NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Teratai Di Atas Abu

Bab 27 — Aula Para Tetua

Fajar baru menyingsing, cahaya keemasan menerobos masuk lewat celah jendela tinggi di Aula Dewan. Ruangan itu sunyi senyap, hanya diisi aroma dupa tua yang menyejukkan hati. Di tengah ruangan, lima orang tetua tertinggi Sekte Gunung Awan Putih duduk melingkar, wajah mereka serius dan berat. Di lantai tengah, tergeletak sebilah belati hitam dan sebuah lencana berbentuk mata melotot — barang bukti yang dibawa Lian Hua pagi tadi, jenazah pembunuh itu telah dikubur diam-diam agar tak menimbulkan kepanikan.

Tetua Agung, orang tertua dan paling berwibawa di antara mereka, memegang lencana mata hitam itu di tangannya. Jari-jarinya yang keriput mengusap ukiran aneh di atasnya, matanya menyipit penuh pertimbangan.

“Benda ini... hawa jahat yang terpancar darinya sama persis dengan apa yang kami rasakan di Hutan Kabut Roh dulu,” ucapnya perlahan, suaranya berat dan dalam. “Dan orang yang menggunakannya... tenaga dalamnya pekat, ganas, dan penuh racun jiwa. Ini bukan aliran sesat biasa. Ini adalah jejak Menara Darah Hitam, organisasi yang dianggap telah musnah ratusan tahun silam.”

Tetua Bai duduk di sebelah kanannya, wajahnya tenang namun matanya menyimpan kekhawatiran mendalam. “Dan satu-satunya alasan mereka berani menyusup sejauh ke sini, serta mengirim pembunuh sekuat itu... hanya ada satu jawaban. Mereka datang bukan untuk menyerang sekte kita, melainkan demi satu orang: Lian Hua.”

Kalimat itu melayang di udara, membuat suasana ruangan makin menekan. Tetua lainnya saling pandang, masing-masing mengingat kembali kejadian di arena turnamen, saat bayangan teratai putih-hitam mekar di langit.

“Kekuatan yang ia perlihatkan... ilmu yang ia gunakan... bahkan pusaka yang tergantung di dadanya...” sahut salah satu tetua, suaranya bergetar pelan. “Semua itu adalah ciri khas Klan Teratai Suci. Legenda mengatakan klan itu musnah dibasmi Menara Darah Hitam ribuan tahun lalu, karena kekuatan mereka adalah musuh alami segala kegelapan. Kami dulu mengira itu hanya dongeng masa lalu. Siapa sangka... pewaris terakhir mereka justru ada di bawah our naungan sendiri.”

Tetua Agung meletakkan lencana itu kembali ke meja batu. Ia menatap ke arah jendela, ke luar menuju pemandangan gunung yang hijau membentang.

“Aku sudah menyelidiki catatan masuknya bertahun-tahun lalu. Ia datang sendirian, tak punya sanak saudara, tak membawa barang berharga, hanya membawa luka di hati dan ketegangan yang luar biasa. Dulu aku heran, bagaimana bisa anak dari pedalaman terpencil memiliki ketabahan dan bakat sebesar itu. Sekarang semuanya terjawab. Ia bukan anak kampung biasa. Ia adalah keturunan sah klan legendaris yang hilang itu.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tetua Agung?” tanya seorang tetua dengan cemas. “Menara Darah Hitam sudah bergerak. Jika mereka tahu Lian Hua ada di sini, sekte kita akan menjadi sasaran utama. Kita bisa saja menyerahkannya demi keselamatan ribuan murid... atau...”

“Cukup!” seru Tetua Bai memotong, suaranya tegas dan tajam. “Kalian bicara seolah ia hanya beban semata. Kalian lupa apa yang ia miliki? Ilmu warisannya, pemahamannya akan kekuatan alam, dan potensinya yang tak terbatas... Jika ia tumbuh sempurna, dialah satu-satunya orang yang mampu membasmi akar kejahatan itu selamanya. Menyerahkannya sama saja dengan menyerahkan seluruh dunia persilatan pada kehancuran!”

Perdebatan pun pecah. Sebagian khawatir akan bahaya yang datang, sebagian lain melihat harapan besar di diri pemuda itu. Tetua Agung tetap diam, mendengarkan semuanya dengan tenang, hingga akhirnya ia mengangkat tangan menenangkan ruangan.

“Diamlah. Aku sudah mengambil keputusan.”

Suasana seketika hening. Semua mata tertuju padanya.

“Kita tidak akan menyerahkannya. Dan kita juga tidak akan mengumumkan siapa dirinya yang sesungguhnya,” ucap Tetua Agung perlahan namun tegas. “Mulai hari ini, identitas Lian Hua sebagai pewaris Teratai Suci harus menjadi rahasia mutlak, hanya diketahui kita berlima saja. Di luar sana, ia tetaplah murid dalam sekte kita, pemuda berbakat yang naik pangkat lewat kemampuan sendiri. Tak ada satu pun orang lain yang boleh tahu asal-usulnya.”

“Tapi mengapa, Tetua Agung?” tanya salah satu tetua bingung. “Jika kita mengumumkannya, aliran persilatan lain mungkin akan bersatu membantunya.”

Tetua Agung menggeleng pelan, senyum pahit tersungging di bibirnya. “Kalian lupa sifat manusia? Banyak yang akan menginginkan kekuatan itu untuk diri sendiri, banyak yang akan takut dan menjauh, bahkan ada yang akan menjual rahasia ini demi keuntungan sendiri. Semakin banyak yang tahu, semakin cepat bahaya datang menghampiri. Saat ini, hal paling berharga bagi Lian Hua adalah kesempatan tumbuh tenang dan kuat. Hanya dengan menyembunyikan jati dirinya, kita bisa melindunginya sampai ia mampu berdiri sendiri melawan seluruh musuhnya.”

Ia menatap Tetua Bai dengan pandangan tajam dan penuh amanah.

“Tetua Bai, engkau yang mula-mula menerimanya, engkau yang paling dekat dengannya. Mulai hari ini, engkau akan menjadi gurunya secara resmi. Berikan ia akses ke segala ilmu puncak sekte, bimbing ia sepenuhnya, namun ingat—jangan sampai ada orang lain yang menyadari asal-usul aslinya. Biarkan dunia mengira kekuatannya hanyalah bakat luar biasa dari Sekte Gunung Awan Putih semata.”

“Dan jika Menara Darah Hitam datang lagi?” tanya Tetua Bai pelan.

“Maka kita akan berdiri di depannya,” jawab Tetua Agung tegas, hawa kewibawaan kuno memancar dari tubuh tuanya. “Sekte Gunung Awan Putih berdiri kokoh ratusan tahun, bukan karena kita lari dari bahaya, tapi karena kita berani menanggung beban berat demi kebenaran. Lian Hua adalah harapan baru. Selama ia ada di sini, ia adalah bagian dari kita. Dan kita takkan membiarkan musuhnya menyentuh sehelai rambut pun dari kepalanya.”

Semua tetua mengangguk perlahan, hati mereka kini mantap. Keputusan itu telah bulat.

Sebelum membubarkan pertemuan, Tetua Agung kembali menatap lencana berbentuk mata hitam di atas meja batu itu.

“Simbol ini... aku belum pernah melihatnya dalam catatan kuno mana pun. Menara Darah Hitam ternyata bukan hanya bangkit kembali, tapi juga mengembangkan kekuatan baru yang lebih gelap dan asing. Bahaya ini lebih besar dari dugaan kita. Segala persiapan harus dipercepat.”

Ia menutup pertemuan dengan kalimat berat yang menggantung di udara.

“Lian Hua... anakku... bertumbuhlah secepat kilat. Waktumu tak banyak lagi. Kita akan menjadi perisaimu, tapi kelak, kaulah yang harus menjadi pedang yang membelah kegelapan itu sendiri.”

Di luar aula, angin pagi bertiup sejuk. Lian Hua berdiri di kejauhan, menunggu panggilan para tetua, belum tahu bahwa nasibnya telah diputuskan, bahwa rahasia besarnya telah diketahui, dan bahwa di balik pintu tertutup itu, seluruh kekuatan Sekte Gunung Awan Putih kini diam-diam berdiri di belakangnya, melindungi identitasnya demi menjaga satu-satunya harapan masa depan.

Dan rahasia itu kini terkunci rapat di dalam aula sunyi itu, menunggu saat yang tepat untuk terungkap kembali saat teratai itu mekar sepenuhnya di tengah dunia persilatan.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!