NovelToon NovelToon
Lari Atau Jadi Mereka

Lari Atau Jadi Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Action / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ariyanteekk09

Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.

namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.

shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.

kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.

terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.

𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 18

Shila dan Gibran pun melanjutkan perjalanan. Shila masih syok dengan apa yang terjadi tadi, pikirannya dipenuhi bayangan kejadian yang baru saja mereka lewati.

“Lo istirahat dulu, Shil. Tenangkan diri lo,” ujar Gibran pelan, berusaha menenangkan.

Shila mengangguk lemah. Ia kemudian tertidur sambil memeluk adiknya. Wajahnya masih terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.

Sementara itu, Gibran tetap fokus menyetir. Matanya sesekali menyapu jalanan yang masih dipenuhi oleh para zombie. Ia memperkirakan, dua jam lagi mereka akan sampai di perbatasan… dan benar-benar meninggalkan kota kelahiran mereka.

Perasaan berat itu tidak bisa dihindari.

Sementara itu…

Riska dan Prof. Teguh juga sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru. Mobil mereka melaju cukup cepat, mencoba menjauh dari pusat kekacauan.

Riska tiba-tiba terkejut saat melihat dua sosok yang sangat dikenalnya berada di tengah kerumunan zombie.

“Prof. Teguh, tunggu… bukannya itu Dewi dan Mas Hendro?” tunjuk Riska dengan suara bergetar.

“Ya, itu mereka… tapi, sebentar. Kok mereka ada di sana, di tengah situasi seperti itu?”

tanya Prof. Teguh dengan bingung.

“Jangan-jangan… mereka sudah berubah juga sekarang…” Riska menutup mulutnya, menahan tangis yang hampir pecah.

“Mending kita pergi dari sini,” ajak Prof. Teguh cepat. Ia tidak ingin mengambil risiko, apalagi menghadapi sesuatu yang ia sendiri ikut ciptakan.

Riska hanya bisa mengangguk. Ada rasa penyesalan yang perlahan memenuhi hatinya. Demi keselamatan dirinya, ia telah meninggalkan orang-orang yang seharusnya ia lindungi.

Mobil mereka pun melaju menjauh…

Kembali ke perjalanan Gibran dan Shila.

Shila terbangun dari tidurnya. Matanya masih sembab, tubuhnya terasa lelah.

“Kita sudah sampai mana sekarang, Gibran?” tanya Shila pelan.

“Kita hampir sampai perbatasan, Shila. Habis itu kita lanjut ke tempat tujuan,” jawab Gibran.

“Tapi kayaknya di depan macet, Gibran… ternyata banyak juga warga yang selamat,” ujar Shila sambil melihat ke depan.

Gibran pun menepi sejenak. Terlihat banyak mobil mengantre, sementara para petugas memeriksa satu per satu kendaraan yang datang.

“Sepertinya bakal lama, Gib. Gimana kalau kita cari jalan lain saja?” usul Shila.

“Kayaknya gak ada jalan lain, Shila,” jawab Gibran, sedikit berpikir.

“Tolong… tolong…!”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang meminta bantuan dari kejauhan. Shila dan Gibran langsung saling pandang, lalu menajamkan pendengaran mereka.

“Gibran, lo denger gak? Ada suara orang minta tolong,” kata Shila.

“Iya, Shila… kayaknya dari arah sana,” jawab Gibran sambil langsung mengarahkan mobil ke sumber suara.

Dan benar saja…

Dari kejauhan, mereka melihat seorang kakek tua yang sedang dikelilingi oleh para zombie.

Situasinya sangat berbahaya.

Tanpa banyak bicara, Gibran dan Shila langsung turun dari mobil. Gibran tetap menggendong Kenan, lalu memasangkan earphone di telinganya agar tidak terbangun.

Keduanya bergerak cepat.

Dengan hati-hati, mereka melumpuhkan para zombie di sekitar kakek itu tanpa menarik perhatian yang lain.

“Kakek tidak apa-apa, kan?” tanya Shila sambil membantu kakek itu berdiri.

“Tidak apa-apa, Cuk… terima kasih sudah menyelamatkan kakek,” jawabnya dengan napas masih terengah.

Deg.

Kakek itu menatap mereka lekat-lekat. Wajah kedua anak muda itu terasa tidak asing baginya, seolah pernah ia kenal sebelumnya.

“Nama kalian siapa? Dan mau ke mana?” tanyanya lagi.

“Aku Shila, Kek. Yang ini Gibran, dan anak kecil yang digendong Gibran itu adikku, namanya Kenan,” jawab Shila.

“Kami mau ke tempat yang disiapkan untuk para warga yang selamat, Kek,” tambah Gibran.

“Kalau Kakek ngapain di sini?” tanya Shila balik.

“Kakek cuma ingin melihat keadaan. Tapi… menurut kakek, tempat itu belum tentu aman untuk kalian,” ucapnya pelan.

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,

“Mending kalian ikut kakek saja. Jangan takut, kakek bukan orang jahat. Ayo kita ke rumah kakek, nanti kakek jelaskan semuanya,” ajaknya.

Shila dan Gibran saling berpandangan, mempertimbangkan tawaran itu.

“Kita pakai mobil saja, Kek, biar lebih aman. Mari masuk,” ajak Shila akhirnya.

Kakek tua itu pun masuk ke dalam mobil. Ia lalu menunjukkan arah jalan menuju rumahnya.

Mobil kembali melaju… kali ini menuju tempat yang belum mereka ketahui, dengan harapan menemukan jawaban di sana.

********

Aira didatangi oleh kedua orang tuanya. Mereka ingin mengetahui alasan kenapa Aira tidak ikut pergi bersama Shila dan memilih tetap tinggal di rumah.

“Sayang, kenapa kamu begitu keras kepala tidak mau ikut Shila pergi dari sini?” tanya Wanda dengan penuh kekhawatiran.

“Aku tidak mau jauh dari kalian… biar saja kita tetap bersama di sini,” jawab Aira lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

“Apa maksudmu, Sayang?” tanya Hadi, mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

“Dua hari lagi kota ini akan dimusnahkan, Pah, Mah… karena sebagian besar penduduknya sudah berubah. Pemerintah sudah menyuruh orang-orang yang masih selamat untuk pergi ke tempat yang sudah disediakan. Shila sebenarnya sudah mengajakku, tapi aku menolak,” jelas Aira dengan suara bergetar.

“Astaghfirullah… Aira, kenapa kamu tidak mau ikut? Mama dan Papa ingin kamu selamat, Sayang,” ujar Wanda dengan nada cemas.

“Tapi aku gak bisa jauh dari kalian…” Aira tetap pada pendiriannya, air matanya mulai jatuh.

“Kota bagian mana itu, Aira?” tanya Hadi serius.

“Kota Selatan, Pah,” jawab Aira singkat.

“Kamu harus ke Kota Selatan, Aira. Papa punya apartemen di sana, jadi kamu tidak perlu tinggal di tempat penampungan pemerintah. Kali ini kamu harus dengar perkataan Papa,” tegas Hadi.

“Seharusnya kamu mencontoh Shila, Sayang. Orang tuanya pergi begitu saja, dan dia harus mengurus adiknya yang masih kecil. Tapi dia tetap kuat dan tidak menyerah untuk bertahan hidup,” ujar Wanda lembut.

Aira terdiam. Kata-kata mamanya menancap dalam di hatinya. Ia tahu semua itu benar. Shila tetap kuat dalam keadaan sesulit apa pun.

“Baik, Pah… Mah… Aku akan pergi dari sini dan mencoba memulai hidup baru di Kota Selatan,” ucap Aira akhirnya, dengan tekad yang mulai terbentuk.

Hadi dan Wanda tersenyum lega mendengar keputusan itu.

“Ambil semua yang ada di laci ruang kerja Papa. Kamu akan membutuhkannya. Ikuti juga jalan belakang rumah kita untuk menuju ke Kota Selatan, itu lebih aman,” jelas Hadi.

“Hiduplah dengan bahagia di sana, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan kami,” ucap Wanda sambil memeluk Aira erat.

Hadi ikut memeluk mereka. Suasana perpisahan itu terasa begitu berat, penuh haru dan air mata.

Aira segera berlari menuju ruang kerja papanya untuk mengambil barang-barang penting. Ia juga tidak lupa membawa perlengkapan yang bisa digunakan untuk melindungi diri.

“Pesan Papa… jangan mudah percaya pada siapa pun di sana, kecuali Shila dan Gibran,” kata Hadi mengingatkan.

Aira mengangguk sambil menahan tangis. Ia kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan air mata yang tak bisa dibendung.

Waktunya tidak banyak.

Ia berlari menuju garasi, masuk ke dalam mobil, lalu bersiap pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu.

“Lo harus kuat, Aira… lo pasti bisa. Semoga nanti gue bisa ketemu lagi sama Shila dan Gibran,” batinnya, mencoba menguatkan diri.

Mesin mobil pun menyala, dan Aira melaju meninggalkan semuanya… menuju harapan baru di Kota Selatan.

"semoga aira bertemu lagi dengan shila dan gibran di sana ya pah" wanda memperhatikan kepergian sang anak.

"amin mah" tak lama dari kepergian aira kedua orangtuanya itu pun kembali jadi zombie. mereka tidak keluar rumahnya.

1
Nurr Tika
shila ketemu ga ya sama aira
Nurr Tika
shila harus kuat demi adiknya
Nurr Tika
dasar hendro
Ani Jkt
ceritanya bagus tapi banyak tiponya tor
Nurr Tika
ikutan tegang
Nurr Tika
moga ja shila,adik dan temenya selamat
Nurr Tika
selamet ih bikin tegang aja
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
untung adiknya ga di lempar keluar rumah, lebih baik tiara yg di usir dari pada kalian keluar dari rumah
Nurr Tika
mona mona coba klau kmu ga jahat pasti ga kan di usir
Nurr Tika
mona di kasih zombie ja buat santapan
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
sebenarnya apa yg terjadi ya
Nurr Tika
nyimak thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!