Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RITME YANG SEMPURNA
Enam bulan telah berlalu sejak gema tepuk tangan di aula wisuda fakultas hukum itu berakhir. Kini, Kania tidak lagi berlarian membawa tumpukan draf skripsi yang penuh coretan. Sebagai gantinya, ia melangkah dengan anggun atau setidaknya berusaha anggun di koridor apartemen mewah miliknya dan Devan, mengenakan setelan kerja yang rapi sebagai seorang asisten legal di sebuah firma hukum ternama.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: kebiasaannya mengganggu ketenangan dr. Devan.
Pagi itu, Devan sedang duduk di meja makan, tenggelam dalam iPad-nya yang menampilkan jurnal terbaru tentang teknik neuroplasticity. Di sampingnya, sebuah cangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap.
"Dok! Lihat!" Kania muncul dari kamar, menyodorkan sebuah dasi berwarna merah muda cerah ke depan wajah Devan.
Devan mendongak, matanya memicing di balik kacamata bacanya. "Kania, saya ada rapat dengan dewan direktur rumah sakit hari ini. Saya tidak mungkin memakai dasi warna fuchsia."
"Ini bukan fuchsia, ini bold rose! Biar Dokter kelihatan lebih ramah. Pasien-pasien Dokter itu takut kalau lihat Dokter mukanya kayak papan pengumuman duka cita terus," protes Kania sambil mulai melingkarkan dasi itu ke leher suaminya.
Devan hanya bisa menghela napas, menyerah pada jemari Kania yang kini jauh lebih terampil memasang simpul dasi daripada dulu. "Efisiensi visual saya akan hancur, tapi karena ini permintaan 'asisten legal' favorit saya, saya akan toleransi."
Kania mengecup pipi Devan dengan cepat. "Pinter! Nah, sekarang minum susunya. Jangan kopi terus, nanti lambung Dokter protes lagi."
Kehidupan pernikahan mereka adalah sebuah simfoni yang unik. Devan tetaplah pria yang kaku dan teratur, sementara Kania adalah variabel acak yang selalu memberikan kejutan. Devan belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup harus memiliki prosedur medis yang baku, dan Kania belajar bahwa di balik kedisiplinan suaminya, ada rasa sayang yang sangat dalam dan protektif.
Sore harinya, Devan menjemput Kania di kantornya. Kali ini, ia tidak lagi merasa malu atau terganggu saat rekan-rekan kerja Kania menggoda mereka.
"Kita tidak langsung pulang?" tanya Kania saat melihat Devan mengambil rute menuju daerah Jakarta Pusat.
"Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan," jawab Devan misterius.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua yang baru saja direnovasi. Di atas pintunya, terdapat sebuah papan nama kayu yang elegan: "Pusat Rehabilitasi Saraf & Edukasi Hukum Keluarga."
Kania tertegun. "Dok... ini apa?"
"Ini adalah proyek yang saya diskusikan dengan Prof. Gunawan. Sebuah tempat di mana pasien saraf tidak hanya mendapatkan perawatan medis, tetapi juga bantuan legal untuk hak-hak mereka. Dan saya ingin kamu yang mengelola bagian legalnya," ucap Devan, menatap Kania dengan binar bangga.
Mata Kania berkaca-kaca. "Dokter... Dokter bikin ini buat aku?"
"Saya membuat ini untuk kita. Agar duniaku dan duniamu tidak lagi hanya bertemu di meja makan, tapi juga dalam sebuah pengabdian yang sama. Kamu bilang kamu ingin menjadi detektif, kan? Sekarang kamu bisa menjadi 'detektif' untuk keadilan pasien-pasien saya."
Kania menghambur ke pelukan Devan, mengabaikan orang-orang yang lewat di trotoar. "Aku cinta banget sama Dokter! Meskipun Dokter kaku kayak semen!"
"Dan saya mencintaimu, meskipun kamu berisik seperti alarm ruang darurat," balas Devan sambil memeluknya erat.
Malam itu, mereka duduk di balkon apartemen, memandangi kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tidak pernah tidur. Devan menyesap teh hangatnya sebuah kebiasaan baru yang diajarkan Kania untuk mengganti kopi malamnya.
"Dok... inget nggak pertama kali kita ketemu? Dokter bilang aku pasien yang sulit," kenang Kania sambil menyandarkan kepala di bahu Devan.
"Kamu memang sulit, Kania. Secara klinis, kamu adalah kasus yang mustahil. Tapi ternyata, kamu bukan pasien. Kamu adalah jantung dari seluruh sistem hidup saya. Tanpa kamu, sistem saya mungkin masih berjalan, tapi tidak pernah benar-benar hidup."
Kania tersenyum, merasakan denyut jantung Devan yang stabil di bahunya. Ia mengambil tangan Devan, mengaitkan kelingkingnya ke kelingking pria itu.
"Janji kelingking lagi?" tanya Devan sambil terkekeh.
"Janji kalau Dokter nggak bakal balik jadi es batu lagi," ucap Kania.
Devan mempererat kaitan kelingking mereka, lalu mencium kening istrinya dengan sangat lama. "Janji. Karena sekarang, suhu di hati saya sudah terlalu hangat karena kamu."
Diagnosa terakhir telah keluar. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi tembok es. Yang ada hanyalah sebuah perjalanan panjang di depan mereka. Antara ruang operasi dan ruang sidang, antara logika dan tawa, mereka telah menemukan ritme yang sempurna sebuah melodi yang akan terus berputar, selamanya.