NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Teratai Di Atas Abu

Bab 26 — Pembunuh di Atas Atap

Cahaya bulan purnama memutihkan ubin genteng di atap utama Sekte Gunung Awan Putih. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma hutan yang lembap, namun hawa yang menyelimuti tempat itu bukan sekadar dingin biasa—melainkan hawa kematian yang pekat, menusuk hingga ke sumsum tulang.

Lian Hua berdiri tegak, tangannya perlahan menggenggam gagang pedang kayu di punggung. Di hadapannya, sosok berjubah hitam itu masih diam, matanya yang merah redup menatap tajam ke dada Lian Hua, tepat di tempat liontin giok teratai tergantung. Suara parau yang baru saja diucapkannya masih terngiang di telinga, menusuk langsung ke dalam hati.

“Kau utusan Menara Darah Hitam?” tanya Lian Hua pelan, suaranya datar namun bergetar oleh amarah yang tertahan lama. Darah di tubuhnya mulai mendidih, ingatan akan malam pembantaian, api yang membakar kediaman leluhur, dan jeritan kerabat yang tewas di tangan orang-orang ini kembali berputar jelas di benaknya.

Sosok itu tertawa kecil, suara rendah dan kering seolah gesekan besi berkarat. Ia melangkah maju selangkah, jubah hitamnya berkibar tak tersentuh angin. “Anak kecil yang membawa warisan teratai... kau tumbuh lebih besar dari dugaan kami. Bahkan berani menampakkan kekuatanmu di depan umum. Kau pikir sekte ini akan menjadi perisai bagimu? Bodoh. Tempat ini pun kelak akan kami jadikan abu, sama seperti kediaman klanmu ratusan tahun silam.”

Tanpa aba-aba, sosok itu bergerak. Tubuhnya lenyap sekejap, hanya menyisakan bayangan hitam yang melesat menembus udara. Di tangannya kini tergenggam sebilah belati pendek berwarna hitam pekat, berkilau dingin dan meneteskan cairan beracun yang menimbulkan asap tipis begitu menyentuh ubin genteng.

Gerakan itu jauh lebih cepat dan berbahaya dibandingkan siapa pun yang pernah dihadapi Lian Hua. Ini bukan lagi pertarungan antar murid, melainkan serangan pembunuh yang terlatih, yang hidup dan bernapas hanya untuk membunuh.

Lian Hua mundur cepat, Langkah Bayangan Teratai segera dijalankan hingga puncaknya. Tubuhnya berputar menyamping, menghindari tusukan belati yang nyaris menyambar dadanya. Bunyi gesekan tajam terdengar saat ujung senjata itu menembus bayangan sisa gerakannya.

“Cukup gesit,” gumam pembunuh itu. Suaranya terdengar di kanan dan kiri, seolah ada dua atau tiga sosok yang bergerak sekaligus. “Tapi di hadapan teknik Bayangan Darah Hitam kami, langkahmu itu hanyalah langkah anak kecil.”

Serangan demi serangan datang bertubi-tubi. Setiap tusukan, tebasan, atau hantaman telapak tangan membawa hawa jahat yang dingin dan meracuni meridian. Lian Hua terpaksa mundur terus, pedang kayunya berputar rapat menangkis dan menepis, menahan gelombang kekuatan yang luar biasa berat itu. Ubin genteng di sekelilingnya pecah berantakan, retakan menjalar ke segala arah, bekas serangan hitam beracun membakar jejak di mana saja.

Lian Hua merasakan tekanan yang mencekik napasnya. Lawan ini jauh lebih kuat dibandingkan Serigala Bulan Merah, bahkan melebihi para tetua sekte yang pernah dilihatnya. Tenaga dalamnya pekat, jahat, dan tak habis-habis, seolah bersumber dari lautan kegelapan yang dalam.

“Kau kira hanya dengan menjadi murid dalam kau sudah aman?” seru pembunuh itu sambil mengayunkan belatinya makin ganas. “Kekuatanmu ini belum seberapa. Warisan teratai di dadamu itu... sebaiknya kau lepaskan saja, sebelum aku merobeknya bersamaan dengan jantungmu.”

Lian Hua mengertakkan gigi. Darah segar menetes dari luka gores di lengannya, rasa panas dan mati rasa mulai menjalar. Ia tahu, jika ia terus bertahan dan hanya menghindar, ia akan kalah perlahan. Ia harus berbalik menyerang, harus menggunakan kekuatan sejati warisan leluhur—meski berarti membuka diri sepenuhnya di hadapan musuh.

“Kalian yang telah menghancurkan segalanya... dan sekarang masih berani datang mengancam nyawaku!” seru Lian Hua lantang. Matanya bersinar tajam, pola teratai di dadanya berdenyut kencang, memancarkan cahaya putih dan hitam yang lembut namun menusuk kegelapan.

Ia berhenti mundur. Kakinya menancap kuat di atas genteng yang retak. Seluruh tenaga dalamnya diputar balik sepenuhnya menurut alur Seni Teratai Langit. Pedang kayu di tangannya kini berkilau cahaya yang sama, seolah berubah menjadi senjata suci yang membasmi segala kegelapan.

“Teratai Mekar Menahan Langit!”

Cahaya mekar kembali, lebih terang dan lebih padat dibandingkan saat di arena pertarungan. Bayangan bunga teratai raksasa muncul di belakang punggungnya, kelopak-kelopak putih dan hitam berputar kencang, mendorong balik setiap serangan pembunuh itu seolah menepis debu.

Pembunuh itu terkejut hebat. Ia merasakan hawa suci yang menjadi musuh alami kekuatan Menara Darah Hitam menyambar sekujur tubuhnya, membuat aliran tenaganya kacau dan terhambat.

“Mustahil... dasar anak kecil, kau sudah menguasai intisari ilmu itu?!” serunya kaget dan marah. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, hawa hitam pekat meledak dari tubuhnya, berusaha menelan cahaya teratai itu. “Tetap saja kau harus mati! Sekarang, aku akan meremukkan tulang-tulangmu dan membawa kembali benda itu!”

Ia melompat tinggi, belatinya diangkat ke atas kepala, dikepung oleh awan hitam yang berputar kencang. Ia hendak menjatuhkan serangan pamungkas yang akan menghancurkan seluruh atap ini beserta isinya.

Lian Hua mengangkat pedang kayunya perlahan, napasnya panjang dan tenang. Di matanya tak ada lagi rasa takut, hanya tekad yang kokoh bagai gunung. Ia mengingat ajaran leluhur: Teratai tumbuh dari lumpur, bersih dan teguh, tak tergoyahkan oleh angin badai atau kegelapan malam.

“Datanglah... malam ini, darahmu akan membayar sebagian dari hutang masa lalu.”

Saat pembunuh itu jatuh ke bawah bagai bencana, Lian Hua melesat menyambutnya. Ia tak lagi menangkis atau menghindar. Pedang kayunya bergerak mengiris udara, membawa cahaya teratai yang membelah kegelapan.

Satu ayunan saja, sederhana namun memuat seluruh kekuatan raga, tenaga dalam, dan kebencian yang dipendam ratusan tahun.

Sret!

Suara irisan yang halus namun mengerikan terdengar, memotong deru angin malam.

Gerakan pembunuh itu terhenti seketika. Belati hitam di tangannya jatuh berdentang ke ubin. Tubuhnya yang gagah terbelah dua dari bahu hingga pinggang, luka yang rapi dan bersih, tak ada darah yang keluar seketika karena kekuatan yang memotongnya begitu cepat dan tajam.

Matanya yang merah itu melebar tak percaya, menatap pemuda di depannya yang masih berdiri tegak dengan pedang kayu berkilau. Mulutnya bergerak-gerak pelan, namun tak ada suara yang keluar. Ia jatuh terhempas ke samping, tubuhnya kehilangan seluruh tenaga kehidupan dalam sekejap.

Keheningan kembali menyelimuti atap utama. Angin malam kembali berhembus biasa, seolah tak ada apa pun yang terjadi.

Lian Hua berdiri diam, napasnya sedikit tersengal. Ia menyeka keringat dingin di dahinya, lalu perlahan melangkah mendekati mayat musuhnya. Ia harus memastikan siapa orang ini, dan apa yang bisa ia ketahui dari jenazahnya.

Ia berjongkok, memeriksa saku dan ikat pinggang jubah hitam itu. Tak ada surat, tak ada nama, tak ada tanda keanggotaan yang jelas. Namun saat ia membalikkan jenazah itu, di dada bagian dalam, tepat di dekat jantung, tertanam sebuah lencana logam kecil berwarna hitam legam.

Bentuknya aneh: sebuah mata bulat besar, terbuka lebar, dengan pupil yang berputar melingkar tak berujung. Di sekeliling mata itu terukir garis lengkung yang menyerupai sulur-sulur akar atau api yang meliuk-liuk.

Lian Hua mengambil lencana itu, memegangnya erat. Benda itu terasa dingin dan berat, memancarkan hawa jahat yang samar namun membuat bulu kuduk meremang. Ia belum pernah melihat atau mendengar simbol ini dalam catatan leluhur sekalipun.

Mata Hitam... batinnya bergumam. Apakah ini lambang baru dari Menara Darah Hitam? Atau ada kekuatan lain yang bergerak bersamanya? Atau mungkin... ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap di balik organisasi itu?

Ia menatap lencana itu lekat-lekat, matanya makin dalam dan serius. Kematian pembunuh ini bukan akhir, melainkan bukti nyata bahwa bahaya kini sudah berada tepat di depan pintu. Dan simbol mata hitam ini... adalah teka-teki baru yang mengerikan, yang mengisyaratkan bahwa musuhnya kini jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang pernah dibayangkannya.

Di bawah cahaya bulan yang mulai condong ke barat, Lian Hua menggenggam lencana itu erat di tangan, menyimpannya rapat bersama liontin warisannya. Di dadanya, tekadnya mengeras kembali.

Malam ini ia menang. Tapi ia tahu betul... ini hanyalah permulaan kecil dari badai besar yang sedang bergerak mendekat, dari arah yang jauh lebih gelap dan mengerikan.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!