Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: UJIAN KEHENDAK DI KAKI GUNUNG MERU
Gunung Meru berdiri angkuh sebagai pilar tunggal yang seolah menusuk langsung ke jantung langit. Puncaknya tidak pernah terlihat, selalu terbungkus oleh awan perak yang berputar-putar dengan kilatan petir yang tak bersuara. Bagi penduduk Benua Awan Biru, gunung ini adalah batas antara dunia fana dan alam para dewa. Ribuan kultivator hebat telah mencoba mendakinya, namun hanya sedikit yang kembali, dan mereka yang kembali biasanya kehilangan kewarasan atau basis kultivasi mereka.
Han Jian tiba di kaki gunung saat fajar menyingsing. Cahaya matahari pertama menyentuh kulitnya yang kini memancarkan pendar emas redup—tanda bahwa Tulang Emas Abadi miliknya sedang dalam kondisi puncak. Ia mengenakan jubah hitam baru yang sederhana, dengan Tombak Pemutus Takdir yang terbungkus kain kasar di punggungnya.
Di pangkal jalur pendakian, terdapat sebuah gerbang batu yang telah lumutan. Di sana, duduk seorang pria tua yang tampak sangat biasa, sedang mengasah sebilah pisau kecil pada batu kali. Pria itu tidak memiliki fluktuasi Qi sedikit pun, namun Han Jian berhenti sepuluh langkah darinya. Insting tulangnya memberikan peringatan: pria ini lebih berbahaya daripada Master Sekte Zhu Chen.
"Sudah seratus tahun sejak terakhir kali seseorang dengan 'bau' seperti ini datang," ucap pria tua itu tanpa mendongak. "Bau darah yang segar, bau klan yang hancur, dan... bau tulang yang tidak seharusnya ada di dunia ini."
Han Jian membungkuk sedikit. "Aku datang untuk mendaki Meru."
"Mendaki Meru itu mudah, Nak. Yang sulit adalah membawa dirimu sendiri ke atas sana," pria tua itu berhenti mengasah pisaunya dan menunjuk ke arah tangga batu yang hilang di balik kabut. "Gunung ini tidak peduli seberapa kuat fisikmu. Di sini, tulangmu bisa sekeras emas, tapi jika jiwamu retak, kau akan hancur pada anak tangga pertama."
Han Jian tidak membalas. Ia melangkah maju, melewati gerbang batu itu. Saat kaki kanannya menyentuh anak tangga pertama, dunia di sekitarnya tiba-tiba berputar.
Wuuussh—
Angin kencang dan hawa panas dari Gunung Meru menghilang. Han Jian mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah ruangan kecil yang lembap. Aroma obat-obatan murah dan bau karat menyeruak. Han Jian tertegun; ini adalah kamar lamanya di paviliun pelayan Klan Han, tempat ia menghabiskan masa kecilnya dalam kehinaan.
Di depannya, seorang wanita dengan wajah pucat dan tubuh kurus sedang terbatuk darah di atas ranjang kayu.
"Ibu?" suara Han Jian bergetar.
Ini adalah momen paling gelap dalam hidupnya—malam di mana ibunya meninggal dunia karena sisa racun Pemutus Akar yang merusak sistem syarafnya. Dalam kehidupan nyata, Han Jian saat itu hanya bisa menangis di sudut ruangan, tak berdaya.
"Jian-er... kenapa kau membiarkan mereka melakukannya?" wanita itu menoleh, matanya yang sayu menatap Han Jian dengan penuh tuduhan. "Kenapa kau begitu lemah? Jika kau punya kekuatan lebih awal, aku tidak akan menderita seperti ini."
Han Jian merasakan dadanya sesak. Rasa bersalah yang telah ia kubur dalam-dalam di bawah lapisan Tulang Emasnya kini mencuat keluar seperti duri. Ia tahu ini adalah ilusi, ini adalah Ujian Kehendak Meru yang menggali trauma terdalamnya. Namun, rasa sakit di hatinya terasa begitu nyata.
Tiba-tiba, pintu kamar didobrak terbuka. Han Borong muda masuk bersama para pengawal. "Buang wanita sampah ini ke hutan belakang! Dan biarkan bocah ampas itu melihat bagaimana ibunya mati!"
Han Jian melihat dirinya yang masih kecil diseret dan dipukuli. Amarah yang membara meledak di dadanya. Tanpa sadar, ia mengepalkan tinjunya. Cahaya emas di tubuhnya mulai berkedip tidak stabil.
"Kehendak adalah nakhoda. Jika kau tenggelam dalam masa lalu, kau akan karam di masa kini," suara kuno dari fragmen tulang di telapak tangannya memperingatkan.
Han Jian menarik napas panjang. Ia menutup matanya di tengah teriakan ibunya dan tawa para pengawal. "Ibu sudah tenang," bisik Han Jian pada dirinya sendiri. "Dan mereka yang menyakitimu sudah menjadi debu di bawah kakiku. Masa lalu ini bukan lagi penjara, tapi api yang menempa pedangku."
Han Jian membuka matanya. Pupil emasnya berkilat tajam. Ia melangkah maju, menembus bayangan ibunya dan bayangan Han Borong. Saat ia melangkah melewati mereka, proyeksi itu hancur menjadi partikel cahaya.
Dunia berubah lagi. Kali ini ia berdiri di atas tumpukan mayat yang tak terhitung jumlahnya. Di depannya, seluruh Benua Awan Biru terbakar. Teman-temannya, Xiao Yue, dan pasukan yang ia pimpin, semuanya tewas.
"Ini adalah masa depanmu, Han Jian," sebuah suara agung bergema dari langit. "Kekuatanmu membawa kehancuran. Semakin kau kuat, semakin banyak orang di sekitarmu yang akan mati. Menyerahlah sekarang, hancurkan tulangmu, dan kembalilah menjadi manusia fana yang tenang. Hanya dengan begitu kau bisa menyelamatkan mereka."
Han Jian menatap tangannya yang berlumuran darah ilusi. Ini adalah ujian bagi mereka yang mencari kekuatan besar—rasa takut akan tanggung jawab dan konsekuensi.
Han Jian tersenyum dingin. "Jika dunia ini harus terbakar agar aku bisa mencapai kebenaran, maka biarlah ia terbakar. Aku tidak mencari kekuatan untuk menjadi pahlawan. Aku mencari kekuatan agar tidak ada lagi orang yang bisa mendikte hidupku. Kehancuran atau kedamaian, aku yang akan memutuskannya, bukan takdir!"
KRAAAKKKK!
Ilusi kiamat itu pecah berkeping-keping. Han Jian kembali berdiri di atas tangga batu Gunung Meru. Ia menyadari bahwa ia telah mendaki ribuan anak tangga tanpa sadar. Keringat bercucuran di pelipisnya, dan napasnya memburu. Ujian kehendak itu telah menguras energinya lebih banyak daripada pertempuran melawan Master Sekte Zhu Chen.
Ia menoleh ke bawah. Kabut telah menutupi segalanya; dunia fana kini berada jauh di bawah kakinya. Di depannya, hanya tinggal beberapa anak tangga lagi menuju sebuah dataran luas di tengah gunung, tempat di mana awan perak berpusar membentuk sebuah pintu gerbang raksasa.
Saat ia mencapai anak tangga terakhir, tekanan gravitasi tiba-tiba menghilang. Udara di sini tidak lagi mengandung oksigen biasa, melainkan Qi Purba yang sangat padat dan murni.
Di depan gerbang cahaya yang bergetar itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah biru langit. Ia memegang sebuah buku tua dan menatap Han Jian dengan ketertarikan yang besar.
"Selamat, Pendaki," ucap pria itu. "Kau adalah orang pertama dalam tiga ratus tahun yang melewati Ujian Kehendak Meru tanpa keraguan sedikit pun di langkah terakhir."
Han Jian mengatur napasnya. "Siapa kau? Dan apakah ini gerbang menuju Dunia Atas?"
"Aku adalah Li Wei, Penjaga Gerbang Langit dari Sekte Tulang Langit," pria itu tersenyum. "Dunia di balik gerbang ini bukan untuk mereka yang lemah hati. Di sana, kau bukan lagi seorang jenius tak tertandingi. Di sana, kau hanyalah pemula di antara para dewa. Namun, melihat struktur tulangmu... aku rasa kau akan membuat kekacauan yang sangat menarik di atas sana."
Li Wei mengibaskan tangannya, dan gerbang cahaya itu terbuka lebar, menyingkapkan pemandangan istana-istana melayang di atas samudera bintang.
"Masuklah, Han Jian. Ayahmu... dia telah menunggu cukup lama di sana."
Han Jian tidak ragu lagi. Ia membetulkan posisi tombaknya, menatap cahaya yang menyilaukan itu, dan melangkah masuk. Dengan satu langkah itu, ia meninggalkan identitasnya sebagai kultivator Benua Awan Biru dan lahir kembali sebagai ancaman baru di Alam Dewa Tulang.