Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi Resonance Disruptor
Malam itu, untuk pertama kalinya, ada secercah "normalitas". Di kantin darurat, mereka makan malam bersama. Menu sederhana-nasi, sup kaleng, dan sepotong kecil buah-terasa seperti pesta. Suasana santai, bahkan ada tawa. Haechan, dengan mata masih sedikit bengkak tapi lebih cerah, melontarkan lelucon konyol soal rasa sup yang "kayak air kolam renang tapi lebih bergizi". Chenle yang duduk di samping Ningning dengan posesif yang lucu, sibuk menyuapi pacarnya meski Ningning sudah memprotes. Minjeong dan Jaemin saling berebut kacang dari nampan. Jimin tersenyum kecil melihat mereka, sambil sesekali memastikan Sunkyung dan yang lain makan.
"Gue kangen nasi padang," rengek Haechan.
"Gue kangen wifi," timpal Renjun.
"Gue kangen rasa aman yang beneran, bukan cuma ilusi," bisik Yeri pada Mark, yang memegang tangannya erat.
Mereka bercanda, mengingat kenangan konyol di sekolah, seolah-olah untuk beberapa saat mereka bisa melupakan bahwa di luar pagar kawat berduri itu, dunia dipenuhi oleh pemangsa dari dimensi lain.
Lalu, tiba-tiba.
WUUUEEEETTTT!!! WUUUEEETTT!!!
Bel darurat malam itu meraung-raung, bukan bel biasa, tapi sirene panjang yang memekakkan, bernada tinggi dan penuh kepanikan.
Semua kegiatan terhenti. Suapan tercegat di mulut. Senyum lenyap.
Para tentara yang berjaga di sekeliling kantin langsung siaga. Senjata diacungkan. Wajah-wajah mereka berkerut waspada.
"TENANG! SEMUA TETAP DI TEMPAT! JANGAN PANIK!" teriak seorang sersan, tapi suaranya hampir tenggelam dalam sirene.
Sebelum perintah itu benar-benar dipatuhi, dari arah blok utilitas di sisi timur gedung, terdengar suara gemuruh dan retakan keras, diikuti oleh lengkingan yang bukan lagi dari luar, tapi DARI DALAN GEDUNG.
"SKREEEEEEEEEE-!!!!"
Lalu, ledakan cahaya ungu kehijauan menerobos dari pintu koridor yang menuju ke ruang generator, memecah tembok. Dari dalam cahaya itu, bayangan-bayangan ramping dengan titik biru berkedip liar MELUAP keluar, bukan dari langit-langit atau jendela, tapi seolah-olah muncul dari udara itu sendiri.
"AAAAAAAKHHHH!! DI DALAM! MEREKA DI DALAM!!" teriak seseorang, dan kepanikan meledak.
Kursi-kursi terbalik, nampan berterbangan. Orang-orang berhamburan ke segala arah, teriakan histeris memenuhi ruangan.
BANG! BANG! BANG! BANG!
Tentara mulai menembak. Cahaya muzzle flash menyilaukan di ruangan yang tiba-tiba dipenuhi oleh siluet makhluk yang bergerak cepat. Bau mesiu dan sesuatu yang aneh, seperti ozon terbakar, memenuhi udara.
THUD! Seorang tentara terlempar ke dinding oleh cakar hitam. Jeritannya terpotong.
Di tengah kekacauan itu, suara dari speaker darurat menggema, terputus-putus namun jelas:
"PERHATIAN SEMUA PENGHUNI! ANCAMAN E-F-X! ANCAMAN E-F-X DI DALAM GEDUNG! MEREKA MEMBUKA... (desis) ... FREKUENSI STABIL... PORTA DIMENSI DI BLOK UTILITAS, RUANG GENERATOR SEKUNDER! SEMUA PERSONEL DAN PENGUNGSI... EVAKUASI SEGERA KE ROOFTOP! IKUTI ARAHAN PRAJURIT! HELIKOPTER PENYELAMAT AKAN TIBA! ULANGI: EVAKUASI KE ROOFTOP! JANGAN GUNAKAN LIFT DAN TANGGA UTAMA! GUNAKAN JALUR DARURAT TIMUR!"
Jimin langsung mengambil alih, teriakannya memotong kepanikan di antara kelompok mereka. "KELAS 3-B! KESINI! IKUTIN GUE! JANGAN PISAH! PEGANG TANGAN YANG DI DEPAN DAN BELAKANG!"
Insting survival mereka yang sudah terasah langsung bekerja. Mereka berkumpul dengan cepat, membentuk rantai. Jaemin dan Jeno di depan, Jimin di tengah, Sungchan dan Mark di belakang. Yang luka-Ningning, Eunseok, Sion, Ian-diapit di tengah.
Di tengah, Jimin seperti konduktor yang kacau, teriakannya memandu mereka: "KIRI! IKUTIN TENTARA ITU! PINTU DARURAT!"
"AYO! KELUAR DARI KANTIN! KE KORIDOR KIRI!" pekik Jeno, melihat seorang tentara memberi isyarat ke arah itu.
Mereka berlari, menyusuri koridor yang sudah dipenuhi orang panik dan asap. Lampu darurat berkedip, menciptakan efek strobo yang membuat bayangan bergerak semakin menyeramkan. Di belakang, suara tembakan, jeritan, dan lengkingan EF-X semakin keras.
Mereka menuju pintu darurat di sisi timur kantin. Haechan, yang tadi masih mengusap mata bengkaknya, kini matanya melebar penuh kewaspadaan. Dia melihat seekor EF-X yang lebih kecil merayap cepat di langit-langit, mengincar seorang wanita tua yang terpisah dari kelompoknya. Refleksnya bekerja. Dia mengambil kaleng susu yang tergeletak dan melemparkannya keras-keras ke arah dinding di seberang wanita itu.
KLANG! Suara itu mengalihkan perhatian makhluk itu untuk sedetik, cukup bagi seorang tentara untuk menarik wanita itu masuk ke barisan mereka. Haechan tidak melihat senyum tipis Jimin yang menangkap aksinya.
"CEPAT! JANGAN LIAT BELAKANG!" teriak Sungchan, mendorong Yuha yang nyaris terjatuh.
Di koridor, lampu darurat merah berkedip gila-gilaan, memberikan kesan seolah dinding itu bernapas. Asap mulai mengepul dari suatu tempat. Suara tembakan, jerikan logam EF-X yang terluka, dan teriakan manusia bercampur menjadi simfoni horor.
Ningning di kursi roda yang didorong kencang oleh Chenle. Setiap hentakan di lantai keramik membuatnya meringis kesakitan, tapi NINGNING menggigit bibir. "Ayo, Le, jangan berhenti!" teriaknya, lebih untuk menyemangati Chenle yang wajahnya penuh ketakutan akan kehilangan dia lagi.
Eunseok dengan lengan di gendong, dipapah oleh Sohee dan A-na. "Gue bisa lari! Lepasin, gue bisa!" protesnya, tapi langkahnya masih goyah.
"Diam! Hemat tenaga buat naik tangga!" balas Sohee dengan nada yang tidak terbantahkan, memaksanya terus bergerak.
Sion dan Ian yang pincang saling menyandarkan bahu, didukung oleh Renjun dan Anton. Napas mereka tersengal, wajah pucat karena sakit dan ketakutan.
Mereka belok, mengikuti sekelompok tentara yang membuka jalan. Salah satu tentara itu tiba-tiba ditarik ke atas langit-langit oleh sesuatu yang gelap, menghilang begitu saja di balik plafon. Hanya jeritannya yang bergema.
"OH TUHAN... OH TUHAN..." Sunkyung menangis histeris, tapi kakinya terus lari didorong oleh Minjeong dan Yeon
Sunkyung seperti boneka yang patah, matanya kosong, digandeng dan hampir diseret oleh Minjeong dan Yeon. "Lam, tolong, jalan! Buat Shotaro! JALAN!" teriak Minjeong di telinganya, menyebut nama yang berhasil memicu sedikit cahaya di mata Sunkyung. Kakinya mulai melangkah lebih kuat.
Koeun, Yuha, Stella, Carmen, Yeri, dan Hina berpegangan tangan, membentuk rantai di tengah-tengah, mata mereka terus memindai ke segala arah, terutama ke atas.
Mereka tiba di pintu tangga darurat. Seorang tentara dengan wajah berlumuran darah membukanya. "NAIK! LANTAI 12! ROOFTOP! CEPAT!"
Tangga beton yang sempit segera dipenuhi oleh desakan tubuh. Suara langkah kaki yang berdebam dan napas berat bergema. Dari bawah, suara cakaran di dinding tangga semakin dekat. SCREEEETCH... SCREETCH...
"MEREKA DI TANGGA! JANGAN LIAT! NAIK!" teriak Sungchan dari barisan belakang.
Setiap lantai yang mereka lewati, mereka melihat pemandangan mengerikan melalui jendela pintu kaca: koridor yang dipenuhi asap dan siluet bergerak cepat, tubuh tak bergerak di lantai, percikan darah di dinding.
Lantai 8. Napas mereka seperti robek. Paru-paru terbakar.
Lantai 10. Kaki-kaki mulai lemas. Tangisan dan erangan kesakitan terdengar.
Lantai 12. Ada tanda "ROOFTOP ACCESS".
Jimin, dengan napas tersengal dan jantung berdebar kencang, menjadi yang terakhir mundur dari pintu tangga darurat. Matanya yang tajam menyapu sekeliling rooftop, memastikan setiap siluet yang dia kenal sudah ada di dalam area yang relatif terlindung. Dia melihat Renjun, yang terhuyung-huyung karena menyeret Ian dan Sion, baru saja melangkah keluar dari bayangan pintu.
"RENJUN, CEPAT!" teriak Jimin.
Renjun melompat masuk, dan Jimin segera membalik badan, mendorong daun pintu baja yang berat itu untuk menutupnya. Tangan-tangannya yang berkeringat mencengkeram gagang besi dingin.
KRAAAK-SKRIIITCH!
Suara itu mengerikan. Bukan dari engsel pintu, tapi dari cakar logam yang menusuk celah pintu yang belum sempat tertutup rapat! Sebuah tangan-atau lebih tepatnya, tungkai depan-EF-X yang ramping dan hitam meremas masuk, mencegah pintu tertutup. Titik-titik cahaya biru di 'lengan' itu berkedip liar dengan amarah.
Jimin mendorong pintu sekuat tenaga, otot lengannya menegang, tetapi kekuatan makhluk itu luar biasa. Pintu terbuka paksa! Dari celah yang melebar, dua sosok EF-X merayap masuk dengan gerakan serangga yang cepat, langsung mengarah ke Jimin yang paling dekat.
Jimin terpental mundur, terhuyung ke belakang. jimin membalik badan, bersiap untuk berlari ke arah teman-temannya, tapi tiba-tiba, dari atas-di belakangnya-seekor EF-X ketiga menukik diam-diam, cakarnya terkait untuk menyergap dari belakang!
Jimin terjebak. Dia di depan oleh dua EF-X, dan di belakang oleh satu lagi. Dalam sepersekian detik itu, wajahnya memucat, matanya membesar. Dia mungkin akan mati di sini.
"JIMIN!!"
Terikan itu datang dari Haechan. Dari kejauhan, di balik kerumunan orang yang panik, dia melihat pemandangan itu. Semua ketakutan, rasa tidak berdaya, dan kecemasannya selama ini memadat menjadi satu ledakan adrenalin murni. Dia tidak akan membiarkannya terjadi. Tidak lagi.
Dengan tenaga yang tidak dia sangka dimilikinya, Haechan mendorong tubuhnya melewati Stella dan Yuha, melompat ke depan, dan menerjang ke arah EF-X yang sedang menukik dari belakang Jimin.
"JANGAN SENTUH DIA!" raung Haechan, dan dengan bahunya yang tidak seberapa, haechan menabrak sisi tubuh EF-X itu.
DUG! Tubuh makhluk yang lebih ringan dari kelihatannya itu terpelanting dari jalurnya, tersungkur ke samping. Tapi momentum Haechan membuatnya kehilangan keseimbangan. haechan terjatuh keras di atas beton.
"HAECHAN!" Jimin berbalik, tepat menyaksikan Haechan terjatuh. Dua EF-X di depannya kini mengalihkan perhatian pada target baru yang lebih mudah-Haechan yang terbaring.
...
...
Mereka melesat.
BANG! BANG! BANG! Beberapa tentara menembak, tetapi EF-X itu bergerak zig-zag dengan cepat. Peluru hanya menggores atau meleset.
Salah satu EF-X mencapit, cakar tajamnya menggores perut Haechan yang terbuka.
"AAGH!" Haechan menjerit kesakitan, tangannya refleks menekan luka yang mengucurkan darah segar.
Jimin seperti tersambar petir. "NOOO!!"
Sebelum EF-X itu memberikan pukulan berikutnya, seorang tentara dari posisi yang lebih baik akhirnya membidik dengan tepat. BANG! Peluru tepat mengenai 'kepala' EF-X itu. Makhluk itu tersentak, lalu ambruk tak bergerak... tepat di atas tubuh Haechan.
Wajah Haechan pucat pasi, tertimpa oleh bangkai makhluk yang berat dan mengeluarkan bau aneh. Dengan erangan sakit dan jijik, dia mendorong bangkai itu berguling dari tubuhnya. Darah dari lukanya dan cairan hitam dari EF-X itu bercampur di seragamnya.
Jimin sudah ada di sisinya, menjatuhkan diri berlutut. "Haechan! Haechan, jangan...!"
"Gue... gak apa-apa," Haechan terisak, satu tangan menekan perutnya yang robek, wajahnya memerah oleh usaha dan rasa sakit. "Lo... lo gakpapa jimin?"
Kata-kata itu menyentak Jimin. Di tengah semua ini, Haechan masih bertanya tentang keselamatannya.
Tanpa berpikir, Jimin merengkuh Haechan ke dalam pelukannya, erat. Tangannya yang bebas membelai rambut Haechan yang basah oleh keringat. "Bodoh... dasar idiot lo... Kenapa lo lakuin itu?!" suara Jimin bergetar, campur amarah, rasa bersalah, dan rasa haru yang luar biasa.
...
...
Haechan, terkejut sejenak oleh pelukan itu, lalu dengan perlahan mengangkat tangan kirinya yang tidak menekan luka, dan membalas pelukan itu dengan lemah. Pipinya bersandar di bahu Jimin. "Karena... karena gue cinta lo, gue gak mau kehilangan lo."
Dari kejauhan, Hina menyaksikan adegan itu. Dadanya sesak oleh perasaan campur aduk: cemas melihat Haechan terluka, lega dia selamat, dan... sebuah tusukan kecil kecemburuan yang segera dia pendam dalam-dalam. Bukan waktunya. Dia melihat bagaimana Jimin memeluk Haechan, dan bagaimana Haechan membalasnya. Itu berbeda. Dia mengalihkan pandangannya, memilih untuk fokus pada kekacauan di sekeliling.
Kekacauan itu belum berakhir.
SKREEEEEEE-!!! Teriakan lebih banyak EF-X menggema di udara. Segerombolan besar mereka-belasan, mungkin puluhan-datang dari segala arah: meluncur dari atap gedung sebelah, menukik dari langit malam, bahkan merayap dari tepi rooftop. Serangan besar-besaran telah dimulai.
Tentara berteriak, menembakkan senjata otomatis, menciptakan kembang api maut. Tapi jumlah mereka kewalahan.
"YEON! AWAS!" teriak Yuha, tapi terlambat.
Seekor EF-X yang lincah menerjang Yeon yang sedang berusaha membantu Sunkyung berdiri. Cakar itu menusuk dari belakang, menembus bahu Yeon. Gadis itu menjerit, tersungkur ke lantai, darah menyembur.
"YEON! TIDAK!" jerit Yuha, berusaha maju tapi ditahan oleh Anton.
Tak jauh dari situ, Koeun yang sedang berusaha berlindung di balik unit AC, tiba-tiba diserang dari atas oleh dua EF-X sekaligus. koeun tidak sempat berteriak. Tubuhnya yang ringan terseret dan menghilang di balik bayangan peralatan rooftop, hanya terakhir kali terdengar suara teredam sebelum sunyi.
"KOEUN? KOEUN!!" teriak Stella, tapi dia tidak bisa meninggalkan barisan.
Panik dan histeria mencapai puncaknya. Darah dan teror ada di mana-mana. Suasana rooftop berubah menjadi ladang pembantaian.
"HELIKOPTER! SEMUA NAIK! NAIK SEKARANG!" teriak komandan melalui pengeras suara.
Satu per satu helikopter Chinook besar mendarat dengan kasar di area pendaratan. Pintu belakangnya terbuka, mengungkapkan kabin yang gelap. Tentara membentuk koridor hidup, menembaki EF-X sambil meneriakkan arahan.
"JIMIN! AYO! KITA HARUS PERGI!" Jaemin menarik lengan Jimin.
Jimin melihat Haechan yang pucat dan berdarah. "Mark! Bantu gue!"
Mark segera mendekat, dan bersama Jimin, mereka mengangkat Haechan dengan susah payah. Haechan mengerang kesakitan, tapi berusaha tidak menjerit. "Gue bisa... gue bisa jalan..."
"Diam aja lo!" hardik Jimin, tapi suaranya penuh kepedulian.
Mereka bergerak menuju helikopter, bergabung dengan barisan pengungsi lain yang berlari sambil menunduk. Peluru dan lengkingan berseliweran di atas kepala mereka. Mereka melihat mayat-mayat, baik manusia maupun EF-X, berserakan di sekitar.
Satu per satu, mereka naik ke helikopter. Chenle dan Minjeong mengangkat Ningning ke dalam. Jeno dan Sungchan membantu Eunseok, Sion, dan Ian. Yang lain saling tarik-menarik.
Jimin dan Mark yang terakhir mendorong Haechan masuk ke dalam kabin yang penuh sesak. Jimin melompat masuk, lalu berbalik, membantu menarik Mark.
"SEMUA SUDAH NAIK?!" teriak kru helikopter.
"DAERAH CLEAR! ANGKAT! ANGKAT!" teriak komandan di luar.
Helikopter perlahan mulai mengangkat badan, roda-roda meninggalkan beton rooftop. Dari pintu yang masih terbuka, mereka melihat pemandangan mengerikan: rooftop yang dipenuhi oleh pertempuran, tubuh Yeon yang tak bergerak, dan gerombolan EF-X yang masih berdatangan.
Seorang tentara yang berada di tepi pintu helikopter mengambil sesuatu dari tasnya-sebuah tabung peluncur granat. Dia membidik ke arah tengah rooftop, tepat di atas pintu masuk tangga darurat dan generator darurat.
"FIRE IN THE HOLE!"
WHOOSH-BOOM!!!!
Granat meluncur dan meledak dengan dahsyat di dalam gedung, tepat di bawah rooftop. Ledakan sekunder yang lebih besar menyusul-mungkin dari generator atau persediaan bahan bakar. KABOOM!!!
Api dan puing-puing meledak ke udara. Seluruh struktur puncak gedung Balai Kota runtuh dan meledak dalam bola api raksasa yang menjilat langit malam. EF-X-EF-X yang masih di dalam atau di sekitar gedung ikut tersapu dan hancur oleh ledakan dan kolapsnya struktur.
Gelombang panas dan tekanan menghantam sisi helikopter, membuatnya oleng sesaat. Mereka semua berpegangan erat, wajah mereka diterangi cahaya oranye dari api di bawah.
Helikopter berbalik, meninggalkan kehancuran yang membara di bawah. Fasilitas karantina, yang sempat menjadi harapan mereka, kini hanya menjadi kuburan besi dan api.
Di dalam kabin yang gelap dan bergetar, di antara erangan kesakitan dan isakan tangis, Jimin masih duduk di samping Haechan, tangannya tak lepas menekan luka di perut Haechan dengan kain perban darurat. Haechan, dengan wajah pucat namun matanya terbuka, menatap Jimin.
"Gue... gue akhirnya... jadi pahlawan juga ya?" bisik Haechan, tersenyum getir.
Jimin mengangguk, air mata mengalir diam-diam di pipinya yang kotor. "Iya. Pahlawan paling nyebelin yang pernah gue kenal."
Di luar jendela, kota Seoul yang hancur dan gelap semakin mengecil, sementara api dari Balai Kota terus membakar, menjadi saksi bisu dari pengorbanan, keberanian, dan pertaruhan hidup-mati yang baru saja mereka lewati. Perjalanan mereka belum berakhir. Mereka telah kehilangan lagi: Yeon dan Koeun. Tetapi mereka masih hidup, dan masih bersama. Untuk apa pun yang menanti di depan, mereka harus terus bertahan. Bersama.
Ledakan di Balai Kota bukan ledakan biasa. Itu adalah "Frekuensi Resonance Disruptor" - bom yang dirancang khusus untuk membanjiri titik frekuensi dimensional yang tidak stabil dengan gelombang energi yang berlawanan. Saat bom meledak di ruang generator sekunder-pusat dari portal utama-efeknya merambat seperti riak melalui seluruh jaringan frekuensi yang menghubungkan titik-titik portal kecil lain yang tersebar di Seoul. Satu per satu, seperti lampu yang diputus sirkuitnya, portal-portal itu padam dan runtuh ke dalam diri mereka sendiri. Koneksi antara dimensi terputus total.
Tanpa portal yang menyuplai energi dan mungkin 'perintah' dari dimensi asalnya, setiap Entitas Fotofobia-X (EF-X) yang terjebak di dunia ini mengalami "dimensional decay" - tubuh mereka yang tidak sepenuhnya materi perlahan terdisintegrasi menjadi partikel energi halus yang menghilang di udara. Dalam waktu tiga hari, tidak ada lagi tanda-tanda makhluk-makhluk itu. Hanya tinggal kehancuran fisik dan trauma psikologis yang mereka tinggalkan.
Pemulihan Seoul berjalan lambat, tetapi pasti. Enam bulan kemudian, kehidupan mulai berdenyut kembali. Listrik, air, dan komunikasi pulih bertahap. Sekolah-sekolah dibuka kembali. Dan hari ini, adalah hari yang sangat spesial untuk Kelas 3-B SMA Nambu.
....