NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NONIK HILANG UANG HILANG

Malam itu dikediaman perumahan mewah di jalan Aksa yang jalan khusus untuk perumahan orang-orang kaya, ada mobil Van berhenti. Dua orang yang berpenutup kain keluar bawa alat kerja pendek. Mereka memandang sekelilingnya. Tidak ada orang yang lewat malam itu benar-benar sepi.

Mereka tepat di rumah cat biru laut, rumah besar, property milik pak Dody, Ceo perusahaan Gumilang Perkasa.

“Cepat. Kamu lewat samping kiri aku lewat samping kanan. Kita mencar.”

Salah seorang yang berpenutup kain hitam berkata. Temannya yang lebih pendek menganggukkan kepalanya.

Mereka segera memencar satu disamping kanan rumah satunya lagi disamping kiri rumah. Orang berbadan besar itu memanjat bagian-bagian dinding rumah dengan cepat. Dia sepertinya sudah terlatih. Merayap supaya tidak diketahui sampai bagian atas rumah.

Dia sebelumnya sudah menyelidiki bagan rumah mewah besar ini. Pernah masuk rumah menyamar sebagai pembantu rumah tukang bersih-bersih kebun. Pemilik rumah itu membutuhkan tukang kebun untuk membersihkan kebun rumahnya yang terbelengkalai.

Dengan mudah dia berhasil meraih tembok cekung di jendela rumah atas lalu tubuhnya merapat dibagian datar jendela atas. Dia melihat kedalam jendela kaca itu kelihatan gelap dengan gorden kuning menutup jendela.

Dia segera masuk setelah berhasil  membuka jendela.  Dia masuk dalam kamar mewah yang dipenuhi perabotan-perabotan mewah setelah dia memakai senter kecil yang dinyalakan untuk penerang. Dia mengendap-ngendap terus dan seperti mencari-cari sesuatu di ruangan itu.

“Eeee, ketemu.”

Muncul si Pendek dengan berkata kepada temannya.

“Kau tau aku lagi apa.”

Kata si Badan Besar kesal. Kadang-kadang temannya ini menyebalkan. Selalu sok tahu dan terlalu percaya pada diri sendiri. Dia sebenarnya tidak mau diberi rekan ini karena kadang seenaknya sendiri tidak mau diatur olehnya.

‘Oi gitu aja marah bang.”

Si Pendek tertawa kecil.

“Stttt jaga mulutmu. Nanti ada yang denger.”

Keduanya lalu beringsut maju pelan-pelan supaya tidak kedengaran penghuni rumah.

“Kau udah tau khan tempatnya.”

“Diam kau diam.”

Si Badan Besar kelihatan kesal dengan si Pendek. Si Pendek kemudian diam tidak berbicara lagi.

Si Badan Besar beringsut menuju kesebuah cekungan yang tersembunyi di tembok kamar. Dengan cepat tangannya menekan sebuah tombol tersembunyi di cekungan tersebut. Lalu muncullah brankas besi kecil tetapi masih dengan pintu tertutup.

“Gimana bang. Ini terkunci.”

Si Pendek mencoba membuka  brankas besi itu tetapi terkunci rapat.

“Udah jangan bawel.”

Si Badan Besar mengeluarkan alat kerja besar dan menekan brankas besi itu pelan-pelan dan mencongkelnya dengan tekanan keras. Si Badan Besar minta bantuan kepada si Pendek untuk ikut memegang alat kerja besar itu. Keringat membasahi baju mereka yang kusut.

Setelah beberapa lama terlihat celah kecil yang terlihat. Kemudian dengan congkelan keras akhirnya muncul lubang besar di brankas besi itu. Terdengar suara keras.

CRASSSS!

Keduanya terkejut. Mereka mendengar pintu kamar dibuka. Keduanya bersembunyi. Seorang wanita tua masuk. Dia terkejut melihat jendela terbuka dan brankas milik tuannya sudah rusak.

“Mmmmm.”

Wanita tua itu sempat melihat kepada si Badan Besar sebelum terjatuh.

Keduanya cepat-cepat menyelesaikan kerjanya. Dari dalam brankas kecil mereka mengambil bungkusan plastik besar. Si Badan Besar membukanya sejumlah besar uang. Matanya berbinar-binar.

“Oiiii bang kita kaya.”

“Ayo cepat keluar.”

Mereka segera keluar dari kamar itu.

RUMAH SAKIT K-RUANG ANGGREK 06 PAGI

TING

Dody yang setengah mengantuk kemudian mengambil HP di saku bajunya.

“Tuan, brankasnya rusak uangnya hilang.”

Dody terkejut. Dia membangunkan mister Chow.

“Pak bangun.”

Dia menggoyang-goyangkan tubuh mister Chow. Mister Chow terbangun. dia sedikit terkejut.

“Oi yaaaa masss.”

“Maaf pak ini darurat. Aku harus cek rumah dulu. Ada yang tak beres. Tolong jaga Santi sebentar.”

“Baik mas.”

Dody segera naik mobil yang dipinjamkan Ritonga kepadanya dan tancap gas. Mobil segera melaju dengan kencang.

Segera dia menjumpai bibik tua yang dahulu di mansionnya tetapi mansionnya sudah dijual lalu tinggal di perumahan mewah satu-satunya yang sekarang dia miliki. Muka bibik pucat dan di dahinya sedikit memar.

“Bik.”

Dody mengkhaWatirkan keadaan bibik tua.

“Ma..af tuan. Bibik tak bisa jaga.”

Suara bibik sedih. Dia terjatuh tidak ingat apa-apa sedangkan orang yang membuatnya pingsan beraksi membawa uang.

Tangan Dody terkepal. Dia marah. Amat marah. Uang itu untuk Nonik. Dia susah payah mengumpulkannya. Tetapi sudah hilang diambil orang.

Dody membimbing bibik ke kursi.

“Udah bik. Udah yang penting bibik selamat.”

“Iya tuan.”

Dody memukul udara. Marah. Kesal. Gusar. Sekarang dia bingung. Uang sudah hilang. Nonik juga hilang.

Setelah minum air putih yang disodorkan Dody, bibik sedikit tenang.

“Malam itu, tuan di rumah sakit. Bibik denger ada suara mobil berhenti. Sebuah mobil Van besar warna putih berhenti didepan rumah. Bibik intip dari balik jendela. Tidak ada siapa-siapa. Lalu bibik lanjut tidur.”

Suara bibik berusaha untuk mengingat kejadian semalam.

“tiba-tiba terdengar suara keras dari arah kamar tuan. Lalu bibik buka pintu. Bibik kemudian tak ingat apa-apa.”

Dody mengoleskan obat ke dahi bibik.

“Bibik tak apa. Kalau perlu bisa ke rumah sakit.”

“Tak apa-apa tuan.”

“Sekarang bibik rehat aja. Tenangkan diri ya.”

“Ba…baik tuan.”

Bibik kemudian pamit kebelakang. Kamar bibik ada dibelakang rumah besar dekat dapur.

Dody berusaha menahan gelora amarah yang mau meledak rasanya. Dia sudah menganggap bibik itu bagian keluarganya. Sedari dia kecil bibik itu yang mengasuh dia. Kadang kalau tantenya marah, bibik itu menghiburnya.

TING.

Sebuah pesan masuk.

“Gimana Dod. Ponakan tante yang ganteng. Sekarang kau tau rasanya tak punya apa-apa khan.”

Tangan Dody terkepal. Rahangnya mengeras. Hatinya mengeras. Es kutub muncul kembali.

Dia menjawab pesan.

“Tante jadi itu ulah tante. Nyuruh orang buat bobol rumahku.”

“O ya. Gimana kerjanya. Bagus ya. Kau seneng ya dengan kerjanya.”

“Tanteeee….”

Dody berteriak keras. Tangannya meninju meja sampai terdengar keras.

DUG!

Tangannya terasa sakit. Tetapi tidak sesakit hatinya. Tante Wati benar-benar keterlaluan. Kini dia tidak bisa mentolerir lagi tantenya. Dia harus segera bertindak. RUPS akan segera diadakan lagi. Pada saat itulah dia akan memecat tante Wati dari posisinya sebagai HRD.

TING.

Sebuah pesan masuk.

“Dod. Kau kemarilah.”

Pesan dari Ritonga. Dia sudah tahu tempat pertemuan yang dimaksud Ritonga. Dia segera menuju tempat yang dimaksud.

Ritonga menyambutnya. Dia melihat muka Dody menegang.

“Ada pa Dod. Kau napa.”

“Rumahku dibobol bro.”

“Ahhhh.”

“Brankasku rusak isinya uang buat operasi dan pengobatan Nonik ke kota P lenyap.”

“Itu pasti ulah orang yang tak senang padamu Dod. Gimana sampe dia tau kamu simpen uang di rumah itu.”

Ritonga kali ini berbicara panjang. Biasanya dia hanya berbicara pendek saja.

“Ya bro. ada orang yang tak seneng dengan hidupku. Dia mau hancurkan hidupku sampai tuntas.”

Ritonga menepuk-tepuk pundak Dody berusaha menghibur hatinya. Dia tahu sahabatnya sejak kecil menderita. Hanya dia yang tahu benar penderitaan sahabatnya itu. Walaupun dia Ceo tetapi dari penampilan luar saja kelihatan glamour.

“Tadi kau mau sampekan apa.”

“Dod. Aku sudah selidiki seluruh area yang bisa aku sentuh.”

“Yaaa.”

“Aku ketemu titik terang sedikit.”

“O…”

“Kemarin khan aku dapat info tentang orang yang nyamar jadi dokter di rumah sakit.”

“Ya..ya…ya…”

Dody mengangguk-anggukkan kepalanya.

“ada orang yang liat tiga orang itu ke daerah Harmoni.”

“Itu tempat yang sepi.”

“Ya.”

Dody memang sudah tahu bahwa sahabatnya ini tidak akan mengecewakannya. Begitu ada info sedikit maka segera terkuak.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!