Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dalam perjalanan pulang, baik Tara ataupun Devan, keduanya hanya diam. Devan menyetir sedangkan Tara menatap jendela di sampingnya.
Setelah emosi kedua orang tua Devan mereda, mereka akhirnya menyetujui perceraian. Mereka juga tidak akan mempersulitnya saat nanti harus bersaksi di ruang pengadilan.
Hal itu membuat Tara merasa lega walaupun tak bisa sepenuhnya. Hatinya gamang. Walau ia tetap kukuh untuk bercerai, tapi tetap saja ia memikirkan masa depannya nanti.
Tara akan menjadi seorang janda. Status yang membuat orang-orang mencemoohnya. Status yang membuat orang-orang menilainya hina. Mau tidak mau. Siap tidak siap. Tara harus menebalkan muka juga jiwanya agar tak terusik oleh omongan tidak sedap dari para tetangga.
“Di depan sana, ada resto all you can eat. Mau makan di sana nggak?”
Tara menoleh ke Devan lalu ke depan. Plang nama restoran yang disebut Devan sudah terlihat. Restoran itu adalah tempat pertama kalinya Devan memasakkan makanan untuknya. Salah satu tempat kesukaannya.
“Boleh,” angguk Tara.
Devan memasuki area parkir restoran. Keduanya turun dan melangkah masuk bersisian. Selesai memilih bahan-bahan yang akan mereka masak, keduanya pun duduk di salah satu meja dekat jendela yang memperlihatkan jalanan di luarnya.
“Aku masak sendiri aja, Dev,” ucap Tara saat Devan mulai mengambil daging yang akan ia panggang. Itu adalah daging kesukaan Tara.
“Kamu makan aja supnya dulu selagi nunggu dagingnya matang,” tolak Devan tetap memanggang dagingnya.
Tara terdiam. Tak mau berdebat, Tara menyendok sup pesanannya.
“Restorannya sama. Suasananya sama. Orangnya sama. Tapi, keadaan kita berdua sudah berbeda,” ucap Devan tanpa menoleh.
Tara mengangkat pandangannya ke arah Devan. “Hmm, aku rasa kamu harus mulai terbiasa dengan keadaan ini.”
“Kenapa? Bukannya katamu, kita masih bisa berteman? Itu artinya kita masih bisa makan bareng kayak gini kan?”
“Belum tentu juga. Tergantung aku mood atau enggak buat nemenin kamu.”
Devan memindahkan daging dari atas panggangan ke piring Tara. Tara langsung melahapnya.
“Eum … enak banget. Bisa pas gitu ya kamu manggangnya.”
Devan terkekeh pelan. “Ya udah kamu fokus makan aja. Biar aku yang manggang semuanya. Seperti dulu dan seperti biasanya.”
Tara mengangguk saja. Ia tahu kalau Devan tengah mencoba menyentil sisi sentimentilnya agar ia mengenang masa lalu mereka.
Devan memang setuju untuk bercerai dan berjanji tidak akan mempersulitnya. Tapi, ia menggunakan cara lain agar Tara bisa memikirkan ulang keputusannya dengan cara membawa Tara ke tempat kenangan indah mereka.
“Setelah ini, aku masih bisa datang ke rumahmu kan?”
“Tentu saja. Emang kenapa nggak boleh?”
“Haris. Dia pasti nggak bakal ngijinin aku sering datang ke rumah buat menemuimu.”
Tara menelan makanannya lebih dulu sebelum menjawab. “Kalau gitu kamu mesti ijin dulu sama Abang.”
Devan menunduk. Piring Tara sudah kosong. Sedangkan punya Devan bahkan belum tersentuh. Devan memang selalu seperti itu. Dia memastikan Tara kenyang lebih dulu barulah ia memakan makanannya sendiri.
“Makan dulu, Dev. Sayang banget makanan sebanyak ini cuma dilihatin.” Tara mengambil daging pesanan Devan dan memanggangnya.
Devan melihatnya dan tersenyum lirih. “Penyesalan memang selalu datang di akhir ya?”
Tara menatap Devan sebentar lalu mengangguk. “Bisa kita makan lebih dulu? Jangan bersedih di hadapan makanan. Nanti makanannya ikut sedih.”
Devan terkekeh. “Info dari mana itu?”
“Dari mulutku. Baru saja.”
Devan menggeleng sembari tersenyum. Ia mulai memakan makanannya.
Pulang dari restoran, Devan mengantar Tara ke rumah Haris. Haris berdiri di teras rumahnya saat mobil Devan memasuki garasi rumah.
“Sudah selesai urusannya, Dek?” Haris bertanya pada Tara.
Tara mengangguk,” Aku masuk dulu ya, Dev. Terima kasih.”
Devan mengangguk. Tara masuk ke dalam rumah. Kini, ia dan Haris berdiri saling berhadapan. Haris menatap tajam.
“Lo boleh pulang. Urusan lo udah kelar kan?”
Devan mengangguk. “Oke. Titip Tara.”
Haris berdecih. “Gue Abangnya. Tanpa lo ngomong gitu, gue bakal jaga Tara.”
Devan tak menjawab dan langsung pergi dari sana. Haris menghela napas panjang lalu masuk ke dalam rumah.
***
“Mobil kamu masih di bengkel, Dek.” Haris berkata saat ia dan Tara tengah duduk menikmati sarapan.
Tara mengangguk. “Kapan selesainya?”
Haris menggeleng, tak tahu. “Kamu ada agenda apa hari ini?”
“Nggak ada. Mau diem di rumah. Kenapa? Takut kalau aku ketemuan sama Devan lagi?”
“Enggak. Kamu udah dewasa. Abang nggak berhak ngatur-ngatur kamu. Tapi, coba cari kegiatan yang positif buat mengalihkan kesedihanmu.”
“Eum, nanti ku pikirkan. Lagipula kadang aku masih suka pusing. Mungkin karena benturan waktu kecelakaan itu.”
Haris menatap khawatir. “Kita periksa ke dokter aja, Dek. Periksa keseluruhan. Takutnya ada luka yang nggak kedeteksi.”
Tara diam sesaat,” Ya nanti deh aku periksa.”
“Sendiri?”
“Ya iyalah. Aku udah dewasa, Bang. Nggak perlu diantar. Abang juga kan harus kerja.”
“Abang bisa ijin.”
“Nggak perlu. Abang fokus kerja aja. Cari duit yang banyak karena mulai sekarang beban Abang bertambah karena aku tinggal di sini lagi.”
Haris mengerutkan dahi dan menatap lekat adiknya.
“Siapa yang jadi beban?”
“Aku,” jawab Tara enteng.
“Abang nggak pernah anggap kamu beban, Dek. Kamu adik Abang. Sudah sepantasnya Abang biayain hidup kamu sebagai bentuk tanggung jawab Abang. Abang harus jadi ibu dan ayah buat kamu. Abang harus jadi apapun agar kamu selalu bahagia. Kamu bukan beban Abang, Dek. Melainkan semangat Abang. Penyemangat buat Abang saat capek. Abang masih punya kamu. Adik satu-satunya Abang. Abang janji, kali ini Abang akan berusaha lebih keras lagi untuk bahagiain kamu. Abang akan lebih perhatian lagi sama kamu. Abang akan memberikan semua waktu Abang buat kamu. Jadi, jangan anggap kamu sebagai beban. Kamu berharga, Dek. Sangat berharga buat Abang.”
Tara mengangguk.
“Oh iya, Abang minta tolong sama kamu untuk nggak berhubungan dulu sama David sebelum kamu dan Devan resmi bercerai.”
Tara mengernyit. “Apa hubungannya David sama semua ini?”
“Devan itu licik, Tara. Abang yakin dia diam-diam ngawasin kamu. Jangan sampai dia nganggep kamu selingkuh sama David dan mempersulit perceraian kalian.”
Tara menghela napas perlahan. “Aku tahu, Bang.”
“Untuk masalah mobil kamu, biar Abang yang urus. Biar Abang yang ke bengkel. Pokoknya jangan pernah kamu ketemu David sebelum semuanya selesai.”
“Iya-iya, Bang. Aku paham kok. Aku juga nggak mau David terlibat.”
Haris berdiri. “Ya udah. Abang berangkat kerja dulu. Kemana-mana tolong chat Abang ya. Jangan lupa ke dokter.”
Tara ikut berdiri dan menyalami tangan Haris. “Iya, Abang.”
Setelah Haris berangkat bekerja, Tara membereskan sampah makanan mereka. Hari ini dia akan pergi ke dokter memeriksakan kepalanya yang masih sering pusing.
“Semoga kepalaku baik-baik saja,” doanya sebelum ia menaiki taksi online untuk pergi ke rumah sakit.
***
“
“Lo ngerokok, Dev? Sejak kapan?”
Devan menoleh, tersenyum sinis. “Baru aja. Katanya ngerokok itu bisa buat hilangin stres. Jadi gue pingin nyobain. Yah… nggak terlalu buruk.”
Alan menggeleng. “Stres kenapa? Karena mau cerai sama bini lo?”
Devan tak menjawab. Ia sibuk menikmati sebatang rokok yang baru pertama kali ini ia coba. Devan bukan perokok. Juga bukan peminum. Dia lelaki green flag kalau dia tidak termasuk kaum pelangi.
Alan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia baru saja pulang mengajar dan mendatangi rumah Devan untuk memeriksa keadaannya.
Keduanya memang sama-sama menjadi guru di sekolah swasta yang berbeda. Devan hari ini ijin karena tidak enak badan. Dia sempat demam tadi pagi dan saat keadaannya sudah membaik, Devan malah menyalakan rokok.
“Lo masih chattingan sama bini lo?” Alan menoleh.
“Jarang.”
“Lo beneran mau cerai sama dia? Maksud gue, terakhir kita ketemu lo bilang udah cinta sama dia.”
“Menurut lo apa Tara mau ngasih kesempatan ke gue setelah dia mergokin kita berdua di kamar lagi adu mekanik, hah?”
Alan menghela napas. “Harusnya lo jangan nikah. Udah tahu nggak normal, nekat nikah. Jadinya gini. Lo jatuh cinta tapi setelah dia pergi. Ujung-ujungnya lo yang sakit hati.”
Devan melirik Alan tajam. “Lo nggak tahu apa-apa tentang gue. Jadi mending diem. Nggak usah sok tahu. Urusan Tara bukan urusan lo.”
“Ya. Ya. Terserah. Gue mau cabut. Lo ternyata baik-baik aja.” Alan berdiri, meraih tasnya dan melangkah keluar dari rumah Devan.
Devan diam saja. Asap rokok mengepul di udara bersamaan dengan dadanya yang terasa sesak. Bukan sesak karena merokok. Melainkan karena ia mulai merasakan kesepian.
Tidak ada lagi suara Tara yang memanggilnya. Yang membuat keributan di rumahnya. Tidak ada sosok Tara yang mondar-mandir membersihkan rumah sambil mengomelinya karena ia tidak menaruh barang-barang sesuai tempatnya.Rumahnya kosong. Hatinya hampa. Ia tidak terbiasa dengan semua ini. Tidak terbiasa dengan sendirian.
Devan melirik ponselnya di atas meja. Berpikir untuk menelepon Tara. Tangannya sudah meraih ponsel, membuka kunci. Ia terdiam lama menatap layar ponselnya. Fotonya bersama Tara masih ia jadikan wallpaper. Foto selfie dengan senyuman lebar menatap kamera.
Devan merindukan Tara. Merindukan senyumnya. Merindukan celotehnya yang kadang tidak penting. Devan merindukan semuanya.
Devan mengusap lembut wajah Tara di layar.
“Nggak ada salahnya kan kalau aku menemui Tara lagi? Sampai detik ini, dia masih istriku. Selama belum ketok palu, aku akan berusaha mendapatkan hati istriku lagi.”
Bersambung …