Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Restoran hotel itu tenang dan terlihat elegan. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya hangat ke setiap meja.
Suara percakapan rendah, sendok dan gelas beradu pelan. Semuanya terasa rapi, terkontrol. Seolah tidak ada ruang untuk kekacauan.
Sampai langkah Fania masuk ke dalamnya, tajam. Pasti, tidak ragu.
Pintu kaca tertutup pelan di belakangnya, meredam suara luar yang sempat masuk sesaat. Namun kehadirannya tidak bisa diredam. Ada sesuatu dari caranya berjalan. Cara bahunya tegak. Cara matanya fokus. Membuat beberapa orang tanpa sadar menoleh.
Matanya langsung menyapu ruangan, sekali, dua kali. Ia tidak terburu-buru. Tapi juga tidak santai. Ada tujuan di setiap gerakannya. Seolah ia sudah tahu apa yang akan ia temukan dan hanya sedang memastikan.
Dan ia menemukannya, Ronald.
Duduk di salah satu meja dekat jendela. Cahaya dari luar yang mulai redup memantul di kaca, membingkai sosoknya dari samping. Di depannya, Valencia.
Makanan tersaji rapi, gelas setengah penuh. Percakapan mengalir dengan santai, ringan.
Seolah dunia baik-baik saja.
Langkah Fania melambat, satu detik, dua detik. Ada jeda kecil bukan karena ragu. Lebih seperti menahan sesuatu agar tidak tumpah terlalu cepat. Namun ia tidak berhenti.
Di belakangnya, Livia dan Mark berdiri. Tidak terlalu dekat namun cukup untuk berjaga.
Livia menatap punggung Fania dengan cemas yang ia sembunyikan. Ia tahu ekspresi itu. Tenang di luar tapi berisik di dalam.
Mark, di sampingnya, hanya menyilangkan tangan, mengamati. Siap jika keadaan memburuk. Namun ia juga paham ini bukan tempat mereka untuk masuk.
Memberi ruang, karena mereka tahu ini bukan momen untuk ikut campur. Ini milik Fania dan Ronald.
Fania berhenti tepat di samping meja itu, beberapa detik tidak ada yang bicara. Waktu terasa seperti melambat.
Suara restoran tetap berjalan namun di meja itu, semuanya seolah ditarik keluar.
Valencia yang pertama menyadari. Ia menoleh, dan ekspresinya berubah. Terkejut.
“Fania?” Suara itu pelan. Namun cukup untuk memecah keheningan.
Ronald ikut menoleh, dan untuk pertama kalinya ekspresinya benar-benar berubah. Bukan datar dan bukan pula dingin. Namun terkejut dan nyata.
“Fan?” Satu kata. Namun penuh pertanyaan.
Fania menatapnya lama. Tatapan yang tidak mencari jawaban tapi seperti menilai. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Hanya dingin.
“Sepertinya aku mengganggu?” tanyanya. Nada suaranya halus, namun tajam.
Ronald langsung berdiri, refleks.
“Tidak ...” Namun kalimatnya belum selesai—
Fania sudah menarik kursidan duduk. Tanpa izin dan tanpa menunggu. Gerakannya tenang. Tapi jelas mengambil alih ruang.
“Bagus.” Senyum tipis muncul di bibirnya. Namun tidak sampai ke mata.
Valencia terlihat sedikit canggung. Tangannya yang tadi memegang gelas kini berhenti di udara sebentar sebelum akhirnya diletakkan kembali. Ia melirik Ronald, lalu kembali ke Fania.
“Fania, kau”
“Aku apa?” potong Fania dengan cepat dan presisi. Nada suaranya tetap tenang namun jelas menekan.
Valencia terdiam. Ia membuka mulut seolah ingin menjelaskan, namun menutupnya kembali. Pilihannya terbatas. Setiap kata terasa seperti bisa salah.
Ronald menatap Fania lebih dalam, masih mencoba memahami. Bukan hanya situasi tapi juga sikapnya.
“Mengapa kau bisa ada di sini?” tanyanya. Lebih serius sekarang.
Fania menyandarkan punggungnya ke kursi.
Santai namun penuh kontrol.
“Liburan.” Singkat. “Boleh, kan?” Sarkas dan tipis. Namun terasa.
Ronald tidak langsung menjawab, tatapannya berubah lebih tajam. Ia tidak tersinggung tapi mulai waspada.
“Fan ...”
“Kenapa?” potong Fania lagi. Ia sedikit memiringkan kepala. Menatapnya.
“Hanya kau yang bisa ke luar negeri?”
Sunyi.
Kalimat itu terdengar ringan tapi membawa sesuatu yang lebih dalam.
Valencia mulai tidak nyaman. Ia menggeser duduknya sedikit. Namun tetap diam.
Fania meliriknya sekilas. Tatapan singkat namun cukup untuk membuat Valencia menahan napas. Lalu kembali ke Ronald.
“Seru ya?” Nada suaranya ringan namun dingin.
“Bertemu di sini.” Ia berhenti, senyumnya tipis. "Atau memang janjian?” Langsung tanpa lapisan.
Ronald menarik napas pelan. Ada sesuatu yang ia tahan. Bukan emosi meledak tapi lebih seperti usaha menjaga agar tetap stabil.
“Tidak seperti yang kau pikirkan.” Jawaban itu tegas namun tidak keras.
Fania mengangguk kecil. “Oh.” Pendek namun tidak percaya.
“Jadi kebetulan?” Ia menatap Valencia, sekilas. Lalu kembali ke Ronald.
“Dunia memang sempit ya.” Sarkas. Lebih terasa sekarang.
Valencia akhirnya bicara, lebih hati-hati. “Fania, ini memang tidak seperti yang kau pikir ...”
“Sebaiknya kau diam.” Fania memotong. Masih dengan senyum tipis namun kali ini lebih dingin. Lebih jelas batasnya.
Valencia langsung terdiam.
Ronald menatap Fania, lebih dalam. “Fan, cukup.” Nada suaranya rendah namun serius.
Fania tertawa kecil dan pendek.
“Cukup?” Ia menyilangkan tangan.
“Aku belum mulai.” Kalimat itu jatuh pelan namun berat.
Hening.
Beberapa orang mulai melirik. Seorang pelayan berhenti beberapa langkah dari meja, ragu untuk mendekat. Namun tidak ada yang berani masuk.
Suasana berubah. Ronald menahan emosinya. Terlihat, rahangnya sedikit mengeras. Namun tetap terkendali.
“Kau datang ke sini hanya untuk ini?” tanyanya langsung.
Fania menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang hampir terlihat seperti luka.
“Tidak.” Pelan.
“Awalnya enggak.” Ia berhenti. Menarik napas pendek, tatapannya berubah lebih tajam.
“Hanya ... ternyata menarik juga.” Sarkas dan menusuk.
Ronald mengencangkan rahangnya sedikit. Namun tidak membalas.
Fania melanjutkan. “Menginap di sini juga?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun nadanya tidak.
Ronald mengangguk.
“Ya.” Singkat.
Fania tersenyum tipis. “Berdua?” Satu kata namun langsung.
Valencia langsung menoleh. “Tidak ...”
Namun Ronald lebih dulu menjawab. “Beda kamar.” Tegas dan cepat.
Fania mengangguk lambat, seolah memproses. Lalu senyumnya kembali muncul. Lebih tipis dan lebih tajam.
“Beda kamar…” Ia mengulang, pelan. Lalu menatap Ronald.
“Yakin?” Satu kata itu jatuh seperti tuduhan.
Sunyi.
Ronald menatapnya, tidak berkedip.
“Fan.” Nada suaranya berubah. Lebih dalam dan lebih berat.
Namun Fania tidak berhenti. “Tak ada yang tau juga,” lanjutnya. Santai seolah bercanda namun tidak.
“Sekamar lebih hemat kan.” Ia mengangkat bahu kecil.
“Praktis.” Senyumnya tidak berubah. Namun matanya dingin.
Valencia terlihat jelas tidak nyaman sekarang. Tangannya saling menggenggam di bawah meja. Ia menatap Ronald. Seolah meminta situasi dihentikan.
Namun Ronald tetap fokus pada Fania. Dan kali ini ia tidak lagi terlihat netral.
“Apa yang kau mau sebenarnya?” tanyanya langsung tidak berputar.
Fania terdiam sejenak. Pertanyaan itu lebih dalam dari yang terdengar. Bukan soal situasi. Tapi soal perasaan yang belum selesai. Namun ia tidak mundur.
“Jawaban jujur.” Ia berkata, pelan. Namun tegas.
Ronald mengernyit tipis. “Sudah ku jawab.”
“Belum.” Cepat.
Fania menatapnya lebih dekat sekarang. “Karena aku tak percaya.”
Sunyi.
Kalimat itu jujur. Dan untuk pertama kalinya tanpa perlindungan.
Valencia menahan napas. Ronald terdiam beberapa detik. Waktu seperti menggantung di udara.
Namun sebelum ia sempat menjawab Fania sudah lebih dulu bangkit. Kursinya bergeser pelan ia berdiri. Menatap mereka berdua bergantian.
Ada sesuatu di matanya bukan hanya marah. Tapi juga kecewa lalu kembali ke Ronald.
“Lanjutkan saja.” Nada suaranya kembali dingin.
Seolah semua ini tidak penting. Namun jelas itu bohong. Ia berbalik melangkah pergi. Langkahnya tetap sama seperti saat masuk tegas dan pasti. Namun kali ini lebih berat.
Di kejauhan Livia langsung mendekat.
“Fan…” suaranya pelan.
Namun Fania tidak menjawab. Mark mengikutinya. Diam tanpa banyak kata. Namun cukup untuk menemani.
Dan di belakang Ronald tetap berdiri di tempatnya, diam. Tangannya perlahan mengepal lalu mengendur lagi. Menatap arah Fania pergi dengan sesuatu yang kali ini tidak lagi bisa ia sembunyikan.
Penyesalan.
NEXT .......