Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN SANG RATU HATI
Pagi itu, Rumah Sakit Mount Elizabeth terasa berbeda. Tidak ada lagi aroma ketakutan yang menghantui penciuman Clarissa. Di atas tempat tidurnya, sebuah koper kecil sudah rapi terisi. Clarissa berdiri di depan cermin besar, mengenakan jilbab sutra berwarna _dusty pink_ pemberian Bianca. Wajahnya yang dulu pucat kini telah kembali merona, memancarkan aura ketenangan yang tidak pernah ia miliki saat masih menjadi "Ratu Kampus" yang sombong.
Dr. Chen masuk dengan senyum lebar, membawa selembar kertas yang paling dinanti oleh keluarga Mahendra selama berbulan-bulan.
"Hasil _screening_ akhir," ujar dr. Chen sambil menyerahkan kertas itu kepada Pak Gunawan. "Hasilnya _Minimal Residual Disease (MRD) Negative_. Clarissa, kamu secara resmi dinyatakan dalam kondisi remisi total. Kamu boleh pulang ke Jakarta hari ini."
Tangis haru pecah di ruangan itu. Bastian langsung memeluk adiknya erat-erat, sementara Pak Gunawan berkali-kali menjabat tangan dr. Chen dengan penuh rasa syukur. Adrian, yang berdiri di pojok ruangan, hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Baginya, melihat Clarissa berdiri tegak dan tersenyum tanpa beban adalah pemandangan paling indah di dunia.
Perpisahan dengan Singapura
Sore harinya, mereka sudah berada di Bandara Changi. Clarissa menolak menggunakan kursi roda. Ia ingin berjalan dengan kakinya sendiri, menghirup udara kebebasan yang selama ini ia impikan.
"Adrian," panggil Clarissa saat mereka sedang menunggu di _boarding lounge_.
"Iya, aku di sini, Sayang."
"Terima kasih ya. Selama di sini, kamu bukan cuma nemenin aku berobat, tapi kamu nemenin aku menemukan diri aku yang sebenarnya. Tanpa kamu, mungkin aku sudah menyerah di siklus kedua kemarin."
Adrian meraih tangan Clarissa, menggenggamnya dengan penuh kelembutan. "Kamu yang hebat, Clar. Aku cuma penonton yang beruntung bisa lihat proses transformasi kamu. Sekarang, aku nggak sabar mau lihat kamu jalan di koridor kampus lagi, tapi kali ini sebagai Clarissa yang baru."
Saat roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, Clarissa membisikkan doa syukur. Jakarta menyambutnya dengan cuaca yang sedikit mendung, namun di hati Clarissa, matahari sedang bersinar sangat terang.
Kepulangannya tidak disambut dengan pesta mewah seperti biasanya. Atas permintaan Clarissa, hanya ada satu mobil yang menjemput mereka. Namun, kejutan sebenarnya menunggu di rumah.
Sesampainya di kediaman Mahendra, rumah itu tampak asri. Di ruang tamu, ternyata sudah ada Maya dan Bianca. Mereka membawa kue sederhana bertuliskan: _"Welcome Home, Our Queen of Heart"_.
"Clar!" Bianca langsung menghambur memeluk sahabatnya. "Lo kelihatan cantik banget pakai jilbab itu! Sumpah, aura lo beda banget!"
Clarissa tertawa, air mata bahagianya menetes. "Makasih ya, Bi. Makasih sudah tetep jadi temen gue."
Ia kemudian beralih ke Maya. Dengan tulus, Clarissa menggenggam tangan wanita yang dulu pernah ia tindas itu. "Maya, maafkan aku ya untuk semuanya. Terima kasih sudah mendoakan aku dari Jakarta."
Maya tersenyum manis. "Semuanya sudah berlalu, Kak. Yang penting sekarang Kakak sudah sehat."
Momen di Teras Rumah
Malam harinya, setelah tamu-tamu pulang, Adrian dan Clarissa duduk di teras depan. Udara Jakarta yang hangat terasa akrab di kulit mereka.
"Adrian," panggil Clarissa pelan.
"Iya?"
"Besok... kamu beneran mau ajak aku ketemu Mama kamu?"
Adrian mengangguk mantap. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil bukan bross, melainkan sebuah cincin perak sederhana dengan permata kecil di tengahnya. "Ini bukan lamaran resmi, Clar. Aku tahu kita masih kuliah. Tapi aku mau ini jadi tanda komitmen aku. Bahwa setelah semua yang kita lewati di Singapura, hati aku sudah menetap di kamu."
Clarissa terpaku. Ia menatap cincin itu, lalu menatap Adrian. "Adrian... aku nggak tahu harus bilang apa. Dengan kondisiku yang penyintas kanker, kamu beneran mau sejauh ini sama aku?"
"Sayang," Adrian mendekatkan wajahnya, menatap mata Clarissa dengan sangat dalam. "Penyakit itu cuma bagian dari sejarah kita, bukan penentu masa depan kita. Aku mau kita lulus bareng, kerja bareng, dan bangun keluarga yang dasarnya adalah iman yang kita pelajari sama-sama kemarin. Jadi, kamu mau kan pakai cincin ini?"
Clarissa mengangguk perlahan, ia membiarkan Adrian menyematkan cincin itu di jari manisnya. Di bawah cahaya bulan Jakarta, Clarissa merasa hidupnya telah lengkap. Ia kehilangan mahkota kesombongannya, namun ia mendapatkan mahkota cinta dan hidayah yang tak ternilai harganya.
Keesokan paginya, Clarissa bersiap untuk berangkat ke kampus untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia memilih jilbab berwarna putih, melambangkan lembaran baru hidupnya. Saat ia melangkah keluar rumah, Adrian sudah menunggu di depan mobilnya dengan senyum yang sama—senyum yang menyelamatkannya di Singapura.
"Siap kembali ke kampus, Sayang?" tanya Adrian.
"Siap, Adrian. Tapi kali ini, aku mau kita mampir ke masjid kampus dulu sebelum masuk kelas. Aku mau sujud syukur di sana."
Adrian tertawa kecil dan membukakan pintu mobil untuknya. "Aku setuju. Ayo, kita mulai hari pertama kita di Jakarta dengan cara yang benar."
Mobil itu perlahan meninggalkan gerbang rumah, membawa dua insan yang telah ditempa oleh rasa sakit, namun disatukan oleh doa dan ketulusan. Clarissa Mahendra bukan lagi ratu yang ditakuti, melainkan wanita yang dicintai dan dihormati.