Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menegangkan
Sesampainya di ruangan direktur, Zo duduk di sofa mewah yang terletak di sudut ruangan. Adira mengekor masuk karena ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya selanjutnya.
Ia ingin meminta izin untuk pulang, namun urung karena takut permintaannya akan memicu perdebatan panjang lagi. Bagi Adira, lebih aman untuk diam dan mengikuti kemauan pria itu, selagi permintaannya tidak aneh-aneh.
Adira masih berdiri kaku di ambang pintu bahkan setelah pintu tertutup rapat. Ia terus mematung di sana, berharap pria itu akan menyuruhnya pulang.
"Kemari dan duduklah," ujar Zo, memerintahkan Adira mendekat ke sofa.
Adira, yang mulai paham bahwa orang-orang di keluarga Arlan—termasuk sepupunya ini—sangat suka memaksa, memilih untuk menurut daripada memperkeruh suasana. Ia melangkah mendekat dan duduk tepat di hadapan Zo.
Tiba-tiba, Zo mengeluarkan sebuah ponsel baru dan menyodorkannya kepada Adira. "Pakai ini," ujarnya singkat.
Adira menatap ponsel di hadapannya. "Untuk apa? Saya tidak butuh ponsel," tolaknya.
Dalam pikiran Adira, memiliki ponsel pun tidak akan mengubah keadaannya. Ia yakin Arlan maupun Zo akan terus mengawasinya melalui perangkat itu. Baginya, lebih baik tidak memiliki ponsel sama sekali daripada merasa terus dipantau.
"Saya tidak memberimu pilihan. Saya sedang memerintahkanmu," ujar Zo dengan nada suara yang sangat tidak bersahabat.
Mendengar itu, Adira terpaksa mengulurkan tangan dan mengambil ponsel tersebut. Ia tahu, berdebat hanya akan memperburuk keadaan. "Kalau sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi, saya harap Anda membiarkan saya pulang," ujar Adira, memberanikan diri.
Zo menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Kenapa kau tidak suka berada di sini? Bukankah di rumah itu ada suamimu yang cacat? Apa kau tidak takut terus berada di sisinya?"
Zo seolah sengaja ingin memancing reaksi Adira, ingin melihat respons wanita itu terhadap Arlan.
"Kalau Anda sedang berusaha memancing saya, saya rasa itu tidak perlu," jawab Adira berterus terang. Ia menyadari taktik Zo dan memintanya untuk tidak mencoba memprovokasinya.
Zo hanya menatapnya sejenak, kemudian bangkit dan kembali ke kursi kerjanya yang megah. "Menurutmu, kalau Arlan tidak cacat, apakah dia akan mau menikah denganmu?" tanyanya lagi.
"Tentu, karena tujuannya cuma satu, yaitu membuat saya menderita. Dan Anda seharusnya tidak mencampuri urusan rumah tangga saya," tegas Adira. Suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dan berani.
"Meski seperti apa pun pernikahan kami, dia tetap suami saya. Dan Anda tidak berhak mempertanyakan hal ini!" lanjut Adira, menatap langsung ke arah Zo tanpa gentar.
Perlahan Adira berjalan mendekati Zo, kemudian berdiri tepat di hadapan pria itu. Zo mengangkat pandangan, mereka saling beradu tatap.
"Saya tidak tahu apa motif Anda membawa saya ke sini dan memasukkan saya ke perusahaan ini. Tapi perasaan saya mengatakan bahwa Anda maupun sepupu Anda sedang memanfaatkan saya untuk satu tujuan," ujar Adira dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Meski saya tidak tahu tujuan itu apa, saya tahu kalau Anda berdua sedang berusaha memancing seseorang," lanjut Adira tajam. Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, ia segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Zo hanya terdiam. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap diamnya, Adira ternyata memiliki insting yang begitu tajam dan mampu membaca situasi dengan akurat.
***
Prang! Prang! Prang!
Barang-barang berharga pecah berhamburan di lantai, hancur berkeping-keping akibat amukan seseorang. Ruangan itu kini tampak seperti medan perang yang kacau-balau.
"Tidak! Tidak mungkin! Kenapa si cacat itu tidak mau mati juga?!" teriak pria paruh baya itu dengan napas memburu.
"Bahkan bisa-bisanya dia menikahi putri dari keluarga Santosa? Tidak! Setelah bertahun-tahun aku merencanakan semua ini, aku tidak akan berhenti di sini!"
Ia menggeram, matanya merah padam karena amarah yang meluap. "Seharusnya aku mengirim seseorang untuk membunuh putri Sutra Santosa itu saat dia masih di penjara! Aku tidak menyangka si cacat itu memakai trik kotor untuk mencapai tujuannya!"
Pria itu terus mengamuk, melempar barang apa pun yang bisa ia raih. Para pengawalnya hanya berdiri mematung di kejauhan; tak ada satu pun yang berani mendekat karena takut menjadi sasaran kemarahan tuannya.
"Akan kubunuh kau, Arlan! Bajingan kau!" teriaknya murka. Ia seolah ingin mencabik-cabik tubuh Arlan Erlangga saat itu juga.
"Apa pun alasannya, saya mau kalian bunuh putri Santosa itu! Apa pun alasannya!" perintahnya dengan suara menggelegar. "Bajingan! Aku mau kalian bergerak sekelompok, jangan biarkan si cacat itu mencapai tujuannya!"
"Baik, Tuan. Segera laksanakan!"
"Aku tidak akan membiarkan usahaku selama puluhan tahun hancur begitu saja dan membiarkan bocah itu mengalahkanku!" geram pria paruh baya itu sambil mengepalkan tangan sekuat tenaga.
"Arlan Erlangga, kau benar-benar ancaman terberatku. Tak kusangka, anak yang dulu kupandang sebelah mata sekarang mulai menjadi ancaman besar. Seandainya aku bunuh saja dia dulu, mungkin sekarang aku sudah mencapai tujuanku!"
Pria itu menyeringai dingin. "Lihat saja, Arlan Erlangga, kau tidak akan selamat!"
***
Terdengar suara langkah sepatu menuju ruangan Arlan.
Asisten Wira melangkah pelan mendekati Arlan yang sedang duduk di kursi kerjanya di dalam mansion mewah itu. Wira segera menyodorkan beberapa lembar dokumen penting.
Arlan membuka berkas-berkas itu dengan wajah datar. "Tuan, maafkan saya... karena setelah delapan tahun, saya belum bisa menemukan jejak pembunuh Nona Anisa," ujar Wira dengan suara rendah, penuh rasa bersalah.
Ternyata, ada rahasia besar yang tidak diketahui oleh Adira. Arlan sebenarnya tahu betul bahwa bukan Adira yang membunuh adiknya. Bahkan Arlan tahu bahwa ayah Adira-lah pembunuh sebenarnya.
Namun, Arlan sengaja berpura-pura tidak tahu. Ia membiarkan Adira terus menutupi fakta tersebut dan menanggung tuduhan. Arlan sengaja mengikuti alur pikiran Adira dan membiarkan semuanya mengalir sesuai rencananya sendiri.
Kesalahan ayah Adira justru dilampiaskan Arlan kepada putri kandung Sutra Santosa itu. Hal ini terjadi karena Arlan belum berhasil menemukan keberadaan pria tersebut. Meskipun sudah delapan tahun pencarian tanpa henti, hasilnya tetap nihil.
Salah satu rencana matang Arlan adalah mengambil Adira dari penjara dan menjadikannya istri. Ia sengaja melakukannya sebagai umpan untuk memancing agar ayah Adira keluar dari persembunyiannya. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, ayah Adira sangat menyayangi putrinya; Adira adalah permata berharga bagi pria itu.
Meski Arlan tahu bukan Adira pelakunya, setiap kali ia menatap wajah wanita itu, rasa benci justru terus tumbuh. Kebencian yang salah sasaran itu sering kali membuat Arlan tega menyiksa Adira sesuka hati demi memuaskan dendam yang tak kunjung usai.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar di luar ruangan, tak sengaja menendang sesuatu di lantai.
"Siapa?" desis Arlan tajam.
Arlan dan Wira serentak menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Suasana mansion semakin mencekam karena malam telah larut. Sebagian besar pelayan sudah pulang, kecuali perawat atau asisten rumah tangga yang terkadang menginap.
Adira menjadi tersangka utama dalam pikiran Arlan dan Wira saat ini. Mereka yakin ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan rahasia mereka.
Di luar ruangan, Adira menutup mulutnya rapat-rapat, menahan napas sekuat tenaga. Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari Asisten Wira mulai melangkah keluar untuk mengecek situasi. Adira memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar.
Ya Tuhan, tolong aku... batin Adira dalam kepanikan luar biasa. Ia benar-benar berharap tidak tertangkap basah.
Tap... tap... tap...
Langkah sepatu Wira terdengar semakin jelas dan terus mendekat ke arah tempat persembunyian Adira.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang