NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Kalimat itu membuat hati Umi Salma terasa nyeri. Betapa banyak hal dalam diri perempuan ini yang terkubur oleh luka hidupnya sendiri. Padahal, ketika menikahi seorang perempuan yang hafal Al-Quran maka suami harus memberikan waktu khusus untuk istrinya murajaah hafalannya.

Perlahan beliau mendekat lalu menggenggam tangan Amira. “Mira…” tatapan beliau begitu lembut, “Allah mengambil sesuatu darimu.”

Air mata Amira mulai menggenang.

“Tapi Allah juga menjaga sesuatu yang sangat berharga di dalam dirimu.” Umi Salma mengusap tangan Amira penuh kasih. “Dan jangan pernah sembunyikan cahaya itu lagi.”

Amira menunduk pelan. Tangannya masih memegang mushaf erat. Sudah lama sekali tidak ada yang memandang dirinya dengan penuh penghargaan seperti itu. Selama ini orang lebih mengenalnya sebagai: istri Mirza, menantu sederhana, atau perempuan pendiam yang selalu berada di belakang. Bukan sebagai Aisyah Amira. Bukan sebagai seorang hafidzah.

Umi Salma masih menggenggam tangannya lembut. “Mira…” suara beliau hangat, “berapa juz hafalanmu?”

Amira tampak ragu menjawab. Namun akhirnya berkata pelan, “Tiga puluh juz, Umi.”

Umi Salma sampai menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Benar-benar tidak menyangka. Air mata langsung menggenang di mata beliau. “MasyaAllah…” Beliau spontan memeluk Amira erat. “Ya Allah… selama ini kamu menyimpan semua itu sendirian?”

Amira tersenyum kecil canggung. “Saya takut lupa kalau terlalu sering disebut hafidzah.”

Jawaban sederhana itu justru membuat Umi Salma makin terharu. Karena rendah hati perempuan ini terasa begitu tulus. Dan sekarang beliau mulai mengerti kenapa suara bacaan Amira terasa berbeda. Bukan hanya karena merdu. Tetapi karena Al-Qur’an benar-benar hidup di dalam dirinya. “Usman harus tahu ini.”

Amira langsung sedikit kaget. “Kyai?”

Umi Salma tersenyum kecil. “Dia sangat menjaga sanad dan hafalan Qur’an di pesantren ini.” Beliau menatap Amira penuh makna. “Dan aku yakin… dia akan sangat menghargai kemampuanmu. Lagipula sayang sekali jika seorang Hafidzah hanya disimpan di kamar. Ilmu yang kamu punya bisa di ambil manfaatnya oleh orang lain."

Amira langsung gugup. Entah kenapa setiap nama Usman disebut, hatinya selalu terasa aneh akhir-akhir ini. Belum sempat Amira menjawab suara langkah kaki terdengar dari luar.

Lalu Tiur muncul sambil tersenyum lebar. “Mbak Amira…” Ia tampak semangat sekali. “Habibi rewel nyari Mbak.”

Amira langsung refleks ingin keluar. Namun sebelum itu, Umi Salma kembali menahan tangannya sebentar. “Mira.”

Amira menoleh.

Tatapan Umi Salma begitu lembut. “Mulai sekarang…” beliau mengusap punggung tangan Amira pelan, “jangan hidup hanya untuk bertahan.”

Air mata Amira langsung kembali menggenang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mulai merasa mungkin hidupnya belum benar-benar selesai. Mungkin Allah hanya sedang membawanya kembali menemukan dirinya sendiri.

***

Siang itu Amira duduk di dekat jendela kamar Habibi sambil menggendong bayi kecil tersebut di dadanya. Angin masuk perlahan membawa aroma tanah yang masih basah sehabis hujan subuh tadi. Suasana terasa damai.

Habibi tampak kenyang dan nyaman setelah menyusu. Pipi mungilnya menempel di dada Amira, sementara jemarinya sibuk memainkan ujung kerudung perempuan itu.

Amira tersenyum kecil. “Habibi makin besar, ya…” bisiknya lirih.

Bayi itu malah mengeluarkan suara kecil seolah menjawab. Membuat Amira terkekeh pelan untuk pertama kalinya hari itu.

Beberapa minggu terakhir, Habibi memang menjadi bagian penting dalam hidupnya. Bayi kecil itu seolah menarik Amira keluar dari kesedihan sedikit demi sedikit.

Saat Amira menangis, Habibi membuatnya tetap bangun. Saat Amira merasa hidupnya hancur, Habibi tetap membutuhkan pelukannya. Dan anehnya kebutuhan kecil itu justru menyelamatkannya.

Amira lalu mulai bershalawat pelan sambil menepuk punggung Habibi lembut. “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad…”

Habibi perlahan memejamkan mata. Namun sebelum benar-benar tidur, bayi itu tiba-tiba tersenyum kecil. Refleks Amira langsung membelai pipinya gemas. “Ya Allah…” Matanya menghangat. “Pantas semua orang sayang sama kamu.”

Bayi itu memang sangat mudah dicintai. Mungkin karena sejak lahir ia sudah kehilangan ibunya. Atau mungkin karena wajahnya terlalu teduh untuk ukuran bayi seusianya.

Amira mencium kening Habibi lama. Dan tanpa sadar ada rasa yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Bukan sekadar iba. Tetapi kasih sayang yang nyata. Kasih sayang seorang ibu. Meskipun ia tahu Habibi bukan darah dagingnya.

Namun suara kecil dalam hati Amira mulai berbisik pelan bahwa mungkin Allah mempertemukan mereka bukan tanpa alasan.

***

Pagi itu Umi Salma datang ke kamar Amira sambil menggendong Habibi yang masih menguap kecil. “Mira,” suara beliau lembut seperti biasa, “hari ini ikut Umi ke kampung Alya, ya?”

Tangan Amira yang sedang melipat pakaian langsung terhenti sesaat. “Kampung… ibunya Habibi?”

Umi Salma mengangguk. “Hari ini ada kajian dan doa bersama untuk Alya.” Beliau mengusap kepala Habibi pelan. “Habibi juga akan dibawa.”

Amira langsung ragu. Jujur saja, ia tidak terlalu ingin pergi. Beberapa hari terakhir hatinya mulai sedikit tenang di pondok. Ia takut keluar justru membuat pikirannya kembali kacau. Apalagi kampung Mlati nama itu selalu membuat dadanya terasa aneh.

Namun sebelum Amira sempat menolak, Umi Salma kembali berkata pelan, “Umi takut Habibi enggak betah kalau terlalu lama di sana tanpa kamu. Seperti waktu itu. Padahal banyak keluarga uminya ingin melihat Habibi. Obat kangen dengan ibunya yang sudah tiada." Tatapan beliau penuh harap. “Kamu tahu sendiri dia sekarang maunya sama siapa.”

Habibi yang digendong malah refleks mencari arah suara Amira. Membuat perempuan itu langsung merasa tidak tega.

Memang benar. Sejak beberapa minggu terakhir, bayi itu sangat lengket padanya. Bahkan sering menangis kalau terlalu lama tidak mendengar suaranya.

Amira menunduk pelan. Sebenarnya ia ingin menolak dengan halus. Tetapi setelah semua kebaikan yang diberikan keluarga ini rasanya ia terlalu sungkan untuk terus menolak.

Akhirnya Amira mengangguk kecil. “Baik, Umi.”

Wajah Umi Salma langsung sedikit lega. “Alhamdulillah.” Beliau lalu tersenyum hangat. “Nanti kita cuma sebentar.”

Namun setelah Umi Salma pergi keluar kamar untuk menyiapkan keberangkatan, Amira justru terdiam sendiri cukup lama.

Kampung Mlati. Sudah bertahun-tahun ia berjanji tidak akan kembali menginjak tempat itu. Terlalu banyak kenangan di sana. Terlalu banyak luka masa kecil yang belum benar-benar sembuh. Dan sekarang ia akan kembali ke sana bersama keluarga Usman.

Memikirkan itu membuat dadanya kembali tidak tenang. Sementara di luar kamar, Habibi mulai tertawa kecil digelitik Tiur. Dan suara bayi itu perlahan membuat Amira menarik napas panjang. “Sebentar saja…” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

Ia hanya berharap kunjungan kali ini tidak membuka kembali luka lama yang susah payah ia kubur selama bertahun-tahun.

Amira menyiapkan barang-barangnya dengan sederhana. Karena kata Umi Salma, mereka hanya akan pergi pagi dan pulang malam setelah kajian selesai. Tidak menginap. Maka Amira hanya memasukkan: satu lembar gamis ganti, kerudung cadangan, serta perlengkapan kecil untuk Habibi ke dalam tasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!