NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Pintu yang Akhirnya Terbuka

Malam di Seoul terasa sunyi.

Mobil hitam milik keluarga Raespati berhenti tidak jauh dari sebuah rumah sederhana yang berada di ujung jalan kecil.

Tidak mewah.

Tidak besar.

Namun terlihat hangat.

Lampu teras menyala kuning lembut, beberapa pot bunga tertata rapi di depan rumah, dan dari jendela dapur terlihat bayangan seseorang yang sedang memasak.

Damir Rendra Raespati menatap rumah itu tanpa berkedip.

Dadanya terasa sesak dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

“Mas…”

Lavanya yang duduk di sampingnya menggenggam tangan suaminya pelan.

Wanita itu juga terlihat gugup.

Selama perjalanan tadi mereka sudah berkali-kali mengatakan hanya ingin melihat dari jauh.

Namun sekarang… saat rumah itu benar-benar ada di depan mata… kaki mereka justru terasa berat untuk bergerak.

Karena di dalam sana ada anak yang sudah mereka sakiti terlalu dalam.

“Aku takut…” bisik Lavanya lirih.

Damir memejamkan mata sebentar.

“Aku juga.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Damir takut bertemu anaknya sendiri.

Takut melihat kebencian di mata Ela.

Atau lebih buruk…

Takut jika anak itu bahkan tidak lagi menganggap dirinya ayah.

Di dalam rumah, suasana masih ramai seperti biasa.

Dylan sedang membantu Ana mencuci piring sambil mengeluh tentang tugas sekolahnya.

Sementara Ajeng dan Sabine ribut di ruang tamu karena rebutan selimut sambil menonton drama Korea.

“Bine! Itu kaki dingin banget!”

“Heh Tante Ajeng juga nyolong selimut aku!”

Ana yang mendengar keributan itu hanya tertawa kecil dari dapur.

Rumah kecil itu terasa hidup.

Hangat.

Dan itu justru membuat Damir semakin merasa bersalah saat melihatnya dari luar mobil.

Karena selama bertahun-tahun… rumah besar Raespati tidak pernah memberikan kehangatan seperti itu untuk Ela.

Tak lama kemudian Dylan pamit naik ke kamar lebih dulu karena harus belajar.

Ajeng sibuk video call dengan Damar di sofa sambil terus mengeluh karena Sabine menghabiskan camilannya.

Dan saat itulah bel rumah berbunyi.

Ting tong.

Sabine yang paling dekat dengan pintu langsung berdiri malas.

“Aku buka…” gumamnya.

Ana yang sedang menuang teh hanya mengangguk kecil.

“Hati-hati.”

Sabine berjalan santai menuju pintu depan sambil masih mengunyah keripik.

Namun begitu pintu terbuka…

Gadis itu langsung membeku.

Di depan rumah berdiri dua orang asing dengan wajah tegang.

Seorang pria paruh baya berwajah dingin namun terlihat sangat lelah.

Dan seorang wanita cantik elegan dengan mata merah seperti habis menangis.

Sabine mengernyit bingung.

“Eh… nyari siapa ya?”

Suara gadis itu membuat Damir langsung menatapnya penuh.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia melihat anak perempuan kecil yang memiliki mata sangat mirip Ela.

Tatapan dingin namun lembut di saat bersamaan.

Damir sampai kehilangan suara beberapa detik.

Sementara Lavanya langsung menutup mulutnya sendiri menahan tangis.

Karena entah kenapa… melihat Sabine terasa seperti melihat Ela kecil dulu.

“Ehm…” Sabine mulai mundur sedikit karena suasana aneh. “Mimaaaa…”

Panggilan itu langsung membuat jantung Damir berdetak keras.

Mima.

Jadi benar… Ela punya anak.

Dan anak itu memanggil Ela dengan penuh kasih sayang yang dulu tidak pernah mereka berikan.

Langkah kaki terdengar dari dalam rumah.

“Ada siapa, Bine?”

Suara Ana terdengar mendekat.

Dan detik berikutnya…

Wanita itu muncul di balik pintu.

Tubuh Ana langsung membeku saat melihat dua sosok di depan rumahnya.

Cangkir teh di tangannya jatuh begitu saja ke lantai.

Prang!

Suasana mendadak sunyi.

Mata Ana langsung memerah seketika.

Tubuhnya menegang hebat seperti orang yang baru melihat mimpi buruk menjadi nyata.

Sementara Damir…

Pria itu menatap anak perempuannya dengan mata bergetar.

Ela terlihat jauh lebih dewasa sekarang.

Namun di mata Damir… itu tetap anak kecilnya.

Anak yang dulu selalu menunggu dirinya pulang hanya untuk menunjukkan medali ice skating.

“Ela…”

Suara Damir pecah untuk pertama kalinya.

Namun Ana justru mundur satu langkah dengan napas mulai memburu.

Panic attack.

Lavanya langsung sadar perubahan wajah Ana dan refleks ingin mendekat.

Namun Ana langsung berkata dengan suara gemetar,

“Jangan…”

Air mata mulai jatuh dari mata wanita itu.

“Jangan dekat-dekat…”

Sabine langsung panik melihat kondisi ibunya.

“Mima?”

Ajeng yang mendengar suara pecahan kaca langsung berlari dari ruang tamu.

Dan suasana rumah kecil itu berubah kacau dalam hitungan detik saat masa lalu yang selama ini Ana hindari akhirnya benar-benar berdiri tepat di depan pintunya.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!