NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Menu Spesial Hari Ini

Rasa canggung yang sempat menggelitik tengkuk Savya perlahan mencair, digantikan oleh ritme kerja yang tak terduga. Valerius benar-benar menepati ucapannya. Pria itu tidak hanya berdiri tegak memandangi seisi kedai, melainkan ikut bergerak aktif di dalam ruang sempit di balik meja bar Thalassa Coffee.

"Bukan begitu cara memegang nampannya, Vale," tegur Savya setengah berbisik, menghentikan gerakan tangan Valerius yang hendak mengangkat tiga cangkir kosong sekaligus.

Savya melangkah mendekat, tanpa sadar mengikis jarak di antara mereka. Ia meraih tepi nampan kayu tersebut, memposisikan jemari Valerius agar bertumpu pada bagian bawah yang lebih stabil. "Gunakan telapak tanganmu untuk menahan beban di tengah, baru jarimu menyeimbangkan di pinggir. Kalau seperti tadi, cangkirnya bisa tergelincir."

Valerius tidak langsung menarik tangannya. Ia membiarkan jemari Savya menyentuh kulit punggung tangannya selama beberapa detik, menghantarkan sekelumit rasa hangat yang membuat Savya buru-buru menarik diri.

"Belajar dari ahlinya ternyata membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi," sahut Valerius datar, namun sepasang netra gelapnya menatap Savya dengan binar jenaka yang teramat tipis. "Tapi kurasa aku mulai menguasainya."

Savya hanya mendengus pelan, berusaha mengabaikan debaran aneh di dadanya dengan kembali menyalakan mesin espresso.

Menjelang siang, ketenangan Thalassa Coffee mulai terusik oleh serbuan pelanggan. Pintu kedai berulang kali berdenting nyaring, menampilkan serombongan remaja wanita berseragam sekolah yang tampaknya baru saja menyelesaikan jam ujian mereka. Suasana kedai seketika riuh oleh tawa dan obrolan khas anak muda.

Namun, keriuhan itu mendadak senyap begitu gerombolan remaja tersebut berbaris di depan meja kasir. Mata mereka serempak tertuju pada sosok pria jangkung bercelemek hitam yang sedang fokus mengelap permukaan bar dengan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku.

"E-eh... permisi," cicit salah satu remaja perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Ia menyenggol lengan temannya sambil berbisik heboh yang sialnya masih bisa terdengar jelas. "Gila, ganteng banget! Ini barista baru ya? Auranya kayak CEO di webtoon yang sering kubaca!"

"Kak, mau pesan matcha latte satu... sama boleh tahu nama Kakak yang di sebelah sana siapa?" tanya temannya yang lain, terang-terangan menunjuk Valerius dengan pipi yang merona merah.

Savya yang sedang menginput pesanan di mesin kasir menahan senyum gelinya. Ia melirik Valerius yang mendadak menghentikan kegiatannya. Pria itu menoleh, menatap datar ke arah rombongan remaja tersebut tanpa ekspresi ramah sedikit pun, khas seorang pegawai kantoran yang kaku jika dihadapkan dengan anak sekolahan.

"Nama saya Valerius. Ada tambahan pesanan lain?" jawab Valerius formal, suaranya yang berat dan dalam sukses membuat para remaja itu saling mencubit gemas karena terpesona.

"N-nggak ada, Kak! Itu aja!" sahut mereka serempak, buru-buru membayar dan berjalan ke meja sudut sambil terus mencuri pandang ke arah meja bar.

Savya menggeleng-gelengkan kepalanya, menata cangkir di atas nampan sambil melirik Valerius dengan tatapan meledek. "Ternyata pesonamu bisa beralih fungsi jadi penarik pelanggan ya, Vale? Kurasa aku harus mempertimbangkan untuk menggajimu."

"Aku tidak menerima gaji dalam bentuk uang, Owner," balas Valerius tenang, berdiri tepat di samping Savya untuk membantu mengangkat nampan pesanan tadi. "Secangkir kopi hitam di jam tutup kedai sudah lebih dari cukup."

Kerja sama yang tidak biasa itu terus berlanjut hingga sore hari. Valerius terbukti sangat cekatan. Meskipun pembawaannya kaku dan irit bicara, dia tipe pekerja keras yang efisien. Savya bertugas meracik minuman, sementara Valerius dengan sigap mengantarkannya ke meja-meja pelanggan. Di mata orang awam, kekompakan mereka berdua di balik bar terlihat begitu serasi—seperti sepasang kekasih yang sedang mengelola bisnis bersama.

Saat jam menunjuk pukul empat sore, kedai mulai kembali lengang. Memanfaatkan momen itu, Valerius pamit ke belakang untuk membersihkan diri.

Begitu sosok tegap itu menghilang di balik lorong, suasana bar yang tadinya tenang seketika berubah. Arka, Farel, dan Sila langsung bergerak serentak, mengerubungi Savya yang sedang bersandar lelah di dekat mesin kopi.

"Mbak Savya a! Jujur ya, menu spesial kita hari ini tuh bukan kue baru!" seru Arka dengan cengiran usilnya yang paling lebar. "Tapi pemandangan Mas Valerius pakai celemek sambil diikatkan sama Mbak Savya a tadi pagi! Duh, manisnya melebihi takaran gula aren!"

"Betul, Mbak," timpal Sila, pura-pura mengipasi wajah Savya dengan buku menu. "Pantas saja Mbak Savya ya langsung membuat batasan menu kue dikurangi jadi tiga kali seminggu. Ternyata biar ada waktu luang untuk pacaran di balik bar, ya?"

Savya membelalakkan matanya, wajahnya seketika memanas mendengar godaan bertubi-tubi dari karyawannya. "Sila, Arka, jaga ya bicara kalian. Mas Valerius itu murni cuma mau membantu karena jadwalnya sedang senggang."

Farel yang biasanya kalem ikut menopang dagunya di atas meja bar, menatap sang bos dengan pandangan menggoda. "Membantu sih membantu, Mbak. Tapi cara Mas Valerius menatap Mbak Savya ya dari tadi itu beda. Kayak pegawai kantoran yang lagi memperjuangkan bonus tahunan dari atasannya—penuh keseriusan."

Bahkan Mika yang baru keluar dari dapur sambil membawa wadah es batu ikut menyahut dengan ritme bicaranya yang lambat namun menohok. "Tadi... Mas Valerius... liat Mbak Savya ya... seperti liat masa depan. Serius, Mbak."

"Mika! Kamu juga ikutan?" protes Savya, benar-benar mati kutu. "Awas ya, kalau kalian masih tidak berhenti mengada-ada, bonus bulanan kalian bulan ini akan aku potong sepuluh persen!"

Anak-anak kedai bukannya takut, malah tertawa puas melihat sang pemilik kedai yang biasanya tegas kini mendadak panik dengan pipi yang memerah sempurna.

Langkah kaki yang teratur menyudahi tawa riuh di area bar. Valerius kembali dengan penampilan yang sudah rapi. Celemek hitamnya sudah dilepas, menggantinya dengan mantel panjang yang kembali tersampir gagah di tubuhnya.

Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu beralih menatap langit di luar jendela kedai yang mulai menampakkan semburat jingga.

"Kurasa bantuan magangku harus selesai sampai di sini, Savya," ucap Valerius, berjalan mendekat ke arah meja kasir.

Savya berdehem, berusaha menetralkan sisa-sisa salah tingkahnya akibat godaan anak-anak kedai tadi. "Ah, iya. Ini juga sudah sore. Kamu ada urusan lain setelah ini, Vale?"

Valerius mengangguk pelan. "Besok pagi ada shift kerja awal di kantor. Sore ini aku harus pulang ke rumah lebih cepat sebelum hari mulai gelap, karena ada beberapa berkas evaluasi mingguan yang harus ku persiapkan dan ku periksa malam ini."

"Oh, begitu... terima kasih banyak ya untuk hari ini. Kamu benar-benar sangat membantu," ucap Savya tulus, memberikan senyuman kecil yang kali ini terlihat alami tanpa paksaan.

Valerius menatap senyuman itu lekat-lekat, membuat Savya kembali menahan napasnya. Sebelum melangkah pergi menuju pintu keluar, Valerius menundukkan kepalanya sedikit, berbisik dengan nada yang teramat rendah namun berhasil membuat jantung Savya berdegup liar kembali.

"Sama-sama, Owner. Menu spesial hari ini... ternyata tidak sebanding dengan manisnya pemilik kedai."

Valerius berbalik dan berjalan keluar dari kedai dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Bersamaan dengan denting lonceng pintu yang menandai kepergian pria itu, suara sorakan heboh dan siulan menggoda dari Arka dan Farel langsung meledak di dalam Thalassa Coffee, membuat Savya buru-buru menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus di balik papan menu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!