Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Siswa Terlemah vs Murid Jenius
Pandangan Sinis Semua Orang
Hari kedua di Akademi Bintang Utara. Suara lonceng raksasa bergema tujuh kali, memecah keheningan pagi yang dingin. Itu adalah tanda dimulainya upacara penyortiran bakat, momen paling penting bagi setiap murid baru. Di sini, nilai seseorang ditentukan. Di sini, posisi, hak istimewa, dan masa depan seseorang diputuskan hanya dalam hitungan detik.
Di halaman utama yang sangat luas, ribuan murid baru berbaris rapi. Di depan mereka, berdiri para guru dan tetua akademi dengan wajah kaku dan penuh wibawa. Di tengah panggung, terdapat sebuah batu raksasa berwarna pelangi yang memancarkan cahaya redup — Batu Pengukur Bakat. Semakin terang warnanya dan semakin tinggi cahayanya naik, semakin tinggi pula tingkat bakat dan kekuatan orang tersebut.
Di ujung barisan paling belakang, Xue Ying berdiri diam. Ia mengenakan seragam murid baru yang berwarna abu-abu kusam, seragam yang menjadi ciri mereka yang belum dinilai. Di dadanya, Batu Sinyal dari Ren terasa hangat, seolah ikut berdetak kencang seirama dengan jantungnya.
"Ren... aku berjanji akan menahan diri. Aku tidak akan memamerkan semuanya. Aku akan menyembunyikan potensiku sampai waktunya tiba. Tapi melihat tempat ini... rasanya sangat pahit."
Di sebelahnya, berdiri seorang pemuda kurus berwajah polos namun tampak gugup setengah mati. Namanya Xiao An, pemuda dari desa terpencil yang sama sekali tidak punya latar belakang kuat. Ia melirik Xue Ying dengan pandangan iba.
"Nona Xue... kau harus hati-hati nanti," bisik Xiao An pelan. "Kau cantik, tapi pakaianmu sederhana, dan kemarin kau sempat bertengkar dengan Li Hao... Aku dengar, penilai utama hari ini adalah Paman dari Li Hao sendiri, Guru Meng. Dia sangat kejam dan pilih kasih. Kau pasti akan sulit dapat nilai bagus."
Xue Ying tersenyum tipis, berusaha menenangkan pemuda itu. "Terima kasih peringatannya, Xiao An. Aku akan berhati-hati."
Suara lantang Guru Meng memecah pembicaraan mereka. Pria paruh baya berwajah keras itu melangkah maju, matanya menyapu seluruh murid baru dengan pandangan meremehkan, persis seperti keponakannya.
"Dengar baik-baik kalian semua! Di Akademi Bintang Utara, tidak ada tempat untuk orang lemah, tidak ada tempat untuk sampah, dan tidak ada belas kasihan! Nilai dari Batu Pengukur adalah kebenaran mutlak! Mereka yang berbakat tinggi akan menjadi bintang, mendapatkan teknik hebat, sumber daya berlimpah, dan rasa hormat. Mereka yang bernilai rendah... akan menjadi debu, hidup menderita, bekerja kasar, dan dilupakan semua orang!"
Guru Meng menunjuk ke arah barisan depan.
"Baik, kita mulai! Yang pertama... Lin Feng!"
Seorang pemuda gagah berjalan maju dengan kepala tegak. Ia adalah putra kepala klan besar di wilayah timur, dikenal sebagai jenius sejak kecil. Ia meletakkan tangan di atas batu.
WUUUSSS!!!
Cahaya keemasan menyala terang, menjulang tinggi hingga melewati ketinggian sepuluh meter, dan memancarkan warna merah, oranye, hingga kuning.
"Bakat Tingkat Tinggi! Tingkat Sembilan!" seru petugas pembaca nilai.
Seluruh halaman riuh rendah dengan kekaguman.
"Jenius sejati! Pantas saja!"
"Masa depan akademi ada di tangannya!"
"Lihat cahayanya... sangat menyilaukan!"
Lin Feng menurunkan tangannya dengan bangga, melirik sekeliling dengan tatapan angkuh seolah semua orang di bawah kakinya. Ia menoleh ke arah sekelompok murid elit yang berdiri di samping panggung, dan mereka pun mengangguk hormat kepadanya.
Selanjutnya, giliran murid-murid lain. Ada yang mendapatkan tingkat menengah, ada yang tingkat rendah. Namun setiap kali ada yang bernilai rendah, suara cemoohan dan tawa mengejar terdengar di mana-mana.
"Dasar sampah, buang-buang waktu saja!"
"Paling-paling cuma jadi kuli angkut batu nanti!"
"Pergilah, jangan kotori pandangan kami!"
Suasana hati Xue Ying semakin berat. Ia melihat betapa kejamnya dunia ini. Bakat ditentukan sejak awal, dan mereka yang dianggap lemah langsung dicap seumur hidup, tanpa kesempatan membuktikan diri.
Tak lama kemudian, giliran Li Hao tiba. Ia berjalan maju sambil melirik ke arah Xue Ying dengan senyum miring dan jahat. Ia tahu persis apa yang akan terjadi pada gadis itu.
Li Hao meletakkan tangannya. Cahaya kuning naik hingga lima meter. "Bakat Tingkat Menengah! Tingkat Lima!"
"Wah! Hebat Li Hao!"
"Pantas saja berani sombong, ternyata bakatnya lumayan!"
"Murid elit selanjutnya nih!"
Tepuk tangan terdengar riuh. Guru Meng tersenyum puas, mengangguk bangga ke arah keponakannya. Li Hao melewati Xue Ying, berhenti sebentar, dan berbisik dengan suara yang cukup keras agar orang sekitar mendengar.
"Nanti lihat saja ya, Nona Cantik. Kau akan tahu betapa sakitnya menjadi yang terbawah. Kau akan berlutut minta ampun padaku nanti."
Akhirnya, nama Xue Ying dipanggil.
"Selanjutnya... Xue Ying!"
Semua mata tertuju padanya. Bukan karena penasaran, tapi karena banyak yang sudah mendengar kabar kemarin. Gadis yang berani melawan Li Hao kini akan dihakimi di depan umum.
Xue Ying melangkah tenang mendekati batu raksasa itu. Di dalam hatinya, ia mendengar suara Ren lewat ikatan batin, lembut namun tegas:
"Tunjukkan nilai terendah, Xue Ying. Biarkan mereka menghina. Semakin mereka meremehkan, semakin dahsyat kejutan yang akan kau berikan nanti."
Xue Ying menarik napas panjang, lalu menyalurkan energi yang sengaja ia tahan, menekan kekuatan murni dari darah Hong dan Naga itu hingga hampir lenyap, hanya menyisakan sedikit energi tipis layaknya orang biasa.
Ia meletakkan telapak tangan di permukaan batu.
Hening.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Hanya muncul cahaya abu-abu yang redup, kecil, dan tidak bergerak naik sama sekali. Tingginya hanya setinggi satu jari dari permukaan batu.
Petugas pembaca nilai terdiam kaget, lalu berbicara dengan nada jijik dan keras.
"Bakat Tingkat Terendah! Tingkat Satu!"
HAH?!
Seluruh halaman meledak dengan suara tawa dan cemoohan yang memekakkan telinga!
"Tingkat Satu?! Hahahaha! Aku tidak salah dengar kan?!"
"Dasar gadis sampah! Berani-beraninya melawan Li Hao padahal bakatnya paling bawah!"
"Masuk saja ke lubang sampah sana! Tingkat satu itu sama saja tidak punya bakat!"
"Sudah cantik tapi tidak berguna! Cuma jadi hiasan saja dia!"
Suara-suara ejekan itu datang dari segala arah. Dari murid baru, dari murid lama, bahkan dari beberapa guru yang menggeleng-gelengkan kepala seolah jijik.
Li Hao tertawa paling keras, menunjuk-nunjuk ke arah Xue Ying. "Lihat kan?! Aku bilang apa?! Dia cuma sampah! Cuma berani karena nekat! Sekarang lihat dirimu! Siswa terlemah seangkatan!"
Guru Meng tersenyum sinis, berjalan mendekati Xue Ying dengan pandangan penuh penghinaan.
"Kau gadis kecil... kemarin kau bertindak sombong dan kasar pada murid elit. Kukira kau punya bakat luar biasa. Ternyata cuma Tingkat Satu? Tingkat yang bahkan kuli pengangkut air di desa pun lebih tinggi dari ini!"
Guru Meng berbicara dengan suara lantang agar semua orang mendengar.
"Dengar semuanya! Mulai hari ini, Xue Ying dicatat sebagai murid peringkat terbawah. Dia tidak berhak masuk asrama utama, tidak berhak mengikuti pelajaran umum, tidak berhak mendapatkan suplemen atau obat-obatan. Tempatmu ada di Gudang Barang Tua, di bagian paling bawah gunung. Di sana kau akan membersihkan sampah dan mengurus kotoran sampai kau sadar diri!"
Cemoohan semakin menjadi-jadi.
"Pantas saja! Itu hukuman yang pas!"
"Gadis cantik pengangkut sampah! Hahaha!"
"Sia-sia saja wajahnya cantik, otak dan bakatnya nol besar!"
Xue Ying berdiri diam di tengah lautan penghinaan itu. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Rasa sakit di hatinya bukan karena mereka menghina dirinya, tapi karena mereka meremehkan harga diri yang ia bawa atas nama Ren.
Ia menundukkan kepala, menyembunyikan kilatan dingin di matanya. Di dalam tubuhnya, energi putih bersih bergejolak marah, ingin sekali meledak keluar dan memusnahkan semua orang yang menertawakannya ini. Tapi ia menahannya. Demi janji. Demi masa depan.
"Tertawalah... hina saja aku hari ini," batin Xue Ying bergetar menahan amarah. "Hari ini aku adalah siswa terlemah di matamu. Tapi tunggu saja... hari akan berubah. Dan saat itu tiba... kalian semua akan berlutut memohon belas kasihanku."
Di ujung sana, Xiao An menunduk sedih, tidak berani menatapnya. Ia sendiri hanya mendapatkan tingkat dua, juga dicap hampir sampah. Sementara itu, sang jenius Lin Feng melirik sekilas dengan pandangan dingin dan acuh tak acuh, seolah Xue Ying hanyalah debu tak berarti yang tidak pantas ada di hadapannya.
"Sudah selesai! Bawa dia ke tempat sampah itu!" usir Guru Meng dengan melambaikan tangan seolah mengusir lalat.
Xue Ying berbalik perlahan. Di bawah pandangan sinis, tatapan meremehkan, dan tawa mengejek ribuan orang, ia berjalan menjauh, menuruni tangga megah akademi itu, berjalan menuju tempat paling rendah, paling kotor, dan paling sepi di Akademi Bintang Utara.
Namun, langkah kakinya tidak gemetar. Di dadanya, Batu Sinyal bersinar terang dan panas, mengirimkan kekuatan dari ribuan li jauhnya.
"Xue Ying... rasa sakit ini, penghinaan ini... simpan semuanya. Jadikan itu jejak langkahmu menuju puncak. Biarkan mereka tertawa hari ini. Besok, mereka akan gemetar melihatmu terbang tinggi."
Xue Ying menggenggam benda kecil itu erat-erat, menanamkan setiap wajah yang menertawakannya hari ini ke dalam ingatannya.
Dunia ini memang kejam. Di sini, bakat adalah segalanya. Di sini, yang lemah tidak punya suara.
Tapi mereka lupa satu hal: Bakat bisa ditempa. Kekuatan bisa dicuri dari langit dan bumi. Dan tekad cinta... jauh lebih kuat dari bakat apa pun di dunia ini.
Perjalanan terberat Xue Ying baru saja dimulai. Dari titik terendah, ia akan mendaki, satu per satu, melewati semua jenius yang meremehkannya, melewati semua aturan yang mengekangnya, sampai ia berdiri di tempat tertinggi dan berteriak pada dunia: Aku bukan sampah. Aku adalah wanita yang dicintai dan dijanjikan oleh calon penguasa dunia.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭