"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rani sangat bahagia mengetahui kehamilan Rasti
"Pria? Pria siapa, Kak?" tanya Rani, langkahnya semakin dekat begitu keluar dari kamarnya.
Rasti menoleh pelan. Namun belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan adiknya tersebut. Xena mulai menyeruput teh yang berada di depannya. Setelah itu Xena mulai membuka mulutnya.
"Darma. Ya Darma. Namanya Darma ya kan, Rasti?" ucap Xena.
Rani membelalakkan. Matanya membulat besar dan tangannya langsung menutup mulutnya seakan tak percaya.
"Kak Darma? Kak Darma yang selalu membantu kita dulu?" ucap Rani.
Xena mengernyit, ia tak menyangka Rani akan bersikap seperti itu. Setelah mendengar nama itu disebut. Ia langsung menurunkan cangkir tehnya perlahan. Tatapannya beralih dari Rani ke Rasti, lalu kembali ke Rani lagi.
"Apa maksudmu selalu membantu?" tanya Xena pelan, tapi jelas ada nada ingin tau yang lebih dalam dari sekedar penasaran biasa.
"Kak Darma itu, tampan, baik dan perhatian dengan Kak Rasti. Iya kan Kak?" tambahnya lagi dengan penuh senyum.
Hal itu justru membuat Xena memanas, namun ia berusaha menahannya. Ruang itu mendadak terasa sedikit lebih panas. Xena tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras tipis, tangannya yang tadi santai kini perlahan mengepal di atas paha. Tatapannya beralih ke Rasti, tajam tapi bukan marah. Lebih seperti menunggu sesuatu.
Sementara Rani justru terlihat santai. Bahkan senyumnya makin melebar, seolah sengaja menyalakan api kecil yang mulai muncul.
"Benarkan, Kak?" ulang Rani, kali ini menoleh langsung ke Rasti.
Rasti terdiam. Ia melirik Xena sekilas, ada perubahan kecil di wajah suaminya itu. Tenang tapi bukan tenang yang benar-benar tenang. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu
"Rani..." panggil Rasti pelan, nadanya mencoba meredam.
"Rani hanya bilang fakta," balas Rani cepat.
"Dan Kak Darma itu memang perhatian sama Kakak. Semua orang di desa ini juga tau," lanjutnya.
Xena terkekeh pelan. Suara iru rendah tapi cukup membuat semua orang menoleh, "Semua orang?"
Rani mengangguk mantap, "Iya. Bahkan..."
"Rani."
Kali ini suara Rasti sedikit tegas. Rani langsung berhenti bicara. Suasana kembali Hening. Tapi ekspresinya masih penuh rasa ingin tau. Rasti menarik nafas pelan lalu menatap adiknya.
"Sudah cukup Rani. Itu semua sudah menjadi masa lalu,"
Rani mengerucutkan bibirnya sedikit, tapi tidak membantah. Akan tetapi Xena masih penasaran hingga akhirnya ia kembali membuka mulutnya.
"Menarik," potongnya tiba-tiba.
Ia bersandar ke kursi, satu tangannya terangkat menyentuh dagu, "Jadi... dia tampan, baik, perhatian."
"Dan kau tidak pernah tertarik?" ucap Xena, tatapannya langsung kembali pada Rasti.
Pertanyaan itu langsung membuat suasana membeku. Mira menoleh cepat ke Budi. Siti menahan nafas. Rasti menatap Xena, kali ini cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
"Pernah."
DEG
Jawaban itu jatuh begitu saja. Jujur tanpa ditutup-tutupi. Rani langsung membulatkan mata. Mira menutup mulutnya pelan. Bahkan Budi ikut terdiam. Tapi Xena...dia tidak bergerak. Tidak marah. Hanya terkejut sedikit. Namun ia tak bisa menyangkalnya.
Rasti mengalihkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Xena, "Aku manusia. Aku bisa melihat siapa yang baik padaku."
Xena masih diam. Namun..
"Kenapa?" tanya Xena cepat.
Kini Rasti yang terdiam. Pertanyaan itu sederhana tapi penuh dengan syarat dan tuntutan.
"Karena aku sudah tau...aku akan menikah denganmu."
Hening. Kalimat itu membuat semua orang kehilangan kata-kata. Bahkan Rani perlahan menurunkan tangannya. Xena berkedip sekali. Ia sadar bahwa Rasti adalah sosok wanita yang patuh dan penurut.
"Kenapa kau tak menolak perjodohan ini?" tanya Xena tiba-tiba.
Rani menoleh ke arahnya, "Karena aku tak ingin mengkhianati kepercayaan om Budi terhadap ayahku."
Ruang itu kembali hening. Jawaban Rasti masih menggantung di udara, terasa berat namun jujur. Semua orang seperti menahan nafas, menunggu bagaimana Xena akan merespon.
Xena tidak langsung bicara. Tatapannya turun sebentar, lalu kembali naik ke wajah Rasti. Kali ini berbeda. Tidak setajam tadi. Lebih dalam dan sulit dibaca. Rasti menarik nafas pelan, jemarinya saling bertautan.
"Aku memang pernah merasa nyaman dengan orang lain, tapi... aku tidak pernah memberi harapan karena dari awal aku sudah tau batas ku."
Kali ini Rani menatap kakaknya tanpa candaan di wajahnya, "Kak..."
Rasti tersenyum kecil, lalu kembali menatap Xena, "Aku tidak menolak bukan karena aku tidak punya pilihan. tapi karena aku memilih untuk menghormati keputusan itu."
"Jadi selama ini...akan bukan satu-satunya yang menahan diri "
Rasti tidak menjawab hanya menggeleng pelan. Xena tersenyum tipis. Bukan senyum penuh kemenangan. Lebih seperti selama ini ia salah sangka. Ia menunduk sebentar, lalu menggeleng kecil.
"Aku pikir, hanya aku yang terjebak dalam semua ini."
Mira menatap putranya. Ada sesuatu yang berbeda dari nada suara itu.
"Kita berdua sama."
Hening lagi. Xena mengangkat kepalanya. Tatapannya kembali bertemu Rasti, "Lalu sekarang?"
"Sekarang berbeda. Aku tetap di sini bukan karena janji mereka...tapi karena aku ingin," sahut Rasti tanpa ragu.
Xena terdiam menatap Rasti. Budi dan Mira saling menatap dengan senyum simpul di bibir mereka masing-masing. Sit mengusap sudut matanya. Hening kembali turun tapi kali ini bukan sesak. Namun seketika suara arah belakang membuat semua mereka menoleh.
BRUKK
Rani berdiri sambil berkacak pinggang, "Baik. Aku tidak peduli masa lalu siapa pun, tapi satu hal yang jelas."
Semua langsung menatapnya, Rani menoleh kepada Xena. "Kalau kakak ipar berani menyakiti kakak lagi...Aku yang akan hadapi duluan."
Xena tersenyum tipis, "Aku janji tidak akan pernah menyakiti Rasti. Karena aku tidak ingin kehilangan mereka lagi."
"Mereka?" potong Rani cepat.
"Mereka siapa?" ulangnya lagi, kali ini lebih tegas.
Mereka semua menatapnya. Xena mendekat ke arah Rani. Lalu dengan hati-hati Xena mulai mendekatkan kepalanya di telinga. Namun seketika mata Rani terbuka lebar.
"Hah?! Tante?!"
Ruangan itu langsung meledak oleh reaksi Rani. Siti langsung menepuk lengannya pelan.
"Pelan sedikit, Nak!" tegur Siti, meski senyumnya tak bisa disembunyikan.
Namun Rani sudah tidak peduli. Ia berbalik cepat ke arah Rasti dengan mata berbinar-binar, lalu dalam dua langkah lebar Rani langsung mendekat.
"Kak...ini benarkan?!" tanyanya nyaris melompat.
Rasti yang sejak tadi berdiri tenang hanya tersenyum kecil. Ada rasa malu, tapi juga hangat yang terpancar jelas dari wajahnya.
"Iya..."
Seketika Rani menjerit kegirangan, lalu langsung memeluk Rasti lagi. Kali ini lebih hati-hati, rapi tetap penuh energi.
"Ya ampun! Kakak hamil! Aku jadi tante," ucapnya cepat tanpa jeda.
Mira tertawa kecil melihat tingkah Rani, sementara Budi hanya menggeleng pelan dengan senyum lebar yang jarang terlihat darinya. Siti lagi-lagi mengusap air matanya yang kembali jatuh, tapi kali ini jelas karena bahagia.
Di sisi lain Xena hanya berdiri diam. Namun tidak seperti sebelumnya, kita tidak ada ketegangan di wajahnya. Ia menatap Rasti yang sedang di peluk Rani, lalu pandangan itu turun sebentar ke perut Rasti.
sini.