NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DUA

Rakha mengangkat pandangannya lagi, menatap lurus ke arahnya. "Dengan kehilangan," jawabnya singkat, tanpa ragu. "Dan waktu... Banyak waktu."

Ia berhenti sejenak, menatap uap kopi yang nyaris habis. "Kita tidak pernah benar-benar terbiasa dengan rasa takut, Hani. Kita hanya belajar hidup berdampingan dengannya."

Kalimat itu menggantung di udara, pelan tapi dalam. Maharani menatapnya lama, mencoba memahami makna di balik nada suaranya yang tenang tapi berat.

"Kadang saya iri," katanya akhirnya. "Bapak bisa bicara seolah semua hal sulit itu... sudah selesai."

Rakha tersenyum samar, hampir tak terlihat.

"Tidak ada yang benar-benar selesai. Hanya saja, saya berhenti melawan hal-hal yang tidak bisa saya ubah."

Maharani menelan ludah, perlahan.

"Kalau begitu... mungkin saya belum sampai di tahap itu."

"Belum," jawab Rakha lembut. "Tapi kamu akan sampai. Cepat atau lambat."

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan.

"Yang penting, jangan berhenti mencoba tidur, jangan berhenti makan, dan jangan berhenti percaya kalau kamu masih bisa mulai dari awal."

Maharani menatapnya, dan kali ini tidak mengalihkan pandangan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa bergerak-bukan sekadar haru, tapi semacam kelegaan kecil yang baru ia sadari sudah lama tidak ia rasakan.

Rakha tersenyum kecil. "Kalau kamu masih sering terbangun malam-malam, bangunkan saja saya," katanya setengah bercanda. "Saya juga jarang tidur nyenyak."

Ucapan itu membuat Maharani mengerjap, lalu tertawa kecil, singkat tapi tulus. "Tawaran yang berbahaya, Pak."

Rakha membalas dengan senyum tipis. "Saya tidak keberatan dengan hal berbahaya... kalau alasannya cukup."

Untuk sesaat, mata mereka saling bertemu-dan waktu seolah berhenti di sana. Tidak ada yang bicara, tapi udara di antara mereka berubah; hangat, nyaris elektrik. Maharani cepat-cepat menunduk, pura-pura memotong sisa omelet di piringnya.

Rakha hanya mengamati dalam diam, dengan senyum samar di sudut bibirnya.

Ia tahu, tanpa perlu kata-kata-bahwa pagi itu, sesuatu telah bergeser di antara mereka.

Bukan hanya keakraban... tapi juga kepercayaan yang mulai tumbuh perlahan, hati-hati, dan nyata.

Rakha duduk di sisi meja bar, tangannya menggenggam cangkir kopi yang kini sudah mulai dingin. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya berkelana ke tempat lain-ke arah sosok di sampingnya. Maharani di pagi hari ternyata ujian terbesar untuknya. Maharani yang menggunakan kaus kebesaran miliknya-yang entah ia dapatkan dari mana, Maharani yang baru selesai mandi dan turun dengan rambut setengah basahnya, bahkan dari tempat duduknya Rakha bisa melihat Maharani tidak memakai bra, itu sangat tercetak jelas di kaus kebesarannya.

Maharani masih sibuk dengan sarapannya, tenang, seolah dunia luar tak sedang hancur menelannya. Rambutnya yang masih lembap jatuh menutupi sebagian wajah, meninggalkan aroma sabun yang samar memenuhi ruang dapur.

Ia menunduk, mencoba memusatkan perhatian pada pola uap kopi yang berputar di permukaan cangkir. Namun setiap kali pandangannya secara tak sengaja menangkap wajah Maharani, ia tahu dirinya berada di tepi jurang yang sama lagi-jurang antara kendali dan dorongan yang sulit ia pahami.

Rakha mengatupkan rahang, menegakkan tubuhnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela besar.

Ia menarik napas panjang, seolah mencoba menghapus semua pikiran yang mulai melenceng.

"Fokus," batinnya berdesis pelan. "Ingat tujuanmu, Rakha. Dia hanya alat untuk membalaskan dendam,"

Tapi bahkan kalimat itu tak cukup kuat untuk menenangkan gejolak di dalam dirinya.

Maharani menoleh tiba-tiba, menatapnya dengan mata lembut yang polos. "Pak Rakha?" panggilnya, pelan tapi cukup untuk memecah lamunannya.

Rakha segera menegakkan posturnya, menguasai ekspresinya yang hampir goyah. "Hm?" sahutnya tenang, meski nadanya sedikit berat.

Maharani tersenyum tipis. "Terima kasih untuk sarapannya."

Rakha menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. "Sama-sama. Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri," ujarnya datar namun lembut. Senyum tipis muncul di wajahnya, sekilas saja, tapi cukup untuk membuat udara di dapur yang sunyi itu terasa hangat.

Namun begitu pandangannya kembali jatuh pada Maharani, fokusnya goyah. Rakha kembali melihat kaus kebesaran Maharani yang entah kenapa membuatnya ribuan kali lipat lebih menggoda.

Shit... sepertinya aku harus mandi lagi setelah ini, batinnya geram dalam hati, jemarinya mengepal di atas meja, berusaha menahan gejolak yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.

Suara lembut Maharani memecah lamunan itu.

"Bapak tidak ke kantor hari ini?" tanyanya, polos, sambil mengangkat wajahnya.

Rakha berdeham kecil sebelum menjawab, seolah mencoba menstabilkan nada suaranya.

"Saya berangkat sedikit terlambat hari ini. Ada pertemuan dengan Aditya-salah satu pengacara andalan Wiratama Law Firm. Kami harus membahas... kasus kamu."

Nada terakhir diucapkannya sedikit pelan, seperti ada sesuatu yang tertahan di sana.

Maharani mengangguk pelan. "Berarti setelah ini saya sendirian lagi." Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sedikit nada sepi yang tak bisa disembunyikan.

Rakha menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar. "Tidak sepenuhnya. Ada Louise di rumah. Dan kalau kamu kesepian, kamu bisa panggil Siska. Tapi..." ia berhenti sejenak, menatap Maharani dengan ekspresi yang sulit dibaca, "...hanya sampai sore saja, ya?"

Nada lembutnya kali ini terdengar seperti perintah yang dibungkus perhatian.

Maharani hanya mengangguk, sedikit tersenyum.

Rakha lalu menambahkan, suaranya merendah, hangat tapi masih terdengar terkontrol: "Dan satu lagi... kamu tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel 'Bapak'. Itu membuat saya merasa tua. Just call me Rakha."

Maharani sempat terdiam, lalu tertawa kecil-tawa yang tulus, ringan, membuat mata Rakha refleks memandangi wajahnya sedikit lebih lama dari seharusnya.

"Bapak belum tua kok," katanya, masih tersenyum. "Walaupun kita beda belasan tahun, penampilan Bapak masih segar. Tapi... saya tetap nggak enak kalau panggil nama langsung. Gimana kalau saya panggil Mas Rakha aja?"

Rakha menatapnya, lalu menghela napas pelan sambil menunduk, tersenyum kecil. Ada sesuatu dalam sebutan itu-Mas Rakha-yang entah kenapa terasa terlalu akrab, terlalu hangat.

"Segar, ya?" gumamnya sambil terkekeh pelan. "Lucu kamu, Hani." Ia menatap Maharani, kali ini lebih lembut, dengan sorot mata yang sulit diartikan. "And you can call me Mas Rakha-it's cool."

Maharani kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Suaranya menggema lembut di dapur yang hening. Rakha menatapnya tanpa sadar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa rumahnya yang selama ini sunyi... kini terasa benar-benar hidup.

Rakha bangkit perlahan dari kursinya, mengambil piring Maharani yang sudah hampir kosong. Gerakannya tenang, teratur, seolah semua dilakukan dengan insting yang sudah terbentuk lama. Ia menumpuk piring itu di tangannya, lalu berbalik menuju wastafel di ujung dapur.

Maharani yang memperhatikan refleksnya buru-buru berdiri. "Pak-eh, Mas, biar saya saja yang cuci piringnya," ujarnya cepat sambil melangkah mendekat.

Rakha tidak menoleh, hanya menggeleng pelan, bahunya naik-turun ringan. "Tidak perlu," ucapnya datar, tapi nada suaranya dalam dan lembut.

Namun Maharani tetap mendekat, mencoba mengambil piring dari tangan Rakha. Gerakannya tergesa, dan tanpa sengaja tubuhnya menabrak punggung Rakha. Piring di tangan Rakha hampir saja terlepas, tapi refleks pria itu jauh lebih cepat-ia menahannya, sementara tubuh Maharani otomatis menempel di punggungnya.

Waktu seolah berhenti sejenak.

Rakha bisa merasakan napas Maharani di punggungnya. Lembut, cepat, gugup. Begitu juga dengan payudara Maharani tanpa bra menempel lekat di punggungnya, membuat nafas Rakha mendadak pendek dan celananya mendadak terasa sempit. Sementara aroma sabun dan wangi kulit wanita itu menyeruak-manis, samar, dan berbahaya.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!