Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Dari Shakira
Matahari pukul sepuluh pagi menyengat kawasan ruko yang menjadi lokasi bengkel "Ardiansyah Motor". Suara deru mesin yang sedang digas, dentingan kunci pas yang beradu dengan logam, serta kepulan asap knalpot menciptakan simfoni khas dunia otomotif. Di tengah hiruk-pikuk itu, Zidan tampak kewalahan. Kaus abu-abunya sudah basah oleh keringat, dan kedua tangannya legam terkena oli mesin.
Hari ini pelanggan membeludak. Mulai dari sekadar ganti oli sampai turun mesin, semuanya menumpuk di depan mata. Zidan tidak sendiri; ia dibantu oleh dua sahabat kuliahnya yang kini menjadi karyawannya, Bobby dan Indra.
"Dan, lo beneran nggak mau sarapan dulu? Ini udah jam sepuluh lewat, Bro. Lambung lo bisa demo," tegur Bobby sambil menyeka dahi dengan punggung tangan yang kotor.
Zidan yang sedang membungkuk meneliti karburator motor matic hanya menyahut tanpa menoleh. "Nanti. Masih banyak antrean. Tanggung, ini dikit lagi selesai."
Indra yang sedang memasang ban baru ikut menimpali. "Dari tadi tanggung-tanggung mulu lo. Kalau lo pingsan, siapa yang mau tanggung jawab sama bidadari lo di rumah?"
"Berisik lo berdua. Kerja yang bener, biar kita bisa tutup cepet sore nanti," sahut Zidan ketus, meski perutnya sendiri sudah mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang hanya ia yang dengar.
Sementara itu, di rumah, Shakira sedang duduk santai di depan TV sambil menikmati hari libur kuliahnya. Namun, ketenangannya terusik saat Mama Zidan keluar dari dapur dengan wajah cemas.
"Shakira, tadi Mama telepon Zidan, katanya dia belum sempat sarapan. Sibuk banget katanya di bengkel. Kamu nggak kuliah kan hari ini? Bisa minta tolong hantarin bekal buat dia?"
Shakira terdiam sejenak. Gengsinya langsung naik ke ubun-ubun. "Masa harus dianterin sih, Ma? Kan dia bisa beli go-food atau makan di warteg sebelah."
"Tadi Mama denger suaranya lemes banget, Ra. Takutnya maag-nya kambuh," bujuk Mama lagi.
Mendengar kata 'lemes' dan 'maag', benteng pertahanan Shakira runtuh sedikit. Bagaimanapun, dia adalah mahasiswi Tata Boga. Membiarkan orang kelaparan di depan matanya—apalagi itu suaminya sendiri—terasa seperti dosa profesi.
"Ya udah deh, Ma. Shakira masak dulu sebentar."
Shakira langsung beraksi di dapur. Ia mengolah ayam yang sudah diungkep, menggorengnya hingga garing, lalu mengulek sambal bawang yang aromanya sangat menggoda. Ayam geprek spesial—lengkap dengan kol goreng dan irisan timun. Semuanya ia tata rapi dalam kotak bekal.
Dengan sedikit rasa canggung, ia memesan ojek online. Sepanjang jalan, ia merutuki dirinya sendiri. Ngapain sih gue harus nganterin beginian? Pasti dia bakal makin kepedean nanti.
Begitu turun dari ojek di depan bengkel, pemandangan tumpukan motor dan bau oli langsung menyambut indra penciuman Shakira. Ia melangkah ragu-ragu masuk ke dalam area bengkel yang maskulin itu. Kehadirannya yang kontras—dengan blus putih bersih dan celana kulot—langsung menarik perhatian.
Bobby adalah yang pertama menyadari keberadaan Shakira. Matanya membelalak, lalu ia menyikut pinggang Zidan yang masih sibuk mengoprek mesin.
"Dan," bisik Bobby.
"Apa sih? Jangan ganggu dulu, ini kabelnya ribet banget," sahut Zidan galak.
"Tuh ada... bidadari di belakang lo."
Zidan mendengus keras. "Bidadari siapa? Jangan aneh-aneh lo. Gue lagi fokus nih, jangan bikin gue hilang konsentrasi."
Indra ikut mendekat, menahan tawa. "Beneran, Dan. Bidadari nyata ini mah."
"Lo berdua mending kerja daripada ngehalu pagi-pagi!" bentak Zidan.
"Istri lo, Shakira, goblok!" bisik Bobby lagi, kali ini lebih keras di telinga Zidan.
"Hah? Mana?!"
Zidan tersentak kaget. Saking semangatnya ia mendongak dan berdiri secara mendadak, kepalanya justru menabrak stang motor yang sedang ia servis dengan bunyi dugh yang cukup keras.
"Aduh...!" Zidan mengaduh sambil memegangi kepalanya, namun matanya langsung berbinar saat melihat Shakira berdiri tidak jauh dari sana sambil menjinjing tas bekal.
"Eh, sayang? Kamu ngapain ke sini? Kangen aku ya?" tanya Zidan dengan suara yang mendadak berubah jadi manis—atau lebih tepatnya, menjijikkan di telinga teman-temannya. Ia mengabaikan rasa sakit di kepalanya.
Shakira memutar bola matanya, mencoba menahan rasa malu karena Bobby dan Indra terus memperhatikannya. "PD banget! Siapa juga yang kangen. Tadi Mama bilang kamu belum sarapan, jadi aku cuma mau nganterin ini. Kebetulan aku lagi nggak ada kelas."
Shakira menyodorkan tas bekal itu. Zidan menerimanya dengan senyum selebar dunia, meski tangannya hitam penuh oli.
"Wah, ayam geprek? Ini kamu yang masak sendiri, Ra?" tanya Zidan, matanya berbinar melihat kotak bekal transparan itu.
"Iya. Udah, dimakan sana. Jangan sampai pingsan di bengkel, malu-maluin nama keluarga," sahut Shakira ketus, meski hatinya sedikit lega melihat Zidan baik-baik saja.
"Wah, istri aku perhatian banget sih. Kalian liat nggak? Istri gue masakin gue ayam geprek spesial," pamer Zidan sambil menoleh ke arah Bobby dan Indra dengan wajah sombong.
Bobby dan Indra kompak memasang ekspresi ingin muntah.
"Nih liat Bob, Ndra. Punya istri yang perhatian sama suaminya tuh gini. Masakannya enak, orangnya cantik, rajin pula nganterin ke tempat kerja," lanjut Zidan ugal-ugalan.
"Dih, mulai deh bucinnya keluar. Mual gue dengernya," komentar Bobby sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Indra mendekat, menatap Zidan dengan tatapan penuh selidik. "Iya sih, diperhatiin banget. Tapi... jujur nih, Dan. Lo berdua belum 'ngapa-ngapain' kan semalem? Masih aman kan lo?"
Wajah Shakira langsung memerah padam sampai ke telinga mendengar pertanyaan frontal Indra. Ia ingin sekali memukul Indra dengan botol oli di dekatnya.
Zidan tersedak ludahnya sendiri. Ia melirik Shakira yang sudah siap meledak, lalu menatap Indra dengan tajam. "Heh! Itu jangan diperjelas dong di depan orangnya! Rahasia dapur itu mah!"
"Rahasia dapur apanya! Garis khatulistiwa aja belum lewat!" sahut Shakira refleks, lalu ia langsung menutup mulutnya sendiri saat menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Bobby dan Indra pecah dalam tawa yang sangat keras. "Garis khatulistiwa? Apaan tuh? Pembatas guling? Hahaha! Ternyata lo masih 'ngenes' ya di kamar, Dan!"
Zidan mengusap wajahnya yang legam, merasa malu tapi juga gemas. "Udah, udah! Pergi lo berdua! Kerjain tuh ganti ban! Jangan ganggu pengantin baru mau makan!"
Shakira menghentakkan kakinya kesal. "Udah ah, aku mau pulang! Males di sini!"
"Eh, jangan dulu sayang! Tunggu bentar, aku makan satu suap dulu biar kamu tau rasanya gimana," cegat Zidan. Ia membuka kotak bekalnya, aroma sambal bawang yang harum langsung menyeruak, mengalahkan bau bensin di sekitarnya.
Zidan mengambil sendok dan menyuap nasi serta ayam geprek itu dengan lahap. "Ra... sumpah. Ini enak banget. Sambelnya pas, ayamnya empuk. Kamu emang calon sarjana Tata Boga terbaik."
Melihat Zidan makan dengan lahap, kekesalan Shakira sedikit mereda. "Ya udah, habisin. Aku mau pulang sekarang."
"Iya, iya. Makasih ya, Sayang. Nanti aku pulang bawain martabak buat kamu," janji Zidan sambil tersenyum tulus.
"Nggak usah! Aku mau diet!" sahut Shakira sambil berbalik pergi meninggalkan bengkel.
Zidan menatap punggung Shakira sampai hilang di tikungan jalan dengan senyum yang tidak hilang-hilang.
"Woi, Dan! Makanannya abisin dulu, jangan bengong ngeliatin jalan!" teriak Bobby.
Zidan kembali duduk di kursinya, menyuap nasi dengan penuh semangat. "Iri bilang bos! Makanya nikah, biar ada yang nganterin ayam geprek enak begini ke bengkel!"
Meskipun kepalanya masih sedikit berdenyut bekas menabrak stang motor tadi, dan badannya pegal luar biasa, Zidan merasa tenaganya kembali seratus persen. Baginya, satu kotak ayam geprek buatan Shakira lebih dari cukup untuk membuatnya merasa seperti pria paling beruntung di dunia hari ini. Sementara itu, di dalam ojek menuju rumah, Shakira hanya bisa tersenyum tipis sambil menatap jalanan, menyadari bahwa ketengilan Zidan ternyata adalah bumbu yang perlahan mulai ia nikmati.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo