NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Rahasia Di Balik Meja Makan

Evelyn memacu motornya seperti kesetanan. Ia hanya punya waktu lima belas menit sebelum mobil Arkan sampai di rumah. Dengan kecepatan tinggi, ia masuk melalui pintu belakang mansion, melemparkan seragam cleaning service ke dalam mesin cuci yang sudah ia siapkan untuk menghancurkan barang bukti, dan segera berlari ke kamarnya.

"Aduh, kacamata... kacamata!" pekik Evelyn panik.

Ia menyambar kacamata tebalnya yang tergeletak di atas bantal, memakai kardigan ungu mudanya yang kedodoran, dan mengacak-acak rambut pirangnya sampai terlihat seperti sarang burung yang habis diguncang gempa bumi.

Tepat saat ia menjatuhkan diri di sofa ruang tamu sambil memegang buku "Panduan Menanam Lumut" yang ia ambil asal dari rak, terdengar suara derit pintu depan.

*Sret... Sret... Sret...*

Suara semprotan disinfektan yang khas itu menandakan sang King Mafia sudah tiba. Arkan masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Dasinya sudah agak longgar—sebuah pemandangan langka bagi pria yang sangat rapi itu.

"T-tuan Arkan? Sudah pulang?" tanya Evelyn dengan suara cempreng yang dibuat-buat, sambil pura-pura kaget dan hampir menjatuhkan bukunya.

Arkan tidak menjawab. Ia berjalan lurus menuju sofa, namun berhenti tepat di jarak 1,5 meter dari Evelyn. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya yang tajam seolah sedang memindai setiap sel tubuh Evelyn.

"Kenapa kau berkeringat?" tanya Arkan dingin.

Evelyn membeku. Sial, adrenalin dari pelarian tadi membuat suhu tubuhnya naik. "E-eh? Anu... Eve tadi sedang olahraga, Tuan! Olahraga jari... membalik halaman buku ini sangat berat, Tuan tahu sendiri kan kertas zaman sekarang tebal-tebal," jawabnya sambil memberikan cengiran paling bodoh yang bisa ia buat.

Arkan menyipitkan mata. Ia teringat kejadian di pantry kantornya tadi. Wanita misterius yang menolongnya memiliki aroma sabun bayi yang sama dengan gadis di depannya ini. Tapi melihat Evelyn yang sekarang sedang memegang buku tentang lumut dengan posisi terbalik, Arkan kembali ragu.

"Kau tidak keluar rumah tadi?" tanya Arkan lagi, kali ini suaranya lebih rendah.

"Keluar? Tentu tidak, Tuan! Di luar banyak kuman, seperti kata Tuan. Eve takut nanti kena virus... virus cinta, eh maksudnya virus flu!"

Arkan menghela napas berat. Ia merasa kepalanya berdenyut. "Lupakan. Masaklah sesuatu. Aku lapar dan aku tidak ingin makan makanan restoran yang tidak kusemprot disinfektan sendiri."

Evelyn melotot. Masak? Aku? Queen Mafia yang biasanya hanya memegang belati dan pistol disuruh memegang spatula?

"B-baik, Tuan. Eve akan coba... tapi kalau rasanya seperti deterjen, jangan salahkan Eve ya," bisiknya sambil berjalan menuju dapur dengan gaya kikuk.

Di dapur, Evelyn merasa seperti sedang berada di medan perang tanpa senjata. Ia menatap kompor canggih yang ia klaim tidak tahu cara menyalakannya semalam.

"Ed, cepat cari resep masakan yang paling mudah tapi terlihat mewah!" bisik Evelyn ke arah jam tangannya.

"Queen, Anda serius? Kita sedang melacak pengiriman senjata Sebastian, dan Anda minta resep?" suara Edward terdengar frustasi.

"Cepat atau aku akan meretas akun bankmu untuk membeli saham perusahaan kecap!" ancam Evelyn.

Lima menit kemudian, Evelyn mulai sibuk. Ia memutuskan membuat Omelet ala Chef (yang sebenarnya hanya telur dadar dengan sedikit garnish daun peterseli agar terlihat mahal). Namun, karena insting mafianya yang terlalu tinggi, cara Evelyn memotong bawang putih sangatlah... tidak biasa. Ia memutar-mutar pisau dapur di jarinya sebelum menancapkannya ke papan talenan dengan kecepatan cahaya.

Tak! Tak! Tak!

Suara potongan bawang yang sangat presisi itu terdengar sampai ke ruang tengah. Arkan yang sedang duduk sambil mengoleskan hand sanitizer ke ponselnya, mendengarnya. Ia mengernyitkan dahi. Suara itu terdengar seperti seseorang yang sangat ahli menggunakan senjata tajam.

Arkan berdiri dan berjalan tanpa suara menuju dapur. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan Evelyn dari belakang.

Evelyn sedang asyik bersenandung kecil sambil membalik telur di udara dengan gerakan flipping yang sangat sempurna. Saat telur itu melayang di udara, Evelyn melakukan gerakan memutar pergelangan tangan yang sangat artistik—gerakan yang biasa ia gunakan untuk menangkis serangan lawan.

"Kau cukup ahli dengan pisau," suara Arkan menggelegar di dapur yang sunyi.

Evelyn tersentak. Saking kagetnya, telur yang sedang melayang di udara itu mendarat tepat di atas kepalanya.

"AAA! PANAS! PANAS!" teriak Evelyn sambil melompat-lompat kecil. Kacamata tebalnya melorot, dan telur dadar itu menutupi sebagian rambut berantakannya.

Arkan terpaku. Citra "wanita hebat" yang sempat terlintas di pikirannya langsung hancur berkeping-keping digantikan oleh pemandangan seorang gadis culun dengan telur di kepala.

"B-bodoh," gumam Arkan, tapi anehnya, sudut bibirnya sedikit terangkat. Hampir saja ia tersenyum, jika saja ia tidak teringat akan kuman dari telur itu. "Cepat bersihkan dirimu. Kau mengotori lantai dapurku."

"M-maaf Tuan Arkan! Eve memang ceroboh!" Evelyn segera mengambil tisu dan mengelap kepalanya sambil merutuki dirinya sendiri dalam hati. Hampir saja identitasku terbongkar gara-gara sebutir telur!

Malam itu, setelah drama telur berakhir, mereka duduk di meja makan. Arkan makan dengan sangat hati-hati setelah memastikan piringnya sudah ia lap ulang dengan tisu steril.

Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar. Sebuah panggilan dari Samuel.

"Bos! Kita menemukan sesuatu! Alat penyadap yang mati di meja makanmu tadi... itu bukan mati karena rusak. Itu sengaja dimatikan dengan alat scrambler frekuensi militer!" suara Samuel terdengar cukup keras dari loudspeaker ponsel Arkan.

Evelyn yang sedang menyeruput supnya, hampir saja tersedak. Ia berusaha tetap terlihat tenang dan terus menyuap supnya dengan gaya kikuk.

Arkan melirik Evelyn, lalu kembali ke ponselnya. "Siapa pelakunya?"

"Kami sedang melacaknya, tapi sinyalnya menghilang di sekitar area mansion. Sepertinya ada orang dalam, Bos. Atau mungkin... seseorang yang menyusup saat kau tidak ada."

Arkan terdiam. Ia menatap meja makannya, lalu menatap Evelyn yang sekarang sedang sibuk mencoba menangkap sebutir kacang polong dengan sendoknya—dan gagal terus.

"Evelyn," panggil Arkan pelan.

"I-iya, Tuan?"

"Kau tahu apa itu scrambler?"

Evelyn memasang wajah paling polos sedunia. Ia memiringkan kepalanya. "Scrambler? Itu... jenis telur orak-arik yang baru saja Eve buat tadi ya, Tuan? Maaf kalau namanya salah, Eve cuma baca di buku resep."

Arkan menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Benar-benar bodoh. Mana mungkin dia bisa menggunakan teknologi militer, batinnya.

"Lupakan. Lanjutkan makanmu. Dan jangan biarkan kacang polong itu jatuh ke lantai, atau aku akan menyuruhmu mengepel seluruh ruangan ini dengan alkohol 70%."

"Baik, Tuan Galak!" jawab Evelyn riang.

Di bawah meja, jari kaki Evelyn sedang menekan sebuah tombol kecil di balik kaki meja—sebuah alat kecil yang ia pasang tadi sore. Seketika, layar ponsel Arkan berkedip dan sinyalnya hilang total.

"Sial, sinyalnya mati lagi," umpat Arkan.

Evelyn tersenyum miring di balik mangkuk supnya. Maaf ya, Suamiku tersayang. Malam ini tidak boleh ada laporan dari Samuel. Aku harus keluar untuk menyelesaikan urusan dengan Sebastian Black tanpa gangguan darimu.

Malam itu, saat Arkan akhirnya tertidur lelap setelah ritual pembersihan kamar yang melelahkan, sebuah bayangan hitam meluncur keluar dari jendela lantai satu. Queen Mafia telah kembali, dan kali ini, ia tidak membawa telur di kepalanya, melainkan belati perak yang siap memburu mangsanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!