Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Zira
Lantai marmer yang dingin itu seolah menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang istri. Di dalam kamar yang kini lebih menyerupai puing-puing medan perang, Zira Falisha masih menangis. Namun, suara pintu yang terbuka pelan menghentikan isaknya. Raka melangkah masuk. Pria itu tidak lagi berdiri dengan keangkuhan dingin seperti di ruang tengah tadi. Melihat pemandangan di depannya, istrinya yang hancur di antara serpihan jarum suntik, ego Raka seolah luruh seketika.
Raka mendekat, lalu berlutut di hadapan Zira. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut melukai kaca retak, ia meraih kedua tangan Zira. Ia mengelus jemari yang gemetar itu dengan kelembutan yang selama ini dirindukan Zira, sebuah sentuhan yang sempat hilang ditelan ketegangan bulan-bulan terakhir. Zira tersentak, perlahan mengangkat wajahnya yang sembab untuk menatap mata suaminya. Di sana, ia menemukan tatapan sendu yang sarat dengan penyesalan.
"Aku minta maaf padamu, Sayang. Maafkan aku ... maafkan aku," ucap Raka dengan nada lirih, hampir berupa bisikan yang pecah.
Tangis Zira kembali pecah, namun kali ini lebih merambat pada rasa lelah yang amat sangat. Raka menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. Dalam keheningan yang menyesakkan itu, memori sepuluh tahun pernikahan mereka berputar seperti klise film tua. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka telah melewati badai demi badai, dari tawa di awal pernikahan hingga kesunyian panjang karena tak kunjung hadirnya tangis bayi di tengah mereka.
Rasa lelah telah menghampiri keduanya, menggerogoti kewarasan mereka selama bertahun-tahun menunggu kepastian yang tak kunjung tiba. Berbagai macam bumbu rumah tangga, dari kecurigaan hingga tuntutan keluarga besar, telah mereka telan pahit-pahit. Namun kali ini, badai yang datang jauh lebih besar, badai yang bernama pengkhianatan.
"Bangunlah, jangan di sini," ucap Raka lembut. Ia membantu Zira berdiri, lalu merebahkannya dengan kasih sayang di atas ranjang yang luas.
Raka kemudian mulai memunguti barang-barang yang berhamburan. Saat jemarinya menyentuh jarum-jarum suntik bekas program bayi tabung itu, dadanya terasa sesak. Setiap jarum adalah simbol perjuangan Zira yang menyakitkan, bukti betapa istrinya telah menyiksa tubuhnya sendiri demi impian mereka. Raka menatanya kembali ke dalam kotak kayu dengan tangan yang gemetar, sementara Zira hanya bisa menatapnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi bantal.
"Setelah dia melahirkan ... kamu akan melepaskannya, bukan?" bisik Zira, suaranya parau menuntut kepastian di tengah keraguan yang membara.
Raka terdiam sejenak. Keheningan itu terasa mencekam sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan mengelus puncak kepala Zira. "Iya ... tidurlah. Istirahatkan pikiranmu."
"Aku benci dikhianati, Raka. Kamu sudah melakukannya sekali," ucap Zira seraya memejamkan mata, membiarkan kegelapan mengambil alih kesadarannya. "Jika kamu mengulanginya lagi ... kamu tahu sendiri apa akibatnya."
Raka hanya terdiam, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Ia keluar dari kamar, meminta asisten rumah tangga untuk membereskan kekacauan di dalam sana. Berdiri di koridor yang sepi, Raka menatap foto pernikahan mereka yang tergantung megah di dinding. Foto yang dulunya menjadi sumber kebahagiaannya, kini tampak seperti monumen bagi retaknya sebuah janji. Ia sendiri tak paham mengapa segalanya menjadi serumit ini. Semua mengalir begitu saja, dari rasa iba kepada wanita pengganti itu hingga berakhir pada kesalahan yang tak termaafkan.
.
.
.
.
Sementara itu, ribuan kilometer dari hiruk-pikuk konflik di sebrang sana, suasana tenang menyelimuti sebuah villa mewah di Bali. Di dalam ruangan luas yang didominasi kayu gelap, suara benturan bola biliar memecah kesunyian.
Kayden Julian Pradipta, pewaris tunggal dinasti Pradipta yang disegani, melepaskan jas hitamnya dengan gerakan maskulin. Ia menyampirkannya pada seorang pelayan wanita, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Jemarinya yang kokoh meraih tongkat biliar, mengatur posisi dengan presisi seorang pemburu.
Tok!
Bola putih meluncur mulus, menghantam bola target tepat di sasaran hingga masuk ke dalam lubang dengan suara yang memuaskan. Kayden menegakkan tubuhnya. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan, seolah bola-bola di atas meja hijau itu adalah musuh yang harus ia taklukkan satu per satu.
"Tuan Kay, kemampuan Anda tidak pernah menurun sedikit pun," puji seorang wanita yang berdiri di sisinya, mencoba memecah suasana.
Kayden hanya melirik sekilas, tak berminat menanggapi basa-basi itu. Di usianya yang ke-31, Kayden adalah sosok yang paling dicari namun paling sulit digapai. Banyak yang bertanya mengapa pria sesempurna dia belum juga mengakhiri masa lajangnya. Mereka tidak tahu bahwa di balik topeng dingin itu, ada api yang terus menyala untuk seorang wanita yang statusnya masih menjadi milik orang lain. Cinta yang terlarang, namun abadi.
"Tuan Kay, Anda harus segera kembali," Elvar Drazien, asisten setia Kayden, mendekat dengan wajah serius.
"Nanti saja, Elvar. Aku belum selesai di sini," jawab Kayden santai, kembali membidik bola berikutnya.
"Nona Kecil demam tinggi."
Seketika, gerakan Kayden terkunci. Ia meletakkan tongkat biliarnya begitu saja dan menyambar jasnya dengan gerakan cepat yang hampir kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah lebar keluar ruangan, meninggalkan asistennya yang terburu-buru mengejar. Baginya, satu kalimat itu adalah perintah tertinggi yang tak bisa dibantah.
Sesampainya di rumah kediamannya yang privat, Kayden lekas turun dari mobil sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia melangkah cepat menuju sebuah kamar dengan pintu bercat warna merah muda yang ceria, satu-satunya warna paling terang di rumah minimalis itu. Begitu pintu terbuka, ia melihat dua orang pengasuh yang langsung berdiri menyingkir, memberikan jalan bagi sang tuan.
"Sudah panggil dokter?" tanya Kayden dingin, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam saat menatap sosok bocah perempuan berusia empat tahun yang tengah terbaring lemah. Pipi bocah itu merah karena panas, napasnya terdengar pendek dan berat.
"Dokter sudah memeriksa, Tuan. Tapi beliau menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit guna pemeriksaan lanjutan karena demamnya tak kunjung turun," lapor salah satu pengasuh dengan nada takut.
Tanpa berpikir panjang, Kayden meraih tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Anak itu begitu ringan, seolah-olah beban dunia ini terlalu berat untuknya. Saat Kayden mulai melangkah keluar, sebuah gumaman lirih keluar dari bibir mungil sang bocah, membuat jantung Kayden seolah berhenti berdetak sesaat.
"Papa ... Mama ... Papa ... Mama ...," rintih anak itu dalam igauannya.
Kayden memejamkan mata sejenak, menelan rasa getir yang mendadak muncul di tenggorokannya. Ia mempererat pelukannya pada bocah itu, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang dirasakannya. Ia terus melangkah menuju mobil di mana Elvar sudah menunggu dengan pintu terbuka.
"Rumah sakit terdekat. Sekarang!" perintah Kayden singkat.
Mobil melaju membelah jalanan Bali yang mulai temaram. Di kursi belakang, Kayden masih mendekap erat bocah bernama Zayra itu, memberinya kehangatan di tengah menggigilnya demam. Ia mengelus kening Zayra dengan penuh kasih, sebuah sisi lembut yang hanya ditunjukkannya pada satu orang ini.
"Tuan ... apa Anda merasa ingatan Nona Zayra mulai kembali? Apakah itu sebabnya dia jatuh sakit?" tanya Elvar pelan, mencoba membaca situasi.
Kayden terdiam cukup lama, menatap keluar jendela di mana lampu-lampu jalan mulai menyala. "Aku belum tahu, Elvar. Tapi kuharap tidak. Belum saatnya."
Hbs ni jujur sejujur²nya sm Zira...jelasin siapa itu perempuan pirang
Bilang aja klw dia emang ngejar²mu biar Zira jg menyiapkan amunisi
Jgn ada yg ditutup²i
Meski sedikit menurutmu tp klw gak tuntas bs jd mslh besar
Denger Kay...dengeeerrr
Aysss...pen kujewer kupingmu Kay