NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tak Akan Meninggalkanmu

Kembali di Caracas, Helen dan Ario berhasil mencapai puncak bukit yang berbatasan dengan hutan lebat. Miguel berhenti di sana, menatap mereka dengan tatapan hormat.

"Vayan," bisik Miguel. (Pergilah.) "El bosque los esconderá. El avión los espera en el valle secreto." (Hutan akan menyembunyikan kalian. Pesawat menunggu di lembah rahasia.)

Helen memegang tangan Miguel, menatap mata pria tua itu dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Terima kasih, Miguel. Aku tidak akan pernah melupakan ini."

"Bawa suamimu pulang, Niña," kata Miguel lembut. "Beritahu dunia bahwa di tanah yang hancur ini, masih ada kehormatan."

Ario bersandar pada Helen, matanya menatap ke bawah ke arah barrio yang masih berasap. Ia melihat Andre Willson di kejauhan, sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa pasukannya yang kocar-kacir.

"Kau dengar itu, Andre?" bisik Ario parau. "Gendang perang baru saja ditabuh."

Mereka berdua menghilang ke dalam rimbunnya hutan tropis Venezuela, meninggalkan kegaduhan dan kekacauan di belakang mereka. Meskipun tubuh mereka luka-luka dan harta mereka habis, ada api baru yang menyala di mata Helen. Ia bukan lagi sekadar tawanan atau korban; ia telah bertransformasi menjadi ancaman terbesar bagi Beatrix van Amgard.

Malam mulai turun, menyelimuti Caracas dengan kerahasiaannya. Di tengah kegelapan hutan, langkah kaki Helen dan Ario terdengar mantap. Mereka tahu, setiap langkah menjauh dari Andre adalah satu langkah lebih dekat menuju Jakarta—menuju takhta yang telah dicuri, dan menuju pembalasan dendam yang akan mengguncang langit Indonesia.

****

Langit Jakarta tampak sepekat jelaga, seolah-olah awan mendung sengaja berkumpul untuk merayakan kemenangan gelap di puncak Menara Van Amgard. Di dalam ruang kerja yang kini sepenuhnya telah dirombak, Beatrix van Amgard berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa. Di tangannya, ia memegang sebuah miniatur kristal gedung Kusuma Group—simbol kejayaan Aditya Kusuma yang kini berada dalam genggamannya.

Dengan gerakan perlahan dan dingin, Beatrix menjatuhkan miniatur itu ke lantai marmer.

Prangg!

Kristal itu hancur berkeping-keping, berserakan seperti debu di bawah kakinya. Beatrix tersenyum, namun matanya tetap sedingin es.

"Bambang," panggilnya tanpa menoleh.

"Ya, Nyonya?" Bambang melangkah maju dari bayang-bayang, wajahnya tampak cemas setelah kegagalan memalukan di Caracas.

"Aku tidak peduli berapa banyak dolar yang harus kau bakar untuk menyuap otoritas Venezuela. Aku tidak peduli jika kau harus menyewa seluruh kartel di sana," suara Beatrix rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Bawa Helen dan Ario kembali ke hadapanku. Hidup-hidup."

Beatrix berbalik, mendekati meja kerjanya yang dipenuhi dokumen legal. "Aku ingin Helen melihat dengan mata kepalanya sendiri. Aku ingin dia berdiri di atas puing-puing peninggalan ayahnya sebelum aku menghapus namanya dari muka bumi ini. Aku ingin dia tahu, bahwa setiap inci tanah yang pernah dipijak Aditya Kusuma, kini adalah milikku. Dan hanya aku yang menentukan apakah dia boleh bernapas atau tidak."

Bambang menunduk dalam. "Tim cadangan sudah bergerak ke koordinat terakhir di hutan utara Caracas, Nyonya. Andre juga sedang melakukan pengepungan dari sisi lembah."

"Bagus," desis Beatrix. Ia meremas sebuah foto lama Aditya Kusuma hingga remuk di kepalan tangannya. "Kejar mereka sampai ke ujung dunia sekalipun. Jangan biarkan mereka merasakan ketenangan, bahkan dalam mimpi mereka."

****

Sementara itu, ribuan mil dari kemewahan Jakarta, suasana sangat kontras. Helen Kusuma merangkak melalui semak duri yang rapat di pedalaman hutan tropis Venezuela. Bau tanah basah, lumut, dan dedaunan busuk menyengat indra penciumannya. Di belakangnya, ia merasakan napas berat dan langkah kaki yang terseret dari Ario Diangga.

Hutan ini adalah labirin hijau yang tak kenal ampun. Suara monyet melengking dan kepakan sayap burung-burung liar terdengar seperti ejekan bagi dua jiwa yang sedang diburu.

"Ario... sedikit lagi," bisik Helen, mencoba menguatkan suaminya.

Ario bersandar pada sebatang pohon besar, wajahnya pucat pasi, peluh mengucur deras membasahi kemejanya yang sudah hancur. Luka tembak di bahunya kembali merembeskan darah akibat aktivitas fisik yang ekstrem.

"Helen... kau harus... terus jalan," gumam Ario, suaranya parau. "Jika mereka menemukanku... kau harus tetap lari menuju landasan itu."

"Jangan bicara konyol!" Helen berbalik, merangkul pinggang Ario dan memaksa pria itu untuk tetap berdiri. "Kita sudah sampai sejauh ini. Kita melewati peluru di dermaga, kita melewati operasi tanpa bius di gubuk Miguel, dan kita melewati amuk massa di barrio. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah di tengah hutan ini!"

Helen menatap mata Ario yang mulai meredup. "Kau adalah pelindungku, Ario. Sekarang biarkan aku menjadi kekuatanmu. Kita akan pulang ke Indonesia. Kita akan merebut kembali apa yang menjadi hak kita."

Ario menatap wajah Helen. Ia melihat transformasi yang luar biasa. Gadis yang dulu hanya tahu tentang gaun pesta dan pesta dansa, kini berdiri dengan kaki berlumpur, tangan yang penuh luka gores, namun dengan sorot mata sedalam samudera yang penuh tekad.

"Kenapa kau begitu yakin kita bisa menang?" tanya Ario lemah.

Helen tersenyum getir, menyeka keringat di dahi Ario dengan sisa kain bajunya. "Karena orang jahat seperti Tante Beatrix hanya memiliki uang. Kita... kita memiliki sesuatu yang tidak bisa dia beli: kemarahan seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan kesetiaan seorang istri yang melihat suaminya nyaris mati demi dia."

****

Keheningan hutan tiba-tiba pecah oleh suara deru helikopter di kejauhan. Tak lama kemudian, terdengar gonggongan anjing pelacak yang menggema di antara pepohonan.

"Mereka sudah di belakang kita," desis Ario, insting tempurnya bangkit kembali. Ia menarik sebuah pisau kecil yang sempat ia simpan di balik sepatunya.

"Ayo, Ario! Cepat!"

Mereka merangkak menuruni lereng curam, menuju sebuah lembah tersembunyi di mana pesawat kargo kecil milik jaringan intelijen lama Ario seharusnya mendarat. Setiap langkah adalah siksaan. Duri-duri merobek kulit mereka, dan akar pohon seolah sengaja menjegal langkah mereka.

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah atas lereng. Dor! Peluru itu menghantam batang pohon tepat di atas kepala Helen.

"Helen, tiarap!" Ario mendorong Helen ke balik sebuah batu besar.

Dari sela-sela pohon, muncul sosok yang sangat mereka kenali: Andre Willson. Ia berdiri dengan senapan laras panjang, wajahnya penuh kebencian karena harga dirinya telah dihancurkan oleh warga barrio sebelumnya.

"Berakhir sudah, Helen!" teriak Andre. "Menyerahlah! Beatrix sudah menyiapkan tempat khusus untukmu di Jakarta. Jangan buat aku harus melukaimu lebih parah lagi!"

Ario mencoba membidik Andre dengan sisa tenaganya, namun pandangannya mulai kabur. "Helen... lari ke arah sungai di bawah sana... pesawat itu akan mendarat di bantarannya..."

"Aku tidak akan meninggalkanmu!" jerit Helen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!