Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH TUJUH
Lift berhenti di lantai delapan gedung pencakar langit di kawasan SCBD-lantai yang hanya bisa diakses dengan kartu identifikasi khusus.
Begitu pintunya terbuka, aroma kopi premium dan wangi kulit mahal dari interior ruangan langsung menyambut. Di dinding marmer hitam dengan guratan perak, terpampang nama besar:
WIRATAMA LAW & ASSOCIATES - huruf-huruf metaliknya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal.
Beberapa staf senior yang tengah lewat segera menunduk hormat ketika Rakha Wiratama dan Aditya Wirawan keluar dari lift. Tak ada satu pun yang berani menyapa. Kehadiran dua pria itu saja sudah cukup membuat udara di koridor menegang.
Yang satu-dingin, presisi, dan berwibawa seperti pisau yang baru diasah.
Yang lain-santai, tajam, dan berbahaya seperti bara api yang bisa menyala kapan saja.
Rakha melangkah lebih dulu menyusuri koridor panjang menuju ruang rapat pribadinya di ujung. Aditya berjalan di belakangnya dengan langkah malas tapi pasti, satu tangan memegang ponsel, satu lagi memainkan kunci mobil di antara jarinya.
Begitu pintu mahoni besar itu tertutup, dunia berubah. Tak ada lagi formalitas, tak ada basa-basi. Hanya dua pria dengan sejarah panjang dan dua kepala keras yang terlalu sering bentrok dalam diam.
Rakha melepas jas abu-abunya, menggantungkannya di sandaran kursi kulit, lalu duduk tegak di belakang meja besar yang dipenuhi map hitam, laptop, dan berkas-berkas bertanda merah.
"Gue udah minta tim riset buka ulang semua data soal kasus Maharani," ujarnya tenang, suaranya dalam tapi bergetar halus di antara dentingan jam dinding. "Ada yang janggal."
Aditya yang baru duduk di seberang, mendengus kecil sambil menyilangkan kaki. "Janggal apanya, bro? Semua orang udah liat videonya. Publik percaya dia pelakunya. Dosa dia jelas."
Rakha menatapnya tanpa ekspresi, tapi tatapan itu cukup untuk membuat siapa pun mundur setengah langkah. "Publik cuma liat apa yang dikasih liat, Dit. Lo tau betapa gampangnya ngatur narasi di negeri ini."
Aditya akhirnya menurunkan ponselnya, menatap Rakha lebih serius. "Lo serius nih? Lo pikir dia dijebak?"
Rakha tak langsung menjawab. Ia membuka map hitam di depannya, mengeluarkan beberapa lembar foto analisis forensik digital, laporan transaksi, dan print out percakapan terenkripsi.
"Gue nggak mikir," katanya datar. "Gue tahu."
Ia mendorong berkas itu ke tengah meja.
Aditya mencondongkan tubuh, matanya menyapu cepat tiap lembaran. Di sana tertulis aliran dana dalam jumlah besar dari rekening anonim ke salah satu wartawan hiburan ternama-tepat tiga hari sebelum video skandal Maharani bocor.
Aditya menaikkan alis. "So someone paid the media to ruin her?"
Rakha menatapnya datar. "Nggak cuma media. Ada lebih dari satu pihak yang ikut main. Dan semuanya mengarah ke satu nama-orang yang punya hubungan lama sama keluarga Soetomo."
Keheningan menurun. Hanya terdengar bunyi halus detik jam dan desis pendingin ruangan.
Aditya bersandar, matanya menyipit. "You're telling me this isn't about a scandal. It's a setup."
Rakha menatap kosong ke jendela besar di belakang Aditya, di mana gedung-gedung tinggi SCBD memantulkan cahaya matahari pagi. Suaranya berat saat ia akhirnya bicara.
"Ini bukan cuma setup, Dit. Ini pesan." Ia berhenti sejenak, menatap rekannya. "Seseorang sengaja nyerang dia... buat nyentuh keluarga Soetomo."
Senyum miring muncul di sudut bibirnya-dingin dan nyaris sinis.
"Sepertinya bukan cuma gue yang pengen lihat keluarga itu jatuh. Dunia ternyata punya cukup banyak musuh untuk mereka."
Aditya menatapnya lama, membaca nada getir di balik kata-kata Rakha.
Lalu ia meletakkan berkas itu perlahan di meja, menatap lurus ke arah pria di hadapannya.
"Well then..." katanya pelan, nada suaranya berubah gelap. "This case just got personal."
Rakha tidak menanggapi. Ia hanya menatap foto Maharani yang tergeletak di atas meja-wajah lelah dan kosong perempuan yang entah kenapa masih menghantuinya. Sebuah keputusan perlahan tumbuh di benaknya. Bukan lagi tentang hukum, atau reputasi. Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Rakha menegakkan tubuhnya, menyembunyikan seluruh gejolak di dadanya di balik wajah dingin yang nyaris sempurna.
"Mulai hari ini, semua fokus ke pembuktian digital," ujarnya tenang, meski nadanya mengandung tekanan. "Gue mau tahu siapa dalang sebenarnya di balik penyebaran video itu. Dan satu lagi-"
Matanya menatap lurus ke arah Aditya, tajam seperti bilah pisau.
"Jangan pernah dekati Maharani."
Aditya terkekeh kecil, mencondongkan tubuhnya sedikit. Tapi di balik senyum santai itu, matanya sempat menangkap sesuatu di wajah Rakha-ketegangan halus yang jarang muncul.
"Kenapa, Rak?" ujarnya menggoda, suaranya rendah. "Takut gue bikin dia jatuh cinta?"
Rakha tidak menjawab. Ia hanya berdiri, menatap lurus ke luar jendela. Rahangnya mengeras, dadanya naik-turun pelan menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri enggan pahami.
"Karena kali ini," katanya akhirnya, suaranya rendah tapi bergetar,
"gue nggak mau ada yang nyentuh perempuan itu lagi."
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Hanya suara pendingin udara yang terdengar, lembut tapi menusuk telinga di tengah ketegangan itu.
Rakha kemudian membuka laptopnya, layar menampilkan hasil analisis forensik digital. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, sementara Aditya duduk di seberang, setengah rebahan dengan jas terlepas dan secangkir kopi di tangan.
"Okay," Rakha memulai, suaranya kembali stabil. "Let's get this straight. Video itu direkam pakai kamera tersembunyi, model lama, tapi angle-nya terlalu spesifik. Gue yakin itu bukan kebetulan."
Aditya mengangguk pelan, kini lebih fokus. "Gue udah liat. Dari framing dan lighting aja, jelas bukan rekaman amatir. Tapi publik taunya itu sex tape bocor, dan lo tau kan-once it's online, done. Game over."
Rakha menatapnya tajam, mata gelapnya memantulkan layar monitor.
"Not if we control the narrative."
Aditya menaikkan alisnya, separuh heran, separuh kagum. "Lo mau lawan arus publik?"
Rakha tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke jendela besar di belakang Aditya-deretan gedung tinggi SCBD memantulkan cahaya keperakan ke wajahnya.
"Gue nggak mau lawan arus," katanya akhirnya, pelan tapi mantap. "Gue mau bikin arusnya sendiri."
Aditya terdiam beberapa detik sebelum terkekeh kecil, kepalanya menggeleng. "Damn, lo emang nggak pernah berubah, Rak. Still playing god in the courtroom."
Rakha tidak bereaksi. Ia hanya mengetik sesuatu di laptop, lalu memutar sebuah file audio yang tersimpan di ponsel Maharani. Suara seorang pria terdengar jelas, dalam dan menekan.
Kalo kamu buka mulut, Ran, aku pastiin karier kamu mati. Kamu pikir orang bakal percaya perempuan kayak kamu nggak jual diri buat dapat peran? Kamu cuma produk, Maharani. Dan aku yang punya .
Suara itu membuat udara di ruangan mendadak membeku.
Aditya langsung menegakkan tubuhnya, cangkir kopinya nyaris terjatuh dari tangan. "Holy shit... itu jelas suara Risyad."
Rakha mengangguk pelan. "Voice recognition result: 98% match," katanya datar. "Kita punya bukti tekanan verbal, ancaman eksplisit, dan indikasi pemerasan."
Aditya memijat dagunya, ekspresinya kini jauh dari santai. "Dan video itu bagian dari pemerasan yang gagal?"
Rakha menatapnya lurus, lalu menutup laptopnya perlahan.
"Exactly. Risyad nyoba kendalikan Maharani lewat ancaman, tapi sesuatu keluar jalur. Entah dia kehilangan kendali... atau ada pihak lain yang sengaja nyebar videonya."