Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Jaksa yang Merendahkan
Lampu neon di ruang otopsi mendengung rendah, seolah ikut menanggung beban rahasia yang baru saja kutarik dari mulut mayat tanpa lidah itu. Di tanganku, sepotong kertas kecil yang lembap oleh sisa darah dan cairan tubuh—tanda kematian—terasa lebih berat daripada gergaji tulang yang biasa kugunakan.
Nama itu tertulis di sana. Nama yang menjadi pusat semesta suamiku. Nama yang menjadi alasan mengapa ranjang pengantin kami sedingin es.
Maia Anindita.
"Dokter, Anda gemetar."
Suara Adrian memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia berdiri di dekat meja instrumen, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan. Adrian tahu bahwa aku jarang sekali membiarkan emosi merembes keluar dari balik masker medisku. Bagiku, emosi adalah kontaminan. Tapi hari ini, pertahananku bocor.
"Aku tidak gemetar, Adrian. Aku hanya sedang menghitung probabilitas," jawabku, suaraku terdengar seperti gesekan logam di atas ubin. Kosong.
"Probabilitas apa? Bahwa mayat ini sengaja membawa nama calon pengacara lawan Jaksa Ghazali?" Adrian melangkah mendekat, suaranya merendah. "Dok, ini bukan lagi soal medis. Ini soal keselamatan Anda. Pesan misterius semalam, mayat tanpa lidah ini... semuanya mengarah pada satu titik."
"Simpan kertas itu dalam wadah spesimen kedap udara, Adrian. Jangan catat dalam log digital dulu," perintahku dingin. Aku melepaskan sarung tangan lateksku dengan satu tarikan kasar, merasakan kulit tanganku yang memutih karena tekanan.
"Tapi Dok, itu pelanggaran protokol pro justitia! Jika Komisaris Herman tahu—"
"Aku yang bertanggung jawab!" bentakku. Aku segera menyesali nada suaraku saat melihat Adrian tersentak. Aku menarik napas dalam, mencoba memilah uap formalin yang menusuk paru-paruku. "Maaf. Aku hanya... aku butuh waktu untuk berpikir sebelum Ghazali sampai di sini."
Belum sempat Adrian menjawab, suara debuman pintu besar di ujung koridor menandakan bahwa sang penguasa hukum telah tiba. Ghazali tidak pernah mengetuk. Ia selalu mengklaim ruang seperti ia mengklaim kemenangan di pengadilan.
Derap langkahnya cepat, bergema di lantai koridor yang sunyi. Tak lama, sosoknya muncul di ambang pintu. Ghazali masih mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah hilang, namun aura otoritasnya tetap setajam pedang. Matanya yang gelap langsung mengunci mataku, mengabaikan keberadaan jenazah di atas meja.
"Di mana kertas itu, Keana?" tuntutnya tanpa basa-basi.
Aku terdiam, menatap suamiku. Pria ini, yang semalam mengabaikanku seolah aku adalah polutan di rumahnya sendiri, kini menatapku dengan intensitas yang hampir membuatku terbakar. Bukan karena cinta, tapi karena rasa haus akan informasi.
"Keluar, Adrian," perintahku tanpa mengalihkan pandangan dari Ghazali.
"Tapi, Dok—"
"Keluar!" suara Ghazali menyambar, lebih keras dan lebih memerintah dariku.
Adrian menatapku sekilas, lalu melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Begitu pintu tertutup, Ghazali melangkah maju hingga hanya tersisa jarak beberapa inci di antara kami. Jarak yang ia larang semalam, kini ia langgar demi egonya.
"Aku tanya sekali lagi, Keana. Di mana catatan yang ditemukan di mulut korban?" suaranya rendah, penuh ancaman.
"Bagaimana kau tahu ada catatan di sana, Ghazali? Aku bahkan belum sempat memasukkannya ke dalam sistem laporan sementara," balasku, mencoba menantang tatapannya. "Apakah kau sudah tahu apa yang tertulis di sana sebelum aku menemukannya?"
Ghazali mendengus sinis. Ia menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan kasar. "Jangan gunakan logika detektif amatirmu padaku. Aku adalah Jaksa Penuntut Umum. Aku tahu pola pembungkaman saksi kunci dalam kasus-kasus korupsi kakap. Memotong lidah dan meninggalkan pesan adalah gaya lama para algojo bayaran."
Aku melangkah mundur, mendekati meja instrumen dan mengambil wadah spesimen berisi kertas kecil itu. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi. "Catatan ini menyebutkan satu nama. Nama yang kau puja. Nama wanita yang semalam kau antar ke mobilnya dengan begitu lembut sementara istrimu sendiri kau biarkan kedinginan di balkon."
Mata Ghazali menyipit. Ia merampas wadah itu dari tanganku. Begitu ia membaca nama Maia Anindita di sana, otot rahangnya mengetat sedemikian rupa hingga wajahnya tampak seperti pahatan batu yang keras.
"Ini palsu," desisnya.
"Palsu?" Aku tertawa getir, suara tawaku terdengar menyedihkan di ruangan yang steril ini. "Fakta medis tidak pernah palsu, Ghazali. Kertas itu terselip di bawah jaringan periodontal yang rusak. Korban menelannya atau dipaksa menelannya sesaat sebelum eksekusi. Itu adalah bukti primer!"
"Ini adalah upaya pembunuhan karakter, Keana! Kau tidak mengerti dunia politik hukum!" Ghazali membanting wadah itu ke atas meja logam, menimbulkan denting yang memekakkan telinga. "Maia adalah pengacara profesional. Dia tidak mungkin terlibat dalam mutilasi seperti ini. Seseorang sedang mencoba menjatuhkannya melalui aku, atau menjatuhkanku melalui dia!"
"Atau mungkin..." aku melangkah maju, memberanikan diri menatapnya tepat di manik matanya, "...mungkin kau terlalu buta oleh cinta masa lalumu hingga kau tidak bisa melihat bahwa wanita yang kau agungkan itu adalah monster yang sesungguhnya."
Plak!
Ghazali tidak menamparku, tapi ia memukul meja tepat di samping kepalaku dengan kekuatan yang membuatku terlonjak. Ia mengurungku di antara kedua lengannya, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajahku. Aku bisa mencium aroma wiski dan parfum mahalnya, bercampur dengan bau kematian yang menempel di jas lab-ku.
"Jaga bicaramu, Dokter Forensik," desisnya, suaranya kini sehangat es kutub. "Kau pikir karena kakekku memaksaku menikahimu, kau punya hak untuk menghakimi hidupku? Kau hanyalah wanita yang bekerja di bawah tanah, Keana. Kau menghabiskan harimu dengan bangkai. Jangan merasa kau tahu segalanya tentang strategi di atas meja hijau."
"Pekerjaan kotor ini yang memberimu bukti untuk menang, Ghazali!" teriakku, air mata yang sejak semalam kubendung kini mulai merembes. Aku membenci diriku karena menangis di depannya. "Tanpa 'wanita bangkai' ini, kau tidak akan pernah tahu kalau staf ahlimu dibunuh secara terencana! Kau merendahkanku, menghinaku, menyebutku bau formalin... tapi kau tidak bisa hidup tanpa hasil bedahanku!"
Ghazali melepaskan kurungannya. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh penghinaan—jenis penghinaan yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tahu persis di mana letak kelemahanmu.
"Kau benar," ucapnya, suaranya kembali tenang, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahannya. "Aku butuh keahlianmu. Tapi aku tidak butuh kecemburuan murahanmu. Jangan campur adukkan perasaan pribadimu yang tidak terbalas itu dengan integritas laporan Visum et Repertum ini."
"Perasaan tidak terbalas?" Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan yang masih terasa dingin. "Kau pikir aku cemburu karena aku mencintaimu? Aku cemburu karena kau menghancurkan martabatku sebagai seorang istri! Kau membuatku merasa seperti sampah yang hanya berguna saat kau butuh data!"
"Memang itulah posisimu, bukan?" Ghazali mengambil kembali wadah spesimen itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya secara ilegal. "Sesuai kesepakatan, kau mengurus mayatnya, aku mengurus hukumnya. Jangan pernah sebut nama Maia lagi dalam laporan resmi. Tulis saja 'pesan tidak terbaca karena kerusakan cairan tubuh'."
"Itu pemalsuan dokumen negara, Ghazali! Aku bisa kehilangan izinku!"
"Dan aku bisa memastikan rumah sakit ini ditutup jika kau tidak kooperatif," ancamnya tanpa keraguan sedikit pun. "Pilih mana, Keana? Martabat istrimu yang sudah hancur itu, atau karier forensikmu yang kau puja-puja ini?"
Aku terdiam, membeku di tempatku berdiri. Pria ini... pria yang baru dua hari menjadi suamiku, kini sedang melakukan pemerasan moral padaku. Ia merendahkanku hingga ke titik nadir, merobek integritas yang selama ini kujaga lebih dari nyawaku sendiri.
"Kenapa kau begitu melindunginya?" bisikku. "Apakah Maia lebih berharga daripada kebenaran?"
Ghazali berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Kebenaran adalah apa yang aku menangkan di pengadilan, Keana. Bukan apa yang kau lihat di bawah mikroskopmu. Pulanglah. Ibu menunggumu untuk sarapan besok pagi. Dan pastikan wajahmu tidak terlihat sembab seperti ini. Mahendra tidak butuh drama."
Ia pergi, meninggalkan aku dalam kehancuran yang mutlak. Aku merosot jatuh ke lantai ubin yang dingin, memeluk lututku sendiri di samping jenazah tanpa lidah itu. Ironi ini sungguh mencekik: mayat ini kehilangan lidahnya agar tidak bisa bicara, sementara aku memiliki lidah tapi dibungkam oleh suamiku sendiri.
"Dok? Tuan Jaksa sudah pergi?"
Adrian masuk dengan hati-hati. Ia segera berlari ke arahku saat melihatku terduduk di lantai. "Dokter Keana! Apa yang dia lakukan pada Anda?"
"Dia mengambil kartunya, Adrian," suaraku hilang, hanya berupa bisikan hampa. "Dia mengambil bukti itu. Dia memintaku memalsukan laporan."
Adrian mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam karena amarah. "Ini gila! Kita harus melaporkan ini ke Komisaris Herman. Kita punya rekaman CCTV ruang otopsi!"
"Jangan," aku menahan lengan Adrian. "Jika kau melakukannya, dia akan menghancurkanmu juga. Ghazali bukan sekadar jaksa. Dia adalah Mahendra. Dia punya jaringan yang tidak bisa kita sentuh."
Aku bangkit berdiri dengan susah payah, menggunakan meja otopsi sebagai tumpuan. Aku menatap mata mayat yang terbelalak itu. Seolah-olah ia sedang menertawakanku. Kau sama denganku, Dokter, bisik hantu di kepalaku. Kau juga saksi yang lidahnya dipotong oleh cinta yang salah alamat.
"Adrian, bersihkan ruangan ini," kataku, mencoba mengembalikan sisa-sisa kekuatanku. "Aku akan menulis laporannya. Tapi aku tidak akan menulis apa yang dia inginkan."
"Maksud Dokter?"
"Ghazali ingin aku menghapus nama Maia," aku menatap pintu yang baru saja dilewati suamiku dengan tatapan penuh dendam. "Tapi dia lupa satu hal. Aku adalah dokter forensik. Aku tidak hanya melihat apa yang tertulis di atas kertas. Aku melihat apa yang tertinggal di dalam jaringan."
Aku kembali mengambil instrumen bedahku. "Mari kita periksa lambung korban. Jika dia dipaksa menelan catatan itu, pasti ada sisa residu tinta atau serat kertas yang tertinggal di dinding mukosa lambung. Itu bukti yang tidak bisa ia curi dari tanganku."
Sepanjang malam itu, aku bekerja bagaikan orang kesetanan. Aku mengabaikan rasa lapar, mengabaikan rasa kantuk, dan mengabaikan rasa sakit di hatiku. Setiap sayatan yang kubuat adalah bentuk perlawananku. Ghazali mungkin bisa merendahkanku di ranjang, ia mungkin bisa menghinaku di meja makan, tapi ia tidak akan pernah bisa mengalahkan kebenaran yang kutemukan di bawah lampu operasi ini.
Namun, saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, sebuah kenyataan pahit kembali menghantamku.
Setelah melakukan pemeriksaan mikroskopis pada sisa kertas yang masih tertinggal di kerongkongan, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar nama Maia. Di balik serat kertas itu, terdapat tanda air samar yang hanya digunakan oleh satu institusi di negeri ini.
Kantor Kejaksaan Agung.
Kertas itu berasal dari meja Ghazali. Bukan meja Maia.
Dunia di sekelilingku seolah berputar. Napasku sesak, lebih sesak daripada paparan formalin dosis tinggi. Pesan misterius itu benar. Aku tidak boleh percaya pada suamiku. Ghazali tidak sedang melindungi Maia. Ia sedang melindungi dirinya sendiri.
Tanganku gemetar saat aku memegang hasil foto mikroskopis itu. Jadi, pernikahan ini... wasiat ini... apakah semuanya hanya bagian dari skenario besar untuk menempatkan seorang ahli forensik di bawah kendalinya? Agar tidak ada satu pun mayat yang bisa "berbicara" menentangnya?
Aku menatap cincin pernikahan di jariku. Logam mulia ini kini terasa seperti borgol yang berkarat.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan baru masuk.
“Dokter, jangan pulang ke rumah hari ini. Ghazali tahu kau menemukan tanda air itu. Dia tidak akan membiarkan 'wanita berbau formalin' itu merusak rencananya.”
Aku menoleh ke arah jendela. Di luar sana, mobil hitam milik keluarga Mahendra sudah terparkir di depan gerbang rumah sakit. Ghazali tidak menungguku untuk sarapan. Ia menungguku untuk... membungkamku.
"Adrian," panggilku, suaraku kini sepenuhnya stabil, dingin, dan mematikan.
"Ya, Dok?"
"Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan ini selama sepuluh menit. Aku harus melakukan satu otopsi lagi."
"Otopsi siapa, Dok? Tidak ada jenazah baru."
"Otopsi pada pernikahanku sendiri, Adrian," jawabku sembari mengambil sampel darahku sendiri. "Karena mulai hari ini, Keana Elvaretta yang lemah sudah mati. Dan mayatnya tidak akan pernah memaafkan pembunuhnya."
Aku tahu, mulai detik ini, hidupku adalah pelarian. Tapi aku bersumpah, sebelum lidahku benar-benar dipotong oleh kekuasaan Mahendra, aku akan memastikan seluruh dunia mencium aroma busuk yang mereka sembunyikan di balik parfum mewah mereka.
Ranjang itu mungkin penuh luka, tapi meja otopsiku... meja ini akan menjadi altar pembalasanku.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍