Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Perang
Desa kecil itu tidak tidur malam itu.
Api unggun menyala di setiap sudut. Suara palu terdengar dari kejauhan. Dan orang-orang bergerak sibuk memperkuat pertahanan seadanya.
Besok…
Pasukan Raven akan datang.
Dan semua orang tahu: pertempuran itu akan menentukan apakah The 10th Battalion tetap hidup… atau hancur sebelum benar-benar terbentuk.
Gerald berjalan perlahan melewati desa sambil memeriksa persiapan.
Pagar kayu diperkuat. Tombak dipasang di depan gerbang. Bahkan beberapa rumah mulai dijadikan posisi pemanah.
Masih jelek.
Namun cukup untuk bertahan sementara.
“Gerald!”
Elias berlari mendekat sambil ngos-ngosan.
“Kita kekurangan panah!”
“Aku tahu.”
“Dan makanan!”
“Aku juga tahu.”
“Dan orang-orang mulai panik lagi!”
Gerald berhenti lalu menatap Elias datar.
“Kau bisa kasih kabar bagus sekali-sekali gak?”
“…Cuaca malam ini bagus?”
“…Lumayan.”
Elias langsung bangga sendiri.
Namun tak lama kemudian—
BRAKK!!
Suara keras terdengar dari arah gerbang.
“WOI GENDUT!” “JANGAN TARUH BATU SEBESAR ITU DI ATAS MENARA!”
“Tenang.” “Kalau musuh datang tinggal dijatuhin.”
“MENARANYA IKUT JATUH WOI!”
Benar saja.
Boris sedang mendorong batu besar ke atas menara pengawas kayu yang sudah miring setengah roboh.
Doran sampai ketawa keras melihatnya.
“HAHAHAHA!” “Dia mau bunuh musuh sekalian penjaganya!”
“Itu strategi pengorbanan.”
“ITU STRATEGI BODOH!”
Beberapa anggota batalion tertawa kecil lagi.
Dan Gerald sadar sesuatu.
Meski mereka tahu perang datang… mereka masih bisa tertawa.
Itu bagus.
Karena pasukan yang terlalu takut biasanya kalah sebelum bertarung.
Gerald melanjutkan langkahnya.
Lalu berhenti saat melihat Luca dan kelompok barunya sedang mengasah senjata.
Anak muda itu terlihat gugup.
Tangannya sedikit gemetar.
“Kau takut?” tanya Gerald.
Luca diam beberapa detik.
“…Iya.”
Jawaban jujur.
Gerald suka itu.
“Bagus.”
“Hah?”
“Orang yang gak takut biasanya mati duluan.”
Doran langsung teriak dari belakang:
“AKU MERASA DISERANG!”
“Karena itu memang buatmu.”
Beberapa orang kembali tertawa.
Namun Luca tetap terlihat tidak tenang.
“Gerald…”
“Apa?”
“Kita benar-benar bisa lawan mereka?”
Gerald melihat langit malam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Kita gak perlu lebih kuat.”
“Hah?”
“Kita cuma perlu lebih siap.”
Luca perlahan mengangguk.
Dan anehnya…
Kalimat sederhana itu sedikit menenangkan dirinya.
Malam makin larut.
Sebagian orang mulai tidur bergantian. Sebagian lagi berjaga di pagar desa.
Gerald sendiri duduk sendirian di atas rumah rusak sambil melihat hutan gelap di depan sana.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Dan itu membuatnya tidak nyaman.
“Kau gak tidur?”
Varn naik perlahan lalu duduk di samping Gerald.
“Belum ngantuk.”
“Kebohongan veteran.”
Gerald tertawa kecil tipis.
Varn melihat ke arah desa.
“Pasukanmu berkembang cepat.”
“Mereka masih berantakan.”
“Semua pasukan besar awalnya begitu.”
Keheningan turun beberapa detik.
Lalu Varn bicara lagi.
“Gerald.”
“Hm?”
“Kalau besok kita kalah…”
Tatapan pria tua itu tetap tenang.
“…bawa yang muda kabur.”
Gerald langsung mengernyit.
“Kau sendiri?”
Varn tersenyum kecil.
“Aku terlalu tua buat lari lagi.”
Kalimat itu membuat Gerald diam.
Ia mulai sadar sesuatu.
Orang-orang di batalion ini… pelan-pelan mulai menganggap tempat ini rumah.
Dan itu membuat mereka lebih berbahaya.
Karena manusia yang melindungi rumahnya… akan bertarung seperti monster.
Tiba-tiba—
WHUSSH!!
Suara langkah cepat terdengar dari bawah.
“GERALD!”
Elias muncul sambil panik.
“Apa lagi?”
“Ada orang di luar desa!”
Gerald langsung berdiri.
Varn juga memegang pedangnya.
Mereka turun cepat menuju gerbang.
Dan benar saja—
Di luar pagar desa berdiri satu orang sendirian.
Memakai jubah hitam panjang.
Wajahnya tertutup tudung.
Namun tubuhnya penuh darah.
“Siapa itu?” bisik Luca gugup.
Orang itu berjalan pelan mendekati gerbang.
Langkahnya sempoyongan.
Lalu—
BRAKK!!
Tubuhnya jatuh berlutut di depan desa.
Semua langsung siaga.
Gerald mendekat perlahan sambil memegang pedang.
“Siapa kau?”
Orang berjubah itu mengangkat wajahnya perlahan.
Dan saat tudungnya terbuka…
Varn langsung membelalak.
“…Mustahil.”
Elias mengernyit bingung.
“Siapa dia?”
Varn menelan ludah.
Lalu berkata pelan:
“…Mantan wakil komandan Raven.”
Suasana langsung membeku.
Dan pria itu…
Tersenyum lemah sambil berkata:
“…Aku mau membunuh Raven.”