NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah seharian di kampus, Gilang pulang dengan langkah berat. Kepalanya penuh tugas, tapi tubuhnya penuh letih. Ia hanya ingin sampai rumah, mandi, lalu tidur.

Namun begitu masuk gang kecil menuju rumah kontrakannya, ia langsung berhenti.

Ada seseorang berdiri di depan gang.

Tas selempang mahal, kacamata hitam, parfum menyengat.

Tante Jesica.

Gilang hampir memutar badan, tapi wanita itu sudah melihatnya terlebih dulu.

“Romeoooo," panggilnya sambil melambai kecil. Suaranya manis, tapi Gilang tahu betul manis yang menggigit.

Ia mendekat pelan.

“Tante ngapain di sini?”

“Tante nyari kamu, lah.” Jesica menyilangkan tangan, wajahnya tak sabar. “Kamu susah banget dihubungi. Banyak pelanggan kecewa, kamu tahu?”

Gilang menghela napas panjang, seolah ingin membuang seluruh sisa keberanian yang masih ada di dalam dirinya.

“Tan… saya udah berhenti,” katanya pelan tapi tegas. “Saya nggak mau kerja kayak gitu lagi.”

Tanye Jesica mengerutkan alis, jelas tak terima. “Berhenti? Kamu pikir ini warung? Bisa tutup seenaknya?”

Gilang menatap tanah sebentar sebelum kembali menegakkan wajah. “Valeria itu pelanggan terakhirku. Setelah urusan saya sama dia selesai, saya nggak akan terjun ke dunia itu lagi.”

Senyum Tante Jesica memudar.

Kini wajahnya datar, dingin.

“Jadi kamu serius?”

Nada suaranya bukan marah—lebih ke ancaman halus.

Gilang mengangguk. “Serius.”

Tante Jesica mendekat setengah langkah, suaranya menurun.

“Kamu melepaskan penghasilan terbesar kamu. Kamu yakin nggak bakal nyesel?”

“Saga sudah cukup nyesel sejauh ini,” jawab Gilang singkat.

Jesica menghela napas, tapi ekspresinya bukannya patah—justru berubah menjadi kalkulatif, dingin, penuh perhitungan.

“Lima ratus juta itu nggak banyak, Rom.”

Kata-katanya meluncur pelan tapi memukul keras.

“Uang dari Valeria nggak bisa ngidupin kamu lama-lama, apalagi sama hutang kamu yang masih menggunung."

Gilang menatapnya kaku, tidak menjawab.

Tante jesica melipat tangan di dada.

“Jadi sebelum kamu sok idealis kayak gini, coba pikir-pikir dulu. Dunia ini nggak murah. Hidup nggak berhenti cuma karena kamu pengen berhenti."

Ia mendekat sedikit lagi, suaranya dingin seperti besi.

“Kamu yakin bisa keluar dari semuanya… cuma modal lima ratus juta?”

Gilang tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong, wajahnya tegang. Namun akhirnya ia mengangguk pelan—gerakan kecil yang menunjukkan tekad, bukan keyakinan penuh. Tante

Jesica menatapnya beberapa detik, lalu… tertawa.

Tertawa kecil yang jelas dipaksakan, terdengar getir dan sinis.

“Ya ampun, Romeo…” katanya sambil mengibaskan tangan seolah menertawakan kebodohan seseorang. “Kamu ini polos apa nekat, sih?”

Tawanya terputus, wajahnya berubah serius dalam sekejap.

“Lagian setelah beberapa percobaan…”

Ia menatap Gilang dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

“…Valeria belum hamil juga tuh.”

Nadanya terdengar seperti pengingat, tapi ada ancaman samar di bawahnya.

“Kamu harus hati-hati,” lanjutnya pelan namun menusuk. “Soalnya kalau dia sampai nggak hamil—”

Ia mendekat hingga suaranya hanya terdengar oleh Gilang.

“—bukan untung yang bakal kamu dapetin.”

Kata-kata itu menggantung lama.

Terasa lebih berat dari hutang mana pun yang pernah menjerat hidup Gilang.

Gilang menarik napas panjang, menahannya beberapa detik sebelum melepasnya perlahan.

“Tante…” suaranya rendah, lelah, tanpa sedikit pun energi untuk berdebat, “saya capek. Beneran capek.”

Jesica membuka mulut, siap membalas, tapi Gilang mengangkat tangan kecil sebagai isyarat cukup.

“Saya cuma mau istirahat,” lanjutnya. “Terserah Tante mau bilang apa, saya sudah nggak mau balik ke dunia itu lagi.”

Ia melangkah mundur satu kali, lalu memutar badan tanpa menunggu reaksi Jesica.

Wanita itu hanya terdiam di tempat, tidak memanggil, tidak mengejar—hanya menatap punggung Gilang yang semakin menjauh di gang sempit itu.

Gilang tidak menoleh.

Ia tidak berani.

Kalau ia menoleh, ia tahu dirinya bisa goyah lagi.

Jadi ia terus berjalan sampai suara langkahnya sendiri menelan segala pikiran lain.

Gilang terus berjalan sampai ujung gang, lalu berhenti sebentar di depan pintu rumah.

Tangannya sudah di gagang pintu, tapi ia nggak langsung masuk.

Napasnya masih berat.

Ucapan Tante Jesica barusan masih berputar di kepalanya.

Perlahan, ia membuka pintu.

Rumah itu sunyi… tapi tidak benar-benar tenang.

Dari dalam kamar, terdengar suara pelan.

“…Bu… sakit…”

Langkah Gilang langsung terhenti.

Ia menoleh ke arah kamar.

Suara itu kecil, tapi cukup buat dadanya langsung sesak.

Ia berjalan cepat ke sana.

Pintu kamar sedikit terbuka.

Gilang mendorongnya pelan.

Di dalam, ibunya duduk di pinggir kasur. Wajahnya basah oleh air mata. Tangannya terus mengusap punggung Wildan yang meringkuk lemah.

Wildan menggigit bibirnya sendiri, menahan perih. Nafasnya pendek-pendek.

“Ibu… perih…” suaranya nyaris nggak terdengar.

“Iya… iya… sabar ya…” jawab ibunya, tapi suaranya ikut bergetar.

Gilang diam di pintu.

Beberapa detik.

Ia cuma melihat.

Semua rasa capek, marah, takut—yang tadi ia bawa dari luar—tiba-tiba terasa jatuh begitu saja.

Yang tersisa cuma satu: bersalah.

Langkahnya maju pelan.

“Kak…” suara Wildan lemah saat melihatnya.

Gilang langsung mendekat. Tangannya refleks menyentuh kepala adiknya.

“Iya… Kakak di sini…”

Ia duduk di pinggir kasur.

Tangannya mencari tangan Wildan, menggenggamnya pelan.

Dingin.

Gilang menunduk sebentar, rahangnya mengeras.

Ibunya menatapnya. Mata mereka bertemu.

Tak ada yang langsung bicara.

Beberapa detik hening.

Lalu Gilang menarik napas panjang.

“Bu…” suaranya pelan.

Ibunya masih diam.

Gilang menunduk lagi.

“Maaf ya…”

Kali ini suaranya lebih kecil.

“Yang kemarin… aku kebawa emosi.”

Ibunya menggeleng pelan, tapi air matanya malah jatuh lagi.

“Harusnya Ibu yang minta maaf…” bisiknya.

Gilang mengangkat wajah sebentar, menatap ibunya. Ada sesuatu yang ingin ia tahan… tapi gagal. Rahangnya bergetar, napasnya jadi nggak beraturan.

Pelan-pelan, ia menunduk lagi.

Lalu… tanpa banyak kata, ia merapat.

Kepalanya jatuh ke pangkuan ibunya.

Awalnya diam.

Cuma napas berat yang terdengar.

Tapi beberapa detik kemudian, bahunya mulai naik turun.

Tangisnya keluar… pelan dulu, lalu pecah begitu saja.

Ibunya refleks mengusap kepalanya, jemarinya gemetar.

“Lang…” suaranya ikut pecah.

Wildan yang masih di samping mereka bergeser sedikit, tangannya ikut meraih lengan Gilang.

“Kak…” panggilnya lirih.

Gilang nggak menjawab. Ia cuma menangis di pangkuan ibunya, tangannya menggenggam tangan Wildan erat—seolah takut kehilangan.

Ibunya membungkuk sedikit, memeluk keduanya sekaligus.

Tangis mereka bercampur di ruangan kecil itu.

tak keras.

tidak dramatis.

Tapi cukup untuk meluapkan semua yang selama ini ditahan.

Beberapa saat… tidak ada yang bicara.

Cuma suara napas yang tersengal danisak yang pelan.

Gilang menarik napas panjang.

Ia pelan-pelan bangkit dari pangkuan ibunya, mengusap wajahnya seadanya. Matanya masih merah, tapi tatapannya sudah mulai tenang.

Ia menatap Wildan sebentar, lalu ke ibunya.

“Bu,” katanya pelan, “kita ke rumah sakit lagi.”

Ibunya menoleh. “Sekarang?”

Gilang mengangguk.

“Aku mau tanya langsung ke dokter. Biar jelas.”

Hening sebentar.

Ibunya menarik napas pelan, lalu mengangguk kecil. “Iya…”

Gilang berdiri, lalu membantu Wildan bangun dengan hati-hati.

“Pelan aja,” ucapnya singkat.

Ia mengambil jaketnya dan keluar lebih dulu. Motor tuanya masih terparkir di depan rumah.

Gilang menatap motor itu sebentar, lalu menggeleng pelan.

“Nggak,” gumamnya.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket, membuka aplikasi, lalu memesan taksi online.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan gang. Sopirnya menurunkan kaca.

“Mas Gilang?”

“Iya, Pak.”

Gilang masuk kembali ke dalam rumah, membantu ibunya berdiri dengan hati-hati. Wildan berjalan pelan di samping mereka.

“Pelan, Bu,” ucapnya.

Mereka bertiga keluar menuju mobil. Gilang membuka pintu belakang, mempersilakan ibunya masuk lebih dulu, lalu membantu Wildan duduk di sampingnya.

Setelah memastikan mereka nyaman, Gilang menutup pintu dan duduk di depan.

“Ke rumah sakit, Pak.”

“Iya, Mas.”

Mobil mulai berjalan.

Sepanjang perjalanan, suasana hening. Gilang menatap jalan di depan, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana. Sesekali ia melirik ke kaca spion, melihat ibunya yang memeluk Wildan pelan di kursi belakang.

Tidak ada yang bicara.

Beberapa menit kemudian, mobil masuk ke area rumah sakit.

“Sudah sampai, Mas,” kata sopir.

Gilang mengangguk, lalu turun lebih dulu. Ia membuka pintu belakang dan membantu ibunya keluar dengan hati-hati.

“Pegangan, Bu.”

Wildan turun pelan dari sisi lain.

Gilang menoleh ke arah pintu masuk, lalu menuntun ibunya berjalan perlahan.

Baru beberapa langkah—

ia berhenti.

Di area parkiran, tak jauh dari mereka, sebuah mobil hitam baru saja berhenti.

Pintunya terbuka.

Seseorang keluar dari dalamnya.

Valeria.

Tubuh Gilang langsung menegang. Tatapannya terpaku beberapa detik.

Ia cepat-cepat memalingkan wajah.

“Yuk, Bu,” katanya pelan, berusaha terdengar biasa.

Ia menuntun ibunya masuk ke dalam, menjaga jarak. Matanya sempat melirik sekilas.

Valeria sudah berjalan lebih dulu menuju pintu masuk.

Tidak melihat.

Tidak tahu.

Dan Gilang memilih untuk tetap begitu.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!