Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Nasi Goreng dan Kehangatan yang Nyata
Sore itu, suasana kantor sudah mulai lengang. Arsel tidak membiarkan Gisel pulang dengan ojek daring seperti biasanya. Ia menarik tangan Gisel dengan lembut namun posesif menuju parkiran khusus.
"Mas, kita mau ke mana? Ini bukan arah jalan pulang ke rumahku," tanya Gisel saat mobil mewah itu melaju menuju pusat kota.
Arsel melirik Gisel dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan di depan umum. "Kulkas di apartemenku benar-benar kosong. Sejak liburan ke Bali dan kejadian pesta itu, aku tidak sempat belanja. Aku ingin kamu menemaniku mengisi stok makanan."
Gisel tertawa kecil. "CEO Dirgantara Group belanja ke mall? Apa tidak takut dikerubuti ibu-ibu yang minta foto?"
"Selama ada asisten ceriwis yang menjagaku, kurasa aku aman," balas Arsel sambil menggenggam tangan Gisel di atas transmisi mobil.
Di dalam mall, pemandangan itu mengundang perhatian. Arsel yang masih mengenakan setelan kantor tanpa jas mendorong troli belanja, sementara Gisel sibuk memilih sayuran, telur, dan daging. Mereka tampak seperti pasangan suami istri muda yang sedang menikmati waktu santai.
Gisel dengan teliti mengecek tanggal kedaluwarsa susu, sementara Arsel hanya menatap Gisel dengan tatapan memuja. Baginya, melihat Gisel yang begitu perhatian pada hal-hal kecil seperti ini jauh lebih menarik daripada melihat angka-angka di bursa saham.
"Mas, kamu suka nasi goreng kan? Aku beli bumbu dan bahan-bahannya ya. Nanti aku buatkan di apartemen," tawar Gisel.
"Apapun yang kamu buat, aku pasti makan, Gisel."
Sesampainya di apartemen mewah Arsel yang bernuansa modern minimalis, Gisel segera mengambil alih dapur. Ia meletakkan belanjaan dan mulai memotong bawang serta menyiapkan nasi. Arsel duduk di kursi bar dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik Gisel dengan dagu bertumpu pada tangan.
Aroma harum nasi goreng mentega mulai memenuhi ruangan. Gisel tampak sangat ahli memainkan sodet di atas wajan. Tak lama kemudian, dua piring nasi goreng hangat dengan telur mata sapi di atasnya tersaji dengan cantik.
"Wah, aromanya tidak kalah dengan restoran bintang lima," puji Arsel setelah suapan pertama.
"Tentu saja! Ini resep rahasia dari Ibu," sahut Gisel bangga.
Mereka makan dengan tenang, diselingi obrolan ringan tentang masa kecil Gisel yang lucu. Arsel merasa apartemennya yang biasanya terasa sunyi dan dingin, malam ini berubah menjadi sangat hangat hanya karena kehadiran satu orang.
Setelah selesai makan, Gisel tidak membiarkan piring kotor menumpuk. Ia segera beranjak ke wastafel. "Mas duduk saja, biar aku yang cuci."
Gisel sibuk dengan busa sabun dan gemericik air, membelakangi Arsel. Namun, tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kekar kembali melingkar di pinggangnya. Arsel menempelkan tubuhnya, memeluk Gisel dari belakang.
Arsel mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang lembut di leher jenjang Gisel yang terbuka karena rambutnya disanggul asal.
"Geli, Mas... ah, Mas Arsel, aku lagi cuci piring," rengek Gisel sambil mencoba menghindar, namun tubuhnya justru terasa lemas karena sensasi geli dan nikmat yang menjalar.
Arsel tidak berhenti. Ia menghirup aroma leher Gisel yang selalu membuatnya candu. "Piringnya bisa menunggu, Gisel. Aku tidak bisa."
Arsel memutar tubuh Gisel dengan lembut hingga mereka berhadapan. Gisel yang tangannya masih sedikit basah hanya bisa menatap mata Arsel yang kini berkilat penuh gairah yang dalam. Tanpa peringatan, Arsel mengangkat tubuh Gisel dan mendudukkannya di atas meja dapur (kitchen island).
Arsel mengunci tubuh Gisel dengan kedua tangannya, lalu mempagut bibir Gisel dengan ciuman yang sangat lembut namun penuh tuntutan. Ciuman kali ini sangat berbeda dengan malam di hotel. Tidak ada paksaan, tidak ada pengaruh obat yang mengaburkan kesadaran. Yang ada hanyalah rasa saling memiliki yang begitu kuat.
Gisel melingkarkan tangannya di leher Arsel, membalas ciuman itu dengan seluruh perasaan tulusnya. Arsel kemudian menggendong Gisel dengan posisi bridal style menuju kamar utama.
Di atas ranjang besar yang empuk, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, mereka kembali menyatu. Kali ini, setiap sentuhan Arsel terasa sangat memuja, memastikan Gisel merasa dicintai. Setiap desahan yang lolos adalah bentuk kejujuran hati yang telah lama terpendam. Malam itu, mereka tidak lagi bicara soal kontrak atau pekerjaan. Mereka hanya bicara lewat bahasa tubuh yang menyuarakan bahwa mereka telah benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya pada satu sama lain.
Di balik jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta, Arsel membisikkan janji di telinga Gisel, "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Gisella. Kamu adalah duniaku sekarang."
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏