi. “Aku bukan benda yang bisa kamu simpan di rumah!”

Tanganku bergerak sebelum pikiranku sempat mencegah. Plak... suara tamparan itu menggema. Waktu seperti berhenti, ia tersungkur ke sofa. Dan untuk pertama kalinya aku melihatnya bukan hanya terluka—tapi takut.

“Aku—” suaraku tercekat. “Aku tidak sengaja.”

Aku berlutut di depannya. “Maaf. Aku emosi. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Ia menangis. “Aku cuma ingin kerja…”

Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak perlu kerja,” kataku lebih pelan. “Aku tidak ingin kamu lelah. Aku tidak ingin kamu stres. Aku bisa menyediakan semuanya.”

“Aku ingin merasa punya dunia,” katanya.

Dunia? Kenapa ia butuh dunia lain kalau aku sudah memberinya segalanya?

“Aku takut,” akhirnya aku mengaku.

“Takut apa?”

“Takut kamu sadar ada yang lebih baik daripada aku di luar sana.”

Ia terdiam dan aku menunduk. “Aku tidak bisa kehilangan kamu.”

Itu kebenarannya, mungkin caraku salah, mungkin aku terlalu keras. Tapi bayangan ia pergi, ia memilih hidup tanpa aku, itu lebih menakutkan daripada rasa bersalah karena menamparnya.

“Aku tetap tidak mengizinkan kamu bekerja,” kataku akhirnya, meski suaraku melemah. “Untuk sekarang. Tolong mengerti.”

Ia tidak menjawab. Dan diamnya itu terasa seperti tembok yang semakin tinggi di antara kami. Malamnya aku berdiri di luar kamarnya cukup lama sebelum masuk. Ia duduk di ranjang, memeluk lututnya. Aku ingin memeluknya, ingin meminta maaf lagi. Tapi untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang menggangguku—

Setiap kali aku mencoba mempertahankannya, aku justru mendorongnya lebih jauh.

Namun tetap saja… Aku tidak tahu cara mencintai tanpa menggenggam. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai tanpa rasa takut kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!