Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segel Pembelah Langit
Bagian utara Wilayah Terbengkalai adalah sebuah kekacauan ruang yang memusingkan. Di tempat ini, daratan tidak membentang mendatar, melainkan berupa bongkahan-bongkahan pulau batu yang melayang secara tegak lurus. Aliran udara di sini dipenuhi celah ruang yang bisa memotong tubuh manusia menjadi dua bagian jika salah melangkah.
Di atas sebuah altar batu raksasa yang melayang di pusat kekacauan itu, pertempuran mematikan sedang berlangsung.
Udara membeku, menciptakan hujan salju yang tajam seperti pisau. Di tengah badai salju bentukan Qi tersebut, sosok wanita berkerudung salju—Bai—melayang dengan napas terengah-engah. Gaun putih bersihnya kini dihiasi noda darah segar di bagian bahu dan pinggang. Sepasang mata kristal esnya memancarkan keputusasaan yang jarang ia rasakan.
Di hadapannya, berdiri seekor monster yang menjadi alasan mengapa altar ini belum pernah ditaklukkan selama ratusan tahun.
Kera Iblis Bermata Tiga.
Monster itu setinggi tiga tombak, seluruh tubuhnya ditutupi bulu hitam yang memancarkan aura kegelapan pekat. Di tengah dahinya, terdapat sebuah mata ketiga berwarna ungu menyala yang bisa menembakkan sinar penghancur. Gejolak Qi dari binatang buas ini berada di Puncak Tingkat 2—setara dengan ahli Alam Lautan Qi Lapis Kesembilan!
"Sial... Catatan dari gulungan sekte salah!" Bai menggigit bibirnya hingga berdarah. "Binatang ini bukan berada di Lapis Keenam! Ia telah menyerap energi dari pusaka itu dan berkembang mendekati Tingkat 3!"
Di tengah altar yang dijaga oleh Kera Iblis tersebut, melayang sebuah pecahan batu giok berbentuk persegi yang memancarkan cahaya keemasan kuno. Itu adalah Segel Pembelah Langit, salah satu pusaka legendaris dari Pecahan Alam Atas yang konon menyimpan hukum pengendalian ruang. Inilah tujuan utama Bai menyusup dan memanfaatkan persaingan antar kubu Penatua.
Namun sekarang, ia terjebak. Kera Iblis itu memukul dadanya sendiri, melepaskan raungan yang menggetarkan altar yang melayang. Mata ketiganya bersinar terang, bersiap menembakkan sinar ungu mematikan untuk mengakhiri hidup penyusup fana di depannya.
SRAAAAT!
Tepat ketika sinar ungu itu hendak ditembakkan, sebuah bayangan hitam melesat menembus badai salju dengan kecepatan yang nyaris merobek batas suara.
Sosok itu tidak menyerang sang Kera Iblis, apalagi berusaha melindungi Bai. Alih-alih, bayangan itu meluncur lurus melewati pertarungan mereka, tangannya terulur ke arah pusat altar, langsung menuju Segel Pembelah Langit!
Mata Bai terbelalak. "Chu Chen?!"
Pemuda berjubah abu-abu itu mendarat tepat di dekat pusaka tersebut. Tubuhnya kini memancarkan gejolak energi yang sangat berbeda dari saat mereka bertemu di Hutan Bambu Hitam. Bukan lagi fana tanpa Qi, melainkan Alam Lautan Qi Lapis Keempat Puncak yang luar biasa padat dan murni!
"Mata Air Yin-Yang... dia benar-benar berhasil menyerapnya dalam waktu kurang dari setengah hari?!" Bai tersentak tak percaya. Bahkan baginya yang berada di Alam Istana Jiwa, menyerap energi semurni itu membutuhkan waktu berbulan-bulan semedi.
Menyadari ada semut lain yang berani menyentuh pusaka jagaannya, Kera Iblis Bermata Tiga membatalkan serangannya pada Bai dan memutar tubuh besarnya ke arah Chu Chen. Aumannya meledak, dan mata ketiganya langsung menembakkan pilar cahaya ungu raksasa yang bisa melelehkan gunung, lurus ke arah punggung Chu Chen.
"Awas! Sinar itu bisa menghancurkan jiwa!" teriak Bai secara naluriah. Jika Chu Chen mati, ia akan kembali menjadi sasaran tunggal monster itu.
Namun Chu Chen bahkan tidak repot-repot menoleh.
Saat tangannya menggenggam Segel Pembelah Langit, ia hanya membalikkan badannya setengah putaran. Di dalam Dantiannya, Lautan Qi yang kini diseimbangkan oleh energi Yin-Yang berputar dengan kecepatan mutlak. Air hitam dan putih ilusi mengalir di sekitar lengannya, membungkus Api Teratai Merah yang membara di telapak tangan kanannya.
Telapak Penghancur Matahari: Bentuk Sempurna!
Chu Chen menyorongkan telapak tangannya menyongsong sinar ungu tersebut.
BUMMMMM!!!
Ledakan yang terjadi tidak seperti benturan biasa. Sinar ungu pembakar jiwa milik Kera Iblis Lapis Kesembilan itu menabrak telapak tangan Chu Chen dan langsung terbelah menjadi dua arus, seperti air bah yang menabrak batu karang abadi.
Tulang baja legam Chu Chen menahan daya hancur fisiknya, sementara campuran Api Teratai Merah dan Yin-Yang Qi menelan energi mematikan dari sinar tersebut, memunahkannya di udara terbuka.
"Giliranmu yang menjadi hidangan, Kera," bisik Chu Chen.
Dengan Segel Pembelah Langit di tangan kirinya, Chu Chen menghentakkan kaki ke altar dan melesat maju menembus sisa-sisa sinar ungu. Jarak antara dirinya dan monster raksasa itu dipangkas dalam sekedipan mata.
Kera Iblis itu terkejut melihat mangsanya menembus serangan mutlaknya tanpa cedera. Ia mengangkat cakar raksasanya untuk menghempaskan Chu Chen.
Namun, kecepatan Lapis Keempat Chu Chen yang disokong darah naga jauh di luar nalar. Chu Chen menunduk di bawah ayunan cakar, meluncur tepat ke bawah dada monster itu. Lengan kanannya yang masih memancarkan panas matahari merah menghantam lurus ke atas, tepat ke jantung sang Kera Iblis.
BLAAAR!
Telapak tangan yang dilapisi Api Surgawi itu menembus bulu, kulit, dan otot monster Puncak Tingkat 2 seolah menembus kertas basah. Tangan Chu Chen masuk hingga ke dalam rongga dada kera tersebut.
Suhu di dalam dada monster itu seketika melonjak hingga menguapkan darahnya menjadi uap merah. Kera Iblis itu menjerit melengking, tubuh raksasanya menegang kaku di udara.
Pusaran Ketiadaan.
Hisapan tanpa ampun diaktifkan. Saripati kehidupan yang luar biasa besar dan inti binatang dari monster yang hampir mencapai Tingkat 3 itu ditarik paksa. Berbeda dengan sebelumnya, Lautan Qi Chu Chen yang kini seluas samudra menelan energi raksasa itu tanpa ada tanda-tanda penolakan atau rasa sakit.
Hanya dalam waktu dua puluh tarikan napas, tubuh raksasa Kera Iblis Bermata Tiga itu mengerut dan ambruk menjadi tumpukan bulu dan tulang kering di atas altar.
Bai, yang melayang sepuluh tombak dari sana, turun ke tanah dengan lutut sedikit goyah. Napasnya tertahan. Monster yang hampir membunuhnya barusan... dihabisi dalam satu serangan tunggal? Oleh seorang pemuda berusia lima belas tahun yang baru saja menembus Lautan Qi?!
Chu Chen berdiri di tengah altar, menarik tangannya dari mayat kera itu. Ia bisa merasakan Lautan Qi-nya melonjak, hampir menyentuh batas Lapis Kelima. Pemuda itu kemudian mengangkat Segel Pembelah Langit yang memancarkan pendaran keemasan, memperhatikannya dengan saksama.
"Benda yang menarik," ucap Chu Chen pelan. "Pantas saja kau menyuruhku membuat keributan di selatan. Kau ingin menyelinap mengambil ini."
Bai menelan ludah, berusaha mengembalikan ketenangannya dan meredam aura Istana Jiwa-nya yang terluka. Ia berjalan mendekat dengan senyum tipis di balik kerudungnya.
"Kau melakukan pekerjaan yang luar biasa, Chu Chen," suara Bai terdengar lembut, mencoba mengambil kembali arah pembicaraan. "Kau mengurus harimaunya, dan secara kebetulan kau juga menyelamatkanku dari kera ini. Sesuai kesepakatan, Mata Air Yin-Yang adalah milikmu, dan Segel itu adalah bagianku. Serahkan padaku, dan aku akan memastikan kau mendapatkan kedudukan tertinggi saat kita keluar dari Wilayah ini."
Bai mengulurkan tangannya yang seputih pualam, menunggu Chu Chen menyerahkan segel giok tersebut.
Namun Chu Chen tidak bergerak. Pemuda berjubah abu-abu itu menatap tangan Bai yang terulur, lalu perlahan menaikkan pandangannya untuk menatap langsung ke sepasang mata kristal es sang wanita.
Senyum kejam dan haus darah perlahan terukir di bibir Chu Chen.
"Kesepakatan?" Chu Chen memiringkan kepalanya sedikit. Suaranya terdengar sangat tenang, namun memancarkan penindasan mutlak dari seekor naga yang menatap semut yang mencoba merundingkan sepotong daging.
"Kau salah paham, Nona Bai. Aku memang mengambil Mata Air Yin-Yang karena aku menginginkannya. Dan sekarang..."
Chu Chen memutar Segel Pembelah Langit di jari-jarinya, sebelum akhirnya memasukkan pusaka peninggalan Alam Atas itu ke dalam Cincin Penyimpanannya sendiri.
"...aku mengambil segel ini, karena aku juga menginginkannya."
Mata Bai menyipit tajam. Aura dingin meledak dari tubuhnya, membekukan udara di sekitarnya. "Apakah kau sadar dengan siapa kau sedang berbicara, Bocah? Aku menutupi pencurian Api Surgawimu! Aku yang memberimu jalan! Jika bukan karena Plakat Giokku, kau tidak akan bisa berjalan di Puncak Luar dengan tenang! Serahkan segel itu, atau aku sendiri yang akan mengambilnya dari mayatmu."
Meskipun terluka, Bai adalah ahli Alam Istana Jiwa. Menghadapi ancaman mematikan dari sosok yang berjarak dua alam besar di atasnya, Chu Chen tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, ia melangkah maju.
"Ambillah jika kau bisa," bisik Chu Chen, melepaskan seluruh Niat Membunuh purba dari Garis Keturunan Dewa Naga, menabrakkannya langsung pada aura es milik Bai.
Di atas altar yang melayang di antara langit yang hancur, dua pemangsa saling berhadapan. Kesepakatan telah hancur. Dan bagi Sang Naga Pemakan Langit, siapapun yang memiliki sesuatu yang berharga... hanyalah calon mangsa berikutnya.