NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01 [ Awal Tragedi ]

Pria bertubuh kekar masih sibuk dengan beberapa tugas yang ia kerjakan, tak berselang lama kehadiran Arnold menunjukkan ekspresi berbeda.

"Dengan tujuan apa kau datang kemari?" Andrian melontarkan pertanyaan.

"Saya tidak bisa menjelaskan, akan lebih baik Tuan datanglah ke Rumah Sakit Citra Medika, di sana Tuan akan tahu apa yang harus Tuan ketahui," jelas Arnold, tak berani mengatakan yang sesungguhnya. Hal ini membuatnya kembali bertanya-tanya.

Masih tak mengerti maksud dari perkataan anak buahnya, bergegas ia pergi dengan langkah terburu-buru. Anak buah hanya mengikuti tuannya.

Di salah satu ruangan, tubuh seseorang telah tertutup kain putih dengan wajah yang tak terlihat jelas. Tetapi dari ekspresi orang-orang di sekitar, jelas ada makna lain. Terlihat mereka sedang berduka akibat kematian seseorang yang mungkin sangat disayangi oleh Tuannya.

Mendekati sosok jenazah seperti berbadan anak kecil berusia 10 tahunan ke bawah yang sudah tertutup kain putih, terdapat pula bercak darah yang menyelimuti kain itu.

"Jenazah anak siapa ini?" tanya Andrian, mencoba mencairkan suasana yang nampak membeku, namun tidak ada yang berani membalas atas pertanyaan yang dilontarkan tuannya.

Pertanyaan itu ia lontarkan sekali lagi, namun lagi-lagi tak ada yang berani untuk menjawabnya. Andrian merasakan kebingungan dan cemas. Apakah sosok yang terbaring di depannya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengannya?

Dengan langkah gugup, Andrian mendekati jenazah, mengangkat kain putih yang menutupinya. Dan saat wajah orang yang terbaring itu terungkap, Andrian terdiam sesaat.

Di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang meratapi kesedihan ini, Andrian merasa seakan dunianya runtuh. Ia berharap semua ini mimpi. Tubuhnya pun tersungkur jatuh ke lantai. Ia kehilangan seseorang yang kasih sayangnya begitu besar, dan ia hanya bisa menangis, tubuhnya ikut melemah di samping mayat sang putri tercinta.

Dengan gemetar, ia mencoba memanggil nama putrinya, namun tidak ada jawaban. Hatinya pun buyar, kesedihan yang begitu dalam menyelimuti dirinya. Ia terjatuh di samping jasad yang kaku tersebut, meratapi kehilangan yang begitu besar.

Dengan tubuh yang gemetar, ia mencium kening sang putri yang sudah tidak berdenyut lagi. Ia berlutut di samping jasad itu, mencoba merangkai kembali kenangan-kenangan manis yang pernah mereka lalui bersama, kenangan manis semasa masih bayi dan ia dekap dalam gendongannya.

Apapun permintaan yang tak pernah ia tolak, sebutan Papa yang begitu manis terdengar di telinganya, namun kini semua hanya tinggal kenangan yang telah menjadi abu.

Sebuah kenangan yang takkan pernah tergantikan lagi, lelaki itu lagi-lagi berharap apa yang menimpanya hanyalah sebuah mimpi, namun nyatanya takdir kebahagiaannya tidak seberuntung itu.

"Putriku... katakan ini pasti hanya mimpi kan?"

Berulang kali pertanyaan ini kembali Andrian layangkan tak percaya atas kepergian sang anak.

"Anda harus tabah, Nona Mira telah pergi, terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya yang mengakibatkan dia kehilangan banyak darah. Saksi mata mengatakan Nona dan Nyonya mengalami kecelakaan parah setelah sebuah mobil menabraknya dan kabur tanpa bertanggung jawab. Bukan hanya Nona... tapi Nyonya juga butuh perhatian Tuan, Nyonya Monika..."

"Tidak!" Andrian mencengkeram kerah sang anak buah, entah hidupnya yang hanya akan dipenuhi kemalangan. Baru mendengar kabar meninggalnya sang putri, kenyataan pahit lain ikut menghujaninya setelah kabar sang istri tercinta ikut menjadi korbannya.

"Katakan yang barusan kamu katakan tidaklah benar, kan?"

"Maaf, tapi ini kebenarannya, Nyonya..."

Ia langsung melepaskan cengkeramannya, kakinya langsung beranjak pergi berharap kabar buruk tak kembali mengguyurnya.

Wanita itu histeris mendengar kabar bahwa janin yang berada dalam kandungannya ikut pula menjadi korban. Bagai ditimpa nasib sial berulang-ulang kali, entah dengan cara apa lelaki itu melanjutkan kehidupannya setelah kedua anak yang tak berdosa menjadi korban.

Dokter menyuntikkan sesuatu, tubuh berontak sang istri pun terhenti. Obat penenang itu mulai berefek, kesadaran sang istri pun menghilang.

"Maaf, kami hanya bisa bertindak dengan menyuntikkan obat penenang. Saat ini pasien sangat terguncang, takutnya jika lalai sedikit pasien bisa berakibat fatal. Sebelum itu bisakah Tuan Andrian menghadap saya? Ada suatu hal yang harus Tuan ketahui." Andrian hanya mengangguk arti memahami.

"Ada masalah apalagi Dok? Apa selain kabar meninggalnya putriku dan janin dalam kandungannya masih ada kabar buruk yang menimpa saya?"

Raut wajahnya nampak pasrah. Kehilangan kedua buah hatinya dalam waktu sekejap, matanya menunjukkan sudah tak ada arti dan harapannya lagi. Semua sudah lenyap, semua sudah direnggut secara paksa tanpa persetujuannya.

"Ini akan sangat menyakiti Tuan, tapi jika saya tidak mengungkapkannya, yang ada Tuan dan Nyonya sendiri yang akan terluka. Tanpa saya harus memperpanjang, saya hanya ingin menyampaikan, setelah kecelakaan dan benturan yang Nyonya alami, besar kemungkinan rahim dan kandungan Nyonya mengalami kerusakan. Besar kemungkinan Nyonya akan sulit mengandung hingga memiliki anak."

Badai yang tak kunjung terhenti, kembali mendengar pernyataan dokter seketika melumpuhkan semangatnya. Entah kesalahan apa yang sudah ia dan sang istri perbuat sampai-sampai cobaannya datang silih berganti.

"Saya tahu apa yang Tuan rasakan. Saya sebagai sama-sama seorang lelaki paham dan yakin Tuan dan Nyonya bisa melewati masa sulit ini."

"Sekali lagi terima kasih atas dukungannya Dok, baiklah saya permisi."

"Silakan."

Berjalan dengan langkah yang sama sekali tak memiliki tenaga yang cukup. Bahkan otot-ototnya seperti menyerah untuk berjuang sendiri, tubuh itu pun seketika melorot jatuh bersimpuh di lantai.

Duduk dengan pandangannya yang kosong, salah seorang asisten yang sudah ia anggap saudara perlahan menghampirinya. Melihat kondisi Tuannya yang ikut memprihatinkan, sang asisten ikut duduk di samping tuannya.

"Tuan bersabarlah dan ingatlah di balik cobaan yang datang silih berganti, akan ada pelangi yang menjadi pengobat luka yang sudah Tuan alami. Saat ini saya tidak bisa mengungkapkan sepatah kata pun lagi, saya hanya minta bersabarlah."

BERSAMBUNG.

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!