Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Nggak lama setelah suasana tegang di kantor polisi hampir meledak, pintu depan kebuka dan seorang pria rapi masuk dengan langkah tenang. Jasnya mahal, wajahnya dingin tapi profesional.
“Selamat malam Tuan Muda,” katanya singkat.
Joshua langsung nengok. “Akhirnya dateng juga, Roby.”
Itu Roby, pengacara keluarga Halim.
Dia nyamperin meja polisi, ngobrol sebentar dengan nada santai tapi jelas punya tekanan. Nggak sampe setengah jam, semuanya berubah. Yang tadi kaku, jadi lebih fleksibel.
Roby balik ke mereka. “Udah beres. Saya sudah hubungi orang tua anak-anak JIS itu. Mereka setuju damai.”
Johan langsung ngeluarin napas lega. “Serius?”
Roby ngangguk. “Cuma nanti tetap ada proses administrasi, tapi Mas Uji bisa keluar malam ini.”
Uji yang dari tadi di dalam akhirnya keluar, tangannya udah dibalut perban. Mukanya masih kesel, tapi lega juga.
Joshua cuma ngangguk ke Roby. “Thanks.”
“Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya pamit,” kata Roby datar lalu pergi.
***
Akhirnya mereka semua pindah ke kafe 24 jam yang nggak jauh dari sana. Tempatnya sepi, cuma ada beberapa orang, lampunya agak redup.
Mereka duduk satu meja panjang. Pesen minuman, kopi, es teh, sama beberapa cemilan. Yeri duduk di ujung, agak menjauh dari mereka, kelihatan jelas dia nggak nyaman.
Dia nengok ke Joshua yang duduk di sebelahnya. “Josh… gue mau pulang.”
Joshua lagi mainin sedotan minumannya, lalu ngelirik Yeri. “Duduk dulu. Abisin es krim lo.”
“Hah?” Yeri melotot. “Gue nggak laper.”
“Udah pesen, ya dimakan!”
Yeri merhatiin dia sebentar. Akhirnya dia ngedengus kecil dan duduk lagi, nyendok es krimnya pelan.
Johan yang duduk di seberang langsung buka suara. “Sebenernya… lebih baik Yeri pulang aja. Dia nggak perlu ikut campur urusan kita.”
Yeri langsung ngangguk setuju. “Nah, tuh betul.”
Tapi Joshua langsung nyengir tipis. “Dia pacar gue.”
Semua langsung diem.
“Hah?!” Yeri hampir ngelempar sendoknya. “Sejak kapan?!”
Joshua nengok santai. “Lo mau debat itu sekarang? Atau mau orang-orang tau betapa agresifnya lo tadi?”
Yeri langsung ngeliat sekeliling. Dia ngelirik Johan, Dika, Sengkara, bahkan Uji sekarang ngeliatin dia semua.
Yeri langsung duduk lagi, kesel. “Nyebelin banget sih lo.”
Tiba-tiba Uji nendang meja.
Semua kaget.
“Kenapa sih kita lepasin bajingan-bajingan itu?!” Uji ngomel, emosinya meledak. “Mereka yang salah! Harusnya mereka yang di penjara, bukan gue!”
Dika langsung nahan bahu Uji. “Lo mau kehilangan kesempatan ikut turnamen basket?”
Uji diem.
“Sekarang lo ketua tim,” lanjut Dika tegas. “Harusnya lo jaga tangan lo baik-baik.”
Uji ngelirik tangannya yang dibalut perban. Rahangnya mengeras. “Gue… nggak mikir sejauh itu.”
Sengkara nyender ke kursi. “Sebenernya apa sih yang terjadi?”
Uji ngusap rambutnya frustasi. “Gue liat Anna.”
Yeri langsung noleh. “Anna?”
“Iya. Cewek kutu buku itu. Yang sering dirundung Kristal sama gengnya.”
Yeri makin fokus.
“Tapi dia beda,” lanjut Uji. “Penampilannya berubah. Dandan, pake baju yang… beda lah. Cantik.”
Dika ngangkat alis. “Terus?”
“Anak-anak JIS langsung godain dia,” suara Uji mulai naik lagi. “Parah banget. Ngomongnya kotor. Gue… nggak suka.”
Johan nyengir tipis. “Jadi lo hajar mereka semua?”
Uji langsung jawab tanpa ragu. “Iya.”
Semua diem beberapa detik. Yeri nunduk pelan, mikir. Anna… berubah? Terus diganggu? Dan nggak ada yang nolong selain Uji?
“Lo terlalu gegabah,” kata Dika akhirnya. “Niat lo mungkin bagus, tapi cara lo salah.”
“Gue nggak peduli!” Uji ngebentak. “Gue nggak bisa liat itu dan diem aja!”
Joshua yang dari tadi diem akhirnya buka suara, santai tapi tegas.
“Lain kali mikir dulu. Lo bukan jagoan di film.”
Uji mendelik, tapi nggak balas. Yeri akhirnya berdiri dari kursinya, narik tasnya pelan. Wajahnya udah keliatan capek banget.
“Gue boleh pulang sekarang, kan?” suaranya datar. “Udah malem banget. Gue harus pulang.”
Semua langsung nengok ke dia. Joshua yang tadi duduk santai langsung berdiri juga.
“Gue anterin.”
Yeri langsung geleng tanpa ragu. “Nggak usah.”
Joshua mengernyit. “Kenapa?”
“Gue… udah nggak berselera dianterin lo,” jawab Yeri jujur, sedikit ketus.
Suasana langsung awkward. Dika ngangkat alis, Sengkara nahan senyum, Uji masih diem sambil nyeruput minuman.
Joshua jelas nggak suka jawaban itu. Rahangnya mengeras.
“Lo nggak usah aneh-aneh. Gue yang bawa lo ke sini, gue juga yang anterin balik.”
“Gue bisa pulang sendiri,” balas Yeri cepat. “Jangan ngatur gue!”
Joshua udah mau nyusul Yeri yang mulai jalan menjauh dari meja.
Tapi tiba-tiba Johan bangkit dan nahan bahu Joshua.
“Udah, gue aja yang anterin Yeri.”
Joshua langsung nengok tajam. “Kenapa harus lo?”
Johan santai, tapi nadanya serius. “Karena lo ada urusan lain.”
Joshua mendecak kesal. “Gue bisa handle dua-duanya.”
“Nggak,” potong Johan. “Lo harus anterin Uji. Terus jelasin semuanya ke orang tuanya.”
Uji langsung melirik, agak nggak enak. “Anjir… harus sekarang?”
Dika langsung nyenggol bahunya. “Lo kira bokap nyokap lo bakal santai kalau tau lo ditangkep polisi?”
Joshua makin kesel. “Kenapa harus gue sih?”
Johan menatap dia lurus. “Karena lo yang bisa ngelakuin itu.”
Joshua tau maksudnya. Dari mereka semua, cuma dia yang punya posisi, nama, dan pengaruh buat bikin situasi nggak makin runyam.
Joshua ngelirik ke arah Yeri yang udah hampir keluar dari kafe. Mukanya makin kusut.
“Sial.”
Dia pengen nganter Yeri. Tapi dia juga tau Johan bener. Joshua akhirnya buang napas kasar.
“Yaudah,” gumamnya kesal. “Terserah lo.”
Johan ngangguk kecil, lalu langsung nyusul Yeri keluar.
Di luar kafe, Yeri lagi berdiri sambil nyari kendaraan online di ponselnya.
“Yeri.”
Dia nengok. Johan.
“Gue anterin lo,” kata Johan singkat.
Yeri menghela napas. “Nggak usah, gue bisa sendiri.”
“Udah malem,” Johan jawab santai. “Dan gue nggak se-nyebelin Joshua.”
Yeri melirik dia, sedikit kesel tapi juga… nggak punya tenaga buat debat lagi.
“Hmm… yaudah.”
Johan langsung jalan ke arah motornya. “Naik.”
Yeri sempet ragu, tapi akhirnya naik juga. Kali ini tanpa banyak protes.
***
Motor Johan akhirnya berhenti tepat di depan rumah sederhana Yeri.
Yeri turun pelan, ngerapihin tasnya. “Thanks ya… udah nganterin,” katanya singkat, tapi tulus.
Johan masih duduk di atas motor, helmnya belum dilepas. Dia ngeliatin Yeri beberapa detik, kayak mikir sesuatu.
“Yeri,” panggilnya.
Yeri nengok. “Apa?”
Johan narik napas dikit. “Lo… beneran pacaran sama Joshua?”
Yeri langsung mengernyit, ekspresinya berubah datar. “Sejak kapan lo jadi kepo gitu?”
“Jawab aja,” kata Johan, nadanya lebih serius dari biasanya.
Yeri nyengir tipis, tapi dingin. “Itu bukan urusan lo.”
“Jangan pacaran sama Joshua,” kata Johan dengan wajah seriusnya.
Yeri nyengir nggak nyangka, “Lo sama Joshua sama aja. Suka ngatur hidup orang lain. Gue nggak butuh itu. Jadi, jangan ikut campur!”
Yeri mundur satu langkah ke arah pintu rumahnya. “Udah ya. Hati-hati di jalan.”
Tanpa nunggu jawaban, dia langsung masuk ke dalam rumah. Johan masih diem di atas motornya, natap pintu yang udah ketutup. Johan memegang stir motornya dengan kenceng. Jelas dia cemburu dan marah.
Tapi nggak ada yang bisa dia lakukan saat ini.