Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tulisan dengan tinta merah itu seolah membakar mata mereka. Sulaiman dengan kasar menutup buku besar itu, seolah dengan begitu ia bisa menutup nasib buruk yang tertulis di sana.
"Kita keluar dari sini! Jangan sentuh apa-apa lagi!" teriaknya.
Mereka berhamburan keluar dari pos penjaga yang menyeramkan itu, kembali menyelami lautan kabut putih yang tebal. Jantung mereka berdegup kencang, bukan hanya karena lari, tapi karena rasa ngeri yang terus membayangi. Pos itu adalah peringatan. Mereka benar-benar sudah melewati batas wilayah yang wajar. Mereka kini berada di tempat yang bahkan peta pun tidak memuatnya.
Setelah berjalan dengan putus asa selama berjam-jam, kaki mereka terasa seperti dipukul palu, tenggorokan kering kerontang, dan harapan semakin menipis. Tiba-tiba, di tengah kabut yang mulai sedikit menipis, mereka kembali melihat bangunan yang familiar.
Sebuah gubuk bambu tua dengan atap rumbia yang miring.
"Ini... ini gubuk tempat kita sembunyi semalam?" tanya Deri ragu.
"Bukan," jawab Sulaiman sambil mengusap keringat di dahinya. "Tapi ini satu-satunya tempat berteduh. Kita masuk. Kita butuh istirahat. Dan kita butuh pertahanan."
Mereka masuk dan segera membarikade pintu dan jendela dengan meja, kursi, dan tumpukan kayu bakar yang ada di dalam. Gubuk ini lebih besar dari yang sebelumnya, namun terasa lebih lembap dan berbau kandang kambing yang pekat.
"Kita bagi tugas," ucap Sulaiman dengan napas tersengal. "Herman, kau periksa sekeliling dinding, pastikan tidak ada lubang besar. Deri, kumpulkan semua kayu kering dan benda berat yang bisa dilempar. Aku akan siapkan senjata kita."
Sulaiman menurunkan gergaji mesin besar dari punggungnya. Mesin itu terlihat berat, cat oranyenya sudah tergores dan kotor terkena lumpur serta noda cairan hitam kemarin. Ia memeriksa tangki bensin, masih ada sedikit sisa.
"Mesin ini seperti nyawa kita sekarang," gumam Sulaiman. Ia menarik engkolnya.
Tarak! Tarak! Wrrrrrr...!
Wrrrrrrrrrrrrrrrrrrr...!
Mesin menyala dengan suara menderu yang keras, meruntuh keheningan hutan. Suara rantai besi yang berputar cepat terdengar garang dan menakutkan. Cahaya knalpotnya memancarkan panas yang sedikit menghangatkan suasana dingin di dalam gubuk.
"Bagus, masih hidup," gumamnya puas. Ia mematikan mesin sejenak untuk menghemat bensin.
Namun, baru saja suara mesin mati, sesuatu yang aneh terjadi.
Dari luar gubuk, tepat di sebelah dinding tempat mereka berdiri, terdengar suara yang sama persis.
Wrrrrrr...!!! Krrrt... krrrt...!!!
Wrrr wrrr wrrrrrrrrrrrrrr...!!!
Suara gergaji mesin menderu kencang. Sangat keras, seolah-olah ada orang lain yang sedang menebang pohon tepat di samping dinding bambu itu. Getarannya terasa hingga ke lantai.
Deri dan Herman langsung melompat kaget, memegang kepala mereka. Suaranya begitu nyaring hingga membuat gendang telinga perih.
"Ada orang?!" seru Herman, matanya berbinar sedikit. "Mungkin tim lain! Atau penjaga hutan!"
"Jangan bodoh!!!" potong Sulaiman cepat, wajahnya mengeras. "Di sini tidak ada manusia lain selain kita! Dan tidak ada pohon yang perlu ditebang di sini!"
Suara di luar itu terus menderu. Tidak berhenti. Wrrrrrr... sreeekk... sreeekk...! Suaranya bergerak-gerak. Sekarang terdengar di depan pintu. Lalu berpindah ke jendela belakang. Seolah-olah ada seseorang yang sedang membawa gergaji mesin berkeliling mengelilingi gubuk, seolah sedang mengintip, atau... sedang memotong-motong udara dengan ganas.
Dan yang paling mengerikan, di sela-sela deru mesin itu, terdengar suara tawa.
Tawa laki-laki yang keras, nyaring, dan gila. Hahahaha! Hahahaha! Ayo tebang! Potong semuanya! Hahaha!
"Itu... itu suara siapa?" Deri gemetar, memeluk parangnya erat-erat. "Suaranya... suaranya mirip..."
"Mirip siapa?" tanya Sulaiman tajam.
"Mirip suara Anda Bos... tapi lebih kasar, lebih garang, lebih tua," jawab Deri terbata-bata.
Sulaiman terdiam. Darahnya terasa dingin dan menyusut. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Hutan ini tidak hanya mengambil bentuk pohon atau manusia. Hutan ini meniru apa yang mereka bawa. Meniru apa yang mereka takuti. Suara gergaji itu adalah pantulan cermin dari pekerjaan mereka, diubah menjadi alat penyiksaan mental.
Suara di luar semakin kencang. Sekarang terdengar seperti gergaji itu sedang menggergaji dinding bambu mereka. Krrrt! Krrrt! Suara kayu dipotong terdengar jelas.
"Kalau kalian mau main, mari main..!!!" Sulaiman kehilangan kesabaran.
Ia kembali menarik engkol gergajinya.
Wrrrrrrr!!!
Suara mesin gergaji Sulaiman meledak keras, beradu dengan suara gergaji tak terlihat yang ada di luar.
"HEY!!! KALIAN MAKHLUK KERAS KEPALA!!!" teriak Sulaiman sambil berteriak di atas suara mesin. "KALAU BERANI MUNCUL! JANGAN CUMA BISA BIKIN SUARA!!! MUNCUL LAH!!!"
Seolah mendengar tantangannya, suara gergaji di luar tiba-tiba berhenti total.
Hening.
Sulaiman pun mematikan mesinnya. Napasnya berburu ketenangan. Keringat menetes dari pelipisnya.
Tiba-tiba...
Cist... cist... cist...
Suara desisan halus terdengar dari bawah lantai.
Cisttttt...
Panjang dan mendesis.
"Bos... dengar itu..." bisik Herman, matanya terfokus ke celah-celah lantai bambu yang longgar.
Dari celah kecil itu, terlihat sesuatu yang hitam mengkilap bergerak perlahan. Sisik-sisiknya memantulkan cahaya senter yang redup.
"Itu... ular?" tanya Deri.
"Tapi ular apa yang sebesar itu?" gumam Sulaiman.
Perlahan, sebuah kepala ular muncul dari celah lantai tepat di tengah ruangan. Kepalanya besar, berbentuk segitiga tajam, matanya merah menyala seperti bara cerutu. Tubuhnya tidak biasa, warnanya hitam legam pekat tanpa corak sedikitpun, dan kulitnya tampak kasar seperti diliputi bakteri dan jamur hitam.
Panjangnya pasti melebihi tujuh meter, dan tebalnya sebesar lengan orang dewasa.
Itu bukan ular biasa. Itu adalah Ular Hitam Penunggu, makhluk jelmaan jin yang sedang mengenakan pakaian fisik kasarnya.
Ular itu kemudian mengangkat kepalanya setinggi wajah orang dewasa, lidah bercabangnya keluar-masuk dengan cepat, mencium bau ketakutan mereka. Matanya yang merah menatap lurus ke arah Deri yang berdiri paling dekat.
Cisttt!!!
Ular itu menerjang!
"Awas!!!" teriak Sulaiman.
Deri terpental ke samping, menghindari gigitan yang bisa mematahkan tulang. Rahang ular itu menggigit tiang bambu hingga menimbulkan lubang yang dalam.
"Potong!!!! Potong saja!!!!!" Perintah Sulaiman.
Ia melompat maju, kembali menyalakan gergaji mesinnya dengan satu tarikan. Wrrrrrr!!!
Ular panjang itu memutar tubuhnya, kini menyerang Sulaiman. Tubuhnya yang panjang melilit kaki meja, membuat benda-benda di sekitar berantakan. Matanya tampak semakin marah.
"Mati kau!!!"
Sulaiman mengayunkan gergaji mesin itu dengan sekuat tenaga tepat ke arah tubuh ular yang tengah melengkung.
BRAAKK!!! SREEEEEEEEEEEKK!!!
Darah segar menyembur memercik ke wajah Sulaiman. Bau amis langsung memenuhi ruangan.
Tubuh ular itu terbelah menjadi dua bagian.
Namun, makhluk itu tidak langsung mati. Bagian kepala masih menggeliat-geliat ganas, mulutnya menganga memperlihatkan taring-taring beracun yang panjang, sementara bagian ekor masih memukul-mukul lantai dengan keras, membuat gubuk itu bergetar hebat.
Sulaiman tidak main-main. Ia menginjak bagian kepala itu kuat-kuat, lalu menggergaji sekali lagi hingga kepala itu benar-benar terpisah dan hancur tak berbentuk.
Hanya setelah itu, ular besar jelmaan jin itu diam tak bergerak. Di antara potongan-potongan tubuhnya, keluar kepulan asap berwarna merah.
"Haaah... haaah..." Deri memegang dadanya, napasnya tersengal hebat. "Besar banget, Bos. Itu ular apa sih? Matanya merah kayak setan."
"Itu wujud samaran, Der. Itu bukan hewan sembarangan," ungkap Herman yang wajahnya pucat pasi melihat genangan darah hitam di lantai.