Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Lorong Terakhir
Setelah badai pengakuan di depan gerbang sekolah, SMA Garuda perlahan memasuki fase "normal yang baru". Status Arkan dan Ziva sebagai suami-istri bukan lagi rahasia gelap yang menghantui, melainkan fakta yang diterima dengan berbagai sudut pandang. Meskipun aturan "dilarang bermesraan" tetap berlaku ketat dari pihak sekolah, semua orang tahu bahwa tatapan mata Arkan yang biasanya tajam dan dingin, kini selalu melunak setiap kali berpapasan dengan Ziva di perpustakaan atau koridor.
Hari-hari menuju ujian kelulusan dilewati dengan ritme yang sangat disiplin. Arkan tetaplah sang "Robot Aturan" yang perfeksionis, namun kini ia memiliki asisten pribadi yang paling ia cintai.
Belajar di Bawah Cahaya Remang
Malam-malam di rumah utama keluarga Wijaya diisi dengan sesi belajar maraton. Di meja belajar besar di kamar Arkan, buku-buku kalkulus dan latihan soal SBMPTN berserakan.
"Ar, gue nggak paham fungsi turunan yang ini. Otak gue udah mau meledak," keluh Ziva sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja, helai rambutnya menutupi soal matematika.
Arkan, yang sedang membaca jurnal ekonomi, menutup bukunya. Ia bergeser mendekat, menarik kursi Ziva hingga paha mereka bersentuhan.
"Mana? Sini aku jelasin. Kamu terlalu fokus sama rumusnya, bukan logikanya."
Arkan mengambil pulpen dari tangan Ziva, jemarinya sengaja menyentuh kulit tangan Ziva sedikit lebih lama dari biasanya. Sambil mencoret-coret kertas buram, ia menjelaskan dengan suara rendah yang menenangkan. Ziva tidak benar-benar mendengarkan soal turunan; ia lebih sibuk mengagumi garis rahang Arkan dan betapa seriusnya laki-laki ini membantunya.
"Paham?" tanya Arkan, menoleh tiba-tiba.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Ziva mengerjapkan mata, tertangkap basah sedang melamun.
"Eh... iya, paham. Turunan itu... emm, diturunin kan?"
Arkan terkekeh, suara yang dulu sangat langka kini menjadi musik harian bagi Ziva. Ia menjentik dahi Ziva pelan. "Fokus, Istriku. Kalau nilai matematikamu hancur, Papa bakal ceramah tujuh turunan soal investasi pendidikan."
Ziva mengerucutkan bibir. "Iya, Pak Guru. Galak banget sih."
Arkan terdiam sejenak, lalu ia meletakkan pulpennya. Ia menarik Ziva ke dalam pelukan singkat namun erat. "Aku cuma mau kita kuliah di kota yang sama nanti. Aku nggak mau LDR sama kamu, Ziv."
Ziva tersenyum di balik dada Arkan. "Gue juga, Ar. Gue nggak bakal biarin lo sendirian di luar sana. Siapa yang bakal ngingetin lo makan kalau bukan gue?"
Hari-Hari Terakhir di Garuda
Di sekolah, Sisil dan Gibran menjadi pelindung setia. Setiap kali ada siswa dari kelas lain yang mencoba berbisik sinis atau mengambil foto diam-diam, Sisil akan langsung memasang badan dengan mulut pedasnya, sementara Gibran cukup memberikan tatapan peringatan yang dingin.
Revan? Sang Kapten Basket itu benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi mengejar Ziva. Bahkan, dalam beberapa kesempatan di lapangan, ia sempat memberikan operan bola pada Arkan saat jam olahraga, sebuah simbol perdamaian tanpa kata di antara dua laki-laki yang pernah bersitegang.
Suatu sore di ruang mading yang mulai dikosongkan, Ziva menempelkan artikel terakhirnya. Judulnya: "Tentang Kejujuran dan Keberanian Menghadapi Dunia".
"Artikel bagus," suara Arkan terdengar dari pintu. Ia membawa dua botol minuman dingin.
"Makasih. Ini tulisan terakhir gue sebagai siswi Garuda," Ziva menatap dinding mading yang kini hampir bersih. "Gue bakal kangen tempat ini. Tempat di mana lo pertama kali ngasih gue poin pelanggaran gara-gara telat."
Arkan memberikan botol minuman itu. "Dan tempat di mana aku sadar kalau satu-satunya pelanggaran yang nggak bisa aku tindak adalah jatuh cinta sama kamu."
Ziva tersipu. "Dih, sejak kapan lo jago gombal?"
"Sejak aku tahu kalau gombalan bisa bikin istriku nggak marah-marah lagi," Arkan mengedipkan sebelah mata, membuat Ziva tertawa lepas.
Minggu Ujian: Ujian Sebenarnya
Hari ujian kelulusan akhirnya tiba. Suasana sekolah sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas LJK. Arkan dan Ziva berada di ruangan yang berbeda.
Ziva menarik napas dalam-dalam sebelum membuka lembar soal. Ia teringat pesan Arkan tadi pagi saat mereka sarapan bersama: "Kerjakan yang mudah dulu. Jangan panik. Aku tunggu di parkiran."
Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar Ziva. Ia mengerjakan soal demi soal dengan tenang. Tidak ada lagi beban rahasia yang menghambat pikirannya. Ia merasa bebas.
Di ruang sebelah, Arkan menyelesaikan soalnya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Ia meletakkan pensilnya, menatap ke arah jendela yang menampilkan lapangan basket sekolah. Pikirannya melayang pada perjalanan mereka—dari benci menjadi terpaksa, dari terpaksa menjadi rahasia, dan dari rahasia menjadi cinta yang tak tergoyahkan.
Saat bel tanda ujian terakhir berakhir berbunyi, sorakan haru terdengar dari seluruh penjuru kelas. Para siswa berhamburan keluar, berpelukan, dan mencoret seragam (meskipun Arkan tetap melarang timnya melakukan itu, ia membiarkan sedikit euforia terjadi).
Ziva berlari keluar kelas, mencari sosok jangkung yang selalu ia cari. Di bawah pohon beringin dekat aula, Arkan berdiri menunggunya. Tanpa peduli pada guru-guru yang masih berlalu-lalang, Ziva berlari dan menabrakkan dirinya ke pelukan Arkan.
"Kita lulus, Ar! Kita lulus!" teriak Ziva.
Arkan memutar tubuh Ziva di udara, tertawa lebar. "Ya, kita lulus dari sekolah ini, Ziva. Tapi ujian hidup kita sebagai suami istri yang sebenarnya... baru saja dimulai."
Ziva melepaskan pelukannya, menatap mata Arkan yang berbinar bahagia. "Gue nggak takut, selama ujiannya bareng lo."
Di kejauhan, Clarissa—yang datang hanya untuk mengambil ijazahnya secara diam-diam—melihat momen itu dari dalam mobil ayahnya