NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Bapak tidak akan melakukannya," suara Adella terdengar stabil, meski jantungnya berdegup hingga ke ujung jari. "Bapak terlalu mencintai diri sendiri untuk mati di sini bersama tumpukan kertas dan dua orang yang Bapak anggap 'sampah'."

Pak Adwan tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar parau. "Kamu salah, Adella. Saya tidak mencintai diri saya. Saya mencintai kontrol. Dan jika saya tidak bisa mengontrolmu, maka saya akan mengontrol bagaimana caramu berakhir."

Klik.

Bukan ledakan yang terdengar, melainkan suara desisan tajam dari langit-langit. Bukan air yang keluar dari sistem sprinkler, melainkan gas pemadam api kimia—karbon dioksida pekat yang dirancang untuk memadamkan api di ruang arsip tanpa merusak kertas. Dalam hitungan detik, kabut putih mulai memenuhi ruangan, mengusir oksigen keluar.

"Gas ini akan membuatmu tertidur sebelum kamu menyadari bahwa kamu tidak bisa bernapas, Adella," ujar Pak Adwan sambil mengenakan masker gas kecil yang sudah ia siapkan di balik saku jasnya. Ia tampak seperti monster mekanis di balik masker itu.

Adella segera menarik hoodie-nya untuk menutupi hidung dan mulut. Ia berlari ke arah kakak Nadia yang mulai terbatuk-batuk hebat.

"Bangun! Kita harus bergerak!" teriak Adella tertahan kain.

Sisi pandai Adella bekerja dalam mode darurat. Ia melihat ke arah panel kontrol yang baru saja ditekan Pak Adwan. Jika gas itu keluar, berarti ada sistem ventilasi yang ditutup secara paksa. Ia tidak bisa lewat pintu besi karena Pak Adwan berdiri di sana seperti malaikat maut yang menjaga gerbang.

Adella melihat ke arah rak buku raksasa yang berisi arsip-arsip tua. Di belakang rak itu, ada jalur kabel besar yang menuju ke atas.

"Pak Adwan!" teriak Adella di tengah kabut gas yang makin tebal. "Bapak bilang saya mahakarya. Apakah Bapak benar-benar ingin melihat mahakarya ini hancur menjadi abu yang tidak berarti?"

Pak Adwan terdiam sejenak. Langkahnya yang hendak keluar dari ruangan itu terhenti. Ego pria itu sedang berperang dengan logikanya. Adella memanfaatkan detik-detik keraguan itu. Ia mengambil botol air mineral yang tadi ia beli, membasahi kain hoodie-nya, lalu memberikannya kepada kakak Nadia.

"Gunakan ini! Lari ke arah tangga utilitas di belakang rak!" bisik Adella cepat.

"Lalu kamu?" tanya kakak Nadia dengan suara parau.

"Saya akan mengalihkannya. Pergi!"

Adella berdiri, sengaja menjatuhkan beberapa kotak arsip untuk memancing perhatian. Pak Adwan bergerak mendekat ke arah suara, penglihatannya terbatas oleh kabut gas.

"Adella... jangan melawan takdir. Kamu adalah bagian dari koleksi ini," suara Pak Adwan teredam masker, terdengar seperti dengung yang mengerikan.

Adella tidak menjawab. Ia merangkak di antara bayangan rak, menuju meja kerja Pak Adwan. Ia mencari satu hal: kartu akses emas itu. Tanpa kartu itu, mereka akan terjebak di dalam labirin beton ini selamanya.

Ia melihatnya. Kartu itu tergeletak di atas meja, di samping buku The Collector. Pak Adwan rupanya terlalu percaya diri hingga meninggalkannya begitu saja saat ia mengaktifkan gas.

Namun, saat tangan Adella nyaris menyentuh kartu itu, sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangannya.

"Mencari ini?"

Pak Adwan muncul dari balik kabut. Meskipun memakai masker, Adella bisa merasakan kilat kemenangan di matanya. Pria itu menekan pergelangan tangan Adella hingga gadis itu memekik kesakitan.

"Gertakanmu soal email terjadwal itu bagus, Adella. Hampir saja aku percaya," bisik Pak Adwan sambil mendekatkan wajah bermaskernya ke wajah Adella. "Tapi aku tahu, kamu tidak punya waktu untuk itu. Kamu terlalu sibuk mengobati lututmu di SPBU tadi, kan? Aku punya akses ke CCTV jalanan, sayangku."

Adella tertegun. Dia benar-benar melihat semuanya.

"Tapi," Adella tersenyum di balik kain penutup mulutnya, sebuah senyum yang membuat Pak Adwan waspada. "Bapak lupa satu hal. Saya memang tidak kirim email. Tapi saya melakukan sesuatu yang lebih 'tradisional'."

Adella menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menarik kabel telepon analog yang ada di atas meja kerja tersebut. Ia tidak menelepon polisi. Ia menekan tombol redial yang sudah ia atur sebelumnya saat Pak Adwan sedang sibuk dengan panel kontrol.

Suara operator terdengar dari speakerphone yang volumenya sudah dinaikkan maksimal oleh Adella:

"Layanan Pemadam Kebakaran Kota, ada yang bisa dibantu?"

Adella berteriak sekuat tenaga, "KEBAKARAN BESAR DI GUDANG BAWAH TANAH PERPUSTAKAAN KOTA! ADA ORANG TERJEBAK! CEPAT!"

Pak Adwan panik. Ia mencoba mematikan telepon itu, namun Adella menendang kaki meja hingga telepon itu jatuh dan tersangkut di celah yang sulit dijangkau.

Suara sirine di kejauhan mulai terdengar. Di kota kecil ini, markas pemadam kebakaran hanya berjarak beberapa blok dari perpustakaan. Dan yang paling penting: pemadam kebakaran tidak berada di bawah kendali yayasan keluarga Adwan. Mereka adalah dinas publik yang akan mendobrak pintu apa pun jika ada laporan kebakaran.

"Kamu... kamu menghancurkan semuanya!" Pak Adwan mengerang, tangannya kini mencekik leher Adella.

"Jika saya tidak bisa keluar... maka rahasia Bapak juga tidak bisa tetap di dalam," balas Adella dengan sisa napasnya.

Tiba-tiba, suara hantaman keras terdengar dari pintu atas. Kakak Nadia rupanya berhasil mencapai pintu keluar darurat dan menarik perhatian petugas yang baru saja sampai.

Pak Adwan melepaskan cekikannya. Ia melihat ke sekeliling. Kabut gas makin pekat, sirine makin dekat, dan citra "Guru Sempurna" yang ia bangun selama bertahun-tahun kini berada di tepi jurang. Pria itu menatap Adella untuk terakhir kalinya—tatapan yang penuh dengan kebencian sekaligus pengakuan bahwa ia telah dikalahkan oleh muridnya sendiri.

Pak Adwan tidak lari. Ia justru mundur ke dalam "ruang kaca" yang ia bangun untuk Adella, lalu menguncinya dari dalam. Ia duduk di kursi kerja di sana, menatap Adella melalui kaca kedap suara sambil melepaskan maskernya. Ia membiarkan gas karbon dioksida memenuhi ruangannya sendiri.

"Selamat, Adella," ucapnya tanpa suara, hanya gerakan bibir di balik kaca. "Kamu baru saja menyelesaikan ujian akhirmu."

Pintu besi depan didobrak paksa oleh petugas pemadam kebakaran. Adella jatuh pingsan tepat saat oksigen segar masuk ke dalam ruangan, namun matanya tetap tertuju pada Pak Adwan yang duduk tenang di dalam kotak kacanya, seperti sebuah pajangan yang akhirnya terkunci dalam koleksinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!