Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam semakin larut, namun udara di dalam kabin mobil sport hitam itu terasa lebih mencekam daripada kegelapan di luar.
Mesin meraung rendah saat Vivian mengambil alih kemudi. Ia tahu, dalam kondisi mental yang hancur berkeping-keping seperti sekarang, membiarkan Kensington menyetir sama saja dengan memesan tiket menuju kematian.
Kensington bersandar di kursi penumpang, kepalanya menoleh ke arah jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang membias menjadi garis-garis cahaya yang buram.
Keheningan itu pecah sesekali oleh kekehan kecil—suara tawa yang kering, hampa, dan penuh racun yang merusak jiwanya sendiri.
"Vivian..." panggil Kensington lirih, masih dengan tatapan kosong ke arah jalanan.
"Hmm?" sahut Vivian pendek. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat, matanya fokus pada aspal.
"Kau percaya dia hamil anakku?"
Vivian menarik napas tajam, dadanya terasa sesak. "Aku bukan peramal, brengsek! Jangan tanya aku soal itu!"
Kensington kembali terkekeh, kali ini lebih keras, namun terdengar seperti isakan yang tertahan. "Bisa-bisanya dia mengatakan itu. Dia mengucapkan kalimat 'aku hamil' saat dia masih berada di ranjang yang sama... di atas sprei yang masih berantakan karena bekas bercintanya dengan pria lain. Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan."
Vivian melirik sekilas ke arah sahabatnya. Ia melihat rahang Kensington yang mengeras dan mata peraknya yang mulai memerah.
"Kau akan menyesal nanti, Ken. Kau tahu benar bagaimana keadaan malam itu. Bisa jadi itu memang anakmu."
"Tidak!" bentak Kensington tiba-tiba, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil. "Aku sendiri yang akan membunuh anak itu kalau memang itu anakku! Aku tidak sudi darah Valerio mengalir di rahim wanita yang membiarkan pria lain menyentuhnya tepat setelah aku. Aku tidak sudi!"
Vivian tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan. "Dasar gila. Kau memang monster, Kensington. Kau yang menghancurkannya, kau yang memaksanya ke titik nadir, dan sekarang kau mengutuk kehidupan yang mungkin kau ciptakan sendiri? Kau benar-benar gila."
Kensington terdiam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Di balik kelopak matanya, bayangan Audrey yang menatapnya dengan penuh kemenangan pahit kembali muncul. Ia merasa seolah-olah hatinya sedang disayat oleh pisau tumpul secara perlahan. Rasa sakit itu nyata, namun egonya menolak untuk mengakuinya sebagai cinta.
Sementara itu, di rumah kecil yang kini terasa seperti penjara bawah tanah, suasana tidak kalah hancur. Kamar Audrey masih berantakan, pintu yang jebol menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang gadis yang dulunya menjadi kebanggaan.
Sarah, sang ibu, berdiri di ambang pintu dengan wajah yang layu. Kekecewaan telah merenggut seluruh energinya. Ia menatap Audrey yang duduk meringkuk di lantai, memeluk perutnya sendiri dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
"Lalu siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu, Audrey?" tanya Sarah, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak. "Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menjadi murahan seperti ini. Anak Sander? Atau pria yang baru saja menendang pintu ini? Katakan padaku!"
Audrey mendongak dengan wajah yang sembab. "Aku akan menggugurkannya, Bu. Aku akan membuangnya malam ini juga jika aku bisa."
"Apa kau gila?!" Sarah melangkah maju, suaranya kembali meninggi. "Kau pikir aku tidak bisa membesarkan cucuku sendiri? Lahirkan dia! Jangan jadi pengecut yang hina dengan membunuh nyawa. Kau sudah melakukan kesalahan, jangan jadi Hina dengan menjadi pembunuh!"
"Ini tidak adil!" teriak Audrey. Ia meraung-raung, suaranya pecah menjadi tangisan yang menyayat hati. "Kenapa semua ini terjadi padaku? Aku hanya ingin belajar, aku hanya ingin sukses! Kenapa Tuhan membiarkan pria monster itu menghancurkanku?!"
Audrey memukul-mukul lantai dengan tangannya hingga memar. "Oh Tuhan... cabut saja nyawaku sekarang! Aku tidak sanggup!"
Sarah tidak mendekat untuk memeluknya. Ia hanya berdiri di sana, menatap putrinya dengan tatapan yang hancur. "Kau yang memilih jalan ini, Audrey. Sekarang, jalani konsekuensinya."
Setelah ibunya pergi, Audrey tersungkur di lantai dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari oksigen di tengah isak tangisnya. Ia menyentuh perutnya lagi.
Di sana, di dalam rahim yang ia kutuk, mungkin ada sebuah kehidupan yang tidak berdosa—sebuah kehidupan yang merupakan perpaduan antara kehancuran dan keangkuhan.
"Kau harus kuat, Audrey," bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra yang terdengar menyedihkan. "Kau sudah kehilangan segalanya. Kau kehilangan kesucianmu, kau kehilangan kepercayaan ibumu, dan kau kehilangan harga dirimu di depan pria itu. Tapi kau tidak boleh kehilangan akal sehatmu."
Ia teringat kata-kata Kensington yang menyebutnya "murahan". Kata itu seperti belati yang tertancap permanen di dadanya.
"Jangan menangis untuk pria yang bahkan tidak ingin kau bernapas. Jika dia menyebutmu murahan, maka jadilah mahal dengan cara tidak membiarkan dia menyentuh air matamu lagi. Jika dia tidak menginginkan anak ini, maka anak ini adalah milikmu sepenuhnya. Kau tidak butuh darah Valerio untuk bertahan hidup."
Di sisi lain kota, di dalam mobil yang melaju kencang, Kensington juga sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ia merasa terluka—sangat terluka hingga ia ingin merobek dadanya. Ia merasa dikhianati, meski ia sendiri yang memulai pengkhianatan itu.
"Aku benci padamu, Audrey," batin Kensington. "Aku benci karena kau adalah satu-satunya orang yang berhasil membuatku merasa sekecil ini. Aku benci karena aku hampir menyerahkan hatiku pada wanita yang ternyata bisa tidur dengan pria lain hanya untuk membalas dendam padaku."
Dua jiwa yang hancur itu kini berada di jalur yang berbeda. Yang satu meratapi nasib di lantai kamar yang dingin, dan yang satu lagi melarikan diri dalam kemewahan yang terasa hampa.
Di tengah-tengah mereka, ada sebuah rahasia kecil yang sedang tumbuh, sebuah nyawa yang kehadirannya ditolak oleh sang ayah dan dikutuk oleh sang ibu.
Malam itu, Los Angeles dan kota kecil itu disatukan oleh satu hal yang sama: isak tangis dua manusia yang terlalu Angkuh untuk saling memaafkan, namun terlalu hancur untuk saling melupakan. Tragedi ini baru saja memasuki babak yang paling kelam, di mana setiap kata penyemangat diri hanyalah perban tipis di atas luka yang menganga sangat lebar.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭