Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Lantai Sembilan yang Berbau Kematian
Di tengah para tentara yang sedang mencari jalan rahasia, Aura merasakan desakan waktu yang semakin mencekik. Ia harus bertindak cepat. Sambil menjelaskan spekulasinya tentang Asaarmata, ia melangkah mundur satu langkah ia berniat mencari celah untuk menyelinap masuk ke dalam kegelapan di balik potret yang baru saja terbuka.
Namun, di tengah gerakan cepat dan kegugupan yang tersembunyi, tumitnya tersangkut pada kaki meja kerja besar yang tadinya tersembunyi di balik rak buku. Tubuhnya sedikit oleng, dan tanpa sengaja, ia mendorong keras sisi meja itu hingga meja itu bergeser beberapa inci ke samping.
Tepat pada saat itu, sebuah bunyi 'gemeretak' yang jauh lebih keras dan mekanis terdengar, seolah ada roda gigi tua yang baru saja diaktifkan.
Kieran yang sedang menghadap ke celah di dinding potret, tiba-tiba memutar kepalanya ke arah Aura dengan mata terbelalak.
Sebab, di belakang meja kerja Raja Asaarmata yang baru saja digeser Aura, dinding kayu lain mulai bergerak. Panel itu tidak bergeser, melainkan terangkat ke atas, seperti pintu lift tua, menampakkan sebuah lorong vertikal yang lebih sempit dan gelap daripada celah di balik potret.
Pintu rahasia kedua!
Kieran menatap lurus ke arah Aura, terkejut tak percaya. Ia yakin, meskipun itu terlihat seperti kecelakaan, ini adalah pintu rahasia yang jauh lebih penting, tersembunyi di balik lokasi paling umum di kamar kerja.
"Apa... bagaimana?" tanya Kieran, nadanya dipenuhi keheranan yang tak terbantahkan.
Aura juga terkejut. Ia menarik napas pendek, mundur dari meja. Ia tidak menyadari sama sekali bahwa ada pintu rahasia lain yang tersembunyi begitu rapi di balik perabotan yang paling sering digunakan Raja Asaarmata.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Aura, berusaha keras agar suaranya terdengar serius dan stabil. Ia membalas tatapan Kieran dengan kejujuran yang dipaksakan. "Aku bersumpah, aku juga tidak tahu kalau ada pintu rahasia di dekat meja kerja. Itu murni kecelakaan."
Tapi di dalam benaknya, pikirannya berpacu, penuh urgensi,” Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Tempat ini terlalu kelam, udaranya terlalu berat. Ayo, cepat selesaikan ekspedisi ini dan kembali ke permukaan. Kembali ke matahari”.
Kieran menatap wajah Aura. Ada gurat ketakutan yang samar di mata gadis itu, tersembunyi di balik sikapnya yang biasa. Wajahnya terlihat serius dan entah bagaimana, jujur. Kieran menghela napas, memutuskan bahwa saat ini, kejujuran Aura lebih dapat dipercaya daripada kecurigaan pribadinya. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke pintu rahasia yang terangkat itu. Lorong vertikal itu terasa lebih mengundang, dan sekaligus, lebih mengancam.
Falix dan Jack yang sudah di ambang pintu, kini terpaku di antara dua pilihan: lorong lebar di balik potret, atau lubang sempit di balik meja.
"Sial, kita punya dua jalan?" bisik Falix. "Yang mana yang harus kita ambil?"
Saat pintu rahasia di balik meja itu terbuka penuh, sebuah bau aneh langsung menyeruak keluar, mengalahkan bau apek yang dibawa dari lorong potret. Itu bukan bau lembap tanah, melainkan bau yang lebih tajam, seperti campuran dari cairan kimia, obat-obatan pahit, dan sedikit bau amis yang memuakkan, mirip seperti deskripsi di dalam diari Asaarmata.
Kieran mengernyitkan hidung. Bau itu membuatnya merinding. Ia yakin, lorong kedua ini mengarah ke jantung penelitian gila Asaarmata.
"Kalian tunggu. Ini terlalu aneh," perintah Kieran, menahan teman-temannya. "Aku akan masuk dulu untuk melihat situasinya. Jika aman, aku akan memberi tanda."
Tanpa menunggu persetujuan, Kieran menyalakan lampu minyak kecil yang ia bawa dan merangkak masuk ke dalam lubang itu. Panel itu menutup kembali dengan bunyi klak yang pelan, meninggalkan Aura, Falix, dan Jack dalam kegelapan dan tentara yang kini mulai menyadari kalau Kieran sudah hilang dalam kegelapan ruangan lorong.
Satu jam berlalu.
Aura, Falix, dan Jack terpaksa bersembunyi di bawah ranjang, mendengar dengungan frustrasi para tentara di atas mereka. Ketiga orang itu saling bertukar pandang penuh kekhawatiran.
"Kenapa dia lama sekali?" bisik Falix, suaranya dipenuhi kecemasan.
"Kieran bukan tipe orang yang ceroboh," jawab Jack, tangannya menggenggam gagang pedangnya dengan erat. "Tempat itu pasti menahan dia. Ada sesuatu yang sangat salah di sana."
Mereka tidak bisa menunggu lagi. Keheningan Kieran selama satu jam adalah jawaban yang paling mengkhawatirkan.
"Kita masuk sekarang," putus Aura.
Mereka bergegas menuju meja kerja, Aura menemukan ukiran daun yang ia sentuh tadi. Ia menekannya, dan sekali lagi, pintu vertikal itu terangkat, menampakkan kegelapan di baliknya. Mereka bertiga segera merangkak masuk dan pintu kembali menutup, menjebak mereka dalam lorong sempit yang miring curam ke bawah.
Setelah merangkak cukup jauh, mereka jatuh ke dalam sebuah ruangan. Lantai ruangan itu terbuat dari batu abu-abu, dingin dan licin. Saat lampu yang dibawa Falix dinyalakan, mata mereka terbelalak kaget. Falix spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jack tersentak mundur.
Ruangan itu bukan lorong, melainkan sebuah laboratorium bawah tanah yang primitif. Di tengah ruangan, tepat di bawah seberkas cahaya yang menembus celah kecil di langit-langit, terdapat meja bedah batu. Dan di atas meja itu...
Tulang. Bukan tulang yang utuh, tapi sisa-sisa tulang kecil yang telah dikeringkan dan dipecah-pecah.
Lebih mengerikan lagi, di rak-rak dinding yang basah, mereka menemukan barisan botol-botol kaca berukuran berbeda. Di dalamnya, direndam dalam cairan yang warnanya berubah antara merah keruh dan kuning pucat, terdapat organ dalam yang diawetkan hati, jantung kecil, dan yang paling menakutkan, beberapa terlihat seperti janin yang diawetkan.
Falix spontan berbalik dan muntah.
Di sudut ruangan, terdengar suara. Itu adalah Kieran. Ia sedang terduduk di lantai, wajahnya tertutup tangan.
"Kalian kenapa masuk?" tanya Kieran, suaranya parau, penuh kekecewaan.
"Kamu terlalu lama di sini! Sudah satu jam!" balas Falix, masih terengah-engah. "Kami khawatir dengan dirimu."
Aura melihat semua itu, namun reaksinya berbeda. Ia tidak muntah, tapi wajahnya memucat drastis. Ia dengan cepat menarik masker kain dari saku jubahnya dan menutup hidungnya rapat-rapat, mencoba memblokir bau busuk dan kimia yang bercampur di udara.
Ia mulai berjalan, mengabaikan botol-botol mengerikan di rak, seolah-olah ia sedang melewati toko kelontong biasa. Gerakannya santai, namun langkahnya cepat, terburu-buru untuk melewati ruangan itu.
Jack yang berdiri di dekatnya terus mengamati Aura dengan saksama. Ia khawatir Aura akan pingsan atau mengalami trauma melihat semua hal mengerikan yang merupakan bukti nyata kejahatan Raja Armaan dan eksperimen gila Raja Asaarmata.
"Aura, kamu baik-baik saja?" tanya Jack di sampingnya, suaranya bernada khawatir yang mendalam.
Mereka terus berjalan, menembus pintu kayu yang sudah lapuk di ujung ruangan. Mereka menyadari bahwa mereka telah mencapai area paling dalam istana: Lantai Kesembilan.
Di sisi lain, di beberapa kamar di Lantai Sembilan ini, terlihat sekelompok tentara lain yang ditugaskan untuk membersihkan ruangan-ruangan ini, mencoba menghilangkan pandangan dari apa yang terlihat. Mereka sedang menumpuk kain kotor dan botol-botol kosong untuk dibakar, tetapi wajah mereka terlihat sama pucatnya dengan Falix, dan beberapa di antaranya terlihat hampir menangis. Mereka adalah saksi bisu sejarah tragis dan kelam dari Raja Asaarmata.
Lantai kesembilan ini ternyata adalah laboratorium gila yang sesungguhnya. Dindingnya penuh dengan simbol kuno yang dilukis dengan darah kering. Buku-buku tua yang menceritakan tentang keabadian dan awet muda, serta ritual kuno yang membutuhkan persembahan paling murni bayi yang baru lahir. Di sana-sini terdapat peralatan bedah yang mengerikan, mangkuk batu, dan tungku kecil.
Asaarmata telah mencoba semua yang ia temukan. Ia mencoba menyempurnakan ritual ayahnya, bukan untuk keabadian dirinya sendiri, melainkan untuk mencari tahu bagaimana menghentikannya, atau bagaimana membalikkan kutukan itu. Namun, tempat ini menjadi kuburan bagi usahanya, menjebaknya dalam siklus kegelapan yang sama.
Kieran bangkit, bergabung dengan Jack dan Falix. Ia menatap Aura yang kini bersandar di dinding, tubuhnya sedikit gemetar meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Aura, menanggapi pertanyaan Jack, tetapi suaranya sedikit gugup dan bergetar, membenarkan kegelisahannya. "Kalian tidak usah khawatir. Walaupun aku merasa takut," ia berhenti sebentar, memaksakan dirinya untuk menatap mata Jack dan Kieran. "Aku tidak akan menghalangi jalan kalian yang ingin ke pusat makam raja ini."
Aura menunjuk ke tangga batu yang berkelok ke bawah, mengarah lebih dalam ke perut bumi. Di sanalah, mereka yakin, letak makam Raja Asaarmata berada, dan di sanalah mereka akan menemukan jawaban terakhir tentang kutukan itu.
Kieran menatap Aura. Ia tahu, di balik topeng ketenangan itu, gadis itu sedang berjuang melawan teror yang menusuk. Tetapi ketakutan Aura tidak membuatnya mundur; sebaliknya, itu menjadi pemicu bagi mereka semua.
"Makam itu menunggu," kata Kieran, mengangguk pada Aura, memberikan senyum dukungan yang langka. "Ayo kita akhiri kegilaan ini."