NovelToon NovelToon
Driven By You

Driven By You

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.

Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.

Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.

Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.

Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.

Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?

Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Pagi di asrama lantai tiga itu terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca seolah tidak mampu menembus atmosfer tebal yang menyelimuti kamar 302.

Audrey duduk di tepi ranjangnya, jemarinya meremas pinggiran selimut dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di hadapannya, Vivian bersandar pada meja belajar, menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara simpati dan logika yang tajam.

"Lalu kenapa kau tetap tidak percaya, Audrey?" tanya Vivian pelan, suaranya memecah keheningan yang menyesakkan. "Kensington Valerio bukan pria yang suka membuang kata-kata. Jika dia sudah berkata ingin serius, itu artinya kau bukan lagi tempatnya bermain-main. Dia tidak pernah membawa wanita ke apartemen pribadinya, apalagi mengenalkannya pada Bianca secara resmi."

Audrey mendongak, matanya yang sembab menatap Vivian dengan kilatan pahit. "Serius, Vivian? Kau sebut apa yang terjadi semalam sebagai bentuk 'keseriusan'?"

"Dia terjebak, Audrey. Sama sepertimu. Bianca melakukan hal gila karena dia terobsesi pada Ken," balas Vivian mencoba membela secara objektif.

"Bukan itu intinya!" suara Audrey naik satu oktav, sedikit bergetar oleh amarah yang tertahan. "Dia mengaku ingin serius, tapi di saat yang sama dia menertawakan konsep cinta. Dia bilang cinta itu pembodohan, narasi sampah yang membosankan. Bagaimana mungkin aku bisa percaya pada seseorang yang ingin memilikiku tapi menolak untuk mencintaiku? Dengan cara apa hubungan seperti itu bisa bertahan, Vivian? Dia hanya ingin memenjara aku dalam obsesinya agar dia merasa menang atas tantangan itu!"

Vivian terdiam. Sebagai orang yang mengenal Kensington sejak lama, ia tahu bahwa ego pria itu setinggi langit. Bagi Kensington, memiliki adalah tujuan utama, sementara mencintai adalah kelemahan yang ia hindari.

"Dia pria yang rusak, Audrey. Tapi bukan berarti dia tidak bisa berubah," ucap Vivian lirih.

"Aku bukan bengkel untuk memperbaiki pria rusak," sahut Audrey dingin. "Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan pernah percaya padanya. Tidak satu kata pun."

Audrey bangkit dari ranjang, menarik koper kecil dari bawah tempat tidurnya. Gerakannya tegas, menunjukkan keputusan yang sudah bulat.

"Aku akan cuti kuliah selama seminggu," ucapnya tanpa menoleh.

Vivian tersentak. "Cuti? Tapi Bulan ini sedang sangat padat, Audrey. Kau mahasiswi beasiswa, kau tidak bisa sembarangan menghilang."

"Aku sudah mengirim email ke bagian administrasi. Alasan keluarga. Aku butuh ruang untuk bernapas, Vivian. Aku tidak bisa berada di kampus yang sama, di koridor yang sama, bahkan di kota yang sama dengan pria itu sekarang. Setiap kali aku menutup mata, aku teringat kejadian semalam dan kata-kata dinginnya tentang 'barang yang sudah disentuh orang lain'." Audrey memejamkan mata sesaat, menahan sesak di dadanya. "Aku harus pergi."

Vivian menghela napas panjang, menyadari bahwa menghalangi Audrey saat ini hanya akan sia-sia. "Mau aku bantu urus surat-suratnya secara fisik ke dekan? Aku bisa bicara pada mereka."

"Tidak perlu, Vivian. Aku sudah mengurus semuanya secara daring. Aku hanya ingin pergi dengan tenang tanpa ada yang tahu ke mana aku pergi," ucap Audrey, ia menutup kopernya dengan bunyi klik yang final.

Sementara itu, di sebuah kafe elit dekat fakultas hukum, Kensington duduk dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Marco di depannya hanya bisa menghela napas melihat sahabatnya yang terus-menerus menatap ponselnya.

"Dia tidak membalas?" tanya Marco.

"Tidak. Dia mengabaikan semua pesanku," jawab Kensington pendek, suaranya serak. "Kemarin, dia menamparku seolah-olah aku adalah penjahat kelamin."

"Yah, secara teknis, kau memang tidak membawanya ke rumah sakit saat kalian tahu ada yang salah," Marco mengangkat bahu. "Kau mengambil jalur pintas menuju apartemenmu, Ken. Kau tidak bisa menyalahkannya jika dia merasa kau mengambil keuntungan."

Kensington meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja kayu. "Aku juga di bawah pengaruh obat itu, Marco! Tapi bukan itu yang membuatnya paling marah. Dia bertanya apakah aku mencintainya. Dan aku hanya jujur bahwa aku tidak tahu apa itu cinta."

"Goblok," umpat Marco spontan.

Kensington mendongak, matanya berkilat berbahaya. "Apa katamu?"

"Kau memang jenius dalam hukum, tapi kau bodoh dalam urusan manusia, Ken. Kau tidak bisa meniduri seorang gadis perawan, lalu saat dia bertanya soal perasaan, kau menjawab 'cinta itu membosankan'. Kau baru saja menghancurkan martabatnya, dan kemudian kau menghancurkan harapannya di saat yang sama. Kau memberinya luka ganda."

Kensington terdiam. Kata-kata Marco menghantam bagian dari dirinya yang tidak ingin ia akui. Ia teringat wajah Audrey yang hancur saat di kamar nya.

"Aku ingin memperbaikinya," gumam Kensington.

"Perbaiki dengan cara apa? Membelikannya berlian? Dia Audrey."

Ponsel Kensington tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi dari forum internal kampus yang dikelola mahasiswa hukum—tempat di mana data kehadiran dan jadwal sering bocor secara informal. Nama Audrey Hepburn tertera di sana dengan status: Cuti Akademik Sementara (1 Minggu).

Kensington berdiri dengan sangat cepat hingga kursinya terjatuh ke belakang. "Dia pergi."

"Siapa?"

"Audrey. Dia mengambil cuti. Dia melarikan diri dariku," ucap Kensington dengan rahang yang mengeras. Rasa cemas yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayap di dadanya, mencekik egonya yang selama ini agung.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kensington berlari menuju parkiran. Ia melesat dengan mobilnya menuju asrama mahasiswi.

...****************...

Audrey baru saja keluar dari gerbang asrama dengan koper di tangannya ketika sebuah mobil sport hitam yang sangat ia kenal mengerem mendadak di depannya, menciptakan suara decitan ban yang memekakkan telinga.

Pintu terbuka, dan Kensington keluar dengan napas memburu. Penampilannya berantakan—kemeja yang tidak dimasukkan dengan rapi dan rambut yang acak-acakan.

"Mau ke mana kau?" tanya Kensington, suaranya terdengar menuntut namun ada nada getar di dalamnya.

Audrey menatapnya datar, tidak ada ketakutan lagi di matanya. Hanya ada kekosongan. "Bukan urusanmu, Kensington. Aku sudah mengambil cuti. Aku ingin pulang."

"Pulang ke mana? Ke rumah mantan kekasih SMA-mu itu?" tuduh Kensington, egonya kembali mengambil alih karena rasa takut kehilangan.

"Jangan bawa-bawa Sander! Aku pergi karena aku ingin menjauh darimu! Kau adalah racun, Kensington. Kau bilang kau serius, tapi kau hanya ingin memuaskan rasa penasaranmu akan sebuah 'tantangan'. Aku tidak ingin menjadi bagian dari eksperimen novelmu lagi."

Kensington melangkah maju, mencengkeram lengan Audrey, mencoba menahan gadis itu.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang terjadi semalam! Aku bertanggung jawab atasmu, Audrey. Aku ingin kau tetap di sini, di bawah pengawasanku!"

"Tanggung jawab?" Audrey tertawa pahit, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tanggung jawab macam apa? Menjadikan aku wanita simpananmu yang cantik? Menunggumu sampai kau merasa bosan dan pindah ke 'buku' yang lain? Lepaskan aku, Kensington. Kau menyakitiku."

"Aku tidak akan melepaskanmu!" bentak Kensington. "Kau sudah menjadi milikku. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu, dan kau tidak boleh pergi ke mana pun tanpa izinku!"

"Aku bukan barang milikmu!" Audrey berteriak membalas, ia menyentakkan lengannya hingga terlepas. "Kau bilang kau tidak suka sesuatu yang sudah disentuh orang lain? Kalau begitu anggap saja aku sudah rusak! Anggap saja aku sudah hancur dan kau tidak menginginkanku lagi! Biarkan aku pergi!"

Suasana di depan gerbang asrama menjadi sangat tegang. Beberapa mahasiswa yang lewat mulai berhenti dan berbisik-bisik melihat pertengkaran pria populer tersebut.

Kensington terdiam, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap Audrey yang menangis sesenggukan di depannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kensington Valerio merasa benar-benar tidak berdaya. Ia memiliki semua uang, kuasa, dan ketampanan, namun ia tidak bisa mencegah gadis ini untuk membencinya.

"Audrey... aku hanya ingin kau di sini," suara Kensington melembut, hampir terdengar seperti permohonan yang putus asa.

"Dan aku hanya ingin kau hilang dari hidupku," balas Audrey lirih. Ia menarik kopernya, berjalan melewati Kensington yang masih berdiri terpaku.

Audrey tidak menoleh lagi. Ia masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Dari balik kaca jendela yang buram, ia melihat sosok Kensington yang semakin mengecil, berdiri sendirian di tengah jalan, tampak hancur dalam keangkuhannya sendiri.

Kensington hanya bisa menatap taksi itu menjauh. Ia merasakan sesuatu di dadanya—sebuah rasa sakit yang sangat nyata, yang tidak pernah ia temukan deskripsinya di dalam ribuan novel yang pernah ia baca. Ia baru saja menyadari bahwa ia mungkin tidak tahu apa itu cinta, tapi ia mulai memahami apa itu kehilangan.

Dan bagi seorang Valerio, kehilangan adalah hal yang paling tidak bisa diterima.

Permainan ini belum berakhir, namun kali ini, Kensington sadar bahwa ia harus mengorbankan lebih dari sekadar egonya untuk membawa Audrey kembali. Ia harus menghadapi monster di dalam dirinya sendiri sebelum ia benar-benar menghancurkan satu-satunya hal yang ternyata ia butuhkan lebih dari sekadar kepemilikan.

1
Thee-na Tooth
lagi dong kak
Zahra Alifia Hidayat
Yo bapakmu itu yg jadi nyamuk raksasanya max
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
untung tersesatnya di toilet toko perhiasan coba klo tersesatnya di kedai kopi late alamat GK tau jalan pulang wkwkwk🤣🤣🤣
Ros 🍂: Hahhaa bahaya kalo nyasar kesana ya kak🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astagaaa,, kmna ken yg dingin dan angkuh itu dreyyy,,, knp skrng dia sengklek,,, 🤣
Ros 🍂: mabuk cinta kak🤣🤣🤣🤣😘
total 1 replies
Almeera
tinggalin jejak duluuuuuuuu yaaaa nyicil aku maraton kerja duluuu
Ros 🍂: Hehe siap Kak🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
ingat Ken segera lenyapkan si kopi late lagian jadi cowok tuh harus bisa mengendalikan senjatanya ini malah tercelup ke kopi late🤭
Ros 🍂: Late Vera kak, Bukan Latte Coffee 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ,,,terharu aku thor😍😍😍
Ros 🍂: Huhuhu semoga Suka ya kak🫶🥰
happy reading 😍
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pantesan Ken gendeng wong bapaknya klo ngasih saran diluar Nurul moga kegendengan mereka menurun ke max kelak🤭🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: hahhaa Daddy Felix asline kalem kak🤭🤣
total 1 replies
Murnia Nia
lagi seru ni ceritanya
Ros 🍂: ma'aciww komentar nya ya kak🫶
total 1 replies
Murnia Nia
lanjut thor
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Thee-na Tooth
puas bacanya kak,,,
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
Ros 🍂: Ma'aciww kak 🫶🫶😘
semoga kakak juga sehat selalu 🥰
total 1 replies
winpar
lgi kk 💪💪💪💪
Ros 🍂: sama-sama kak🫶
total 3 replies
Thee-na Tooth
ayoo up lagi🤭
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
Ros 🍂: Besok ya kak🫶 ditunggu 😍
total 1 replies
Thee-na Tooth
Alurnya bagus banget,,,
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
Ros 🍂: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
sehat selalu ya kak😘
total 1 replies
Thee-na Tooth
semangat up kakak,,,
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭
Ros 🍂: uuuwwwwwhh 🫶🫶🫶
ma'aciww ya kak, sehat Selalu 🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes tambah gendeng ini Bang Ken,tak tunggu kegendenganmu selanjutnya Bang🤣🤣🤣
Ros 🍂: Nular Ya kak bucinnya 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Gen valerio,, awal2 dingin, angkuh,, begitu bucin setrezzzz,,, bikin esmosi!! Mom kim&dad felix ceritanya judulnya apa thor??
Ros 🍂: hihihi Rekomendasi baca "The End Of Before" kak, Ndak kalah seru🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk knl cinta,, gk percaya cinta sekalinya cinta gueenndennng kowe ken,,, bisa2nya pengen jd simpanan,, emg mau di simpan dimna,, badanmu kn segedhe gaban,,, 😄
Ros 🍂: hahaha Dia senang jadi simpanan kak🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Q suka kalo para wanita2 itu sudah mengumpat,,, seperti briella kalo ngumpat fasih banget,,, "bringsiikkk" 🤣🤣
Ros 🍂: wkwkw iya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gini ni klo jatuh cintanya datengnya terlambat jadi rada sinting kan?wes sak karepmu lah Ken Ken perutku kaku bacanya karena dirimu terlalu lawak.klo MBK Audrey ya GK mau mending jadi simpenanku Bang Ken🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: semoga suka cerita nya kak🫶
Happy reading 🥰
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!