NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 - MHB

Pagi itu, sisa-sisa pengakuan mematikan Arka di parkiran semalam masih membuat atmosfer di apartemen terasa canggung sekaligus mendebarkan. Maya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, meskipun ia masih bingung bagaimana harus bersikap di depan pria yang baru saja mengaku jatuh cinta padanya.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pukul sepuluh pagi, bel pintu apartemen berbunyi dengan nada yang memaksa. Maya, yang sedang menyiapkan berkas untuk pertemuan Senin nanti, mengerutkan kening. Ia tidak memesan makanan, dan Arka sedang berada di dapur membuat jus.

​Saat Maya membuka pintu, senyumnya langsung lenyap. Di ambang pintu berdiri Adrian, lengkap dengan setelan jas mahal dan sebuket besar mawar merah yang aromanya sangat menyengat.

​"Hai, Maya. Surprise?" ucap Adrian dengan nada percaya diri yang membuat Maya ingin muntah.

​Maya tidak memberikan jalan bagi Adrian untuk masuk. Ia berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi pandangan pria itu ke dalam. "Adrian? Bagaimana kamu tahu alamatku? Dan untuk apa kamu ke sini?"

​Adrian tertawa kecil, tawa merendahkan yang dulu sempat Maya anggap sebagai wibawa. "Maya, jangan kekanak-kanakan. Aku tahu kamu sedang marah karena aku terlalu sibuk dulu. Dan soal 'brondong' yang sering bersamamu itu... aku mengerti. Kamu hanya sedang fase memberontak, kan? Ingin membuktikan kalau kamu masih laku di mata anak kuliah?"

​Adrian melangkah maju, mencoba menyodorkan bunga itu. "Sudahlah. Aku sudah putus dengan selingkuhanku itu. Kita balikan sekarang. Kamu butuh pria mapan yang setara dengamu, bukan bocah yang bahkan belum punya kartu nama."

​Maya merasa harga dirinya tersengat. Bukan karena ia merasa tidak mapan, tapi karena Adrian masih saja memandang Arka sebagai sebuah "aksesori pemberontakan", bukan sebagai manusia yang baru saja menyelamatkannya dari berbagai krisis.

​Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar yang terbuka dari dalam. Bukan suara langkah kaki biasa, melainkan langkah yang sengaja dibuat terdengar mantap di atas lantai kayu.

​"Sayang, siapa yang datang?" suara Arka memanggil dengan nada yang sangat dalam dan... sangat intim.

​Maya menoleh dan hampir tersedak ludahnya sendiri. Arka keluar dari kamarnya hanya dengan lilitan handuk putih di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir di dadanya yang atletis, memamerkan hasil latihan basket bertahun-tahun yang selama ini tersembunyi di balik kaus oblongnya.

​Arka berjalan mendekat, sama sekali tidak terlihat malu. Ia berdiri tepat di belakang Maya, lalu dengan gerakan yang sangat posesif, ia melingkarkan tangannya di bahu Maya dan menarik wanita itu bersandar pada dadanya yang hangat dan lembap.

​Adrian mematung. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Buket mawar di tangannya sedikit miring.

​"Maaf, istriku sedang sibuk," ucap Arka dengan suara serak khas orang bangun tidur, meskipun Maya tahu pria itu sudah bangun sejak satu jam lalu. Arka menatap Adrian dengan pandangan meremehkan, seolah-olah Adrian hanyalah serangga pengganggu yang salah alamat. "Kita sedang ada 'urusan' yang belum selesai di dalam."

​Maya bisa merasakan kulit Arka yang bersentuhan dengan bahunya. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia tahu Arka sedang berakting—atau mungkin sedang memamerkan sisi teritorialnya—namun efeknya luar biasa nyata.

​"Istri? Kamu bercanda, kan?" Adrian berseru, suaranya naik satu oktav karena syok. "Maya, jangan bilang kamu benar-benar menikahi bocah ini? Kamu sudah gila!"

​Maya menarik napas panjang. Ia meraih tangan Arka yang ada di bahunya, menggenggamnya erat untuk menunjukkan solidaritas—dan juga untuk menenangkan dirinya sendiri.

​"Aku memang sudah menikah dengannya, Adrian. Dan seperti yang kamu lihat, kami sangat bahagia tanpa gangguan darimu," ucap Maya dengan nada yang sangat dingin dan mantap. "Sekarang, ambil bunga murahmu itu dan pergi dari sini. Jangan pernah muncul di depan pintuku lagi, atau aku akan melaporkanmu atas dasar gangguan ketertiban."

​"Tapi Maya—"

​"Pergi, Adrian. Sebelum aku kehilangan kesabaranku," tambah Arka, kali ini dengan nada yang benar-benar mengancam, seolah-olah "Baby Tiger" itu siap menerkam jika Adrian maju satu langkah lagi.

​Adrian mundur selangkah. Wajahnya memerah karena malu dan marah. Ia menjatuhkan bunga itu ke lantai dan berbalik pergi dengan langkah seribu, meninggalkan aroma mawar yang kini terasa memuakkan bagi Maya.

​Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Maya langsung melepaskan tangan Arka. Ia berbalik dan menatap suaminya yang masih bertelanjang dada dengan handuk yang hampir melorot itu.

​"Arka! Kamu... kamu gila ya? Kenapa keluar pakai baju seperti itu!" teriak Maya, meskipun wajahnya sudah semerah tomat.

​Arka tertawa lepas, tawa penuh kemenangan yang membuat matanya menyipit. Ia tidak segera kembali ke kamar, justru melangkah mendekati Maya hingga wanita itu terpojok ke pintu.

​"Apa? Tadi itu cara paling cepat buat bikin dia sadar posisi, kan?" goda Arka. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Maya. "Lagipula, aku nggak bohong. Aku memang suamimu. Dan kamu memang sedang sibuk... sibuk menatapku, kan?"

​Maya mendorong dada Arka dengan kedua tangannya, meskipun ia merasa betah menyentuh kulit hangat itu. "Sana pakai baju! Kamu ini benar-benar tidak tahu malu."

​"Nggak mau. Tadi katanya 'kami sangat bahagia'. Berarti aktingku bagus, dong?" Arka mengerling nakal sebelum akhirnya berjalan kembali ke kamarnya sambil bersiul.

​Maya berdiri di depan pintu, memegang pipinya yang panas. Ia melihat buket mawar yang tergeletak di lantai dan segera mengambilnya untuk dibuang ke tempat sampah. Di dalam hatinya, ia merasa sangat lega. Adrian sudah pergi, dan meskipun Arka sangat menyebalkan dengan aksi handuknya, Maya sadar bahwa ia jauh lebih menyukai Arka yang berani pamer daripada Adrian yang hanya tahu cara membawa bunga tanpa makna.

​"Arka!" panggil Maya dari luar kamar.

​"Ya, Sayang?" sahut Arka dari dalam dengan suara sengaja dilebih-lebihkan.

​"Jangan panggil aku sayang! Dan... makasih ya. Tadi itu... sebenarnya lumayan keren."

Bersambung...

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!