Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"jadi tante itu suruh Clara ke sini karena mau kasih gaun pesta buat Clara, buat di pakai malam resepsi pernikahan Tante sama papa nanti, Clara mau kan? Terima hadiah ini dari Tante?" Asisten Tara mengulurkan sebuah boks berisikan gaun pesta hitam gemerlapan yang cantik dan terlihat sangat mahal.
Clara menatap gaun tersebut yang di serahkan Tara kepada nya, ia tidak menyangka calon mama tiri nya benar-benar royal sampai mempersiapkan segalanya sendiri.
"Tante, aku punya banyak gaun, kenapa harus merepotkan Tante? Aku jadi gak enak," Clara yang merasa tidak pantas merepotkan Tara karena masih belum sah jadi mama nya terlihat sangat gugup.
"Bukan gitu sayang, Tante mau kamu dan Raja kelihatan kompak," lagi-lagi Tara mengode asisten nya untuk menyerahkan boks kedua kepada nya.
Setelah books itu dibuka, terlihat satu stelan jas hitam yang ternyata sudah di siapkan Tara untuk Raja.
"Nah, kalian bakal mecing banget berdua pake itu?" ujar papa Tian angkat bicara.
"Emang harus semecing ini pa?" ujar Clara serba salah.
Jujur Clara gugup karena duduk di samping Raja, sementara itu Raja terlihat fine-fine saja.
Satu jam pun berlalu, perundingan malam itu pun selesai, Clara dan papa nya kembali ke rumah begitu juga sebaliknya dengan Raja dan Tara.
Beberapa hari kembali berlalu begitu cepat, kini resepsi pernikahan sang papa dan mama Tara hanya tinggal menunggu dua hari lagi sudah akan tiba masanya.
Resepsi itu di adakan di sebuah hotel, di adakan pada malam hari.
Tian dan Tara mulai semakin sibuk dengan urusan mereka, mengundang para sahabat dan juga orang terdekat.
Hari ini setelah pulang sekolah, Clara berniat mampir ke mall untuk mencari high heels baru, ia ingin menyesuaikan high heels nya dengan gaun yang di berikan oleh calon mama nya.
"Yang ini aja deh mbak," setelah mencoba banyak high heels, Clara akhirnya memilih sepasang yabg menurutnya sangat cocok dan nyaman di pakai.
Pelayan pun segera membungkus nya untuk Clara, setelah selesai dengan high heels tersebut, Clara pun segera pergi dari mall itu.
Namun di saat hendak kembali masuk ke dalam mobil nya, ia melihat seorang nenek-nenek tertatih-tatih menyebrang jalan, lampu merah sebentar lagi akan berganti lampu hijau.
Awalnya Clara memutuskan untuk tidak membantu, namun tiba-tiba kresek yang berisikan buah jeruk milik sang nenek bocor membuat jeruk yang ada di dalamnya berhamburan keluar, sang nenek terlihat sangat sedih dan membungkuk untuk memungut nya kembali, melihat itu Clara berlari dan langsung membatu sang nenek.
"Astaga nek, nenek tunggu di sini aja, biar aku yang mungutin buah-buahan nya," Clara segera menyebrang kan sang nenek dan ia pun kembali ke seberang untuk memungut jeruk.
Namun seseorang tiba-tiba berdiri di sebelah nya lalu berjongkok membantu Clara memungut jeruk tersebut,ia juga meminta Clara memasukkan jeruk itu ke dalam kresek yang dia pegang.
Setelah selesai memungut, mereka pun mengembalikan itu kepada sang nenek.
"Anak baik, terima kasih banyak ya, kalian sudah membantu ku, aku tidak tau harus bagaimana karena ini ku beli untuk cucu ku," nenek tersebut mengucapkan terima kasih kepada Clara.
"Nenek, lain kali jangan keluar sendiri lagi ya, bahaya, jalan ramai kayak gini gak baik buat nenek," Clara begitu peduli dan terlihat sangat lembut.
Sang nenek mengangguk sambil tersenyum manis, ia kemudian berjalan pergi meninggalkan Clara dan laki-laki yang ada di belakang nya.
"Clara, tangan Lo luka?" ujar seseorang yang ternyata masih berdiri di belakang Clara.
Clara berbalik, ia menatap sosok yang tadi membantu nya memberikan kresek.
"Gak apa-apa cuma lecet aja, aspal nya terlalu panas," jawab Clara singkat.
Saat Clara hendak berlalu pergi dari hadapan laki-laki itu, ia segera menahan pergelangan tangan Clara dan membawa nya ke mall untuk berteduh si sana.
"Cuaca panas banget, Lo duduk di sini, gue cari minum, ke dalam," ia menyuruh Clara duduk di tangga mall dan kemudian meninggal kan Clara.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan dua botol air mineral.
"Minum dulu," ujar nya sambil menyerahkan sebotol untuk Clara.
Clara mengambil nya dan kemudian menatap wajah tampan laki-laki yang sedang minum tersebut.
"Kenapa? Gak bisa buka? Minum punya gue aja nih," lagi-lagi ia mengerahkan minuman nya kepada Clara.
"Mobil Lo kenapa seenaknya taruh di pinggir? Apa gak bikin marah orang mau lewat itu?" Clara menujuk arah jalan raya, laki-laki tersebut membiarkan mobil nya di sana.
"Gak apa-apa," jawab nya yang kemudian mengeluarkan dua buah hansplast dari saku baju nya.
Ia mengambil tangan Clara dan kemudian membalut dua jari Clara yang memar dan sedikit terkelupas.
Sebenarnya tangan Clara hanya terkena sabun dan alergi, membuat sedikit terkelupas di tambah terkena aspal panas saat ia mengutip buah-buahan si nenek tadi.
Clara menatap nya dengan penuh rasa penasaran, laki-laki kasar, sombong dan juga angkuh yang ada di samping nya ini tidak pernah menyangka bisa selembut itu.
"Udah nih," ujar nya sambil meniup-niup jari Clara.
"Makasih," jawab Clara gugup, ia mengalihkan pandangannya.
"Soal kemarin gue minta maaf," ujar nya menyambung kalimat untuk terus ngobrol dengan Clara.
"Gak apa-apa,gue juga udah ngelupain semuanya kok, oh iya gue mau pulang dulu ya, Linus," Clara berdiri dari duduknya dan menatap Linus.
Ya, laki-laki tersebut adalah Linus, ia juga pulang dari sekolah namun mengikuti mobil Clara, awalnya ia ingin mengikuti sampai ke rumah namun sudah ketahuan seperti ini ia harus membatalkan nya.
"Gue kakak kelas Lo, pangil gue kakak, Raja Lo pangil kakak sedangkan gue nama, gue salah apa sih?" Linus berdiri ia kembali terlihat galak.
Clara tersenyum kecil melihat tingkah Linus barusan.
"Yaudah, aku pulang ya kak," ujar Clara yang kemudian masuk ke dalam mobil nya lalu melaju pergi meninggalkan Linus.
Namun Linus yang pertama kali nya melihat Clara tersenyum seolah terkena serangan jantung, di tambah lagi panggilan kak yang barusan ia dengan, Linus berdiri mematung dengan hati yang berdebar-debar.
Sekarang ia paham, Clara tidak bisa di dekati dengan kekerasan, kekasaran atau paksaan, namun dengan ketenangan ia bisa melihat semuanya kelemahan Clara.
"Pantesan Raja bisa deketin dia? Ternyata ini caranya?" Linus tersenyum miring sambil memegang dadanya, ia mulai mendapatkan cara untuk mencari tau kebenaran tentang Clara, jujur setelah obrolan nya dengan Della mereka masih tidak percaya kalau Clara tidak ada hubungannya dengan Cery.
Linus kembali masuk ke dalam mobil nya setelah beberapa menit berdiri di depan mall.
"Di sekolah kelihatan segalak apa, pas di luar kayak kucing doang," batin Linus sambil kemudian melajukan mobilnya.
Singkat cerita, hari H pernikahan mama Tara dan papa Tian pun tiba.
Clara menitikkan air mata nya, saat melihat sang papa mengucapkan janji suci bersama Tara di atas altar.
Kini papa nya sudah bukan duda lagi, mama tirinya juga terlihat sangat cantik mengunakan gaun putih dan polesan make up tipis.
"Akhirnya mereka nikah juga," ujar Raja yang berdiri di sebelah Clara.
Suara tepuk tangan bergemuruh dalam aula pesta tersebut, yang di hadiri rekan bisnis dan teman-teman kedua mempelai.
Raja dan Clara memutuskan untuk tidak menguak status mereka saat ini, sehingga tak satupun dari mereka mengundang teman sekolah datang ke pesta pernikahan mama dan mama masing-masing.
Raja mengengam erat tangan Clara saat menyaksikan gadis itu tidak bisa menahan tangisnya.
Tidak hanya itu, Raja meraih tengkuk Clara membuat nya menyembunyikan wajah di pundak Raja.
Keduanya sama-sama terharu akan pemandangan ini, namun Raja ia sangat bahagia bisa melihat sang mama bahagia.
Meskipun hatinya kacau karena Clara sangat mirip dengan Cery, ia yakin setelah ini perasaan nya akan susah untuk di kendalikan.
"Kenapa jantung gue gak karuan gini?" Raja.
Sesi foto pun berlanjut, setelah foto-foto keluarga selesai kedua mempelai pun sibuk dengan tamu mereka masing-masing.
"Permisi, saya fotografer yang di sewa pak Tian, nyonya Tara meminta saya untuk memotret kalian berdua," ujar seseorang yang kini berdiri di hadapan Raja dan Clara sambil memegang kamera di tangan nya.
Clara menatap Raja, begitu juga sebaliknya, sementara mama Tara yang melihat kedua anak nya bingung segera menghampiri mereka.
"Kapan lagi? Udah cantik sama ganteng gini masa gak mau foto adek kakak?" mama Tara segera mengatur Raja dan Clara untuk foto.
Mau tidak mau kedua anak itu hanya bisa mengikuti instruksi sang mama, tidak ingin mengecewakan mereka pun berpose dan mendapatkan beberapa kali potretan.
Suasana pesta di malam itu benar-benar berjalan dengan lancar dan cukup meriah.
Waktu berlalu begitu cepat, jam pun sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit.
Para tamu sudah bubar meninggalkan aula pesta.
"Raja, papa dan mama malam ini nginep di hotel ini, kamu bawa Clara pulang ya," ujar Tian memegang pundak Raja.
"Hah? Pa, kok aku pulang sama kak Raja? Pa jangan gini dong aku juga nginep deh ya?" Clara yang polos memegang tangan sang papa dan terlihat wajah paniknya.
"Astaga," tak habis fikir melihat kebodohan Clara, Raja menepuk jidat nya.
Sementara mama Tara memasang wajah merah menahan malu.
"Raja tolong papa," bisik Tian kepada Raja.
Keluarga itu kini sudah terlihat sangat akrab dalam satu malam semuanya berubah.
"Gak apa-apa om, eh maksudnya pa, biar aku yang urus," bisik Raja sambil mengedipkan mata kepada sang mama.
Mama nya hanya bisa tersipu melihat kelakuan Raja.
Raja menjinjit gaun Clara, dan mengkode papa Tian agar segera membawa mama Tara pergi dari sana.
"Pa! Pa ikut!" jerit Clara berusaha kabur dari Raja namun tidak bisa.
"Ikut gue!" Raja mengengam pergelangan tangan Clara dan membawa nya keluar dari hotel tersebut.
Mereka tiba di mobil sport milik Raja, Raja dengan cepat membuka pintu mobil dan kemudian memasukkan Clara ke dalam nya.
Bersambung ....