Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Di Bawah Karat Pabrik Tua dan Gema Sebuah Janji
Deru kereta api barang yang melintas membelah petang menjadi satu-satunya irama yang mengiringi langkah Jenawa Adraw. Di hadapannya, menjulang kerangka besi berlapis karat dari sebuah pabrik gula tua yang telah lama mati. Tumbuhan rambat liar dan ilalang setinggi pinggang menjadi saksi bisu bagi tempat yang kerap dijadikan arena peradilan jalanan bagi para remaja yang darahnya masih mendidih.
Matahari membiaskan sinar kemerahan yang kian temaram, menyapu wajah kelima belas pemuda dari barisan depan SMA Bangsa. Di sisi Jenawa, Seno berdiri tegap, memutar-mutar pergelangan tangannya untuk melemaskan otot. Tak ada balok kayu, tak ada rantai besi. Sesuai dengan titah sang panglima, mereka datang hanya dengan tangan kosong dan sisa-sisa kehormatan yang harus ditegakkan.
Namun, di balik dada bidang Jenawa, badai sesungguhnya bukanlah antisipasi akan pertarungan ini. Melainkan sepasang mata kecokelatan yang meneteskan air mata siang tadi. Kalimat Sinaca Tina terus menggema, memantul di setiap sudut rongga kepalanya.
"Setiap luka yang kau bawa pulang petang nanti, tak hanya akan mengoyak kulitmu, melainkan akan turut menorehkan luka yang sama dalamnya pada kepercayaan yang baru saja kita bangun."
"Mereka datang, Wa," suara Seno memecah lamunan Jenawa, menariknya kembali pada realitas aspal dan debu.
Dari arah pintu gerbang pabrik yang telah lapuk, belasan motor bising memasuki area tanah lapang. Agam turun dari motornya dengan gaya angkuh yang dibuat-buat, diikuti oleh barisan depan SMA Pelita. Berbeda dengan barisan Jenawa yang tampak tenang dan terkoordinasi, komplotan Agam terlihat lebih beringas, memprovokasi dengan makian dan tawa meremehkan.
Jenawa melangkah maju dua tindak, memisahkan diri dari barisannya. Ia melepaskan jaket almamaternya, membiarkan angin petang menerpa kemeja seragamnya yang sengaja tak dikancingkan hingga bagian dada.
"Kau menepati tantanganku, Agam. Sebuah kejutan kecil yang pantas diapresiasi," ucap Jenawa. Suara baritonnya mengalun datar, tanpa emosi, namun menguar wibawa yang membuat tawa komplotan Pelita perlahan mereda.
Agam meludah ke tanah, melangkah mendekat dengan seulas seringai culas. "Aku tak pernah menolak kesempatan untuk menghancurkan kesombonganmu, Jenawa. Setelah petang ini, seluruh kota akan tahu bahwa Panglima SMA Bangsa tak lebih dari seekor anjing peliharaan yang baru saja dijinakkan oleh seorang siswi baru."
Mendengar nama tak kasat mata itu disinggung dengan nada merendahkan, urat leher Seno menegang. Barisan Bangsa bersiap menerjang, namun Jenawa kembali mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat mutlak untuk menahan diri.
"Urusan kita adalah tentang caramu menikam barisanku dari belakang," desis Jenawa, matanya menyipit menatap Agam layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Jangan seret nama orang yang tak bersalah ke dalam lumpur ini, Agam. Sesuai kesepakatan, tak ada senjata kotor. Hanya kau, aku, dan barisan kita. Kita selesaikan perseteruan usang ini sekarang juga."
"Banyak bicara!" raung Agam.
Dalam sepersekian detik, Agam menerjang maju, mengayunkan sebuah pukulan keras ke arah rahang Jenawa. Peradilan jalanan pun pecah. Seno dan barisan Bangsa segera menyambut terjangan anak-anak Pelita. Suara debuk kepalan tangan yang menghantam daging dan rintihan kesakitan mulai memenuhi udara pengap pabrik tua tersebut.
Jenawa menunduk, menghindari pukulan pertama Agam dengan gerakan refleks yang amat terlatih. Ia membalas dengan sebuah pukulan lurus yang mendarat telak di dada lawannya, membuat Agam terhuyung mundur. Namun, Jenawa tak mengejar. Pikirannya terpecah. Alih-alih membabi buta seperti biasanya, pemuda itu bertarung dengan perhitungan yang teramat dingin. Ia menghindari setiap serangan tajam, berusaha seminimal mungkin mendapatkan luka.
Bukan karena ia gentar. Ia hanya tak ingin pulang dan membawa bukti fisik yang akan mengoyak kepercayaan Sinaca.
Merasa diremehkan karena Jenawa lebih banyak menghindar dan menangkis, Agam semakin kalap. Emosinya yang tak terkendali membuatnya ceroboh. Di saat Jenawa lengah menangkis tendangan dari arah bawah, tangan kanan Agam tiba-tiba merogoh saku celananya.
Sebuah kilatan logam memantulkan sisa cahaya senja. Cincin besi bergerigi. Sebuah senjata kotor yang disembunyikan sang pengecut.
"Mati kau, Jenawa!" teriak Agam, melontarkan pukulan mematikan tepat ke arah wajah Jenawa.
Waktu seakan berjalan melambat. Jenawa membelalak, menyadari kecurangan itu di detik-detik terakhir. Ia memiringkan kepalanya dengan sentakan keras. Besi bergerigi itu meleset dari wajahnya, namun tetap menggores lengannya dengan telak, merobek kain seragam dan kulitnya. Darah segar seketika merembes.
Rasa perih yang menyengat itu membangunkan monster yang sejak siang tadi dikurung oleh Jenawa. Tatapan matanya yang semula dingin, kini menyala oleh murka yang murni.
"Kau tak pernah belajar tentang arti sebuah kehormatan, Agam," bisik Jenawa dengan suara yang begitu kelam, lebih menakutkan dari teriakan apa pun.
Sebelum Agam sempat menarik kembali tangannya, Jenawa mencengkeram pergelangan tangan lawannya itu dengan kekuatan penuh, memuntirnya hingga Agam menjerit kesakitan dan menjatuhkan cincin besinya. Tanpa ampun, Jenawa melontarkan pukulan bertubi-tubi. Satu di perut, satu di rahang, dan sebuah tendangan telak yang membuat Agam tersungkur mencium tanah berdebu, tak mampu lagi bangkit.
Melihat pemimpin mereka tumbang dalam kondisi mengenaskan dan senjata kotornya tergeletak di aspal, nyali sisa anak-anak Pelita seketika menciut. Mereka menghentikan pertarungan, melangkah mundur dengan raut ketakutan yang kentara. Seno dan kawan-kawannya, yang sebagian besar juga memar, bersorak merayakan kemenangan mutlak tersebut.
"Bawa pemimpin kalian yang tak tahu malu ini," titah Jenawa sambil terengah, menunjuk tubuh Agam dengan ujung sepatunya. Darah dari lengannya menetes, menodai tanah pabrik. "Dan ingat ini baik-baik. Jika ada satu saja dari kalian yang berani menampakkan diri untuk mencari perkara lagi dengan SMA Bangsa, aku tak akan lagi memberikan kelonggaran seperti hari ini. Pergi!"
Tanpa membuang waktu, anak-anak Pelita memapah Agam dan berlari menuju motor mereka, meninggalkan arena dengan kekalahan yang amat memalukan.
Seno menghampiri Jenawa, senyum kemenangan terukir di bibirnya yang sedikit sobek. "Kita menang, Wa! Kita membungkam bualan mereka untuk selamanya!"
Namun, tak ada sorot kemenangan di sepasang mata Jenawa. Pemuda itu berdiri mematung di tengah pelataran berdebu, memandangi lengannya yang terkoyak dan berdarah. Nyeri di kulitnya tak seberapa, namun bayangan wajah Sinaca yang menangis siang tadi menyayat hatinya jauh lebih dalam.
"Kita pulang, Seno," ucap Jenawa lirih, memungut jaket almamaternya untuk menutupi lengan yang berdarah. Di saat kawan-kawannya merayakan kejayaan di atas aspal, Sang Panglima justru merasa bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah kemenangan.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪