Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Canggung di Bawah Matahari”
Bersiaplah. Kita pergi keluar.”
Nayla terdiam.
Siapa yang dimaksud…? Ia menatap bingung.
Pria itu tampaknya menyadari kebingungannya.
“Bersiaplah. Kita akan pergi ke pantai. Bawa semua perlengkapan Arkan.”
Nada suaranya tetap datar.
Tanpa penjelasan lebih.
Nayla membuka mulut, ingin berbicara.
Namun—
“Oma sebenarnya ingin ikut,” sela Oma lebih dulu. “Tapi Oma sudah punya janji. Bahkan sudah diundur kemarin gara-gara Arkan ngamuk.”
Oma melirik Arkan.
Arkan malah langsung bersembunyi di belakang Nayla.
Nayla tersenyum kikuk.
“Se… sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu…”
Oma dan pria itu langsung menatapnya.
“Katakan saja, Nay,” ujar Oma lembut.
Namun sebelum Nayla sempat melanjutkan—
“Untuk pekerjaanmu,” ucap pria itu santai.
Nayla langsung terdiam.
“Aku sudah mengurusnya.”
Nayla mengerutkan kening.
“Kontrak kerjamu yang seharusnya berakhir minggu depan… sudah diakhiri. Hubungi saja atasanmu untuk informasi lebih jelas.”
Nayla membeku.
…apa?
Ia hanya bisa menatap pria itu yang kembali melangkah pergi, seolah itu hal biasa.
Kepalanya terasa penuh.
Bingung.
Aneh.
Namun langkah pria itu tiba-tiba terhenti.
Ia berbalik.
“Dalam dua puluh menit, sudah harus ada di mobil.”
Singkat.
Tegas.
Tanpa kompromi.
Lalu ia pergi.
Nayla masih terpaku di tempatnya.
Apa… barusan itu?
Oma menepuk pelan pundaknya.
“Oma pergi dulu, ya. Nay… titip Arkan.”
Nayla hanya bisa mengangguk.
Masih setengah tidak percaya.
**
Nayla langsung menuju kamar dan mengambil ponselnya.
Benar saja.
Sudah ada pesan masuk.
Kontrak kerjanya…
resmi berakhir.
Ia menarik napas panjang.
Lalu membalas dengan ucapan terima kasih, sekadar menjaga sopan santun.
Namun pikirannya masih penuh tanda tanya.
Bagaimana dia bisa mengurus semua ini… secepat itu?
Tanpa penjelasan.
Tanpa izin.
…siapa sebenarnya dia?
**
Nayla dibantu Mbak Rani menyiapkan semua kebutuhan Arkan. Arkan pun juga mencoba membantu,
Alih-alih membantu—
Arkan justru membuat semuanya lebih berantakan.
“Arkan… duduk dulu, ya,” ujar Nayla akhirnya.
Arkan menatapnya.
“Kakak sama mbak Rani beresin dulu. Arkan lihat saja, ya. Biar nanti bisa belajar.”
Arkan pun menurut.
Duduk diam.
Memperhatikan.
Nayla tersenyum tipis.
Anak-anak memang belajar dari apa yang mereka lihat…
**
Pukul 08.30 pagi.
Udara masih sejuk.
Pemandangan di kompleks itu terlihat indah.
Rumah ayah Arkan berdiri di dataran paling tinggi.
Terlihat megah.
Seperti kastil kecil di atas bukit.
Baru kali ini Nayla benar-benar memperhatikan sekelilingnya.
Kemarin… semuanya terasa terlalu cepat.
**
Di dalam mobil.
Jendela terbuka setengah.
Nayla sengaja membukanya.
Ia tidak terlalu suka bau AC mobil.
Dan tadi sudah meminta izin.
Ayah Arkan hanya mengangguk.
Seperti biasa.
Singkat.
Tanpa komentar.
Pria itu kini sibuk dengan tablet di tangannya.
Tidak berbicara.
Tidak melihat sekitar.
Arkan di samping Nayla asyik bermain robot Transformer Optimus miliknya.
Robot itu bergerak dan mengeluarkan suara.
Sesekali—
menabrak Nayla.
Nayla hanya bisa pasrah.
Tiba-tiba—
cubitan kecil mendarat di pipinya.
“Arkan…” gumam Nayla.
Belum sempat bereaksi—
Arkan malah menggesekkan hidungnya ke pipi Nayla.
Lalu ke lengannya.
Bahkan—
ke dadanya.
Nayla langsung panik.
“Arkan… tidak boleh!” bisiknya cepat.
Ia melirik ke samping
Ayah Arkan hanya menoleh sekilas.
Lalu kembali pada tabletnya.
Namun itu sudah cukup membuat Nayla semakin canggung.
Biasanya, Nayla akan tertawa atau menanggapi tingkah Arkan.
Tapi sekarang—
ia menahan diri.
Takut salah.
Takut berlebihan.
Ia jadi lebih pasif.
Akibatnya—
Arkan malah semakin aktif.
Mengunyel pipinya.
Menarik lengannya.
Seolah mencari perhatian lebih.
Yang membuat Nayla semakin gugup—
Arkan sama sekali tidak mencoba berbicara dengan ayahnya.
Sepanjang perjalanan—
hanya ada suara Arkan.
Celotehannya yang riang.
Dan Nayla yang menanggapi seadanya.
Sementara pria itu—
tetap diam.
Dunia seolah hanya miliknya sendiri.
Nayla melirik ke jendela.
Pemandangan sebenarnya indah.
Namun ia tidak benar-benar menikmatinya.
Perhatiannya terus tertarik pada Arkan.
Anak itu terlalu aktif.
Terlalu hidup.
Dan entah kenapa—
Di tengah suasana yang canggung ini—
itu justru terasa… kontras.
Mereka bertiga duduk di kursi penumpang, dengan Arkan di tengah.
Nayla sedikit menggeser posisi duduknya, lalu melirik sekilas ke arah pria di sampingnya melalui pantulan kaca jendela.
Kenapa sih dia nggak duduk di depan saja…? Kalau di depan kan aku lebih leluasa… ck.
Ia menghela napas pelan.
Namun—
dari pantulan kaca, ia menangkap pria itu melirik sekilas ke arahnya.
Astaga… bodoh banget!
Nayla langsung menegakkan tubuhnya.
Jangan kebiasaan kayak gini… nanti orang kira aku ngeluh atau frustasi.
Ia menarik napas perlahan.
Lalu menghembuskannya dengan hati-hati.
Aku harus tenang…
**
Perjalanan hampir satu jam akhirnya berakhir.
Saat mobil baru memasuki gerbang, Arkan sudah berceloteh riang tanpa henti.
Wajahnya penuh semangat.
Ia sudah tidak sabar ingin bermain air.
Pukul 09.26.
Matahari mulai meninggi, sinarnya hangat menyapu permukaan laut yang tenang. Ombak kecil bergulung lembut, menciptakan suasana damai.
Namun Arkan—
tidak peduli dengan ketenangan itu.
Ia langsung berlari.
“Kakak! Mau berenang!”
“Arkan, tunggu dulu!”
Nayla segera menahannya.
“Pakai tabir surya dulu.”
Arkan cemberut sedikit, tapi tetap menurut.
Setelah selesai dipakaikan, Arkan langsung berlari lagi sambil membawa pelampung bebeknya.
Di kejauhan, terlihat Kak Danu sudah lebih dulu menyiapkan semua keperluan.
Nayla sedikit terkejut.
Kirain dia nggak ikut… ternyata sudah standby dari tadi.
**
Nayla mulai mengoleskan tabir surya ke tangannya sendiri.
Hampir seluruh bagian tubuh yang terbuka ia lindungi.
Namun tiba-tiba—
“Pakaikan.”
Nayla menoleh.
Ayah Arkan menatapnya.
Datarnya khas.
…hah?
Ia mengangkat lotion di tangannya.
Menyodorkannya.
Dengan maksud jelas.
Pakai sendiri sialan.
Namun—
“Pakaikan.”
Nada itu tidak berubah.
ck… apaan sih. Bisa sendiri juga.
Nayla hanya bisa tersenyum tipis.
Dipaksakan.
Dalam hati sudah menggerutu panjang.
Dasar orang tua nyebelin…
Namun tetap—
ia menurut.
Tangannya mulai mengoleskan lotion ke wajah pria itu.
Dan tanpa sadar—
ia memperhatikan.
Hidungnya mancung.
Rahangnya tegas.
Kulitnya bersih. Tanpa pori-pori besar
Ih… kok bisa sih sebagus ini…
Sekilas—
tatapan mereka bertemu.
Dan pria itu…
menatapnya.
Tajam.
Seolah membaca.
Pandangan Nayla langsung buyar.
Ia gugup.
Saat hendak menarik tangan—
pria itu sedikit mendongak.
Menunjukkan lehernya.
Ya ampun…
Ini orang nyuruh terus ya…
Nayla menghela napas dalam hati.
Lalu melanjutkan.
Tangannya menyentuh leher pria itu.
Hangat.
Kulitnya halus.
Sebetulnya Nayla sangat keberatan,
tapi, Nayla gak punya keberanian untuk menolak.
Dan Sebetulnya ini hanya hal sepele jika mengingat gajinya yang besar "Haha", tanpa sadar Nayla tersenyum
Saat jarinya menyentuh jakun—
“Ehem.”
Nayla langsung tersentak.
Tangannya berhenti.
Wajahnya memanas.
Ia buru-buru melanjutkan dengan kikuk. Pasti dia salah paham
Kenapa jadi aneh gini sih…
Saat hendak selesai—
pria itu malah melepas jaketnya.
Dan menunjukkan lengannya.
Berotot.
…aku salah apa sih hari ini.
Nayla ingin menolak.
Sangat ingin.
Tapi—
tidak berani.
Ia kembali mengoleskan lotion.
Dalam diam.
Namun tiba-tiba—
“Bibirmu kenapa?” Nayla punya kebiasaan aneh, Saat dia tidak menyukai sesuatu mulutnya akan cemberut sendirinya.
Nayla membeku. Dan langsung mengubah raut wajahnya.
“Seperti mau mencium tanganku.”
DEG.
Wajahnya langsung panas.
Ia buru-buru menahan ekspresi.
Astaga…
“Kau… terpesona dengan lenganku?”
Nayla langsung menggeleng cepat.
“Ti-tidak, Pak.”
Ia langsung menaruh lotion ke tangan pria itu.
Lalu—
kabur.
Benar-benar kabur.
Berlari ke arah pantai.
“Buurrr!”
Ia langsung menceburkan diri ke air.
Sekilas saat tadi berpapasan Dari kejauhan—
ia sempat melihat Kak Danu tersenyum tipis dan tatapannya.
Seperti… mengejek.
Arrghhh! Malu banget!
Nayla menenggelamkan wajahnya ke dalam air.
Beberapa detik.
Berusaha menghilangkan rasa panas di wajahnya.
Namun—
tiba-tiba—
Arkan muncul di depannya.
Pipi menggembung menahan napas.
Menatapnya khawatir.
Nayla langsung mengangkat kepala.
“Arkan!”
Ia segera menarik anak itu.
Arkan langsung menghirup udara dalam-dalam.
Nayla menatapnya.
Hatinya langsung luluh.
Ia mengecup keningnya.
“Makasi ya…”
Arkan masih bingung.
Namun Nayla langsung tersenyum.
“Mau main lagi?”
Arkan langsung mengangguk semangat.
Dan mereka kembali bermain.
**
Dari kejauhan—
dua pasang mata memperhatikan.
Ayah Arkan.
Dan Kak Danu.
Namun tak satu pun mendekat.
**
Setelah cukup lama—
mereka dipanggil kembali ke tepi.
**
Kini mereka duduk santai.
Masih dengan pakaian basah.
Nayla menyuapi Arkan sandwich.
Handuk kecil menutupi bahunya.
Ia berusaha bersikap biasa.
Namun—
sebisa mungkin—
menghindari kontak mata.
Jangan lihat dia. Jangan lihat dia.
Semua berawal dari tatapan…
Namun—
ia bisa merasakan.
Tatapan itu.
Masih mengarah padanya.
Terus. Tanpa henti.
Dan—
“HKK!”
Nayla tiba-tiba tersedak.
Arkan baru saja berkata sesuatu.
Ia langsung batuk-batuk.
Air segera disodorkan.
Dari dua arah.
Kak Danu.
Dan—
ayah Arkan.
Nayla membeku sesaat.
Lalu mengambil gelas dari Kak Danu. Dengan cepat. Masih batuk kecil, Wajahnya memerah.
Bukan hanya karena tersedak.
Tapi juga—
karena sadar. Seseorang masih memperhatikannya.