Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 – Rumah yang Pernah Ditinggalkan
Pagi itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Alya nyaris tidak tidur semalaman.
Pikirannya terus dipenuhi bayangan ayah tirinya yang terbaring sakit dan wajah marah Arga tadi malam.
Sementara itu, ada rasa gugup lain yang tidak kalah besar.
Raka akan ikut pulang bersamanya.
Dan Alya tidak yakin itu adalah gagasan yang baik.
Namun, tentu saja—
Pria keras kepala itu tidak mau berubah pikiran.
“Aku bisa berangkat sendiri,” kata Alya sekali lagi saat mereka sarapan.
Raka bahkan tidak mengangkat kepala dari kopinya.
“Tidak.”
“Kamu bahkan tidak mempertimbangkan?”
“Saya sudah mempertimbangkan.”
“Aku serius.”
“Saya juga.”
Alya langsung menghela napas panjang.
Sia-sia.
Jika Raka sudah memutuskan sesuatu, bahkan gempa bumi mungkin tidak bisa mengubah pikirannya.
“Kamu terlalu protektif.”
Tatapan Raka akhirnya terangkat ke wajahnya.
“Dan Anda terlalu sering mencoba menghadapi semuanya sendiri.”
Jawaban cepat itu langsung membuat Alya kehabisan bantahan.
Karena sayangnya—
Pria itu benar.
---
Rumah lama Alya berada di kawasan yang jauh berbeda dari dunia keluarga Han.
Lebih sederhana.
Lebih sempit.
Namun penuh kenangan yang tiba-tiba membuat dada Alya terasa aneh saat mobil mereka memasuki gang kecil itu.
Sudah lama sekali sejak terakhir ia pulang.
Dan semakin dekat rumah itu terlihat—
Semakin besar rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Raka diam-diam memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Kamu tidak apa-apa?”
Alya memaksakan senyum kecil.
“Aku cuma gugup.”
Tangan Raka perlahan menggenggam tangannya lagi.
Gerakan sederhana yang sekarang terasa begitu alami.
“Saya di sini.”
Jantung Alya langsung sedikit menghangat.
Mobil berhenti di depan rumah sederhana bercat krem yang mulai memudar.
Dan begitu Alya turun—
Pintu rumah langsung terbuka.
Arga muncul dengan ekspresi datar.
Namun tatapannya langsung berubah saat melihat Raka ikut turun dari mobil.
“Aku sudah bilang datang sendiri.”
Raka menutup pintu mobil dengan tenang.
“Saya tidak menerima perintah dari Anda.”
Suasana langsung menegang.
Alya buru-buru berdiri di tengah lagi sebelum dua pria ini kembali memulai perselisihan.
“Cukup.”
Tatapan Arga kembali pada Alya beberapa detik.
Lalu akhirnya ia menghela napas kasar.
“Masuklah.”
---
Begitu memasuki rumah itu, kenangan lama langsung menerpa Alya.
Sofa tua yang masih tetap sama.
Lemari kecil di sudut ruang tamu.
Dan aroma masakan yang dulu selalu memenuhi rumah setiap pagi.
Semuanya terasa begitu familiar.
Dan menyakitkan.
“Alya?”
Suara lemah dari arah kamar membuat jantung Alya langsung menegang.
Ia buru-buru berjalan masuk.
Dan begitu melihat pria paruh baya terbaring di atas ranjang—
Mata Alya langsung berkaca-kaca.
“Ayah…”
Pria itu tersenyum kecil lemah.
“Kamu datang.”
Alya langsung duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan pria itu.
Tangannya terasa jauh lebih kurus sekarang.
“Aku minta maaf…”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Karena rasa bersalah yang selama ini ia tahan akhirnya membuncah.
“Aku tidak tahu Ayah sakit.”
Pria itu menggeleng pelan.
“Bukan salahmu.”
“Tapi aku jarang pulang.”
“Kamu punya kehidupan sendiri sekarang.”
Nada suaranya tetap lembut seperti dulu.
Dan justru itu yang membuat dada Alya semakin sesak.
“Ayah marah padaku?”
Pria itu tersenyum kecil.
“Kalau Ayah marah, Ayah tidak akan minta kamu datang.”
Air mata Alya akhirnya jatuh juga.
Pelan.
Diam-diam.
Namun tentu saja—
Raka langsung menyadarinya dari tempatnya berdiri di dekat pintu.
Tatapan pria itu berubah lembut.
Dan Alya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya pria ini selalu memperhatikannya bahkan saat ia berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Jangan menangis,” gumam ayah tirinya pelan. “Ayah masih hidup.”
Alya tertawa kecil di sela air matanya.
“Kedengarannya tidak menenangkan.”
Pria itu ikut tertawa lemah.
Suasana perlahan menjadi lebih hangat.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
“Ayah hampir mati waktu kamu sibuk hidup nyaman bersama suami kaya kamu.”
Suara Arga terdengar dingin dari belakang.
Ruangan langsung hening.
Alya perlahan menoleh.
“Arga…”
“Aku salah?” pria itu melipat tangan. “Kamu bahkan tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini.”
Tatapan Alya sedikit menunduk.
Karena sekali lagi—
Ia tidak bisa sepenuhnya menyangkalnya.
“Cukup.”
Suara Raka akhirnya terdengar.
Tenang.
Namun cukup dingin untuk membuat suasana langsung berubah.
Arga menatapnya tajam.
“Kamu tidak punya hak ikut campur.”
“Saya punya hak kalau Anda terus menyalahkan istri saya.”
Kalimat itu membuat Alya langsung menoleh cepat.
*Istri saya.*
Masih aneh mendengar Raka mengatakannya dengan nada seprotektif itu.
Arga tertawa kecil sinis.
“Tentu saja. Sekarang semuanya tentang melindungi dia.”
“Karena tidak ada yang melakukannya dengan benar sebelumnya.”
Ruangan langsung sunyi total.
Dan untuk pertama kalinya—
Arga tampak kehilangan kata-kata sesaat.
Sementara Alya hanya bisa menatap Raka diam-diam.
Karena pria itu baru saja membelanya tanpa ragu.
Lagi.
Ayah tirinya mengembuskan napas pelan.
“Sudah.” Tatapannya lelah. “Ayah capek dengar kalian bertengkar.”
Arga langsung diam.
Sementara Alya buru-buru menghapus air matanya.
“Aku akan lebih sering datang,” katanya pelan.
Tatapan ayah tirinya langsung melembut.
“Jangan dipaksa kalau sibuk.”
“Aku mau.”
Dan kali ini—
Alya benar-benar serius.
---
Beberapa jam kemudian, suasana rumah akhirnya sedikit mencair.
Arga masih terlihat dingin pada Raka, namun setidaknya tidak lagi mencari masalah.
Sementara Alya membantu membereskan dapur seperti dulu.
Aneh.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasa seperti ini.
Normal.
Sederhana.
“Dia benar-benar sayang padamu ya.”
Suara Arga tiba-tiba terdengar dari belakang.
Alya menoleh pelan.
Pria itu berdiri sambil bersandar di pintu dapur.
“Apa?”
Tatapan Arga mengarah ke ruang tamu, tempat Raka sedang berbicara dengan ayah mereka.
“Aku belum pernah lihat pria seperti dia bersusah payah datang ke tempat seperti ini kalau tidak serius.”
Jantung Alya langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Iya.”
Dan itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan sekarang.
Arga memperhatikan wajah adiknya cukup lama.
Lalu mengembuskan napas pendek.
“Aku cuma tidak mau kamu terluka.”
Kalimat itu membuat Alya sedikit terdiam.
Karena di balik semua kemarahan Arga—
Ternyata ada rasa khawatir yang tulus.
“Aku tahu.”
Hening beberapa detik.
Lalu Arga berkata pelan—
“Kalau dia bikin kamu menangis, bilang padaku.”
Alya langsung tertawa kecil.
“Kenapa? Mau memukul dia?”
“Mungkin.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
Alya benar-benar tertawa tulus.
Namun dari ruang tamu, tatapan Raka langsung tertuju pada mereka.
Dan begitu melihat Alya tertawa bersama Arga—
Ekspresi pria itu berubah tipis.
Sangat tipis.
Namun Alya langsung mengenalinya.
Oh tidak.
Pria itu cemburu lagi.